Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM202. Kost-kostan Padang


__ADS_3

POV Canda


Kebiasaan, jelek. Aku selalu sulit menguasai diriku sendiri, pasca operasi selesai. Aku sadar, bahwa tadi aku tengah berdialog dengan suamiku. Namun, aku tiba-tiba merasa nyaman seketika. Rasanya persis, kala obat bius itu masuk ke tubuhku.


Kini tiba-tiba aku terbangun di tempat yang berbeda. Jujur aku takut, jika aku tidak bisa kembali ke suamiku yang ternyata mencintaiku juga.


Alhamdulillah, ia mengutarakan rasa cintanya. Membuatku siap dihamilinya berkali-kali lagi. Aku akan memberikan berapa pun jumlah anak yang ia ingin, karena aku yakin ia pasti bahagia mendapatkan seorang bayi dariku dengan hasil jerih payahnya sendiri.


Eh, ralat. Jerih payah kami adu mekanik.


"Dengerin kalau diomongin tuh!"


Hah?


Iya, iya, aku tahu. Aku tahu, di mana aku berada. Ini adalah kost-kostan bebas, yang berada di Padang.


Ini kan sudah lama sekali, kenapa aku ada di waktu yang mundur? Atau, pengulangan setting tempat terjadi di takdirku?


"Kau dengar, Dek? Pulanglah ke suami kau! Jangan alasan tak punya ongkos, biar Abang kasih ongkos kau pulang." Muncul laki-laki penuh tato dari dalam kamar mandi.


Biarlah terjadi, aku malah pusing berada di sini. Aku tidak mengerti jalan ceritanya.


"Hei! Diam aja diajak ngomong tuh." Bang Daeng menepuk pundakku, kemudian ia duduk di sebelahku.


Aku duduk di ambang pintu, tepatnya bersandar di daun pintu berwarna coklat tua ini. Entah apa yang aku pikirkan, nyatanya aku bingung di sini.


"Anak udah banyak kok kabur lagi, kabur lagi? Ada apa di sana? Bang Daeng mulai bertutur lembut dengan merangkulku.


"Aku tak tau, Bang." Eh, aku malah terisak.


Aku familiar dengan bau ketiak yang begitu khas ini. Aku malah menangis sesenggukan, dengan memeluk tubuhnya.


Ya Allah, tubuh ini. Kalau memang ia masih hidup dan berada di kost-kostan Padang. Aku akan merengek pada suamiku, untuk memintanya menjemput ayahnya Ceysa yang berada di sini.


"Aneh." Hanya itu yang keluar dari mulutnya.


"Abang, aku kangen." Aku malah berbicara ngawur.


"Abang tak, nanti dikira pebinor. Ditanya tuh jawab coba, Dek. Kenapa bisa sampai ke sini? Givan kenapa lagi?" Ia melepaskan rangkulannya, kemudian memegangi kedua bahuku untuk menghadapnya.


"Mas Givan bilang cinta sama aku, aku senang. Tapi aku bingung, kenapa aku ada di sini." Aku menjelaskan dengan menangis tidak jelas.


"Udah deh, jangan drama lagi. Ayo diantar pulang." Bang Daeng bangkit dan mengambil kaosnya yang tergeletak di atas tempat tidur tanpa ranjang.


"Aku mau nginep sama Abang dulu." Aku menolak bangun, ketika ia menarik tanganku.


Ia terkekeh, kemudian ia berjongkok di depanku.

__ADS_1


"Terus Adek minta kita begituan?" Ia tersenyum mesum.


"Iya tak apa deh." Aku menghapus air mataku dan memamerkan gigiku.


"Huuu! Dasar istri orang haus belaian! Ayo diantar pulang, biar bisa begituan sama Givan." Ia berdiri tegak kembali.


"Aku kangen sentakan Abang." Aku seperti perempuan murahan, tapi sejujurnya aku hanya mengundang gurauan saja.


Nyata, bang Daeng terkekeh dan memelukku gemas. "Kek gini bilang ke Givan. Mas.... Goyangnya dikagetkan. Gitu, Dek. Dia pasti ngerti kok, dia pelan terus mungkin takut kau kesakitan." Ia merangkulku keluar dari kost-kostannya.


Aku teringat tentang masa-masa kita ketika masih bekerja bersama. Kita sedekat ini, meski masih berada di dalam batasan.


"Bang Daeng, kita jalan-jalan dulu dong." Aku mengayunkan lengan kami yang bertautan.


"Boleh, boleh. Mau jalan-jalan ke mana?"


Bang Daeng mendahulukan diriku, ketika kami akan melewati jalan yang muat satu motor saja ini. Memang muat digunakan dua orang beriringan pun, tapi lengan kami pasti tergesek tembok yang mengapit jalanan ini.


"Eh, mana mobil Abang yang merah itu?" Bang Daeng celingukan setelah kami berada di jalan depan.


"Kan dijual, buat beli mobil Brio itu." Aku masih ingat tentang mobil kesayangannya.


"Bukan, mobil yang hijau."


Heh? Maksudnya keranda?


"Oh, oke. Tuh, ada pasar malam." Bang Daeng menunjuk pertigaan jalan yang cukup jauh. Memang di situ dulunya ada pasar malam, di mana bang Dendi sering menggratisku jajan dan mengajak Chandra bermain odong-odong.


"Abang kerja di mana?" Aku seperti orang gila. Aku tahu ia tiada, tapi aku tidak takut beriringan dengannya.


"Nova Scotia cabang yang dari Kanada itu, Dek. Kenapa memang?" Ia menggaruk pelipisnya dengan ujung jarinya, membuat cekalanku pada tangannya terlepas.


Nama perusahaannya sama seperti nama perusahaan tempat kami bekerja dulu. Apa bang Daeng menjadi arwah gentayangan di kantornya? Masa iya sih? Kalau memang iya, ya akan aku bawakan penggiring arwah dan memasukkan arwah bang Daeng ke suatu benda. Agar aku lebih mudah berkomunikasi dengannya, jadi ia tidak perlu bergentayangan lagi.


Terlepas dari ini semua. Aku tahu yang namanya jin qorin, jin yang serupa dengan diri kita.


"Kerja sama suami aku aja, bayarannya besar."


Ia malah terkekeh geli.


"Lagian kenapa sih punya suami, tapi sampai ke sini?"


Pandanganku langsung tegang, ketika aku melihat mobil yang berlalu lalang berubah menjadi keranda dorong. Ini menyeramkan sekali, meski dikelilingi gemerlap lampu pasar malam yang ramai.


Anehnya lagi, orang-orang di sini beraktivitas seperti biasa. Tidak ada yang terlihat seram, tapi dengan adanya keranda itu, ini terlihat seperti mimpi buruk.


Aku menoleh pada bang Daeng, ia terlihat santai melihat suasana sekeliling.

__ADS_1


"Bang...." Aku menyentuh lengannya.


"Hm, apa?" Ia mengalihkan perhatian dari sekeliling ke arahku.


"Apa aku mau mati?" Aku berpikir ia tahu tentang sangkut paut ini semua.


"Masa iya?"


Eh, ia malah bertanya balik. Mimpi yang aneh.


"Bang, aku mau pulang ke mas Givan aja. Tapi aku tak mau naik mobil, antar aku jalan kaki aja." Karena mobilnya di sini seseram itu. Tadinya tidak demikian, tapi setelah beberapa waktu malah berubah seperti itu.


"Padang ke Bener Meriah jalan kaki??? Ya minta Givan jemput aja lah kalau gitu. Yang kira-kira dong, Dek. Naik motor, ambil penerbangan, naik kendaraan umum, mungkin Abang jabanin." Seperti biasa, tatapan mata bang Daeng selalu dalam mengunci.


Aku meraba sukuku, aku mengingat ponsel dengan softcase baru dengan kartun bergambar koala di bagian belakang ponsel. Semoga aku mengantongi ponselku itu.


Sayangnya, aku bahkan tidak mengantongi apapun. Jangankan ponsel, uang pun tidak.


Aduh, gimana caranya aku pulang?


"Bang, aku pengen ketemu mas Givan." Aku mulai merengek dengan menggoyangkan lengannya.


"Ya, gimana? Abang tak tau caranya."


Mungkin setelah ini, mimpi bertemu bang Daeng akan menjadi pengalaman burukku. Aku akan membaca banyak doa-doa sebelum tidur nantinya, agar mimpi melihat banyak keranda seperti ini tidak terulang kembali.


Aku menangis di pinggir jalan dengan menutupi wajahku. Herannya lagi, orang-orang seperti tidak merasa terganggu dengan keberadaanku. Mereka asyik beraktivitas, tanpa menanyakan keadaanku yang menangis.


Bughhh......


Aku langsung melengkungkan punggungku ke depan, karena punggungku seperti tengah dipukul oleh seseorang.


"Ayooo......" Ada seorang anak perempuan yang mengamuk dan memukuli punggungku.


Herannya lagi, bang Daeng malah terkekeh geli.


"Ayooo....." Ia kini memukuli dadaku secara acak.


"Apa sih?" Aku merasa tidak kenal dengan anak berusia tujuh tahun tersebut.


Eh, sebentar. Itu seperti mas Givan versi perempuan. Apa dia anak mas Givan dengan perempuan lain juga?


Ia menghentakkan kakinya ke tanah, dengan menangis lepas ke arahku.


Aku bingung di sini.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2