Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM278. Kebahagiaan yang sempurna (TAMAT)


__ADS_3

"Udah empat keping roti tawar aku makan, Cendol! Lamanya kau masak, aku kelaparan," seru Givan dengan berjalan ke arah dapur.


"Iya, Mas. Ini nih, mau matang," jawab Canda juga berseru.


Givan sampai di belakang istrinya yang tengah berkutat dengan wajan, ia melongok melihat masakan yang ia pinta pada istrinya. Ternyata, ekspektasinya cukup sesuai dengan masakan yang belum matang sempurna itu. Namun, Givan tidak menjamin rasanya.


Memang Canda terbiasa masak masakan yang ringan, seperti tumis dan sayur. Rasanya pun tidak terlalu hancur, menurut Givan. Tetapi, jika istrinya diperintahkan untuk masak masakan yang mengandung bumbu yang banyak. Givan tidak terlalu berekspektasi tinggi dengan rasanya.


Plak....


"Lamanya!" Givan memukul part belakang istrinya.


Canda mengaduh. "Kaget, Mas! Main tepuk aja." Canda melirik suaminya tajam.


"Pulen," pujinya kecil, dengan mengusap-usap part belakang istrinya dengan menggunakan tekanan.


"Ya iyalah!" Canda malah menyombongkan dirinya secara dibuat-buat.


Ia tahu suaminya tidak pandai memuji. Tapi, ia cukup senang dengan pujian kecil dari suaminya.


"Kalau gulai dagingnya enak, buka jualan aja kah?" Givan bergerak untuk membuat teh manis di teko.


"Tak mau aku." Givan terkekeh renyah mendengar jawaban istrinya.


"Semoga aja tak enak masakan aku ini, daripada disuruh jualan nanti." Tawa Givan makin keras, mendengar lanjutan perkataan istrinya.


"Bercanda, Cendol! Lagian, masakan kau kapan enaknya?" Givan membubuhkan gula di dalam teko kecil.


"Mas tuh!!!" Canda merengut sebal, dengan melirik suaminya.


Tawa Givan lepas kembali, ia terlihat begitu bahagia dan senang dengan menggurai istrinya seperti ini.


"Kau aja tak doyan masakan kau sendiri. Pernah aku berpikir, kalau kau kasih racun di masakan kau." Givan bergerak untuk menuangkan air panas.

__ADS_1


"Bukan tak doyan, tapi kenyang nyicipin tuh. Jadi udah tau rasanya, udah tak selera duluan," aku Canda kemudian.


"Iya, karena masakannya tak enak. Makanya, sampai tak berselera." Kembali, Givan menggurai istrinya.


"Mas tuh iseng betul! Macam enak aja masakan Mas!" Canda menoleh memperhatikan kesibukan suaminya sejenak.


"Tak enak juga, tapi adukan aku enak, Canda." Givan menaikturunkan alisnya mesum.


Tangannya bergerak mengaduk teh manis dalam teko kecil itu menggunakan sendok.


"Halah! Rasanya begitu-begitu aja pun." Canda kembali fokus pada masakannya.


Yang ia maksudkan adalah teh manisnya, bukan seperti apa yang ada di pikiran Givan. Tentu jelas berbeda, karena Givan mengalah ke hal yang dewasa.


"Tapi kau pasrah aja dihamili berkali-kali!" Emosinya terpancing.


Canda menoleh bingung. "Loh? Apa hubungannya memang?" Ia mengerutkan keningnya.


Givan langsung mengerti, rupanya jalan pikirannya dan jalan pikiran istrinya itu berbeda. Ia memilih untuk tidak memperpanjang emosinya, karena istrinya tak memiliki daya untuk mengerti maksud suaminya.


Canda mengedikan bahunya, ia merasa suaminya aneh.


Setelah begitu banyak ujian dan permasalahan yang membuat mimpi mereka retak. Akhirnya, kebahagiaan menyusul dengan berulang.


Sejak permasalahannya terselesaikan satu persatu, rasa cinta Givan dan Canda semakin kuat. Bahkan, tak jarang Givan sering mengatakan kecintaannya pada istrinya.


Pertumbuhan anak-anaknya yang sehat dan sempurna, kehangatan keluarga dan keakraban antar saudara, membuat hidup mereka berdua terasa penuh berkah dan manfaat.


Kebahagiaan yang sempurna itu pun, tak hanya menghampiri mereka berdua. Kestabilan ekonomi Ghavi, kesibukan Gavin menata hidupnya dan kebahagiaan Gibran dengan pasangan hidupnya dirasakan setelah bulan-bulan penuh kekhawatiran dan air mata itu.


Rasa lelah Gavin dibayar sempurna, karena ladang jahenya panen sesuai dengan keinginannya. Untuk pertama kalinya, ia langsung terjun untuk mengolah jahe hasil panennya untuk diekstrak dan dijadikan minuman kesehatan.


Belum lagi ocehan anaknya, yang sudah bisa mengatakan sebutan 'yah' untuk dirinya. Ia merasakan lelahnya memiliki tujuan, untuk menghidupi dan menata masa depan anaknya.

__ADS_1


Meski ia berada jauh dari keluarganya, Gavin sering melakukan panggilan video untuk berinteraksi dengan anak perempuannya dan tak lupa membagi ceritanya dengan orang-orang terdekatnya.


Pernikahan Gibran yang dilakukan setelah tiga bulan pertama ia menata usahanya, langsung dihadiahkan garis merah yang membuat kebahagiaannya bertambah. Kehati-hatian dan penuh doa, ia tambatkan untuk anaknya yang tumbuh di rahim istrinya.


Bersyukurnya dirinya, karena orang tuanya terus mensupport dan membantunya mengurus rumah tangganya yang masih belum mengerti apa-apa. Namun, dari situ ia belajar. Ia terus belajar untuk bisa menata semuanya seorang diri, dengan ekonomi yang terus ia perbaiki.


Meski ia merasa cukup, istrinya tidak juga kekurangan. Tapi, ia merasa ia perlu mengembangkan usahanya untuk masa depan mereka. Karena ia sadar, bahwa hari ini saja ia masih menumpang di rumah orang tuanya.


Berbaurnya anak-anak Ghavi dan saudara-saudaranya yang lain, membuat senang semua anggota keluarga karena tidak merasa ada tembok di antara mereka. Keakraban dan penuh sapa hangat, menyertai keseharian mereka semua.


Givan merasa tanggung jawabnya sedikit ringan. Namun, ia tidak boleh senang karena perjuangannya masih panjang. Ia sadar, anak-anaknya baru akan menginjak fase dewasa.


Ia teringat bagaimana prosesnya mencapai fase tersebut, dengan lika-liku perjalanan dan pengalaman yang ia dapat. Satu yang ia pelajari dari hal yang ia alami sendiri, yaitu jangan pernah lepas mengontrol anak-anaknya.


Meski ia percaya anak-anaknya tak kekurangan ilmu dan agama yang ia berikan. Namun, ia yakin rintangan sudah menghadangnya di depan.


Ia tidak tahu, bagaimana kehidupan anak-anaknya di masa mendatang dengan pilihan mereka masing-masing. Ia tidak bisa menebak permasalahan apa dan rintangan seperti apa yang akan dialami oleh anak-anaknya, tapi kini ia sudah memikirkan bagaimana tentang anak-anak perempuannya di masa mendatang karena ulahnya dulu.


Kekhawatirannya bisa menjadi besar, jika ia lengah sedikit saja. Pemahaman dan pengertian terus ia berikan, khususnya untuk anak laki-laki pertamanya yang akan mengemban tanggung jawab besar. Karena, ia adalah wali dari adik-adik perempuannya dan juga sulung dari istrinya. Meski ia memiliki satu orang anak perempuan sulung, tapi keadaan anak itu yang lahir tanpa pernikahan tentu tidak memiliki hak yang kuat atas nasabnya yang tidak turun kepada anak perempuan tersebut.


Ia tidak ingin ceritanya dulu, cerita saudara-saudaranya dulu, turun ke anak-anaknya. Ia ingin, anak-anaknya bahagia sesuai dengan harapan dan doa-doanya. Ia ingin, anak-anaknya mendapatkan kesuksesan seperti niatnya untuk keberkahan usaha-usahanya.


Kebahagiaannya bertambah, kala anak bungsunya yang dulu ia khawatirkan karena begitu kecil. Kini sudah bisa menahan langkah kakinya, dengan cara memeluk kakinya ketika ia ingin pergi.


Wajah anak bungsunya yang begitu mirip dengan dirinya, membuatnya tak tega jika anak tersebut menangisinya. Meski tak bosan-bosannya ia memberi pemahaman, bahwa ia harus pergi untuk mengecek pekerjaan. Namun, tangisan anaknya tetap mampu menghalanginya untuk pergi.


Setidaknya ia mengerti, bahwa ialah cinta pertama anak-anak perempuannya. Ia senang karena hal itu tak akan membuat anak-anaknya mengemis cinta dari laki-laki lain di luar sana.


Tapi tetap saja, ia khawatir tidak adil membagi cintanya untuk anak-anak perempuannya. Sehingga terjadi iri hati dan pelarian ke lain hati, atas cinta anak-anak perempuannya padanya.


"Mas, pegangan," rengekan kecil istrinya ketika mereka berjalan bersama, selalu menjadi titik pahamnya bahwa ialah kiblat dari keluarga kecilnya.


Satu langkah ia berjalan ke arah yang salah, maka hal itu akan diikuti oleh anak-anak dan istrinya. Kehati-hatian dan kewaspadaan, membuatnya semakin menjadikan dirinya melakukan perubahan baik untuk dirinya sendiri dan keluarga kecilnya.

__ADS_1


...T A M A T...


...****************...


__ADS_2