Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM46. Kabar dari ibu


__ADS_3

"Pah, Mah, aku izin pulang." Givan merangkul Canda, untuk menghadap orang tuanya yang duduk bersama di teras.


"Jangan balik ke sini lagi ya?" Adinda menatap sepasang suami istri tersebut.


Adi menepuk pangkuan istrinya. "Ish, Adek ngomong apa sih?" ujarnya lirih.


"Tak suka aku. Dulu aku ada masalah sama Mahendra pun, tau dia hamili perempuan juga, kami masih tinggal satu kamar." Mahendra adalah ayah kandung Givan, suami pertama Adinda.


Adi mendengar ucapan itu dari istrinya langsung mencilak cepat. "Abang kena puber kedua, Adek tabrak suami sendiri." Adi menekan dahi istrinya dengan telunjuknya.


"Kan aku yang begitu udah mati, ngerasa bodoh aja."


Canda melongo saja. Ia lekas tersadar, dari ucapan ibu mertuanya. Padahal, ia sudah termakan ucapan suaminya.


"Aku bodoh ya, Mah?" tanya Canda cepat.


Givan langsung menyadarinya. "Kami pamit dulu, Mah, Pah. Assalamualaikum." Ia bergegas untuk pulang ke rumahnya, sebelum istrinya berubah pikiran.


Baju yang tersampir di bahunya tersebut, menimbulkan kesan seksi untuk laki-laki empat puluh sembilan tahun itu. Ia begitu berwibawa, dengan merangkul istri yang setinggi lengannya saja itu. Kesan romantis, membuat siapa yang memandang pasti menyimpulkan bahwa hubungan mereka itu begitu harmonis.


Hingga salah seorang tetangga, yang selalu menjadi tempat Ai menebar gosip, datang pada Ai dan menyampaikan bahwa Givan tengah gilir ke istri pertamanya. Beberapa orang lebih percaya pada Ai, karena ditambah dengan bukti kehamilan pada Ai.


Foto lama yang menjepret mereka bersama, yang Ai simpan pada salah satu aplikasi online penyimpanan data dan dokumen. Menjadi salah satu bukti, yang menunjang untuk Ai menyebarkan gosip tersebut. Ditambah lagi, penampilan Givan yang tidak banyak berubah, juga penampilan Ai yang terlihat masih sama, menjadi bukti terpercaya tentang pengakuan dusta Ai.


Ai manggut-manggut dengan menyimak laporan tersebut. Raut sedih pun, ia pasang agar mendapat iba dari para tetangga yang berpihak padanya. Para tetangga ini pun, belum ada yang berani menembuskan langsung pada Adinda. Kecuali pada bu Ummu, mereka banyak melapor yang malah dirangkum dalam ingatan bu Ummu. Ia percaya dengan semua yang tetangga katakan, tentang menantunya yang menikah siri tersebut.


Kabar dusta yang diperjualbelikan itu begitu laku, sampai makan malam harinya, bu Ummu datang ke rumah anaknya untuk melaporkan sagala cerita mentah yang ia dapatkan tersebut. Tetapi, bukan anaknya yang ia temui. Menantunya yang tengah bekerja dengan laptop tersebut, yang ia temui ketika ia baru membuka pintu rumah anaknya.

__ADS_1


"Van, kamu pulang lagi?" Raut kaget bersamaan maju dengan langkah pelan dari perempuan yang lebih muda lima tahun dari ibunya tersebut.


Givan menyadari akan kehadiran orang lain. Ia tahu itu adalah ibu mertuanya, yang ia perlakuan seperti ibunya sendiri. Senyum ramahnya yang jarang terlihat itu, terukir sopan pada ibu mertuanya.


"Iya, Bu," jawabnya sumringah.


Ibu Ummu sudah malas berbicara dengan menantunya tersebut. "Canda mana?" Ia ingin langsung menemui anaknya.


Ia adalah cerminan manusia yang tidak beda jauh dari Canda, ia suka sekali menelan mentah-mentah ucapan orang-orang. Ia ingin segera melaporkan dan menceritakan tanpa jeda pada anaknya.


"Itu." Givan menunjuk ruang keluarganya yang terlihat dari tempatnya duduk.


Terlihat dari posisinya, Canda tengah menonton televisi dengan ponsel dalam genggamannya yang menyala. Dilengkapi dengan cemilan renyah dan tidak mengenyangkan perutnya tersebut, berada di hadapannya.


Ibu Ummu cukup terheran-heran, dengan anaknya yang terlihat sesantai itu. "Udah ngaji, Ndhuk?" tanya ibu Ummu, dengan melangkah ke arah Canda.


Canda baru menyadari, bahwa ibunya ada di dalam rumahnya. "Udah barusan, Bu. Makan belum, Bu?" tanyanya setelah ibunya duduk di sampingnya.


"Udah kok, Bu. Nih lagi chatting, katanya tinggal di hotel yang aku tempati kemarin. Beda kamar sama bang Ken, bang Ken ambil kamar single soalnya. Sedangkan Ria kan, kek kelas menengahnya gitu fasilitasnya." Canda menjejer tangannya, mengisyaratkan seperti tingkatan dalam bangunan tersebut.


Ibu Ummu manggut-manggut, lalu ia melirik menantunya yang tengah fokus pada laptop tersebut. Namun, telinganya menguping percakapan ini dan anak tersebut.


"Ndhuk...." Volume suara ibu Ummu sudah begitu rendah.


Canda langsung memperhatikan suara rendah ibunya, ia paham ada hal yang harus dibicarakan dengan berbisik-bisik. "Ya, Bu." Canda pun merendahkan suaranya.


Sontak saja, semriwing suara bisik-bisik tersebut menarik perhatian Givan. Ia memperhatikan istri dan ibu mertuanya yang berbicara begitu pelan tersebut, iya yakin bahwa dirinya sedang digosipin di rumahnya sendiri.

__ADS_1


"Betulkah Givan beristri dua? tanya ibu Ummu lirih.


Canda menggeleng. "Ngakunya sih tak, Bu." Canda kembali mencomot makanan ringan dalam toples tersebut.


Givan mencuri-curi pandang dan menajamkan telinganya. Ia tetap tidak bisa mendengar obrolan dua perempuan beda usia tersebut. Namun, ia begitu penasaran.


"Kok gitu? Sebenarnya gimana? Katanya istri keduanya dinikahi siri?" Ibu Ummu melirik menantunya, yang kebetulan lagi Givan pun tengah melirik ke arah ibu mertuanya.


Sampai akhirnya mereka mengalihkan pandangannya sendiri-sendiri, agar tidak begitu mencurigakan.


"Tak sebetulnya, mas Givan selalu sama aku." Givan mempercayai pengakuan Givan akan hal ini.


Dalam ponsel Givan yang ia pegang sejak di rumah ibu mertuanya pun, tak ada tanda-tanda kontak perempuan lain, selain orang kepercayaan suaminya.


"Coba selidiki lagi, tetangga kita udah pada denger kok. Gak mungkin ada asap, kalau gak ada api." Ibu Ummu menarik peribahasa lama itu.


"Nanti mas Givan besok kerja, aku mau ngobrol sama mamah Dinda." Perihal pekerjaan, Givan sudah meminta izin Canda untuk dirinya pergi ke toko materialnya dan ke gudang kayunya yang berada di dalam ladang kopi milik Ghifar. Givan pun sudah mengatakan akan membawa anak mereka, Cani. Agar Canda percaya dan yakin, bahwa ia benar-benar ingin mengecek keadaan usahanya.


Givan sadar kepercayaan istrinya pada dirinya sudah cacat. Ia berusaha untuk memberikan bukti dan memberikan keyakinan pada Canda, agar dirinya mendapat kepercayaan lagi. Meski, itu adalah hal kecil saja.


"Katanya nikahnya udah lama, malah katanya sebelum nikah sama kamu. Ibu liat sendiri foto Givan bareng sama perempuan hamil itu di HP Eva, anaknya tetangga belakang rumah kita itu, yang katanya dia teman SD Givan."


Canda tercengang mendengarnya. Benarkah demikian? Benarkah ia menikah dengan suami orang?


Ia mengingat semua waktu bersama suaminya. Ponsel Givan yang tergeletak tanpa kode khusus tersebut, selalu Canda cek secara berkala.


Namun, akankah kabar itu benar? Givan meninggalkan Ai seperti Fira, tapi dengan status Ai yang masih menjadi istri sirinya. Lalu, hubungan suami istri berlanjut ketika mereka berada di Jepara.

__ADS_1


Beberapa jam dirinya sering ditinggal sendirian oleh suaminya, membuatnya curiga kembali bahwa kabar dari ibunya itu benar.


...****************...


__ADS_2