Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM113. Gelar ganda


__ADS_3

"Eummm. Masalah sabar, ya tergantung situasi dan kondisi aja. Tak sabar-sabar betul, ya pasrah aja udah. Mau gimana lagi? Ngelak dan ngamuk pun, tak bakal buat Canda ngerti." Ini adalah senjata Givan untuk menghadapi Canda.


"Kerja juga dia ikut terus, Van?" tanya Putri kembali.


Givan mengangguk. "Aku bawa-bawa dia ke mana-mana. Di ruangan aku, udah kek playground juga. Dari Ceysa kecil, udah selalu aku bawa. Sampai kemarin sebelum ada masalah Ai pun, ya aku bawa Canda. Sulit dimengerti untuk Ai, sekalipun bukti udah aku kasih juga."


Ai menoleh pada Givan, merasa dirinya disebut. "Pengen dibahas lagi?!" tegasnya kemudian.


"Pas mau aku tunjukkan bukti CCTV-nya, kau nolak untuk putar. Jadi gimana kalau diputar sekarang, dengan keterangan waktu yang udah dirangkum, dicocokkan dengan jam yang tertera di CCTV itu." Givan tidak mengerti tentang Ai, kenapa ia selalu menolak untuk melihat bukti-bukti yang susah payah Kenandra kumpulkan.


"Ada keterangan juga dari beberapa laki-laki di sini, dalam bentuk rekaman video. Tapi aku rasa, keterangan mereka ini tak sama dengan di CCTV. Entah mereka lupa, atau memang niat memanipulasi." Givan menatap satu persatu orang-orang yang tengah memperhatikannya dengan serius.


"Biar aku bantu jelaskan dengan pengamatanku, Van. Kalau memang ada kekeliruan, atau hal-hal yang tidak bisa diungkapkan di bukti. Pendidikan aku, sarjana psikologi atau S.Psi selain D3 manajemen bisnis. Aku paham dengan reaksi wajah seseorang, karakter dan kepribadian yang ditimbulkan dari beberapa interaksi."


Canda tidak berkedip, mendengar pendidikan Putri yang sudah rangkap dua tersebut. Dirinya apa? Canda mengingat pendidikannya. Hanya MA sederajat, perguruan tinggi ia berhenti di semester satu.


"Pantas ya pintar bohong?" Adinda tersenyum manis pada Putri.

__ADS_1


Putri terkekeh malu. "Nah, itulah. Kadang orang terlalu pintar itu, malah terlalu jahat. Orang cerdas pun kalau keterlaluan, ya tak baik juga. Nanti kek Lendra, kalau terlampau cerdas."


"Loh, memang beda ya orang cerdas dan pintar?" Fira nampak kaget mendengar pemahaman yang belum ia ketahui itu.


"Beda dong. Orang licik, orang jahat, pembohong, penipu. Itu biasanya karena dia diarahkan ke jalan yang salah, sedangkan keberaniannya kuat dengan pola pikirnya. Mereka-mereka itu, bisa dikatakan orang cerdas atau pintar loh. Karena setauku, orang yang tidak memiliki keberanian atau takut dengan resiko itu akan lambat mendapatkan kesuksesan atau hanya berjalan di tempat. Semua orang itu tak ada yang bodoh, cuma belum tau keberaniannya di bidang apa. Orang pintar itu, adalah orang yang pandai dalam ilmu-ilmu yang ia pelajari. Sedangkan, orang yang cerdas itu adalah orang yang cerdik dan cermat dalam melihat sesuatu. Di dalam kecerdasan, itu pasti ada kepintaran. Namun, di dalam kepintaran itu belum tentu ada kecerdasan. Ungkapan sederhananya gini, orang pintar itu banyak pengetahuan. Sedangkan, orang cerdas itu logikanya luas dan banyak wawasan. Wawasan dan ilmu pengetahuan itu beda juga, panjang lagi kalau dijabarkan. Wawasan itu, ya mencangkup hal yang luas. Contohnya, logikanya orang bercerai aja. Pihak yang salah itu, pasti mencari pembenaran atas dirinya sendiri. Mengiba, semua kebaikan dibawa, hal-hal sensitif tentang aib pasangan di bongkar, untuk mereka yang dia tujukan ini bisa percaya pada pihak yang bersalah. Nah, orang yang cerdas pasti langsung memahami tentang sikap yang diambil oleh pihak yang bersalah dalam perceraian itu. Dia akan tetap menyalah orang yang salah, meski bukti-buktinya belum kuat sekalipun, karena menurut logikanya ya orang bersalah ini pasti akan mencari pembenaran. Jadi kek saling berhubungan antara orang cerdas, wawasan, logika, cara pandangnya ini. Kalau ilmu pengetahuan, ya tentang pengertian, dasar-dasar, syarat-syarat, bukti-bukti, banyak hal lagi. Jadi kek berdasarkan buku, atau ilmu dan aturan yang ia pelajari. orang pintar biasanya, ilmu pengetahuannya memang luas. Gitu lah sederhananya. Aku tak bermaksud menyudutkan salah satu pihak, ini hanya mencoba menjabarkan pemahaman dari ilmu yang aku punya aja." Putri memerhatikan semua mata yang tertuju padanya.


Banyak dari mereka yang mengangguk, mendengar penuturan Putri. Mereka cukup paham, caranya menghargai seseorang yang tengah berbicara dan memberikan pengetahuan tersebut.


"Orang yang cerdas, tapi tak pemberani. Ada tak, Put?" Nada bicara Canda, seolah menanyakan stok barang.


"Ada, mau beli berapa?" Putri pun berlagak layaknya pedagang yang berinteraksi dengan pembeli.


"Ada aja kok manusia kek gitu, ada juga orang pandai yang cuma bisa diam ketika melihat kekeliruan dalam pemahaman ilmu pengetahuan. Tak semua orang pandai dan cerdas adalah pemberani, tak semua orang pandai dan cerdas mau meluruskan kekeliruan orang lain. Banyak dari mereka yang lebih memilih diam dan coba tidak memperdulikan." Putri menjelaskan pertanyaan Canda tersebut.


Canda mengangguk mengerti. "Kalau aku, masuknya golongan orang apa?" Canda menunjuk dirinya sendiri.


"Golongan tukang rebahan. Manusia-manusia yang kuota tinggal 2gb udah panik, padahal kan kalah dimanfaatkan itu masih bisa digunakan juga." Givan menjawab dengan gemas.

__ADS_1


Mereka kembali diselimuti dengan tawa.


"Bagaimana kalau jadi aku, Canda? Kuota ketengan, 3gb masa aktif tiga hari." Putri mentertawakan dirinya sendiri.


Untuk kebutuhannya sendiri, yang hanya aktif dalam aplikasi chat dan Gmail saja. Kuota ketengan senilai itu, kadang masih tersisa meski masa berlaku sudah habis.


"Dulu Canda begitu, Put. 1gb itu, paket satu minggu. Sekarang, 5gb sehari itu tak berasa. Meski WiFi kencang di rumah pun, kalau lagi main begini ya dia harus punya data internet juga. Makanya lebih anteng di rumah, untungnya matanya tak minus atau rabun. Cuma ya agak tenang gitu kan? Anteng nih perempuan aku. Pasti aku bakal kepikiran terus, kalau dia bisa naik motor terus motor-motoran tiap hari. Nanti gimana kalau dia kecelakaan? bisa tak dia parkirnya? Gimana dia kalau ban bocor? Pasti tiap kali dia pergi, aku kepikiran hal-hal kek gitu. Dia anteng di rumah, pikiran aku ya dia bisa tak nyolokin kabel charger ke stop kontak, atau nyolokin penanak nasi. Karena dia pernah kesetrum tuh, waktu hamil yang kemarin ini. Panik dia, buru-buru di bawa ke RS sama Ghifar. Padahal sih tak apa dia, masih bisa jalan dan berbicara normal. Cuma keadaannya mengandung kan gitu, indungnya kuat, takut janinnya yang kenapa-kenapa."


Dalam ucapan Givan, kentara sekali rasa perhatian Givan yang tercurahkan dalam susunan katanya. Putri yang baru banyak berbicara hari ini pun, langsung memahami bahwa Givan begitu mencintai Canda. Fira yang banyak mendengar cerita tentang Canda dari mulut Givan, setiap ia berkunjung ke sini. Malah lebih memahami bagaimana Givan ke istrinya. Maka dari itu, ia tidak berniat mengusik sedikitpun. Karena ia tahu, ia akan malu sendiri jika mengusahakan untuk mengambil Givan dari cintanya.


"Roda berputar ya ternyata, Van?" Putri merasa yakin, bahwa tidak lama lagi ia akan bangkit dan stabil dari keterpurukannya ini. Buktinya, Canda saja bisa kembali hidup nyaman. Ia pun yakin bisa, jika hidup sesuai pedoman yang benar dan norma-norma kehidupan yang baik. Ia yakin jika menjadi orang baik, kekayaannya tidak akan sementara dan tidak akan sia-sia.


"Begitulah. Fira pun dulunya dagang tisu di Pantai Kuta katanya. Dia bisa jadi bosnya sekarang, pengusaha tisu parfum yang viral itu. Banyak lagi usahanya, tisu dapur yang bisa dicuci juga." Givan menarik contoh seorang wanita yang ia buang sia-sia, bisa bangkit seorang diri dari keterpurukannya.


"Bohong juga, Put. Aku dulu support biaya dari Ghifar pas itu. Kalau usaha tisu, malah hasil utang dari Mamah dengan atas nama Ghifar." Fira menutupi wajahnya sendiri dengan mengakui hal tersebut.


Adinda hanya geleng-geleng, dengan tersenyum geli.

__ADS_1


"Nah, itulah. Semuanya butuh perjuangan. Jadi, kalau ada yang bisa aku bantu ya bakal aku usahakan. Barangkali pihak kau belum lega, pihak Ai pun belum yakin. Ya aku bantu untuk menuntaskan gitu. Sama-sama berjuang. Berjuang agar Ai yakin dengan buktinya, berjuang menuntaskan kelegaan juga." Putri melirik bergiliran antara Ai dan Givan.


...****************...


__ADS_2