Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM155. Berjalan dengan obrolan


__ADS_3

"Nah! Hayo, Canda!" seru Givan dari depan pagar rumahnya, dengan mengantarkan tamunya.


Untung saja, Givan tidak telat datang. Canda sudah mendorong pintu pagar rumah mertuanya. Tinggal selangkah lagi ia masuk, sayangnya diketahui Givan lebih dulu


Tawa kecil menghiasi teman Givan yang menyerahkan laporan pekerjaan mereka itu. Dalam gemasnya, ia menyamarkannya dengan kekehan agar terlihat ramah pada teman-temannya itu.


Canda mematung, dengan memperhatikan Givan yang berjalan ke arahnya. Bayangannya, ia akan didorong, dicekik dan dibanting suaminya karena tubuhnya lebih kecil dari suaminya.


"Susah kau ya dibilangin!!!" Givan menekan suaranya, kemudian merangkul paksa Canda untuk kembali ke rumah.


"Mas, aku mau main," rengek Canda dengan mogok melangkah.


"Tak usah! Udah ayo ke pasar malam aja! Biar anteng jajan kau di sana! Daripada banyak drama lagi!" Givan mengempit leher Canda dan memaksa istrinya untuk melangkah mengikuti langkah kakinya.


Adinda geleng-geleng kepala, melihat anak dan menantunya yang seperti adik dan kakak yang tengah ribut. Ia ingin mengajak Nafisah untuk mendatangi kamar penginapan Ai, kemudian mengambil beberapa barang Ai dari sana.


"Itu Givan ya, Mah?" tanya Nafisah dengan mengenakan sandal karet yang Adinda berikan.


"Iya, sama istrinya," jawab Adinda kemudian.


Kembali, tidak hanya Canda. Rupanya, keingintahuan para wanita cenderung tinggi. Nafisah bertanya-tanya dalam benaknya, tentang keadaan rumah tangga Givan. Karena ia memahami banyak cerita, jika Givan datang ke tempat karaoke. Di mana istrinya saat itu?


"Ada apa?" Adinda memperhatikan Nafisah yang masih memperhatikan anak dan menantunya yang menjauh dari pagar rumah.

__ADS_1


"Maaf, Mah. Memang gimana ya keadaan rumah tangga Givan sekarang dan kemarin?"


Jika ada suaminya, Nafisah tidak akan berani menanyakan hal ini. Suaminya akan marah, jika ia banyak bertanya pada hal yang tidak harus mereka tahu.


"Nanti lihat sendiri kalau musyawarah lagi ya?" Adinda tertawa kecil, hanya dengan membayangkan rumah tangga anak dan menantunya. Di mana anaknya banyak istighfar, karena ia seperti memiliki anak sulung yang manja, bukan memiliki istri yang sepemikiran dengannya. Tapi dengan Canda menjadi istri Givan, Givan bisa hidup lebih lama karena tingkat kocak Canda.


"Memang mereka gimana?" Nafisah masih di titik didih keingintahuannya. Mereka melangkah di halaman rumah, untuk menyusuri jalan ke tempat penginapan Ai.


"Ya begitu. Kalau dibilang romantis, ya romantis, tapi tetap ada tengkarnya. Dibilang renggang, ya tak juga, karena tiap detik mereka pegangan tangan. Canda kan istrinya Givan nih, nah dia ini lagi hamil lagi, beda empat bulan dengan kandungan Ai. Tak lagi hamil aja tuh, ya pengen nemplok aja ke suaminya. Tak di depan mertua, di depan ipar, di depan ibunya sendiri, kesehariannya ya gangguin suaminya. Kecuali lagi di depan anak, kadang-kadang mereka lepas gandengan, tak melulu nempel. Beda sekarang keadaannya, soalnya Canda lagi hamil. Ya tiap detik begitu terus. Setiap hamil tuh, kek bawaannya cinta betul sama suaminya. Nampak di mata kitanya tuh kek gitu, entah bagaimana aslinya. Sampai-sampai, kaya Givan ini, pernah masa tidur kaki mereka terikat pakai dasi. Karena beberapa kali Givan ketahuan keluyuran kalau Canda tidur. Keluyurannya sih tak jauh, ke sini paling. Atau, di sana lagi kerja gitu. Tapi, ya tak di kamar bareng istrinya yang lagi tidur itu. Makanya, Canda pernah ikat kaki suaminya dan kakinya." Adinda terkekeh kecil, karena membayangkan ekspresi wajah Givan yang kembali bersabar. Cerita ini pun, Adinda dapatkan dari mulut anaknya sendiri.


Nafisah mengerutkan keningnya. Kenapa Givan bisa datang ke tempat karaoke? Hanya satu itu pertanyaan yang mengganggu sekarang. Jika hubungan suami istri itu nampak baik, harusnya si suami tidak mencari hiburan di luar. Apalagi, tanpa istrinya.


"Romantis dan nempel terus begitu, tapi kenapa ya Givan datangi Ai ke tempat karaoke?" Mereka baru saja melewati rumah Givan. Pagar yang menjulang tinggi, tidak bisa membuat Nafisah melihat Canda dan Givan yang berada di halaman rumahnya sendiri.


"Karena bisnis, bukan Givan ingin hiburan. Gimana ya, setelah menikah ini menurut Saya ya anak Saya tak pernah keluyuran sendiri cari hiburan. Hiburan mereka itu, ya istri-istri mereka sendiri. Kadang liburan berdua, bulan madu kedua lah, anak-anaknya dititipkan ke Saya. Bukan cuma Givan, tapi anak-anak Saya yang lain pun sama begitu."


"Udah kejadian tiga kali kalau tak salah, selama di Jepara itu Givan datang ke room karaoke karena permintaan relasi bisnisnya. Mereka para pengusaha, ya tidak jauh dari pengusaha kayu dan meubel. Karena usaha Givan yang di Jepara kan, ya bergerak di bidang itu. Jadi dia kek merangkul pengusaha sana, biar produknya tidak gagal dikenal masyarakat." Adinda menjelaskan tentang orang-orang yang mengajak Givan datang ke tempat karaoke.


Barulah Nafisah memahami dan mengerti, jika Canda memang sengaja ditinggal karena suaminya dalam pekerjaan.


Tin....


Motor yang Givan kendarai melewati Adinda dan Nafisah.

__ADS_1


"Mamah...," sapa Canda yang duduk di menyamping dan memeluk perut suaminya, ia melambaikan tangannya pada ibu mertuanya.


"Ati-ati, Dek," ucap Adinda melihat menantu kesayangannya dibawa oleh anaknya.


"Hamil berapa bulan dia, Mah? Perutnya udah besar ya?" Nafisah gagal fokus dengan perut cembung Canda.


"Beda empat bulan sama Ai. Canda mau nginjak tiga, Ai mau nginjak tujuh. Ai ke sini tuh kandungan empat bulan kalau tak salah, ya udah cembung juga." Adinda menoleh sekilas pada Nafisah.


"Perut Canda kaya lagi hamil lima bulan gitu ya?" Menurut Nafisah, terlalu besar ukuran perut Canda untuk usia kandungan tiga bulan.


"Hamil anak kembar, Saya punya turunan kembar. Kakak Saya kembar, satunya meninggal dari kecil. Anak kedua dari papah Adi pun kembar, setelah Ghifar itu. Jadi Ghifar dan dua adik kembarnya itu lahir di tahun yang sama. Karena kalau kembar kan, hamilnya tak sembilan bulan ya? Jadi ya tiga anak lahir di tahun yang sama." Adinda tersenyum lebar menceritakan sedikit tentang hidupnya.


"Wah?" Mata Nafisah mekar mendengar tiga anak dalam satu tahun.


"Nah, begitulah. Sekarang, Canda yang dapat anak kembar. Salah satu dari anak kembar Saya pun, ya istrinya melahirkan anak kembar juga." Ghavi yang Adinda maksudkan.


"Ada keturunan kembar ya, Mah?"


Mereka sudah berbelok ke arah penginapan yang hampir terisi penuh tersebut.


"Ada, tapi jarang yang selamat dua-duanya. Alhamdulillah, dua anak kembar Saya tak punya kelainan dan sehat sampai sekarang. Anak Canda pun semoga sama kek dua anak kembar Saya, ada takutnya soalnya jejak kembarnya satunya tak selamat semua. Kata orang tua sih, karena suaminya masih satu kota yang sama. Semakin jauh dia dapat suaminya, katanya semakin sehat-sehat anak-anaknya. Kata orang jaman dulu sih begitu." Adinda sering mendengar pepatah seperti ini, saat ia pulang kampung dengan anak-anaknya. Lalu, keluarga besarnya berkomentar tentang anak-anak Adinda yang tumbuh sehat dan aktif. Sangat berbeda dengan beberapa anak dari saudaranya, yang meski sehat tapi terlihat tidak begitu aktif. Pendapat orang yang dituakan dalam keluarga besar Adinda, salah satunya karena hanya Adinda sendiri yang mendapat suami orang seberang. Bahkan, karena alasan itu pun dulu hubungan mereka dilarang. Letak kota Adi yang begitu jauh, membuat orang tua Adinda berpikir berulangkali karena tidak mau terpisah jauh dengan anak perempuannya.


"Ini kamar Ai nih." Adinda membukakan pintu kamar Ai.

__ADS_1


Mereka terkejut, melihat.....


...****************...


__ADS_2