Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM80. Ingin berbicara


__ADS_3

"Pura-pura baik ke istri, biar kepala desa percaya kalau dirinya gak seperti yang aku tuduhkan. Padahal jelas, bukti di depan mata." Ai duduk kembali di sofa single dengan mengusap perutnya.


Canda merasakan ada pengganggu. Ia melirik ke sudut Ai duduk, kemudian ia menurunkan kakinya dari kursi panjang tersebut dengan dirinya yang berubah posisinya menjadi duduk.


"Pura-pura hamil sama suami orang, eh gak taunya malah kena syariat di sini." Canda terkekeh geli dengan menutupi mulutnya.


Ai membulatkan matanya tidak percaya. Canda berani sekali mengejeknya seperti itu.


"MAS.... KATA AI, MAS BAIK KE ISTRINYA ITU PURA-PURA. BIAR KEPALA DESA PERCAYA KALAU MAS TAK KEK YANG AI TUDUHAN KATANYA."


Ai menutup mulutnya yang menganga, mendengar Canda menyerukan suaranya begitu lepas.


Givan ada di sini? Tanyanya dalam benaknya.


"Sini kaunya, Cendol!" sahut Givan berseru.


Memerintahkan Canda pergi dari hadapan Ai adalah jalan ninja untuk Givan, sebelum Ai lebih banyak mengompori Canda.


Canda menaikan dagunya. Lalu jari telunjuknya seperti tengah mengusap ingus pada hidungnya sendiri, kemudian ia mengarahkan telunjuknya dan ibu jarinya yang seperti isyarat sebuah tembakan pada Ai. Canda melarikan dirinya ke dapur, untuk menghampiri suaminya dan ibu mertuanya yang berusaha membuatkan makanan untuknya.


"Ngaduan! Sialan ini orang! Udah kaya bocah SD." Ai geleng-geleng kepala dengan memperhatikan area dapur rumah tersebut.


Ia ingin mengambil makanan di dapur pun, rasanya begitu sungkan. Ia malu, karena Canda melaporkan secuil ucapannya.


"Aku beli makanan di luar aja lah." Ai bangkit dan keluar dari rumah tersebut tanpa izin.


Ai mengunci tutur katanya sebisa mungkin, tidak menyebarkan kabar yang tidak ramah lagi. Ia cukup trauma, dengan rentetan hukuman yang kelak nanti akan dibahas kembali. Ia berencana kabur pun, memikirkan kondisinya dan anaknya. Ia tidak mau, ia membesarkan anaknya sendiri tanpa Givan.


Bisik-bisik beberapa orang setiap kali dirinya lewat, membuatnya semakin menjadi tidak nyaman untuk mengejar tanggung jawab para Givan tersebut. Apakah ia harus mundur saja? Ataukah tetap melanjutkan ini, meski hukuman sudah menantinya di depan mata. Apalagi, denda emas murni harus ia penuhi. Bagaimana caranya untuk memenuhi denda tersebut? Ai memikirkan jumlah rekeningnya.


Setelah bersantap, ia kembali ke rumah megah tersebut. Ia ingin beristirahat sejenak, tapi sebelumnya ia ingin mandi terlebih dahulu karena hari mulai sore. Tidak ada pantangan untuknya, karena ia hidup dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


Namun, alangkah terkejutnya ia. Saat noda merah ia dapati dalam celana segitiganya.


Rasa kantuknya hilang seketika. Ia bertambah panik, karena perutnya tiba-tiba merasa begitu kaku. Kepanikan tersebut, menambah resiko dalam kehamilannya.


Ia membersihkan dirinya dan bersiap dengan pakaian lainnya. Hal yang paling utama, ia ingin mengadu pada Adinda. Tetapi tagihan rumah sakit membayangi dirinya sendiri.


Givan menolak untuk membayar, dengan Gavin memaksanya untuk mengganti biaya yang sudah dikeluarkan olehnya. Sedangkan, persediaan uangnya tidak lagi banyak.


Tok, tok, tok....


"Ai.... Minta nomor keluarga kau, untuk kepentingan hukum nanti." Givan berkata di depan pintu kamar Ai.


Setelah memenuhi keinginan ngidam istrinya itu. Givan sibuk bersama Ghava untuk mengumpulkan bukti-bukti dan hal-hal yang bisa meringankannya.


"Ai...." Givan memanggil Ai dan mengetuk pintu kamar Ai kembali.


"Ya, A. Sebentar." Ai mengenakan hijabnya asal.


"Gimana, A?" Ai menemui Givan.


"Mana nomor kontak keluarga kau? Satu orang aja, kakak kau, atau paman kau. Wali dari keluarga kau intinya. Kalau masih ada ayah, ya nomor ayah kau." Givan menyeka keringat kerumitannya menyusun bukti-bukti tadi.


"A, kita perlu bicara banyak. Bisa temuin aku di tempat private?"


Jelas Givan langsung menggeleng. "Di rumah mamah aja. Di sini aja, tinggal ngomong aja." Givan menunjuk sofa tamu, yang berada di belakangnya.


"Mumpung istri aku pun masih ada di sini, jadi tak bakal ada salah paham lagi." Givan berjalan lebih dulu dan menempati satu sofa tersebut.


"Sini!" Givan memandang Ai dengan ekspresi datar.


Ai mengangguk, kemudian ia duduk di hadapan Givan dengan tertunduk diam. Antara ketidakyakinan dalam ambisinya. Ai berniat ingin menyudahi semuanya, dengan mencari jalan keluar kekeluargaan yang bisa Givan sepakati.

__ADS_1


"A...." Ai meluruskan pandangannya. "A, aku gak pernah mau masalah ini sampai melebar." Suaranya lemah dan begitu lembut.


"Paham, aku pun tak pernah mau ke sini. Untuk apa sebenarnya? Untuk apa datang? Tak ada kasusnya kau minta tanggung jawab sama aku, aku udah bayar kau." Givan mencoba berbicara baik-baik.


Canda yang tengah rebahan di sofa ruang keluarga, mendengar suara suaminya mengobrol seperti seseorang yang tengah menggerutu. Tadi, ia menolak kalau diperintahkan suaminya untuk meminta nomor kontak keluarga Ai. Ia pun tahu, jika akhirnya Givan yang mengetuk pintu kamar Ai sendiri untuk meminta nomor kontak keluarga Ai. Namun, hilangnya ketukan pintu tersebut bersamaan dengan suara orang mengobrol seperti menggerutu tersebut.


Canda berpikir, bahwa suaminya terbawa masuk ke dalam kamar Ai. Kemudian, mereka membicarakan tentang perasaan mereka di kamar Ai. Bayangan Canda bertambah fatal, karena ia berpikir bahwa suaminya kini tengah berbuat mesum dengan Ai.


Bangun dengan tergesa-gesa, membuat Canda merasa kepalanya kliengan. Tetapi, ia segera menyeimbangkan tubuhnya dengan berpegangan pada tembok tersebut. Ia berdiam diri sejenak, lalu barulah melangkah ke arah ruangan depan.


Tubuh tegap suaminya tengah duduk di sofa ruang tamu, berhadapan dengan Ai begitu jelas di depan matanya. Pikiran buruknya seketika hilang, ketika melihat sorot mata suaminya yang terlihat serius dengan ekspresi wajah datar tersebut.


"Mas? Lagi ngapain?" tanyanya dengan mendekati suaminya.


Givan segera menoleh ke arah istrinya, kemudian ia menepuk tempat di sebelahnya. "Sini, Canda." Senyum samarnya terukir hanya untuk istrinya.


Garis bibir itu mampu tertarik, di tengah himpitan masalah seperti ini. Ia ingin tetap terlihat baik-baik saja, di depan istrinya yang begitu lemah tersebut. Givan memahami mental Canda gampang terguncang, ia tidak mau Canda malah memikirkannya dan segala kerumitannya.


"Ada apa, Mas?" Canda menyentuh lengan suaminya, dengan memandang Ai.


"Ai mau ngomong katanya." Givan mengarahkan pandangannya ke arah Ai juga.


"Ngomong apa?" Canda mulai melingkarkan lengannya pada lengan suaminya.


Ia terbiasa seperti itu, ia terbiasa mendekap lengan atletis tersebut. Givan tempatnya berpegangan, ia pun yakin Givan selalu bisa menggenggamnya erat.


"Sok, Ai. Tinggal bilang aja." Givan menyandarkan rasa lelahnya pada sandaran sofa.


Tenaganya tidak begitu banyak terpakai, tapi otaknya dan raganya begitu lelah mengurus permasalahan ini. Sekali lagi, ia menyesal karena malah menjebak Ai. Harusnya, ia tidak pernah merespon barang sedikitpun pada perempuan tersebut.


Ai memandang dua nyawa di hadapannya dengan penuh keragu-raguan. Harus dari mana ia mengungkapkan keinginannya, untuk masalah ini agar bisa diselesaikan tanpa pihak ketiga yang memberi hukuman. Karena menurutnya, itu tidak cukup adil untuknya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2