Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM177. Hasil tes DNA


__ADS_3

"Tapi sayangnya salah, itu tak mengacu ke DNA kau sama sekali. Itu yang buat Ai kaku di tempat, karena tak sesuai dengan perkiraannya."


Givan tersenyum lebar, mendengar kabar baik tersebut. "Nanti kasih tau Canda, Bang."


"Udah dengar," timpal Canda yang mengagetkan Givan.


"Ish!" Givan menoleh pada istrinya.


Seperti humor, Ghifar dan Kenandra terbahak melihat Givan dan Canda. Namun, Givan tidak mempedulikan tawa dari dua orang tersebut.


Ia menggeser tempat duduknya, agar lebih dekat dengan wajah istrinya. Kemudian, ia mencium dahi istrinya. "Udah bangun, Sayang? Udah mendingan belum?" tanyanya lembut dan penuh kasih.


"Udah, Mas. Minta minum." Canda melirik ke arah nakas.


"Oke, oke." Givan segera membantu istrinya untuk minum air putih.


"Makan buah ya?" tawar Givan setelah membantu istrinya untuk minum air putih.


"He'em." Canda masih bersandar lemah pada bantal.


Givan mengambilkan sebuah apel segar, kemudian ia pergi untuk mencucinya. Ia kembali sudah dengan membawa sepotong pisau dapur yang berada di atas meja, kemudian ia memberikan buah itu dan pisaunya pada Ghifar.


"Kupasin dulu, Far." Givan memberi perintah dan kembali ke kamar mandi.

__ADS_1


"Hm, hm, hm...." Ghifar hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Suami kau kalau ngupas buah itu keknya sulitnya minta ampun." Ghifar mengambil kursi yang tadi diduduki oleh kakaknya. Ia mulai mengupas buahnya dengan perlahan.


"Iya, kenapa tak sekalian potongkan dari tadi?"


Ghifar langsung meluruskan pandangannya pada Canda. Ia menatap datar kakak iparnya tersebut, ia selalu dibuat teraneh-aneh melihat sikap Canda yang acak.


Kenandra tertawa geli, lalu menepuk pundak Ghifar. Ia paham gemasnya jadi Ghifar, pada sepasang suami istri tersebut.


"Jadi gimana Ai, Bang?" Canda memfokuskan perhatiannya pada Kenandra.


Kenandra melirik, ia terdiam sejenak. "Ya tak gimana-gimana, terima kenyataan. Keknya, kau lahiran ini si Ai bisa pulang ke daerahnya kalau tak kebanyakan drama rujuk rumah sakit. Ya memang, itu di luar kendali Ai. Tapi kalau bisa gitu, manage pikirannya sebaik mungkin. Ai ini lemah dalam pikiran, benar-benar pingsan kalau dapat lonjakan pikiran yang tak sesuai harapannya. Dua bulanan lagi kurungan mandiri, terus dia bayar denda, cambuk dan udah deh diminta pergi setelah Ai fit dari luka cambuknya." Kenandra masih duduk di tepian ranjang yang dekat dengan lutut Canda.


"Dia sekarang ada utang sama mamah, untuk bayarin jatah warisannya si Deden itu. Dia nolak kebaikan kau itu, karena dia malu, kalian udah terlalu baik," tambah Kenandra lirih.


Canda geleng-geleng kepala. "Kasian betul. Deden nih keknya modelan Ai ya? Utang sama mamahnya berapa banyak katanya, Bang?"


"Empat puluh jutaan, Dek. Dia ngelamun karena mikir, gimana bayar hutang sebanyak itu dengan tenaga kulinya. Sehari seratus ribu, dia ada beban pendidikan dua orang anak. Belum lagi biaya dapur, kasih stok jajanan untuk Ai. Gimana coba aturnya? Abang yang coba jamin kedua orang tua pun, lumayan loh, Dek. Padahal orang tua di Cirebon punya pensiunan, umi di sini punya usaha. Apalagi mikirin adik-adik yang resiko hidupnya masih besar, duh pusingnya lebih-lebih keknya." Meski ekonominya baik, Kenandra pun sedikit merasakan berada di posisi Awang.


"Mungkin karena tak biasa aja, Bang. Aku biasa aja, ngasih ibu uang tiap hari, tiap bulan. Aku biasa aja, ngasih mamah sembako penuh. Sehari, uangnya lima puluh ribu untuk ibu pegangan. Bulanannya kasih, ditambah uang titip jajan anak-anak kalau minta tuh. Malah ibu tabungin, kalau rehab bangunan tuh uang sendiri terus. Ngecat, perbaikan tertentu, ya pakai uangnya sendiri. Bukannya aku tak adil ke mamah Dinda, tapi mamah nolak kalau dikasih uang. Paling aku nitip beberapa ratus tiap minggunya, dengan ucapan jajan anak-anak. Kalau tak begitu, mamah tak mau terima. Itu pun selalu bilang, dikira mamah tak mampu kah jajanin cucu-cucu mamah. Begitu, Bang." Canda melirik suaminya yang baru keluar dari kamar mandi.


"Abang kasih uangnya aja, kalau ke umi rupa makanan. Karena umi kan udah tak bisa aktivitas, udah di rumah aja. Jadi ya Ahya, yang pergi-pergi ke warung. Kadang tuh mikir, untungnya suami ayah saudara sendiri. Tak rewel, ngerti, orang dekat juga. Jadi tak masalah gitu, aktivitas Ahya itu ngurus umi tiap hari. Anak-anaknya sendiri, malah diboyong ke ibu suaminya Ahya." Kenandra menyadari, jika anak perempuan berperan besar untuk mengurus masa tua orang tuanya.

__ADS_1


"Ih, tapi jangan dikira baik-baik aja loh, Bang. Bang Hafidz itu pernah ada perempuan yang datang ke rumah, dia mau mastiin katanya bang Hafidz ini benar duda atau bukan. Kiamat tuh buat Ahya, diam-diam kurang ajar ternyata suaminya. Langsung dia bawa-bawa barang suaminya pergi dari rumahnya, eh tak taunya sih balik lagi." Canda tahu karena Ahya bercerita. Apalagi, Ahya memegang kendali atas penjualan online konveksi milik Canda.


"Kek kau sama suami kau!" Ghifar mengulurkan buah apel yang sudah ia kupas.


Givan langsung mendekati adiknya, ia bersedekap tangan di samping adiknya yang tengah menyuapi istrinya potongan buah tersebut.


"Hei! Kau pun Aca tau, kiamat untuk kau juga. Janji tak dipelintir p**** kau, selamat masa depan kau." Givan menepuk pundak adiknya.


"Memang dia kenapa, Van?" tanya Kenandra dengan menunjuk Ghifar.


"Ini sih, nyuapin istrinya," jawab Ghifar dengan menunjuk sepotong buah apel yang sudah digigit oleh Canda.


"Dia cemburu sama aku, ngancemnya nakut-nakutin aku ke Aca. Pas dia diusir dari rumah sama Canda aja, Aca biasa aja aku tidur seranjang sama Canda. Aku yang malah kalut sendiri kalau istri terlampau percaya, sampai aku pindahkan Hifzah ke tengah-tengah aku sama Canda. Suasana fajar, biasa dapat serangan. Harap-harap cemas salah garap."


Kenandra terbahak lepas, setelah Ghifar selesai bercerita. Ia paham dengan tabiat Givan yang pencemburu, tapi tidak pernah mau mengakuinya.


"Candanya lagi, bodoh betul jadi perempuan. Kesalnya aku masa itu, dia nangis-nangis minta aku jangan pindah tempat tidur. Tapi suka betul dia kalau udah bahas Lendra, tak sadar ketiak aku terus yang dicarinya."


Tawa mereka berbaur dengan rasa malu Canda. Ia tidak menyadari, ternyata suaminya begitu kesal jika ia sudah membahas tentang mantan suaminya.


"Permisi....."


Euforia mereka terhenti sejenak, teralihkan dengan ketukan pelan di pintu kamar inap Canda.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2