
POV Givan.
Aku tidak mengerti, dengan konsep susunan syaraf pusat pemikiran istriku. Sering sekali ia ingin tahu tentang aku dan perempuan lain di masa lalu, apa keuntungan untuknya? Padahal sikapku padanya, tidak ada yang menjurus ke arah perselingkuhan. Atau, aku membandingkan dirinya dengan yang lain di satu sisi.
Aku paham matahari dan bulan, akan bersinar di waktu yang tepat. Nah, begitupun setiap perempuan. Ada sisi buruknya, ada sisi baiknya. Begitupun dengan istriku, Canda.
Jika ia merasa dirinya lebih rendah, minder istilahnya. Ya ia pun memiliki sisi baiknya juga, ia memiliki kelebihan di sisi yang lain. Contohnya, selalu membuatku kesal dan jengkel setiap harinya.
Oh, tidak. Bukan-bukan. Contohnya, agamanya bagus dan penurut. Semua perempuan bisa saja menjadi penurut, tapi tidak semua perempuan taat pada agamanya di zaman sekarang.
Ditambah lagi, latar belakang keluarga yang pecah belah, tidak membuatnya terjerumus dalam hal yang salah. Sekalipun dengan embel-embel pernah dipesantrenkan, tapi jika keluarganya tidak lagi utuh, jarang kemungkinan ia tumbuh menjadi seseorang yang berjalan di jalan yang benar. Logikanya, aku yang dari keluarga yang utuh pun seperti ini. Apalagi, jika ayah dan ibunya entah di mana adanya.
Ya mungkin, aku begini karena secuil sejarah di mana aku pernah menjadi korban dari perpecahan pernikahan orang tuaku. Masih terbayang-bayang ucapan mereka, ketika ayah kandungku menjelek-jelekkan ibuku saat aku berada di pelukannya. Aku pun tidak bisa lupa tangis ibuku, yang mengatakan bahwa ayah kandungku menyakitinya. Dua kubu yang tidak bisa aku pahami letak kesalahannya, karena dari keduanya aku melihat kesalahan mereka dengan persepsiku sendiri, bukan dengan tuduhan mereka atas pasangan masing-masing. Sulit disatukan, meski dengan alasan anak.
"Kok ngelamun, Cendol? Ada apa sebetulnya?" Aku masih menempatkan diri sebagai suami yang peduli saat istrinya mulai dengan dramanya.
Aku tidak mengerti apa masalahnya? Apa kesalahanku? Atau, ia salah mengambil napas atau salah menginjak garis lantai hingga dramanya dimulai kembali. Aku tidak pernah menyebutnya berakting, karena luapan emosi nyata tumpah dari matanya. Ia benar-benar tengah menuangkan emosinya dengan caranya sendiri, yaitu menangis.
Cengeng, ya bisa jadi. Berdebat dengan anak saja, ia menangis. Aku sadar, mungkin tuturku sedikit kasar. Tapi, ia malah sering tertawa geli saat aku marah. Agak-agak memang istriku ini. Entahlah, aku tidak mengerti apa penyebabnya menangis.
"Deskripsi rasa cinta dan sayang Mas itu kek apa?"
Aku merasa aneh juga sebenarnya, di usia yang sudah tiga puluh lima tahun. Dengan aku yang sudah akan menginjak bulan lahirku, di mana aku akan genap empat puluh tahun. Ia masih saja menanyakan deskripsi perasaan, apa ia tidak melek atas perlakuanku dan tanggung jawabku padanya?
__ADS_1
"Kek ayam goreng marinasi, Canda." Aku langsung mengunci mulutku rapat.
Ia tidak tahu kah, bahwa suaminya cepat emosian? Kenapa suka sekali memancing emosi, yang akhirnya aku harus kalah dengan emosiku sendiri.
Ia mencubit perutku. Kemudian, ia menyembunyikan wajahnya dalam dadaku. Saranku sih, lebih baik ia tertidur. Daripada, harus menciptakan drama lainnya.
Tebakanku, setelah ini ia akan menanyakan apa aku menyayanginya. Atau, apa aku mencintainya. Karena pertanyaan kecil yang tidak membuat perubahan apapun itu sering ia lontarkan. Padahal, aku sering kali membuktikannya. Tapi, entahlah apa yang ia butuhkan selain bukti.
"Serius aku, Mas. Kadarnya sebesar apa perasaan Mas ke istri sama ke pacar?"
Ya, ampun. Pertanyaan yang berbeda lagi rupanya. Aku kira, ia akan menanyakan cinta-cintaan lagi. Aku jadi teringat zaman aku SD. Apa harus kutulis 'Givan love Canda' begitu?
"Ya jelas beda lah, Canda. Aku sama kau pakai akad nikah, dua kali malah. Nanyain kadar segala, udah macam emas aja." Aku ingin tidak selalu ketus, tapi istriku seperti ini. Bagaimana caranya agar aku selalu bertutur lembut?
"Ya kau melek Canda! Aku sampai jadi buruh cat, buat hidupi kau. Aku turunkan gengsi aku serendah mungkin, sadar udah punya tanggung jawab atas kau. Aku malu, kalau harus minta orang tua terus. Masalah rusak merusak, kan tak sengaja juga. Awal-awal, kan wajar namanya juga baru menikah dan tak pernah berpacaran sebelumnya. Kau aja pasti ngerasa asing sama aku."
Rasanya aku ingin mencubitinya. Tapi tidak dicubit saja, ia sudah menangis.
"Tapi kan aku bisa cinta sama Mas."
Dia kira aku tak cinta kah dengannya? Sekalipun ia monoton di ranjang, perasaanku padanya terus tumbuh di pernikahan pertama itu.
"Serumah, sekamar. Pasti bisa cinta lah, Canda. Kita ini mungkin tak menyadarinya, karena kita sama-sama terus. Barulah sadar, masanya kita tak sama-sama lagi." Harus mendeskripsikan seperti apa lagi ya? Agar ia mau memahami dan tidak bertanya cinta-cintaan lagi.
__ADS_1
"Jadi aku harus ninggalin Mas dulu, biar Mas sadar dengan rasanya?"
Ingin sekali aku mengigit bibirnya.
"Kan udah pernah cerai, Canda." Aku mencoba sehalus mungkin menggunakan nada bicaraku.
"Sih Mas bilangnya gitu."
Ia menangis lagi.
Salah berbicara kah aku ini?
Aku tidak berniat memintanya untuk diam dari tangisnya. Aku hanya terus memeluknya dan mengusap-usap punggungnya. Mungkin memang ia ingin menangis, tapi tidak ada konflik. Jadi, ia menciptakan konflik dari masalah yang sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan.
Berbicara tentang kadar perasaan, atau cara mengutarakan perasaan. Menurutku, penyampaian paling efektif itu adalah membuktikannya.
I love you, itu adalah kata-kata kuno penakluk wanita. Sudah banyak buktinya korban dari kata tersebut. Sedangkan love you, meski artinya sama dengan kata di atas. Tapi, mereka yang menggunakan kata ini adalah tentang ungkapan terima kasih atas selesainya pertarungan di ranjang. Love you tersebut, merujuk pada aktivitas dewasa yang mereka gemari. Berbeda dengan akad nikah, itu adalah bukti terbesar dari rasa cinta. Tapi, jika tidak dibarengi dengan tanggung jawab. Ya menurutku, pernikahan itu pun hanya kamuflase ingin melakukan aktivitas dewasa tanpa diikuti dosa.
Jadi cinta yang paling nyata adalah pembuktian, tanggung jawab dan sikap. Sekasar-kasarnya aku para Canda, semarah-marahnya aku pada Canda, aku tidak pernah mengabaikannya. Ia adalah prioritas utamaku, ia adalah tempat pulangku. Semangatku bekerja adalah, tuntutan keinginannya ketika merengek ingin barang ini dan itu. Itu adalah booster semangat yang sesungguhnya untukku, salain kebutuhan anak yang tidak seberapa.
Anak lebih butuh orang tuanya menurutku, bukan barang-barang yang belum mereka perlukan selain makanan dan pakaian. Anak-anak sebenarnya tidak butuh mainan, mereka bisa mengekspresikan dirinya dengan barang-barang di sekitarnya, hanya saja aku yang membelikan. Mereka lebih suka bermain dengan alat dapur, perkakas rumah tangga dan alat-alat pertukangan.
...****************...
__ADS_1