
"Jeng, kasusnya ini kau trauma dan kau merasa paling tak beruntung plus tersakiti di sini. Tapi, kau egois di sini menurut aku." Givan memberikan pendapatnya terlalu cepat.
"Egois gimana, Bang? Apa aku harus terus ngerengek untuk diresmikan? Aku pikir, cukup sekali aku bilang dan dia usahakan. Dia cuma bilang, waktunya belum tepat. Aku malah tambahkan ke dia, ayo bilang mamah sama papah aja, aku minta tolong untuk selesaikan pernikahan aku dan resmikan kita. Bang Gavin cuma bilang, mamah dan papah nentang. Aku tak merasa diusahakan, tak merasa dipentingkan. Kek udah sah, ya udah gitu. Jadi, tak mau ada perubahan lebih baik untuk kedepannya. Udah bahagia di situ, ya udah begitu. Aku bukan orang yang terbiasa ngemis-ngemis dan ngerengek, aku coba tegar dengan bawa pulang kebahagiaan aku lagi. Untuk apa aku di sana, kalau Bang Gavin tak kenalkan aku sama sekali ke orang tuanya? Aku ke Gorontalo, aku ajak dia, dia tak mau dan langsung tuh nuduh ini itu. Aku bukan orang yang pandai menjelaskan ini itu, udah aja aku terima tuduhannya." Ajeng melirik mantan suaminya.
"Suami istri tak boleh gitu, Jeng. Dia nuduh, karena dia lagi di kondisi tak yakin dengan pasangannya. Dia butuh kalimat penenang, dia butuh kebenaran yang harus dia tau dari mulut kau, bukan kau biarkan, dia rusak kena pikirannya sendiri. Terus, logikanya juga aneh. Kau datang ke Gorontalo, untuk perbaiki hubungan kau dengan ayah kandungnya Elang kan aslinya? Alibi kau aja, kau mau ngenalin Gavin ke keluarga kau. Nyatanya, Gavin tak ikut kau tetap pulang ke Gorontalo. Untuk apa tujuannya datang ke sana tanpa Gavin? Kau mau ngenalin tentang siapa? Terus, kau bawa ayah kandungnya Elang ke sini. Maksudnya untuk apa? Bukan apa-apa, Jeng. Memang, itu urusan pribadi kau, harusnya pun memang tak disangkutpautkan dengan pekerjaan. Tapi, apa kau tak berpikir bahwa perusahaan kau kerja ini hak waris Gavin? Apa kau tak berpikir, bahwa rumah yang kau tempati ini nyimpan sejarah cinta kau dan Gavin, terus kau bawa orang lama untuk tinggal di sini?" Givan tersulut emosi, karena menurutnya ada yang tidak masuk oleh logikanya.
"Bang, aku tetap ingin pulang ke Gorontalo bukan karena ayah kandungnya Elang. Tapi karena diri aku sendiri, yang memang kepengen ngenalin Elang ke saudara aku, ke saudaranya ayah kandungnya Elang."
Givan memicingkan matanya. Ia sudah merasa begitu tidak yakin dengan jawaban dari Ajeng, karena menurutnya pengakuan Ajeng berubah-ubah.
"Coba panggilkan ayah kandungnya Elang aja. Aku ngerasa kau ini tak beres, Jeng." Givan menatap Ajeng dengan seksama, kemudian menyandarkan punggungnya ke sofa.
"Ini kan masalah aku sama Bang Gavin, kenapa bawa-bawa ayah kandungnya Elang?" Ajeng condong ke depan.
"Karena aku punya masalah di sini." Givan melakukan hal yang sama, untuk condong ke depan.
"Bang Givan tak perlu ikut campur terlalu jauh. Bang Givan tak punya urusan di sini."
Gavin melongo saja mendengar penuturan Ajeng. Ia tidak menyangka, Ajeng bisa mengatakan hal seperti itu.
"Karena adik aku tak berdaya. Aku punya urusan di sini, aku walinya." Givan tidak yakin dengan kalimat terakhirnya, ia hanya bermaksud menakut-nakuti Ajeng saja.
__ADS_1
"Tapi...." Ajeng tidak ingin mempertemukan ayah kandungnya Elang dengan mereka.
Givan bangkit dari kursinya. Hal itu, mengundang kebingungan Gavin. Gavin mengikuti gerakan kakaknya, hanya saja ia bingung kala Givan berjalan cepat ke ruangan lain, bukannya berbelok ke arah pintu keluar.
"Ayahnya Elang...," seru Givan, yang tidak tahu pasti siapa nama laki-laki tersebut.
"Ya...," sahutan cepat didapatkan.
"Sini sebentar." Akhirnya, Givan kembali ke ruang tamu dengan ayah kandungnya Elang di sampingnya.
Gavin membuang wajahnya, ia pura-pura fokus memerhatikan Elang yang masih menikmati isi dotnya, saat Givan kembali dengan ayah kandungnya Elang.
"Ada apa ya?" Terlihat ia bingung berada di sini.
Ia tahu laki-laki tersebut berusia di bawahnya. Hanya saja, ia tidak memiliki sebutan yang pas agar terlihat akrab dengan ayah kandungnya Elang.
"Saya Yazid, gimana?" Ayah kandung Elang duduk di sofa single.
"Lagi berkunjung kah, Bang?" Givan pura-pura memalingkan wajahnya pada air mineral yang tersedia.
"Berkunjung ke mana?" Yazid malah terlihat bingung di sini.
__ADS_1
"Ke sini, lagi berkunjung kah?" Givan memperjelas semuanya.
"Oh, ya. Tapi aku sempat tinggal di sini, masanya Ajeng bersalin. Dia nitipin anaknya sama aku, repotlah aku urus, Elang tak terbiasa sama aku, rewel betul dia ini. Tapi sekarang sih udah gantian, Bang. Elang udah terbiasa sama aku. Kan kerjanya di-shift, karena turun pangkat si Ajeng ini. Kalau dia kerja, Elang sama aku. Aku pun tuker shift, biar tak bentrok sama Ajeng, biar bisa gantiin jaga Elang."
Ajeng tidak mengerti, kenapa Yazid langsung membuka semuanya dengan jujur. Tapi ia paham pembawaan Yazid yang selalu terbuka bila ditanya secara langsung, berbeda jika ditanya lewat sambungan telepon.
"Tak rujuk kah berarti?" Gavin hanya menyimak kakaknya yang aktif bertanya.
Yazid menggeleng. "Aku masih punya harga diri, Bang." Ia terkekeh sumbang.
"Loh, bukannya saling cinta? Cinta kok ngomongin harga diri? Aku cinta sama istri aku, aku tak masalah gantikan dia jemur pakaian. Yang penting akhirnya kita punya waktu untuk bersama." Givan menarik contoh kecilnya, agar Yazid terbawa nada akrabnya.
"Kalau cinta, bukan ninggalin dong masanya suaminya tak ketemu jalannya rezeki? Masa cinta itu, berani khulu suami?" Yazid terkekeh sumbang, dengan membuang wajahnya ke arah lain.
"Tapi ada ketentuannya juga dalam Islam, Bang. Nafkah ini bukan perkara mainan, apalagi kalau istrinya tak ridho," timpal Gavin cepat.
Givan tidak suka, dengan lontaran yang keluar dari mulut Gavin. Hal itu seperti tengah membela Ajeng.
"Paham, Bang. Tapi kan Saya usaha juga, Saya tak makan tidur di rumah. Entah dapat hutang, atau minta orang tua, Saya ada kasih ke dia meski tak tiap hari. Memang, lain kondisinya kalau Abang memang dari keluarga berada. Abang bakal mudah ngomong dengan latar belakang agama, karena sakitnya tak Abang rasakan masa itu. Masa sebelumnya nikah pun, dia tau kalau aku lagi kesulitan ekonomi. Ini bukan tentang aku malas, tapi masa itu aku kena pengurangan karyawan. Aku bahkan tawarkan dia, untuk tak jadi nikah, tapi dia tak mau, padahal masih tiga bulanan lagi. Sekalipun dia datang bertamu, kenalin darah daging aku ke saudara aku, bawa aku kerja, tapi tetap aku ingat sakitnya datangnya surat dari pengadilan agama itu. Semata-mata pun, dia pengen nitipin Elang juga, ajak aku kerja di sini. Sebulan bersalin, apa aku tak kebingungan kerja sambil bawa anak? Untungnya, ada kak Huna yang mau pegang masa aku kerja. Pas dia turun jabatan begini, dia kek mempersiapkan aku di sini untuk gantian urus Elang. Aku tak masalah, ini anak aku. Cuma kenapa tak bilang dari awal? Kenapa harus pakai rencana sendiri, terus dilangsungkan setelah aku udah ada di sini? Aku ngerasa tertipu juga, Bang. Dia terlalu bermain taktik, bukannya terbuka aja dari awal." Yazid melirik ke arah Ajeng sekilas.
Ajengnya langsung menarik napasnya lebih banyak. Ia bersiap-siap untuk mengeluarkan alasannya.
__ADS_1
...****************...