Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM66. Insomnia


__ADS_3

[Ya, Canda. Ada apa memang?] Ghifar membalas tidak lama kemudian.


[Tadi kita bahas apa?] Canda menunggu jawaban Ghifar dengan cemas. Ia berjalan mondar-mandir beberapa kali di kamarnya, ia nampak bingung dan takut dengan kejadian aneh yang ia alami.


Givan telah mengantongi beberapa buktinya, tapi itu belum cukup kuat. Ia pun sudah mengcopy di dua tempat penyimpanan digitalnya, agar jika ada pihak yang menghapus, ia masih memiliki copyan lainnya. Memang rasanya tidak mungkin, apalagi ini hanya kasus intern. Tapi untuk berjaga-jaga saja.


Ceklek....


Givan memperhatikan aktivitas istrinya sejenak. Namun, tiba-tiba ia teringat akan Canda saat kontraksi rahim sebelum melahirkan Chandra, putra pertama mereka.


"Canda, perut kau tak apa?" Givan khawatir istrinya mengalami sesuatu pada perutnya.


Ia melangkah cepat menghampiri Canda. Laptop dalam tumpukan map tersebut, ia tempatkan di atas tempat tidur. Sebelum, akhirnya ia mengusap perut Canda dan menghapus keringat dingin di pelipis Canda.


"Kau tak apa, Canda?" Givan mulai panik.


Canda melempar pandangannya ke netra suaminya. Lalu, ia membuang pandangannya ke arah lain setelah netra itu bertabrakan.


Canda menggeleng, kemudian ia berlanjut melangkah tak tentu arah. Ia masih tidak mengerti dengan kejadian aneh yang ia alami.


"Kau kenapa, Canda? Jangan buat aku takut. Kau sakit kah? Pusing kah? Kram perut kah? Ada yang luka kah?" Givan ikut bingungnya saja, dengan mengikuti langkah Canda yang berputar beberapa kali tersebut.


Canda pun tidak tahu harus bercerita dari mana, ia khawatir dituduh gila. "Aku tak apa, Mas. Lagi ngantuk aja." Canda menyalakan lagi layar ponselnya, balasan dari Ghifar tak kunjung ia dapat. Ia menyadari, mungkin Ghifar tengah repot menjaga anak-anaknya yang tengah berada di keramaian pasar malam.


Tetapi, ia pun tidak sabar juga menunggu Ghifar segera membalas pesannya.


"Ada penipuan telpon kah?" Givan ikut melihat layar ponsel istrinya. Hanya wallpaper layar kunci saja, yang ia lihat.


Canda menggeleng, lalu ia duduk di tepi tempat tidur begitu saja. Givan bertambah bingung, karena istrinya tidak kunjung memenuhi jawaban dari rasa khawatirnya.


"Terus ada apa, Canda? Coba ngadu ke aku, kau kenapa?" Givan segera duduk di samping istrinya.


Canda hanya menjawab dengan gelengan, membuat Givan merasa bertambah khawatir saja pada istrinya yang tidak kunjung menjelaskan. Canda mengulangi menyalakan layar ponselnya, wallpaper layar kunci menampilkan fotonya dengan riasan tipis, menjadi pemandangan saat layar ponsel itu menyala.

__ADS_1


"Ada apa sih HP kau?" Givan mengambil alih ponsel istrinya.


Ia mengetahui kunci kode layar ponsel tersebut, ia langsung membuka dan melihat aplikasi chat yang familiar untuknya. Feelingnya, Canda mendapat spam chat dari Ai karena ia tidak membayarkan biaya rumah sakit perempuan tersebut.


Sayangnya, tidak ada kontak Ai di ponsel Canda. Begitupun, pada ponselnya. Nama-nama keluarga dalam jejak chatting yang belum dihapus Canda, membuat Givan menyentuh si pengirim pesan paling atas.


Ghifar adik ipar, dengan foto kontak tersebut bersama istri Ghifar sendiri.


Givan menyentuh kolom chatting paling atas tersebut, kemudian ia menyimak percakapan dalam pesan di bagian paling bawah. Sebelum chat itu, tertulis tanggal kemarin tentang Ghifar yang menanyakan Canda ingin menitip chicken geprek tidak, karena ia tengah berada di luar dan tengah membeli makanan tersebut.


Givan kembali fokus pada isi chatting terakhir. "Memang tadi telponan sama Ghifar? Kok kau malah nanya bahas apa?" Givan bertanya, dengan menggulirkan pada log panggilan telepon dalam aplikasi tersebut.


"Lima belas menit ngobrol sama Ghifar?" Givan memperhatikan wajah istrinya yang tengah bingung tersebut.


"He'em." Canda pun malah tidak tahu, bahwa ia mengobrol dengan Ghifar.


"Kok nanya bahas apa? Memang kau ke mana tadi?" Givan tidak mengerti situasi yang sudah terjadi.


Canda menghela napasnya, kemudian ia memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang. "Entahlah, Mas. Mungkin aku udah ngantuk parah." Canda meluruskan kakinya, tepat di belakang Givan yang masih duduk di tepian ranjang.


Tidak ada yang mencurigakan, ia pun tidak cemburu karena Canda bertelepon ria dengan adiknya. Karena bisa jadi, obrolan Canda itu bersama istri Ghifar. Bukan dengan Ghifar langsung, karena hal itu sering terjadi. Namun, obrolan selama lima belas menit itu membahas apa? Givan penasaran, karena Canda malah menanyakan dalam chat bersama Ghifar.


"Udahlah! Aku bingung." Canda malah menyembunyikan wajahnya pada bantal gulingnya sendiri.


"Dih, gimana sih kau?" Givan menaruh ponsel istrinya di nakas, kemudian ia mengecup pipi istrinya.


"Baca doa dulu." Setelah mengatakan itu, Givan mengambil laptopnya dan tumpukan dokumennya, untuk disimpan di tempat biasanya.


Mendengar pesan sederhana dari suaminya, Canda kian teringat dengan almarhum mantan suaminya. Karena dahulu saat Canda masih bersama dengan Nalendra, Nalendra sering sekali berpesan untuk Canda berdoa sebelum tidur, sedangkan dirinya tidur lebih dulu. Hal itu, sering Nalendra pesankan ketika dirinya hendak tidur lebih dulu karena kelelahan.


Setelah kejadian panggilan telepon aneh tersebut, lalu Givan berpesan persis seperti mantan suami Canda. Membuat Canda bertambah bingung, karena kebetulan tersebut seperti berhubungan secara tidak langsung.


Apa ini sebuah pertanda? Canda bertanya-tanya dalam batinnya sendiri.

__ADS_1


Sampai akhirnya kini dilanda insomnia mendadak, karena terus memikirkan hal-hal tersebut. Sampai Givan sudah mendengkur di sampingnya, ia masih mengedipkan matanya memikirkan hal aneh tersebut.


Pertanyaan yang silih berganti dalam benaknya. Salah satunya adalah, apakah dirinya sudah gila? Apakah psikisnya terganggu? Apa mentalnya kini bermasalah? Atau, apa ini tanda-tanda bahwa ia mengidap sindrom tertentu? Canda berpikir, bahwa dirinya sendiri bermasalah.


Ia memiringkan tubuhnya, tangannya terulur untuk memeluk dada suaminya. Ia mencoba mencari kenyamanan, agar bisa segera terpejam.


Beberapa kali ia memutar tubuhnya, untuk mencari posisi tidur yang nyaman. Tetapi, nyatanya malah membuat tidur Givan terganggu.


"Ada apa, Canda?" Suara khas orang mengantuk berat tersebut, cukup membuat kaget Canda yang kini tengah memunggungi suaminya.


Givan memeluk perut istrinya, tangannya reflek mengusap-usap perut yang keras karena terisi janin tersebut. Matanya tetap terpejam, dengan gerakan tangan yang masih berulang.


"Mas?" Canda menyentuh tangan suaminya yang berada di perutnya.


"Hmm...." Telinga Givan berfungsi cukup baik, meski matanya rapat terpejam.


Ia setengah tertidur dan tersadar.


"Mas, aku tak bisa tidur." Canda merengek dan hampir menangis.


Ia cukup lelah, ia ingin tertidur. Namun, ia kesal sendiri karena ia tak kunjung terlelap dalam mimpinya.


Mendengar rengekan manja istrinya, Givan mencoba membuka matanya. Ia setengah terduduk dengan bersandar pada kepala ranjang, di belakang punggungnya, ia mengganjalnya dengan sebuah bantal tidurnya.


"Tak nyaman kah perutnya? Atau lapar?" Givan mencoba memutar tubuh Canda agar menghadap padanya.


Givan teringat akan istrinya yang memiliki riwayat operasi sesar. Saat mengandung Cani, anak yang terakhir Canda lahirkan, Canda terus merengek bahwa bekas jahitannya begitu sakit dan nyeri. Hal itu berlangsung, sampai Canda kembali dioperasi untuk persalinannya.


Hingga kini, Canda memeluk perut suaminya. Ia mulai terisak-isak seperti anak kecil, dengan air mata yang terus meleleh.


"Mas...." Canda kembali menyebutkan panggilannya untuk suaminya.


"Hmm, gimana?" Givan mengusap-usap punggung istrinya. Matanya amat berat untuk terbuka, tapi ia mencoba memaksa untuk membuka matanya.

__ADS_1


"Mas, aku tak bisa tidur. Aku kepikiran......


...****************...


__ADS_2