
"Canda, Canda. Mending kasih sufor khusus prematur punya Cala, daripada kau kasih ASIP kau. Nanti, dia jadi anak kau." Givan mengejar Canda untuk mengingatkan hal tersebut.
Canda tidak tega, melihat anak bayi yang sampai terlihat tulang belulangnya tersebut. Ia merasa yakin, jika anak itu akan cepat gemuk seperti Cala jika ternutrisi ASI murni. Canda tahu, edukasi tentang ASI lebih baik dari segala jenis susu di dunia ini.
"Dia cuma butuh nutrisi, Mas jangan pikirkan lain-lain. Toh, nenek kakeknya kaya kok." Canda tetap melanjutkan langkahnya.
Givan terkekeh, mendengar ucapan polos istrinya. Ia tahu tentang mulut istrinya yang tak terfiltrasi.
"Mana yang paling lama ini, Mas?" Canda tahu suaminya sudah memindahkan ASIP-nya dari lemari es yang berada di mobil van ke dalam lemari pendingin dapur tersebut.
Mereka diajarkan untuk menggunakan ASIP yang paling lebih awal ditaruh di lemari pendingin.
"Yang paling depan, Canda. Tadi tak ada pulpen, jadi tak aku kasih jam." Givan selalu menyimpan ASIP istrinya, karena istrinya sering merasa pabrik ASI-nya penuh ketika siang hari Cala selalu terlelap.
Givan bersyukur, karena istrinya selalu mampu memberikan ASI eksklusif untuk anak-anak mereka. Meski ketika usia anak-anak mereka semakin besar, Givan menyelinginya dengan susu formula.
"Canda kau serius kah?" Givan sedikit khawatir, karena istrinya akan membagi anugrah menyusui anaknya nya dengan anak adiknya.
"Kan banyak kantong ASI aku. Aku tau, aku tak akan mampu nyusuin sampai usia dua tahun, karena Mas tak sabar mau nyaplok juga. Tapi setidaknya, harus mampu ke enam bulan pertama." Canda mementingkan hal itu, karena selama enam bulan pertama anak bayi tidak makan apapun selain ASI.
"Kau ikhlas tak bagi ASI kau untuk anak Gavin?" Givan memperhatikan istrinya merendam ASIP tersebut di wadah khusus.
"Ikhlas kok. Daripada sebanyak ini terbuang, kan mending dibagi ke anak Gavin. Aku pernah dengar, katanya tak apa kalau bayi lain yang mau disusuinya juga sama jenis gendernya." Canda memindahkan kantong ASI ziplock tersebut ke botol susu milik anaknya juga.
"Nah, tuh. Suara Cala tuh." Canda bergegas meninggalkan dapur, setelah selesai dengan ASIP-nya.
"Ada mamah sama papah," tambah Givan dengan mengikuti langkah kaki istrinya.
__ADS_1
Canda memberikan botol dot berisi ASI-nya tersebut pada ibu mertuanya, lalu ia segera mengangkat Cala yang sudah ribut saja tersebut. Anak itu sudah amat mengantuk, karena semalaman begadang. Cala butuh ibunya dan ASI ibunya untuk waktu yang cukup lama. Canda pun sudah hafal kebiasaan anaknya, yang selalu mengisi perutnya dengan full, ketika mulai akan beristirahat.
"Isinya apa ini, Canda?" Adinda tampak ragu memberikan dot susu tersebut pada bayi yang belum diberi nama tersebut.
"ASI." Canda menjawab apa adanya.
"Heh, kau serius kah? Dikira tak ada pertanggungjawabannya kah?" Adinda tak mau menantunya menyesal nantinya.
"Udah, Mamah kan ada. Masa aku aja disuruh tanggung jawab? Mamah juga lah." Canda mulai mengayunkan tubuhnya dengan menggendong Cala.
Givan akan masuk ke dalam kamar, ia berpapasan dengan ayah sambungnya yang hendak keluar dari kamar. "Mau ke mana?" Givan menahan ayahnya.
"Ke Gavin."
Givan langsung mendorong tubuh ayah sambungnya pelan, untuk tetap berada di dalam kamar. "Diingat-ingat, gimana kalau anak itu ngamuk. Udah, biarin aja dulu sekarang. Butuh kita juga, dia pasti datang ke kita sendiri. Daripada nanti kesalnya tak hilang-hilang, karena dia kasar ke kita pas marah." Givan tak mau ayah sambungnya yang sudah renta menjadi sasaran anak kandungnya sendiri.
"Insha Allah, tak." Givan percaya adiknya tak ada pikiran ke arah situ.
Adi menoleh ke arah para wanita. Ia tidak bisa berkata apa-apa, saat Adinda memberikan ASIP milik Canda. Adi paham, mulai saat ini anak tersebut sudah mulai menjadi anak Canda dan Givan. Adi paham, anaknya pasti mengerti tentang hukum yang satu ini.
"Cendol, kau dengar satu ini. Memang berbeda dengan hukum nasab, tapi kau harus tau. Balita yang belum mencapai umur dua tahun, jika menyusu kepada seorang wanita lain. Maka wanita itu menjadi ibu susunya. Anak-anak ibu susuan baik dari suami yang sekarang, atau suami terdahulu maupun yang akan datang, semuanya menjadi saudara saudara susu bagi anak yang menyusu itu. Suami ibu susuan menjadi ayah susuan walaupun dari ibu yang lain juga menjadi saudara susu, dalam artian kita menjadi orang tua bayi yang kau susui. Saudara dari ayah susuan menjadi pamannya. Saudara-saudara dari anak yang menyusu tidak terpengaruh apa-apa, mereka boleh kawin dengan anak-anak dari ibu penyusu. Jadi yang terkena hukum penyusuan hanya yang menyusu aja. Mirip hukum nasab, kau harus bisa bedakan." Givan merasa belum puas untuk menasehati istrinya.
"Iya, Mas tak miskin-miskin betul kan? Baju bayi lima set, masa tak mampu beli? Apa harus aku buatkan dari kain daster?" Canda seolah menantang suaminya dengan celotehan polosnya.
"Dodol!" Givan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang orang tuanya.
"Besar nanti kalau anaknya diambil orang tuanya, kau tak boleh marah." Givan mulai menguap lebar.
__ADS_1
"Marah lah! Kecil dibuang-buang ibunya, dikurung-kurung ayahnya. Besar ngaku anak begitu? Ya tidak bisa."
Semua orang seperti tak percaya mendengar ucapan Canda.
"Dia perempuan, namanya Calinda Chakra. Pusat energi matahari." Usulan nama tersebut langsung membuat geli yang mendengarnya.
"Kau udah macam orang sains, Dek." Adi geleng-geleng kepala.
"Aku mau anak aku dikasih nama itu, tapi udah diserobot Ghifar duluan yang ngasih. Cala itu energi terbesar aku, dari melawan rasa sakit kemarin. Dia yang hidup berdampingan dengan kista aja, dia kuat rebutan nutrisi, dia kuat tetap hidup di ruang yang dihimpit oleh kista itu. Dia juga seolah jadi penerangan aku untuk sadar, dia ngamuk mukulin aku sampai aku bangun dari alam mimpi. Aku masih ingat jelas tentang itu. Tapi pas aku tanya namanya, udah Calandra aja namanya. Padahal, aku mau Calinda. Tapi tak apa, Cala tetap pusat energi Biyung. Cuma Cala anak yang Biyung ayun sambil ASI begini, yang lain biar sambil rebahan aja." Tak disangka, ucapan Canda mengandung haru untuk orang yang mendengarnya.
"Kau akhirnya tetap dikaruniai anak kembar, Canda," ungkap Givan, menahan rasa pedas di matanya.
"Eh iya ya? Cala-Cali jadinya. Cala kakaknya, Cali adiknya. Biyung tak sengaja loh padahal tadi." Canda melihat ke arah anak perempuan yang berada di dekapan ibu mertuanya.
Senyum samar anak perempuan yang terlelap juga itu, menandakan seorang ia suka dengan hak nama yang baru diberikannya.
"Masih ada satu masalah." Adi duduk di tepian ranjang, dengan memasang wajah serius.
"Apa, Bang?" Adinda ikut serius mendengar ucapan suaminya.
"Ke mana tali pusarnya pergi? Bayi itu datang dengan tali pusar yang masih segar. Tuh, dah lepas pusar dia. Abang curiga tali pusarnya dimakan Gavin. Segitu banyaknya anak, Abang tak pernah ikutin tradisi itu." Adi menyibak kembali baju Cali untuk melihat keberadaan tali pusar anak tersebut.
"Hoekkkk....." Givan mual-mual membayangkan tali pusar Cali benar-benar dimakan oleh Gavin.
Adinda terkekeh, kemudian menepuk lengan suaminya. "Sayang nasi campur dua bungkus jangan sampai dikeluarkan lagi." Celetuknya kemudian.
...****************...
__ADS_1