
"Itu kakak sepupu." Ai tertunduk, karena menjawab pertanyaan dengan salah.
"Anaknya uwa kau itu? Yang di Kalimantan? Kan bukan itu juga orangnya." Givan rupanya mengetahui cukup banyak beberapa keluarga dari Ai.
"Mas hebat, kenal semuanya." Canda tersenyum lebar, dengan menunjukkan kedua ibu jarinya. Namun, sorot matanya tidak bisa berbohong. Kentara jelas, sorot teduh itu berkaca-kaca.
Givan menurunkan kedua ibu jari Canda, kemudian ia merangkul mesra istrinya. Ia paham, Canda tengah cemburu di sini.
"Ya udah, aku diam aja, Canda," bisiknya lirih.
"Tak begitu juga kok, Mas. Aku seneng dengarnya." Canda masih menarik sudut bibirnya begitu tinggi.
Ia ingin terlihat kuat, meski malah sebaliknya.
"Udahlah, Ai! Aku malas dengarnya, kau bohong terus rupanya." Adinda merasa terperangkap dengan wajah memelas Ai.
"Bagaimana? Masalah khamar, nanti naik hukum. Untuk kehamilan ini, sebenarnya yang paling bijak hanya Dek Ai pergi dari kampung kami. Cuma, di sini kan Dek Ai nuntut tanggung jawab. Jadi bagaimana yang terbaiknya? Karena kalau ini dibawa ke hukum, bisa lebih meluas lagi masalahnya. Apalagi, ada keterangan bahwa Dek Ai menjual diri dengan Bang Givan membeli. Hukuman Dek Ai udah pasti ditambahkan ini." Salah seorang petugas mengembalikan topik pembicaraan mereka.
"Sulit juga, tak ada walinya ini, Pak. Tak mungkin kami hakimi sepihak, tanpa adanya wali dari Dek Ai. Nanti malah terkesan tidak adil, atau berpihak pada satu pihak saja." Kepala desa merasa hal ini tidak sesuai prosedur.
"Bagaimana kalau kita ambil dari warga kita saja? Hanya untuk prosedur, seperti halnya turis yang didapati sedang berbuat hal yang menyalahi syariat," usul salah satu dari tujuh petugas tersebut.
Semua orang saling memandang, sampai akhirnya mereka memberi anggukan. Warga setempat yang menjadi saksi, ditarik untuk meminta mendampingi Ai dalam mediasi tersebut. Hanya untuk mendampingi, bukan untuk berpihak pada Ai.
Kembali dibacakan ulang, pokok permasalahan antara Givan dan Ai. Mereka semua menyimak dan berpendapat berbeda dalam benak mereka, sampai akhirnya pembacaan permasalahan itu selesai.
"Restitusi mode kekeluargaan sudah paling benar menurut Saya. Karena di sini, Dek Ai menuntut pernikahan. Sedangkan, Bang Givan tidak mau karena merasa tidak melakukan dan yakin bahwa itu anaknya. Bukti DNA tidak bisa diajukan sekarang, karena keadaan janin yang lemah, jadi menurut informasi yang Saya dapatkan dari Bang Ken." Kepala desa menggulirkan pandangannya pada Kenandra. "Bahwa test DNA bisa dilakukan setelah bayi dilahirkan nanti, itu sudah paling aman untuk ibu dan bayinya," lanjutnya kemudian.
Kepala desa tidak menyadari, bahwa hal tersebut memberikan kekecewaan yang mendalam untuk keluarga Adi's Bird. Givan terutama, karena ia tidak bisa langsung membuktikan pada Canda bahwa itu bukanlah darah dagingnya.
__ADS_1
"Dek Canda sudah menyampaikan di belakang, bahwa ia pun akan memberikan jaminan sebesar lima juta rupiah sebulan, untuk bayi yang Dek Ai lahirkan nanti. Hanya saja, Saya di sini meminta dengan sangat pada Dek Ai, untuk meninggalkan kampung setelah melaksanakan hukumannya. Saya keberatan, dengan keberadaan seorang wanita yang hamil tanpa suami. Tentu ini di luar dari kisah nabi Isa AS." Cara penyampaian kepala desa cukup santai.
"Dengan keadaan bayi Saya yang kurang normal, biaya segitu tidak cukup, Pak." Ai langsung menyampaikan protesnya.
"Saya sudah mengajukan pembuatan asuransi." Rupanya, penyampaian Givan itu sebelumnya belum dibicarakan dan tidak mendapat persetujuan dari orang tuanya. Termasuk dengan Canda.
"Saya keberatan." Adinda menatap tajam anak sulungnya.
"Loh, Mah." Givan menaikkan sebelah alisnya.
"Aku pun tak ikhlas, Mas. Dikiranya asuransi sebulan itu seratus ribu kah? Kan udah pengajuan pembuatan BPJS mandiri." Canda mengeluarkan protesnya hanya di dekat telinga suaminya.
Givan menoleh, ia mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. "Aku ngerti, Canda. Yang penting, ini cepat selesai aja dulu. Asuransi kan bisa dinonaktifkan kembali nanti." Givan pun berbicara begitu pelan.
Hanya mereka berdua yang tahu dan mampu mendengar.
"Aku keberatan! Aku tak mau!" Canda memundurkan wajahnya dengan menggeleng berulang.
"Tak!" Canda begitu kekeh dengan keputusannya.
Givan menghela napasnya, kemudian menggenggam tangan istrinya dengan erat. Telapak tangan mereka menyatu, menyalurkan kekuatan hati mereka.
"Ya udah, Saya bantu ajukan penerima BPJS PBI saja. Nanti sertakan KK dan KTP Dek Ai." Kepala desa malah mengajukan diri untuk menyelesaikan permasalah asuransi tersebut.
BPJS PBI, merupakan peserta yang iurannya dibayarkan oleh pemerintah karena tergolong masyarakat fakir miskin dan kurang mampu.
"Saya sudah menyuruh seseorang untuk mengajukan BPJS non PBI, tapi orang tersebut tidak diberi fotocopy KTP dan KK yang ia minta dari Ai," timpal Kenandra. "Jadi mau dianjurkan non PBI pun bagaimana? Ai seolah menolak terus jika diminta data dokumennya." Ia melirik ke arah Ai yang duduk seorang diri.
"KK Saya ada di Jepara. Saya gak tau, kalau orang yang minta fotocopy KTP Saya itu orang suruhan kalian. Makanya Saya gak kasih, karena takut disalahgunakan," jelas Ai perlahan.
__ADS_1
"Ya sudah, biar Saya yang minta di sini. Biar alamatnya, sesuai dengan alamat KK dan KTP Dek Ai." Kepala desa tersebut terlihat ingin sekali membantu mereka menyelesaikan masalahnya.
"Adanya cuma KTP, Pak." Ai lalai di mana dirinya menyimpan kartu keluarganya. Karena, terakhir ia memperbaharui adalah ketika menjadi janda.
"Iya, tak apa. Nanti Saya usahakan."
Permasalahan asuransi kesehatan Ai selesai. Kini, tinggal kembali lagi pada masalah jaminan. Karena, Givan tetap menolak pernikahan yang Ai inginkan.
"Nanti kalau bayinya lahir, bilang Saya saja. Biar Saya ajukan juga BPJS PBI untuk bayinya juga, biar bisa pemeriksaan rutin. Apa masih kurang, dana yang Bang Givan berikan senilai itu?"
Ai tidak mengerti, kenapa jalur keluar untuk kesehatannya dan anaknya malah dicover oleh BPJS. Bukannya Givan yang mengurus, melainkan pihak desa.
"Saya meminta dilebihkan sedikit." Ai kembali mengutarakan protesnya.
"Saya ikhlasnya segitu, Ai." Canda yang memberikan keterangan tersebut.
"Canda, aku gak dinikahi loh. Bagaimana untuk kebutuhan aku sendiri, sedangkan aku harus ngurus anak A Givan? Aku juga punya kebutuhan hidup lainnya, aku perlu makan dan pakaian." Ai berpendapat bahwa lima juga hanya untuk anaknya saja.
"Itu bukan anak Saya, Ai!" Givan membenahi kalimat Ai yang salah menurutnya.
"Apa kau juga menuntut hunian, modal usaha, kendaraan dan aset, setelah kau dapat jaminan yang kau inginkan?" Adinda berkata tegas dan dingin.
"Ini kesalahan kau, Ai. Kau yang tak hati-hati untuk memperisai dirimu sendiri di area ruang lingkup pekerjaan kau. Dengan Canda mau jamin pun, itu udah beruntung untuk kau. Yang kau kandung bukan anak Givan. Jika pun anak Givan, harusnya ia tak perlu bertanggung jawab karena dia pembeli. Lucu loh, Ai." Kenandra tertawa sumbang.
"Akadnya bukan dengan orang lain, Bang. Akadnya dengan A Givan saja." Ai bergulir menatap Givan. "Tapi, dia sengaja biarkan aku digunakan laki-laki lain." Ai menatap Kenandra kembali.
"Ai, aku tau loh akad kau bukan cuma sama Givan. Maksudnya, kau pun menerima pembayaran pribadi dari lima laki-laki yang ada di ruangan itu." Kenandra menyisipkan bukti tersebut, dalam dokumen yang Givan ajukan.
Ai mengatur napasnya, ia mencoba santai mendengar kebenaran yang mengagetkan tersebut. Ia berekspresi senatural mungkin, yang malah memasang ringisan dari rasa tidak nyaman di perutnya.
__ADS_1
...****************...