
"Gitu, Ai. Kau harus ikut proses di balai desa lagi, soalnya masalah belum kau selesaikan." Givan mencoba tenang dan tidak terpancing emosi, karena Ai terus menjawab dan menentang ucapannya.
"Aku gak mau ke balai desa!" Meskipun tertekan, ia berusaha keras untuk tidak mengiyakan.
"Oke." Pernyataan singkat Canda, membuatnya kini menjadi perhatian suaminya, kedua mertuanya dan juga Ai.
"Kita buat kepala desanya yang datang ke sini," lanjut Canda dengan bersemangat.
Givan ingin menyebut istrinya cerdas, tapi kadangkala saja istrinya seperti itu.
"Begitu tak apa, Dek," tambah Adi, yang setuju dengan keputusan menantunya.
"Iya dong, siapa dulu?" Canda merapikan hijabnya dengan wajah sombong. Seolah seperti laki-laki yang mengatakan hal itu, dengan menyugar rambut klimis.
"Aku telpon bestong-bestong aku dulu." Canda langsung menempelkan ponselnya ke dekat telinganya.
"Memang punya kawan, Dek?" tanya Adinda.
"Ada dong." Canda menaik turunkan alisnya dengan senyum lebar.
"Siapa memang?" Givan terheran-heran dengan tingkah lain dari istrinya tersebut. Segala bestie, disebutnya dengan bestong.
"Gunanya buat apa para bestong itu? Kan yang kita perlukan itu kepala desa?" Adi tidak berhenti terheran-heran dengan tingkah menantunya.
"Buat panggilkan keuchik sama pak RT dong." Canda setuju, jika hanya Ai yang akan dihakimi tentang fitnah ini. Bukan untuk melanjutkan membahas, atau membawa permasalahan suaminya ke pengadilan.
"Hallo, Pengangguran."
Semua orang semakin terheran-heran dan penasaran, dengan bestie Canda yang dipanggil pengangguran itu.
"Ehh...." Canda tertawa lepas dengan ponselnya.
"Panggilkan keuchik sama pak RT kata Papah." Canda melirik ayah mertuanya.
__ADS_1
Adi geleng-geleng kepala. Ia belum menurunkan perintah, itu adalah inisiatif Canda sendiri untuk memanggil kepala desa dan pak RT. Namun, ia ditarik sebagai pelaku utama pemberi perintah.
"Oke, ditunggu Va."
Di akhir kalimat tersebut, Givan tahu siapa yang disebut bestong oleh Canda.
"Segala pengangguran, bestong lah! Bilang aja, adik ipar gitu." Givan terkekeh geli dengan mendekap istrinya.
Canda terlihat santai saja, saat suaminya mendekapnya di depan Ai. Malah, itu seperti kepuasan tersendiri karena suaminya bermesraan dengannya di depan mata Ai. Entah benar Givan melakukannya karena naluri, atau tanpa perasaan juga. Yang terpenting, ia kini merasa unggul sedikit dari Ai. Sifat manusiawi dan egonya semakin bersemi dalam semangatnya membelenggu suaminya.
"Memang Ghava kek pengangguran. Tiap hari di rumah aja, bolak-balik paling ke studionya yang jaraknya sejengkal. Udah, gitu aja kerjaannya," terang Canda yang membuat kedua mertuanya geleng-geleng kepala.
"Terus aku apa? Dari subuh, sampai ketemu qunut selanjutnya, masih ditemplokin kau terus? Mas ke sini, mas anuin, mas ituin, mas pegangin, mas usap-usap, mas puk-puk, mas jemurin baju, mas kuota habis, mas belikan mie ayam bakso ceker, mas beli es boba." Givan menarik-narik pipi istrinya pelan, ia mencoba menahan rasa gemas pada tangannya agar tidak terlalu keras mencubit pipi Canda.
Benarkah? Pertanyaan benar atau tidaknya ucapan Givan itu, mengerubungi isi kepala Ai. Rasanya, Givan tidak mungkin mau direpotkan sedemikian rupa. Ia tahu, sejak dulu Givan adalah orang yang sibuk. Orang yang malas untuk memanjakan wanitanya, apalagi cuma sekedar untuk mengusap-usap, pasti Givan enggan melakukannya. Untuk masalah makanan, ia tahu sekali bahwa Givan lebih suka memakai jasa kirim makanan, ketimbang dengan membeli sendiri.
"Kan aku yang kaya, aku yang gaji pengangguran kek Mas gini." Canda mencolok pipi suaminya, diibaratkan pipi suaminya memiliki lesung pipi yang dalam.
Givan tertawa lepas. "Sombongnya ya kau! Aku kerja rodi, tak pernah dibayar juga." Givan menepuk-nepuk jidat istrinya.
Hanya Ai yang diam tanpa ekspresi. Ia benar-benar yakin, jika Givan hanya bermain-main sandiwara bermesraan dengan Canda, agar ia panas di sini. Ia yakin, sebenarnya Givan tidaklah seperti itu pada istrinya. Ia yakin, sifat asli Givan lah yang dinikmati Canda setiap hari. Bukan sifat Givan seperti raja drama seperti ini.
Pada dasarnya, Ai tidak tahu jika Canda adalah ratu drama. Secara otomatis karena hidup bersama, Givan mau tidak mau meladeni drama keseharian Canda yang begitu unik. Yang terkadang manjanya seperti anak-anak, terkadang menangis seperti anak-anak, kadang pun mengadu bagaikan anak-anak.
"Bentar, Mas. Ghava nelpon." Canda membebaskan dirinya dari pelukan suaminya.
Canda langsung menerima panggilan telepon tersebut. "Hallo, Va." Ghava di seberang telepon mendengar jelas sahutan Canda.
"Kepala desanya sibuk, Cendol. Pak RT ada nih, udah sama aku. Aku lagi di kantor desa, tapi kata stafnya lagi sibuk," ungkap Ghava kemudian.
"Lah, padahal yang panggil Teungku Haji loh?" Canda melirik ayah mertuanya.
"Ya coba lah kau ngomong sendiri sama ke stafnya, Cendol." Ghava tidak pandai membujuk seseorang, apalagi untuk memudahkan urusannya.
__ADS_1
"Mana? Mana?" Canda menyanggupi untuk berbicara pada staf kepala desa.
"Ini, Kak. Ipar Saya mau ngomong dengan Anda." Tanpa ba-bi-bu, Ghava memberikan ponselnya pada staf yang tidak memberinya izin dirinya menemui kepala desa tersebut.
Staf tersebut mengangguk dan segera mengambil alih ponsel Canda. "Iya, selamat siang." Staf tersebut berbicara dengan formal.
"Iya, selamat siang. Teungku Haji mau berbicara dengan Anda."
Adinda langsung menepuk jidatnya sendiri, melihat menantunya mengoperkan ponselnya pada suaminya. Alhasil, kini Adi yang bercakap-cakap dengan staf tersebut agar kepala desa bisa meluangkan waktunya untuk keluar dari kantor sejenak.
"Mas, nanti ke pasar malam." Begitu tidak berfaedahnya mulut Canda, ketika Ai sudah mulai tegang di sini.
"Yes, beli kolor buat aku."
Ai sampai bingung, melihat Givan yang begitu klop menimpali obrolan tidak bermutu di atmosfer yang sudah begitu gaib seperti ini. Ai berpikir untuk pulang saja ke penginapannya, karena tinggal di rumah megah ini, semua keputusan dan pendapatnya benar-benar tidak dihargai sama sekali.
Ia sudah menolak dan enggan untuk melanjutkan kasus tentang fitnah kampung tersebut. Namun, Canda datang dan malah langsung memutuskan untuk membuat kepala desa hadir ke rumah tersebut.
Hal yang menurutnya sepele saja, begitu dihakimi dan sampai menarik kepala desa. Bagaimana, jika ia benar-benar menjadi nyonya Ananda Givan dan membuat sedikit masalah. Pasti, sejenis musyawarah keluarga pasti dilakukan sesering mungkin. Ia membayangkannya saja sudah tidak nyaman, apalagi jika benar menjabat posisi tersebut. Satu hal yang membuatnya akan nyaman, ia akan berusaha membuat Givan meninggalkan keluarganya juga.
Karena ia sadar dia sini, bahwa dirinya yang selalu menciptakan masalah. Otomatis, dirinya akan sering dihakimi.
"Assalamualaikum...."
Napas Ai seperti tercekat di leher. Ia benar-benar ingin kabur saja dari hunian yang super indah ini.
"Wa'alaikum salam." Adi bangkit dan menyambut orang penting di desa mereka tersebut.
"Maaf, Teungku. Tadi ada rapat proyek untuk akses jalan menuju ke tanah kuburan itu. Kemarin Teungku hibah tanah lagi untuk pemakaman warga, kan banyak yang protes itu karena dekat ke pengairan ladang mereka. Sampai kan Teungku blokade batas tanah pemakaman warga, biar tanahnya gak tercampur dengan ladang mereka. Nah sekarang, tinggal ke akses jalannya. Rencananya mau diaspal aja, Teungku. Biar hujan pun, tak ada kejadian tergelincir atau masuk ke lumpur." Kepala desa langsung berbesa-basi dengan akrab, pada orang terpandang di kampung tersebut.
"Ya, ya, ya. Saya ikut aturan aja, Keuchik. Bingung kalau warga protes tapi tak pernah sampai ke telinga Saya sendiri. Kemarin ribut tanah pemakaman penuh, jenazah sampai ditumpuk. Dikasih tempat, kena protes lagi Saya. Jadi bingung." Adi menimpali dengan ramah.
"Mari, Keuchik. Di sini saja." Adinda menyambut dan mempersilahkan dua orang penting tersebut untuk masuk ke ruang keluarganya.
__ADS_1
...****************...