Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM122. Kerumitan mainan Ceysa


__ADS_3

"Ayah kok sama perempuan lain terus?" tanya Ceysa, ketika melihat ayah sambungnya berjalan ke arah rumahnya beriringan dengan Putri.


"Wah, belum kenalan ya? Tante itu mamahnya kak Jasmine." Putri tersenyum ramah, lalu ia mengulurkan tangannya pada Ceysa.


Pandangan Putri langsung terkunci oleh sorot mata tajam dan seolah tengah mengorek informasi dari mata Putri. Ceysa hanya terdiam, dengan terus menatap Putri dalam-dalam.


"Salim dong, Nak." Givan mendekati Ceysa yang tengah memainkan rubik.


Ceysa mencari keyakinannya dalam sorot ayahnya, barulah ia mencium tangan Putri. Ia mengulas senyum sederhana, kemudian ia kembali fokus pada mainan yang berada di tangannya.


"Kak Shauwi mana, Nak?" Givan duduk di ambang pintu, di sebelah Key yang duduk di tengah pintu yang terbuka.


"Beli jus buat aku, aku tak mau ikut, Yah." Ceysa selalu menghentikan aktivitasnya, ketika ia tengah berbicara dengan seseorang. Meski ia mampu untuk menjawab dengan tangan yang bekerja, tapi ia lebih suka memperhatikan lawan bicaranya ketika diajak mengobrol.


"Ces berani sendirian di sini? Ayah ada di teras rumah, sama Ra tadi." Givan menunjuk di mana rumahnya berada.


Putri duduk di dekat tiang beton, yang berada di seberang pintu rumah Ceysa. Ia memperhatikan interaksi ayah sambung dan anak perempuan tersebut.


"Aku lagi tak butuh teman, Yah. Aku tak butuh Ayah, kalau aku butuh, aku cari Ayah." Sedikit frontal dan terdengar kasar, tapi ada kejelasan dalam satu susunan kalimatnya. Ceysa bukanlah orang yang berbelit-belit, ia terlampau berterus terang.


"Oh begitu? Ces datangi Ayah kalau butuh aja?" Meski terkejut, ia tetap mencoba damai mendengar ucapan anak tersebut.


Ia pernah memarahi Ceysa, lantaran anak tersebut hanya diam ketika ditanya atau disapa olehnya. Kejadian itu berulang, hingga akhirnya amarahnya meledak karena Ceysa tetap tidak mau menjawab pertanyaannya atau sapaannya ketika anak itu tengah berkeliling di rumahnya. Puncak rasa bersalahnya dibayar langsung, dengan sorot mata anak itu yang berkedip polos dan mengatakan bahwa dia bisa mengerti tanpa ayahnya tersebut memarahinya. Itu adalah hal pertama dan terakhir kalinya Givan marah pada Ceysa, ia adalah satu-satunya anak yang jarang mendapat amukan ayahnya ketimbang dengan saudara-saudaranya yang lain.


"Iya, Yah. Ayah sibuk, punya kegiatan. Kegiatan aku pun, bukan harus sama Ayah aja. Ayah perlu apa? Aku bisa bantu apa?" Ceysa tetap konsisten menatap lawan bicaranya meski orang tuanya sendiri.


Terlihat tidak sopan, jika tatapan Ceysa adalah tatapan menantang. Namun, tatapan mata itu terlihat begitu polos tapi seolah menyelami makna sorot mata lawan bicaranya.


"Ayah pengen main sama Ces, terus...." Givan bergulir memandang Putri. "Ammak Putri, pengen kenalan sama Ceysa," ungkap Givan kemudian.


Pandangan mata Ceysa bergulir menatap Putri. "Apa Ammak sama kek mamah Fir'aun?" Sebutan Fir'aun sudah mendarah daging pada anak-anak Givan, untuk seorang Fira. Bukan karena Fira adalah orang jahat yang tidak pernah sakit. Tapi karena nama ledekan itu terlanjur populer, bersama dengan tumbuhnya mereka.


"Iya, sama. Mamah kan mamahnya kak Key, ammak mamahnya kak Jasmine," jelas Givan kemudian.


"Aku nanya sama Ammak, Yah." Sorot tidak suka Ceysa mengarah pada ayah sambungnya sekilas.


"Oh, maaf." Givan merasa kurang sopan telah menyerobot jawaban tersebut.

__ADS_1


"Iya, Cantik. Ammak itu mamahnya kak Jasmine," terang Putri dengan tersenyum ramah.


"Apa mamah aku juga? Papah aku sama papahnya kak Jasmine kan sama, mangge Lendra." Anak itu terlalu cerdas untuk memahami sebuah keadaan, meski belum usianya.


Putri beradu pandang dengan Givan. Ia tidak menyangka, jika ia dihadiahkan pertanyaan sensitif oleh Ceysa.


"Bukan, Ceysa anak biyung Canda. Ceysa tumbuh di perut biyung, kak Jasmine tumbuh di perut Ammak," jawab Putri yang sudah merangkaikan bahasa sederhana.


"Oh, apa mangge bukan orang baik? Laki-laki baik, cuma punya satu ibu untuk anak-anaknya."


Givan seperti tertampar dengan perkataan anaknya. Ia memiliki anak, dengan beberapa wanita lain selain istrinya yang sekarang.


"Orang baik, makanya mangge sekarang ada di surga. Besar nanti, Ceysa harus dengar penjelasan orang-orang yang bersangkutan biar Ceysa tak nganggap benar diri sendiri."


Anak perempuan itu hanya mengangguk. Ia kembali tertunduk, dengan memainkan rubiknya.


"Itu mainan apa, Dek? Kok Ammak baru lihat." Putri mencoba menggali kedekatan mereka.


"Master Pyramorphix Rubik," jawab Key dengan memandang sekilas wajah Putri.


"Harganya jut-jut itu, Put. Untungnya mainannya di rumah aja." Givan geleng-geleng lemas.


Ia pernah membelikan rubik dengan kualitas yang kurang bagus. Alhasil, ia harus mengulangnya sepuluh kali. Mainan yang memerlukan otak tersebut, tidak hanya satu bentuk sulit yang dimiliki oleh Ceysa.


"Oh, itu asli berarti?" Putri menunjuk mainan yang dipegang oleh Ceysa. Matanya melebar, setelah mendengar pernyataan Givan tentang mainan tersebut.


Givan mengangguk. "Buatan Uwe Meffert, Meffert's Challenge."


Putri langsung geleng-geleng tak percaya, dengan sorot mata memperhatikan mainan yang diputar-putar oleh Ceysa itu.


"Adek punya berapa? Ammak pinjam dong. Kita main bareng."


Sayangnya, Putri salah langkah untuk mendekati Ceysa. Kini, ia dibuat melongo saja ketika Ceysa membawa keluar kotak penyimpanan rubik mahalnya.


"Kubus Berlian, pantas buat Ammak. Ammak coba deh." Ceysa memberikan satu koleksi mainan rubiknya.


Putri hanya menerima. Ia ternganga melihat rubik dengan bentuk menyerupai berlian ini. Bukan ia terkagum-kagum dengan bentuknya, ia khawatir ia tidak bisa mengembalikan kelompok warna itu jika terlanjur memutarnya. Polanya terlihat sulit, jika harus diacak-acak olehnya dan dikembalikan lagi.

__ADS_1


Givan terkekeh geli, melihat mulut Putri yang masih terbuka dengan pandangan bodohnya. Nyatanya orang pintar seperti Putri pun, tidak berani mengambil resiko untuk bermain rubik.


"Ayah mau yang Kubus Floppy aja dong." Givan sedikit hafal, karena ia semua yang membelikan mainan rumit tersebut.


"Mekanisme satu kali tiga kali tiga, mudah betul untuk Ayah." Ceysa memilihkan rubik yang pas untuk ayahnya.


"Kubus Bersarang untuk Ayah. Aku baru berhasil satu kali, untuk satukan warna itu. Ayah harus coba deh."


Givan langsung menolak. "Tak mampu Ayah, Dek. Main engklek aja yuk? Ajak kakak-kakak yang lain."


Putri terkekeh geli, mendengar Givan berterus terang tidak mampu untuk memainkan mainan tersebut itu.


"Aku tak mau mainan engklek, nanti capek. Nanti lagi mainan engkleknya, seminggu sekali aja."


Mereka dibuat terkekeh, dengan bermain engklek yang dijadwalkan seminggu sekali itu. Anak itu benar-benar unik, dengan karakteristik yang mirip seperti Lendra menurut Putri.


"Ceysa Cantik...."


Mereka semua langsung menoleh ke sumber suara. Ada laki-laki kecil seusia Kaf dan Zio, yang tengah memandang Ceysa dari jauh. Ia berdiri di teriknya matahari, dengan topi merah berlogo salah satu superhero kesukaannya.


"Sini, Hadi. Main di sini, yang tak panas." Ceysa berseru dengan melambaikan tangannya.


Hadi mengangguk, ia berlari cepat ke arah teras rumah Ceysa.


"Udah izin belum sama ma, Di?" tanya Givan, ketika Hadi melepaskan sandalnya dan duduk di hadapan anak tirinya.


"Udah. Ma, Hadi izin main ke Ceysa. Kata ma, iya pakai topi biar tak panas." Anak yang berusia satu tahun lebih tua dari Ceysa itu, selalu menjawab apa adanya.


"Ceysa, Hadi mau menggambar aja. Hadi gambar yang banyak, Ceysa nanti pulaskan ya? Hadi pusing mainan itu, mana itu bukan stiker warna yang bisa dilepas tempel lagi." Hadi memandang nanar, kotak mainan berisi rubik-rubik tersebut.


Rubik asli, tidak menggunakan stiker warna di setiap kolomnya. Yang Hadi miliki di rumah, adalah rubik mainan yang menggunakan stiker warna. Hadi mampu menyetarakan warna-warnanya, dengan cara melepas stiker warnanya satu persatu.


"Boleh, Hadi ambil aja." Ceysa mempersilahkan kawan bermainnya untuk masuk.


Putri melambaikan tangannya pada Givan. Ia ingin berbicara dengan bisik-bisik, untuk menyampaikan pendapatnya tentang seorang Ceysa tersebut.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2