Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM115. Isi kepala ada-ada saja


__ADS_3

"Ini, Put." Givan memberikan laptopnya dan berkas-berkas yang sudah dirangkum sedemikian rupa.


Putri menerima dan menaruh satu persatu bukti tersebut di atas meja. "Kenapa tak langsung diaktifkan?" Ia membuka layar monitor tersebut.


"Cari aja di my document, bukti CCTV judulnya." Givan sudah memperhatikan wajah istrinya saja.


"Kenapa?" Givan duduk di samping Canda, dengan menyentuh pundak istrinya.


Canda menggeleng, tapi ia langsung merengkuh tubuh suaminya. Tanpa malu, ia mendekap erat tubuh atletis itu dengan menciumi aromanya.


"Kangen, pengen makan seblak." Canda mengalihkan kesedihannya, dengan makanan yang ia inginkan.


Ia ingin beban pikiran yang Ai ciptakan itu, teralihkan dengan makanan yang menarik untuknya saat ini. Ia tidak mau terlalu memikirkan, tentang dirinya yang murah atau mahal untuk suaminya. Yang terpenting untuknya sekarang, ia masih bersuamikan Givan.


"Jangan pedas-pedas ya?" Givan menjepit hidung istrinya.


"Kau kan bisa buat, Canda. Ayo buat untuk makan besar, aku bantuin." Fira merecoki obrolan manis suami istri tersebut.


"Tak mau aku, capek nanti."


Fira melongo saja, dengan ucapan Canda. Ia kira, Canda akan setuju dengan ajakannya.


"Hufttt.... Dasar, Cendol!" Fira memanyunkan bibirnya.


"Kesannya kau kek lapar sih, Fir?" Adinda memicingkan matanya.


Putri yang langsung tersindir.


"Iyalah, Mah. Aku tak bisa nih cuma dikasih buah, mana si Key tak datang-datang lagi."


Humor sementara dialihkan ke Fira.


"Ya udah, makan aja dulu. Gih pada ambil di belakang. Fir, ajak yang lain makan." Adinda menyuruh Fira sebagai orang yang ia persilahkan untuk makan duluan, agar Putri tidak terlihat sungkan di sini.


"Dibawa aja, Put. Takut anu...." Givan tidak melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Assalamualaikum...." Laki-laki tinggi dan atletis itu, datang bersamaan dengan adzan Dzuhur.


"Wa'alaikum salam." Sahut mereka serentak, dengan menoleh ke arah pintu.


"Mamah kira kau udah berangkat, Ken." Adinda tetap duduk bersantai di tempatnya.


"Belum, Mah. Abis jemput Yuni, baby sitter Bunga. Tadi pergi sama Ria, Yuni lagi rehat di rumah bu Ummu sama Ria." Ken nyelonong masuk dan mencium tangan Adinda.


Ia mengedarkan pandangannya. "Ish.... Ck, ck, ck....." Ken geleng-geleng tak percaya dengan melirik Givan.


"Reunian dong," ledeknya disusul dengan tawa keras.


"Hmm, pantas si Gemoy manyun terus." Berakhir Kenandra mengetuk hidung Canda dengan tawa yang mulai mereda.


"Lagi minta seblak ini, Putri mau lihat bukti CCTV waktu di hotel Jepara itu. Gelarnya S.Psi dia, tak bilang-bilang lagi. Tau gitu, suruh ngobrol sama Ces dulu." Givan terkekeh kecil dengan melirik ke arah Putri yang berjalan bersama Fira ke arah belakang.


Kenandra duduk di sofa yang ditempati Fira tadi. Ia masih mempertahankan Putri yang berjalan menjauh.


"Ohh, bisa tuh. Setara lah." Ia memandang Putri dengan penuh minat.


"Isi kepala itu, ada-ada saja, Mah. Lain isi selang*angan, pasti itu-itu saja. Riska S.Si, sarjana sains. Pola pikir dan kecakapan pengetahuannya nyambung sama isi kepala aku. Ngobrol itu bermutu gitu, Mah."


Adinda baru mengetahui, ternyata anak angkatnya memandang pendidikan seorang wanita yang akan dijadikan pasangan.


"Bekas aku, Bang," lirih Givan, yang langsung dihadiahkan cubitan keras di perutnya.


"Aduh, aduh, aduh...." Givan mencekal tangan istrinya dengan meringis kuda.


"Isi kepala tak ada yang bekas, Van. Dia tetap bermutu, dengan pendidikan dan pengajaran yang dia dapat. Speaknya beda, perempuan yang pendidikannya tinggi dan tak tuh." Kenandra membuat undagan dengan tangannya sendiri.


"Tetap di dapur-dapur juga," celetuk Ai enteng.


Kini, ia tengah dipandangi oleh empat pasang mata orang dewasa.


"Memang, akhirnya di dapur dan ngurus anak juga. Tapi dapurnya pasti beda dong, cara dia ngolah masakan pun pasti beda. Bukan membedakan si kaya dan si miskin, bukan maksud membandingkan nasib seseorang juga. Tapi ya pilihan aku ya, yang isi kepalanya ada-ada saja. Karena kalau nyarinya isi selang*angan, ya rasanya mirip semua. Mau yang dari pesisir, pegunungan, perkampungan atau perkotaan, ya rasanya sama. Hargai pola pandang seseorang, karena pandangan kau tentang laki-laki pun pasti beda." Kenandra memaksa Ai untuk mengangguk dengan pemahamannya. Kenandra tidak suka jika harus kalah dalam perdebatan.

__ADS_1


"Ya silahkan kalau dianya mau juga, Bang. Gelar ganda, SPsi sama D3 manajemen bisnis. Yang dia kembangkan selama aku kenal sih, ya cenderung ke manajemen bisnis. Usahanya berhasil semua, tapi main bunga seribu kali lipat misal ada perjanjian dalam hal permodalan. Aku tak tau malah, kalau pendidikan psikologisnya lebih tinggi dari manajemen bisnis," ungkap Givan, yang masih menahan tangan istrinya.


Tangan Canda bergerak terus, Givan khawatir diberi cubitan lagi.


Kenandra bertepuk tangan kagum. "Keren, keren ini perempuan. Mungkin pendidikan psikologisnya ia ambil karena minatnya. Sedangkan manajemen bisnis untuk basicnya mengemban tanggung jawab di perusahaan. Jadi apa dia sekarang?" Kenandra masih berminat membicarakan Putri.


"Proyek di jalan tol. Kontraktor entah apa, tapi dia sampai dikasih kendaraan sama perusahaannya. Ya mungkin untuk jalan ke lapangan, karena pasti letaknya jauh dari bangunan awal. Cuma denger-denger dia tadi ngomong tuh, katanya gajinya lima koma lima jutaan aja." Givan merendahkan suaranya.


"Bangkrut pasca lepas bui ya?" Givan hanya mengangguk, mendengar pertanyaan Kenandra.


Kenandra tahu seluk beluk cerita tentang ibunya Jasmin tersebut. Ia pun tidak kekurangan informasi, tentang sejarah lahirnya Key tanpa pernikahan orang tuanya.


"Kok dibui? Kenapa memang?" Ai tidak bisa hanya diam, jika mendengar obrolan yang mengundang rasa penasarannya.


"Berurusan sama Mamah dan Givan. Urusan permodalan, Givan yang dipaksa untuk tetap nikahin dia. Alhasil, langsung lah dibui. Tujuh belas tahun penjara, tapi entah berapa lama ia jalani terus bisa keluar tuh." Kenandra menjelaskan dengan suara pelan.


Mereka sadar, jika mereka tengah berghibah dan membicarakan seseorang yang berada di dapur sana.


Ai menelan ludahnya. Memaksa untuk Givan menikah saja, Putri sampai bisa dipenjara. Pantas saja, persoalan dirinya sampai begitu rumit dan akhirnya ia mendapat hukuman. Bukannya Givan ia dapatkan, tapi hukuman yang sudah menantinya setelah bersalin nanti. Sekarang pun, ia terbatas untuk keluyuran tanpa sebab. Istilah isolasi mandiri, sudah pantas untuknya. Namun, keadaannya yang genting. Membuatnya berani untuk meminta pertolongan pada Adinda, mengenai keadaan kehamilannya.


"Aku ke belakang ya, Mah? Mau minta kontak Putri." Kenandra bangkit, tapi langsung dicegah dengan perintah dari Adinda.


"Nanti aja, urus Ai dulu. Katanya, dia ada pendarahan lagi." Adinda menunjuk Ai dengan dagunya.


"Tapi, Mah. Ai jangan dibawa pergi dulu, mau diajak ngobrol sama Putri." Givan garuk-garuk kepala kebingungan dengan situasi yang kurang kondusif ini.


"Mau cek detak jantung anaknya dulu, Van. Aku punya beberapa alatnya di sini. Cek di sini aja, karena repot juga nih bawa tahanan desa ke rumah sakit. Takut-takut, aku disalahkan pihak desa." Kenandra berjalan lebih dulu ke salah satu kamar tamu. Kemudian ia membuka pintu kamar tersebut begitu lebar.


"Masuk dulu, Ai. Aku mau ambil alat-alatnya dulu di kamar atas." Kenandra berjalan ke belakang, untuk naik ke lantai dua.


Dalam pandangannya, ia mendapati Putri yang tengah fokus pada layar laptop. Dengan sajian nasi dan lauk pauknya, yang sesekali dinikmatinya dalam diam.


Kenandra semakin penasaran dengan karakter Putri. Meski ia tahu, sisi negatif dari perempuan tersebut.


...****************...

__ADS_1


Aduh, Ken! Ken! Baru juga lagi nyusun kerangka tentang cerita kau. Selera kau, rupanya bukan tokoh utamaku 🤦‍♀️


__ADS_2