Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM182. Teguran Putri


__ADS_3

"Tuduhan kau belum tentu benar, Put. Masa iya Ria rebut bang Ken dari kau? Keith Rabu sore bahkan mau jemput Ria ke sini, mau ngajak Ria liburan, dia udah izin sama aku. Berarti kan, hubungan Ria sama Keith baik-baik aja tuh. Tak mungkin dong, di tengah hubungan mereka yang baik, terus Ria jadi orang ketiga. Lagian, daripada sama bang Ken. Ria lebih aku izinkan sama Keith, yang jelas lebih muda dan lebih bersih masa lalunya. Dia pun fokus ke hobinya, misal punya waktu senggang. Dia tak slengean kek bang Ken. Awal di sini, Novi dia ganggu. Rauzha, dengan alasan dibantu pendidikan spesialisnya. Entah siapa lagi, karena dia banyak ceritanya tentang kak Riska aja." Givan menyangkal aduan Putri. Ia sudah tahu perihal permasalahan Putri yang menuduh adik iparnya berlaku kurang ramah pada hubungannya, ia hanya mencoba menjelaskan pada Putri karena ia merasa lebih kenal dan lebih tau tentang adik iparnya.


"Apa aku harus punya buktinya dulu, baru kau percaya, Van?" Putri sudah menduga bahwa Givan tidak akan percaya dengan semua ucapannya.


"Ya bila perlu kau sertakan buktinya, biar aku paham mana yang benar dan salah. Lagian, udahlah. Jangan terlalu dijadikan masalah, segitu laki-laki kau masih selalu ada untuk kau juga." Givan mencoba membuat Putri agak tidak berselisih lagi dengan adik iparnya.


"Kalau Ria terbukti ada main sama Ken, kau mau apa, Van?" Putri seperti menantang Givan.


"Ya aku nasehati dia, aku kasih wejangan yang pantas. Terus mau apalagi aku? Masa mau nikahkan Ria dan bang Ken? Enak betul bang Ken dapat Ria yang perawan. Aku didik dia setengah mati, aku bocorkan semua ilmu yang aku punya, karena harapan aku besar sama dia. Dia bakal jadi penuntun anak-anak aku, masa aku udah tiada nanti. Aku pun paham kelak anak-anak aku dewasa, aku bakal keteteran kontrol mereka. Aku siapkan basic Ria untuk itu, untuk bimbing anak-anak aku biar tak terlalu jauh dari haluannya. Biarpun Ghifar, Ghava dan Ghavi akan siap jadi orang tua mereka. Tapi, Ria harus lebih siap jadi sahabat anak-anak aku. Makanya Ria sering aku libatkan untuk masa pertumbuhan anak-anak aku, karena aku pun berharap anak-anak aku dekat sama tantenya itu." Givan memfokuskan perhatiannya pada Putri, agar maksud baiknya pada Ria bisa dimengerti oleh Putri.


"Kau pun harus tau, kalau Ria adalah perempuan normal yang butuh sentuhan laki-laki. Kau buat dia seperti tangan kanan kau yang mampu untuk ngelakuin segalanya, tapi kau lupa kalau Ria punya hak kebebasan memilih pasangan hidupnya. Dia bakal nikah, dia tak bisa selalu ada untuk keluarga kau." Putri mulai terhanyut dengan pembahasan Givan.


"Aku tau itu, Put. Aku paham, kalau Ria butuh pasangan hidup. Anak-anak kan sesekali aja, ikut andil menjadi orang terdekat bukan berarti selalu ada. Aku yang jadi orang tuanya aja, tak selalu ada untuk anak-anak aku. Untuk sekarang kan, Ria belum mantap untuk berumah tangga. Jadi, biarkan dia hidup sesuai circle-nya."


Putri menyimak, ia mencoba memahami perkalimat yang Givan jelaskan perlahan. Ia menyadari, jika Ria lebih muda darinya. Tapi ia meyakini, jika Kenandra tidak akan semakin dekat dengan Ria jika Ria tidak merespon. Memahami tanggapan Givan yang seperti ini, ia sadar bahwa permasalahan ini sebaiknya tidak melibatkan keluarga lain. Permasalahan yang terjadi, adalah antara Ria, Kenandra dan dirinya. Ia lebih baik tidak membawa Givan dalam masalah internalnya dengan Kenandra.


"Ibunya Zio kemarin ke sini." Putri menarik topik lain.


Givan terlonjat kaget. "Nadya maksud kau? Mana dia?" Givan memasang ekspresi tidak biasa.


"Iya keknya, dia tak sebut nama. Dia nitip kartu namanya ke mamah, kau coba tanya ke mamah aja." Putri menunjuk rumah orang tua Givan dari tempatnya.

__ADS_1


Givan celingukan melihat sekeliling teras Riyana Studio. Ia menemukan Ghava yang tengah menyuapi anak bungsunya di ruang tamu Riyana Studio.


"Va, nitip Ceysa sama Jasmine ini. Mereka lagi main potong-potong kertas warna-warni di sini, awas mereka bawa gunting," seru Givan dengan melangkah ke ambang pintu Riyana Studio.


"Ya Allah, Givan. Kan ada aku di sini. Saking tak percayanya, kau sampaikan titipkan ke adik kau kah?" Putri merasa tersinggung dengan tindakan Givan.


"Takut kau fokus main HP, takut soalnya lagi main gunting." Givan memakai sendalnya setelah mendapat anggukan dari Ghava.


"Kau mau ke mana, Bang?" Ghava muncul dari dalam Riyana Studio.


"Mau ke mamah." Givan lanjut melangkah ke rumah ibunya.


Baru siang tadi Canda kembali ke rumah. Ia menemani Canda tidur siang sampai sore hari ini, barulah ia keluar rumah untuk melihat kabar dari lingkungannya. Ia belum sempat berkunjung dan mengobrol dengan ibunya.


"Di dapur," jawab Adi dengan melirik anaknya yang masuk ke dalam rumahnya.


"Eh, Bujangnya Papah. Kapan datang kau?" Givan menyapa Gibran yang duduk di samping ayah sambungnya.


Gibran adalah adik bungsunya, Gibran juga merupakan anak bungsu Adi. Ia sekandung dengan Givan, tapi tidak sedarah dengan Givan.


"Ini baru sampai betul. Liburan semester, Bang. Kasih kesibukan untuk aku, apa atau apa gitu." Gibran mendekati kakaknya dan mencium tangan kakaknya.

__ADS_1


"Ya tinggal nanti ikut aja. Abang ke mamah dulu ya?" Givan menepuk bahu adiknya, kemudian berjalan ke arah dapur.


"Ya, Bang." Gibran mendekati ayahnya kembali.


"Kau minatnya dalam hal apa?" Adi kembali membuka obrolan dengan anak bungsunya.


"Tak ada kecenderungan ke hal ladang keknya, Pah. Aku lebih suka ke bisnis, gimana kalau aku aja nanti yang pegang distributor Papah di Brazil?" Gibran menghilangkan lelah dan jet lag-nya dengan bercengkrama dengan ayahnya.


"Boleh, terserah kau. Memang, gimana kabar usaha Papah sama mamah yang dipegang Huna sama Sifa di sana?" Adi duduk menyamping untuk memperhatikan anaknya.


"Kabarnya....." Gibran mulai menjelaskan dan bercerita segala hal. Mereka bercengkrama dengan akrab, seperti bersama sahabat seusia.


"Mah, Nadya ke sini katanya?" tanya Givan cepat, ketika ia sudah sampai di hadapan ibunya.


"Ehh, ngagetin aja kau!" Adinda mengusap-usap dadanya sendiri.


Givan terkekeh, kemudian duduk di kursi makan yang tersedia. Ia memperhatikan ibunya yang beraktivitas di depan kompor.


"Iya, Nadya ke sini kemarin. Maksa pengen ketemu Zio, mana Zio bolak-balik lagi ke sini. Zio ya diam aja, dia tak kenal sama Nadya. Mau Mamah kenalkan, takut disalahkan. Sebelumnya kau ada cerita tak, kalau Zio ini bukan anak Canda? Kau pernah nunjukin foto Nadya tak? Atau, kau masih tau gitu kalau nama ibu kandungnya itu Nadya Rafika Hutagalung?" Adinda berbalik badan dan membawa hasil masakannya ke arah anaknya.


"Sebelumnya, aku memang ada cerita kalau Canda bukan ibu kandungnya. Zio tau kalau dia bukan anak Canda. Tapi, respon anak itu....

__ADS_1


...****************...


__ADS_2