Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM153. Haid


__ADS_3

"Kenapa? Berantem sama siapa?" Canda terkejut melihat anak asuhnya langsung memeluknya dengan tangis.


"Itu, Biyung. Jasmine berdarah." Givan duduk di tepian ranjang, memperhatikan anak asuhnya yang tengah memeluk istrinya.


"Hah? Apanya?" Canda langsung panik, dengan langsung membingkai wajah Jasmine.


"Ayah tuh ngomongnya tak betul. Masa setengah-setengah ceritanya." Jasmine menangis sembari berbicara.


Givan terkekeh kecil melihat anak asuhnya sewot. "Ya Jasmine cerita sendiri dong. Biar Biyung bisa kasih saran." Givan yakin istrinya memiliki saran terbaik, seperti saran sebelumnya tiga tahun, lalu yang pernah Canda beri untuk anak sulungnya dengan perempuan lain.


"Kata Ayah aku menstruasi, Biyung. Apa aku boleh nunjukin ke Biyung, biar Biyung bisa memastikan sendiri? Aku takut, Biyung." Tangis Jasmine semakin menjadi di pelukan ibu asuhnya.


"Ohh.... Tak perlu, Sayang. Dengerin Biyung ngomong nih ya?" Canda menghapus air mata anak asuhnya. Ia tidak menghiraukan lipstiknya yang belum dirapikan tersebut.


Jasmine mengangguk. "Kapan aku tak pernah dengerin Biyung ngomong?" Jasmine sudah merasa penuh hormat pada orang tuanya.


"Iya, Biyung percaya. Cuma, Jasmine ingat-ingat ya pesan Biyung kali ini." Canda mengulurkan tangannya mengambil tisu kering, yang berada di meja riasnya ini. Kemudian, ia mengambilnya dan menyapukannya lembut di bawah hidung Jasmine. Ada air yang mengganggu di sana.


"Ya, Biyung." Jasmine begitu fokus pada ibu asuhnya.


Mudah saja membuat Jasmine lupa dengan tangisnya, yaitu hanya dengan mengajak Jasmine berdialog saja. Maka, perhatian anak itu sudah teralihkan.

__ADS_1


"Mengeluarkan darah dari k******* Jasmine, itu namanya haid atau menstruasi. Kalau terjadinya di atas sembilan tahu, atau tepat di usia sembilan tahun, itu disebutnya haid. Tapi, kalau keluarnya di bawah sembilan tahun. Itu, adalah darah penyakit. Dalam Islam, pada Surah Al-Baqarah ayat 222 di dalam Al-Qur'an, haid dijelaskan sebagai suatu jenis kotoran. Ayat ini juga menjelaskan perintah Allah kepada perempuan yang haid untuk menyucikan dirinya ketika haid dan melarang laki-laki untuk mendekatkan diri selama perempuan mengalami haid."


Givan was-was, khawatir istrinya tidak kontrol dalam menjelaskan hal tersebut.


"Wanita muslimah yang sedang haid juga dilarang untuk shalat sebelum melakukan mandi wajib. Hal itu didasari dari hadits Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa 'sallam, apabila datang masa haidmu, tinggalkanlah shalat dan jika telah berlalu, mandilah kemudian shalatlah. Ini dari hadits riwayat Bukhari. Jadi, Jasmine punya kewajiban untuk mandi wajib. Niatnya udah pernah Jasmine dengar kan? Udah pernah Biyung ajarkan kan?" Canda menunggu respon dari anak asuhnya.


Givan merasa, terkadang istrinya cerdas. Tapi, jika sudah praktek lapangan. Canda tetaplah Canda yang hanya pandai teori menurut Givan.


"Iya, tapi aku lupa Biyung. Ada sih catatannya," jawab Jasmine kemudian.


"Begini, niat mandi wajib setelah haid itu. Nawaitul ghusla liraf'i hadatsil haidil lillahi Ta'aala. Artinya, Aku niat mandi wajib untuk mensucikan hadas besar dari haid karena Allah Ta'ala. Nanti Biyung ajarkan tata caranya di kamar mandi. Karena mandi besar ini ada aturannya tersendiri, salah satunya berwudhu. Biyung sih pakai cara yang itu, jadi Biyung cebok dulu, terus baru wudhu. Habis wudhu, Biyung baca niat mandi besar sambil nyalain shower. Waktu pakai gayung, ya jongkok terus guyur gayungnya di posisi jongkok itu. Biar, airnya cipratan dari mandi wajibnya Biyung ini tak masuk lagi ke bak penyimpanan air itu." Pemahaman sederhana dikatakan perlahan oleh Canda.


"Iya, Sayang. Perempuan yang baligh kemudian disebut mukalaf, atau orang yang dibebani. Artinya, perempuan tersebut telah memiliki kewajiban untuk melaksanakan sholat, puasa, zakat, dan haji jika mampu. Waktu masa haid, perempuan muslim tidak diperbolehkan atau haram melakukan hal-hal seperti, sholat, tawaf, memegang dan menyentuh mushaf atau disebutnya Al-Qur'an dan Tafsir. Tak boleh berdiam diri di masjid, membaca Al-Qur'an, puasa, talak atau cerai. Berjalan di masjid juga tak boleh, dikhawatirkan darah haid akan menetes ke lantai. Terus yang terkahir, ini larangannya berlaku ketika Jasmine udah punya suami, yaitu suami Jasmine nanti dilarang mendekati Jasmine atau menyentuh Jasmine. Yang terakhir ini, nanti Biyung ceritakan kalau Jasmine udah SMA ya?" Canda tersenyum ramah, dengan anggukan paham yang Jasmine berikan.


"Dilarang cerai ketika haid, apa dilarang menikah juga, Biyung?" Pertanyaan dari anak kandung Putri tidak kalah pandainya dari ibu kandungnya.


Canda melirik suaminya, kemudian ia fokus memperhatikan wajah anaknya lagi. "Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menyebutkan, akad nikah wanita yang sedang haid adalah sah, tak ada masalah. Hukum atau syarat utama akad sedang masa haid adalah halal dan sah, kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Sementara tak pernah ada dalil yang menyatakan haramnya akad nikah saat wanita sedang haid. Tapi, yang dilarang adalah...." Canda melirik suaminya, karena ingin suaminya membantu untuk menjelaskan hal ini.


"Adalah apa, Biyung?" Jasmine menantikan lanjutan cerita tersebut.


"Dilarang tidur di kamar pengantin. Kan kalau menikah itu, tidurnya bersama sama antara suami dan istri kan begitu? Nah, tak boleh dulu tuh. Nanti larangan dalam haid yang terakhir, yang Biyung bilang dijelaskannya nanti setelah Jasmine besar, ya ada sangkut pautnya dengan pernikahan," timpal Givan secara tiba-tiba. Givan paham, di mana waktunya ia harus bekerjasama dengan istrinya.

__ADS_1


Jasmine memutar posisinya, untuk menghadap pada ayahnya. Saat dipunggungi oleh anak asuhnya, Canda malah berbalik badan dan bercermin. Ia merasa memiliki waktu untuk membenahi lipstiknya yang baru terpasang di bagian bawah saja.


"Ayah pun paham tentang haid? Kenapa Ayah tak jelaskan langsung ke aku?" Jasmine maju satu langkah untuk lebih dekat dengan ayahnya yang duduk di tepian tempat tidur.


"Karena Ayah cuma tahu hal-hal yang dilarangnya aja, Ayah tak paham ilmunya. Ayah pun, tak paham dari mana larangan dan hadits itu turun. Sedangkan, Jasmine kan pasti nanti cari di internet dong tentang hadits yang Biyung bilang tadi. Biar Ayah tak disalahkan, ya lebih baik langsung ke Biyung yang paham tentang haditsnya juga." Menurut Givan, penting menjelaskan dengan mengatakan sumbernya. Karena ia sadar, jika anak-anak mereka berpikir kritis. Anak-anak mereka pasti memiliki pertanyaan cerdas, hingga mungkin mereka akan menanyakan larangan itu datang dari mana dan siapa yang mengatakannya.


"Apa Ayah tau juga cara mengurusnya? Aku udah cuci CD aku tiga kali yang sekarang, karena selalu tembus ke celana." Jasmine memutar kepalanya mencoba melihat bagian belakang celana panjangnya.


"Oh, iya-iya. Biyung punya barangnya, Jasmine harus pakai. Sok tanya ke Biyung, Ayah carikan dulu barangnya." Givan bangkit dan mencari apa yang anaknya itu butuhkan, yaitu pembalut wanita.


Givan teringat, jika istrinya selalu menyetok barang tersebut karena memiliki masa kadaluarsa yang cukup panjang.


"Biyung, Ayah mau ngasih tunjuk barang. Katanya, aku perlu barang itu." Jasmine mendekati Canda yang tengah bersolek lagi, kemudian ia menepuk bahu ibu asuhnya dengan pelan.


Canda melirik melihat dari pantulan cermin riasnya. Kemudian, ia pun melihat suaminya datang ke arahnya dengan satu bungkus pembalut wanita ke arahnya. Canda paham apa yang suaminya maksud.


"Oke, Biyung ajarkan cara masang dan bersihkannya." Canda langsung menyambut pembalut wanita yang suaminya berikan.


...**************...


semoga bisa menjadi pembelajaran 😉

__ADS_1


__ADS_2