
"Terbentuknya kista ini, terjadi karena adanya masalah pada proses pembentukan janin di dalam kandungan. Jadi sebenarnya, ada pembentukan yang abnormal pada pertumbuhan janin. Harusnya dia tumbuh di luar dinding rahim, dia tumbuhnya ke dalam begitu."
Givan langsung tidak percaya dengan penjelasan sang dokter, karena selama ia cek up rutin. Ia tidak pernah mendapat informasi tentang hal seperti ini. Ia tidak pernah mendengar, tentang kabar buruk dari janin yang dikandung istrinya.
"Tapi sebelumnya biasa aja, Dok. Saya rutin bawa istri Saya cek up dan tak pernah dapat informasi seperti ini." Karena Givan mendatangi rumah sakit berbeda kali ini, dikarenakan praktek dokter langganan mereka di rumah sakit biasa mereka cek up, kosong hari ini.
"Pak Givan bisa cek ulang di rumah sakit lain, bila perlu cek darah juga. Biar lebih meyakinkan gitu kan? Pak Givan silahkan mencari second opinion. Saya bukan tersinggung, Saya menyarankan hal ini agar lebih memastikan aja gitu, Pak." Dokter tersebut memandang Givan dan Canda bergantian.
Tanpa persetujuan Canda lagi, Givan langsung menegakkan kakinya. "Baik, Dok. Saya permisi," ucapnya ramah dengan menggandeng tangan istrinya yang masih duduk.
"Sama-sama, Pak Givan." Dokter tersebut membawa buku catatan kehamilan milik Canda.
Di rumah sakit yang letaknya lebih jauh, Givan pun mendapatkan vonis yang sama. Bahkan, ia mendapat kabar pahit bahwa salah satu janin istrinya sudah tidak berkembang lagi. Proses yang sangat cepat, tidak disangka-sangka oleh Givan.
Harapan yang disampaikan hanya satu, semoga kista yang berada di dalam rahim istrinya tidak tumbuh semakin besar dan mendesak satu-satunya janin yang bertahan dalam rahim Canda. Tanpa melihat riwayat operasi sesar Canda, dokter pun tetap menyarankan agar persalinan nanti dilakukan secara sesar guna mengangkat kista tersebut.
Dokter memperhatikan riwayat cek up rutin yang dilakukan oleh Canda. Saat bulan lalu, semuanya berjalan lancar. Namun, saat satu bulan setelahnya, kehamilan Canda bermasalah. Menandakan, bahwa pertumbuhan kista begitu cepat. Bahkan ukurannya sekarang sudah setara dengan janin berusia empat bulan tersebut.
"Jadi, apa ada resep khusus, Dok?" Givan menelan ludahnya sebelum mengajukan pertanyaan.
Ia sedang memberi kekuatan, lewat genggaman tangannya pada istrinya. Canda sudah tertunduk, menangis tertahan mendengar kabar yang ternyata lebih buruk dari kabar yang pertama ini.
"Ada, Pak. Agar menghambat pertumbuhan kistanya. Soalnya, Saya yakin. Seiring waktu kista semakin membesar, istri Bapak juga pasti akan merasakan nyeri. Diusahakan cek upnya rutin ya, Pak? Terus, jangan makan makanan siap saji dulu. Makan makanan sehat dan yang bergizi untuk ibu hamil." Dokter wanita tersebut mengulurkan secarik kertas dengan resep yang tulisannya tidak bisa dibaca oleh Givan.
__ADS_1
"Baik, Dok. Terima kasih." Mereka berdua keluar dari ruangan tersebut.
Di dalam mobil yang terparkir. Canda dan Givan sesenggukan dengan mengusap perut Canda, ia tidak menyangka ternyata kabar buruk datang dalam keadaan yang tidak terduga. Ia masih bertanya-tanya, bagaimana mungkin kista tersebut tumbuh kembang begitu cepat di dalam rahim istrinya.
"Mas Givan nangis?" Canda baru menyadari bahwa mata suaminya basah dengan wajah yang memerah.
Givan tidak menjawab, ia lebih erat memeluk istrinya guna menyembunyikan wajahnya. Ia teringat dengan sikapnya yang masa bodoh, ketika mendapat kabar duka dari Ai. Ia bahkan, tidak membantu untuk menyelimuti bayi Ai dengan tanah pemakaman umum di kampungnya.
Apa semua ini timbal balik, karena ia tidak memiliki belas kasihan? Apa semua ini terjadi, karena ia begitu tega pada bayi yang Ai kandung. Givan benar-benar berpikir jika hukum karma itu tunai dalam waktu yang singkat.
"Kita pulang yuk? Istirahat." Givan mencium dahi istrinya cukup lama.
"Mas, jadi tindakan apa yang harus dilakukan di perut aku?" tanya Canda dengan mengusapi mata basah suaminya.
Givan menepis tangan Canda dari sana. Ia cukup malu, karena ketahuan menangis akan hal itu.
Ia tidak menyangka, ternyata di dalam perut istrinya terisi seorang janin yang hidup bersebelahan dengan penyakit. Hal yang membuatnya bertanya-tanya hanya satu, ke mana perginya janinnya yang satu lagi? Hal ini masih belum sampai di bayangannya, karena dokter hanya mengatakan terjadi pertumbuhan tidak normal dari salah satu janinnya yang tidak beruntung itu.
Setelah mendapatkan resep obat. Givan mengajak Canda makan bersama dengan olahan sayuran buatannya, kemudian ia memberikan istrinya resep obat yang sudah ia tebus. Beberapa menit kemudian, Givan senagaja membawa Canda beristirahat dan terlelap di siang hari ini.
Saat Canda benar-benar sudah pulas, ia bergegas menuju ke rumah ibunya. Hanya ibunya, tempatnya berkeluh kesah tentang semua hal yang menyangkut kehidupan keluarganya.
Ia mendatangi kamar ibunya dengan mata yang berkaca-kaca. Ia hanya menyahuti sekilas sapaan Awang, yang berada di teras rumah orang tuanya.
__ADS_1
Rasa kaget, Adinda isyaratkan dari netranya yang terbuka lebar. Anaknya yang sudah dewasa itu, tetap seperti anak kecil. Sopan santun tak kurang-kurangnya ia ajarkan pada anak-anaknya, tapi mereka tetap saja lebih sering nyolonong masuk ke kamarnya ketimbang mengetuknya lebih dulu.
"Ish! Kau ini! Kalau Mamah sama Papah lagi tak berpakaian gimana?!" ketus Adi, ketika menyadari keberadaan anak tirinya yang langsung memeluk istrinya.
"Kenapa kau? Ribut sama Canda lagi kah?" Adinda mengusap-usap punggung lebar anak sulungnya.
Ia baru menunaikan sholat berjamaah di waktu Dzuhur ini bersama suaminya, ia belum sempat mengenakan kembali kerudungnya.
"Canda mengidap kista dermoid, Mah. Bayi kami hilang satu." Tangisnya pecah di pelukan ibunya. Ia tidak malu mengumbar rasa cengengnya, ia tidak malu mengumbar kelemahannya pada ibunya.
Adi dan Adinda saling memandang dengan pandangan tak percaya.
"Terus keadaan Canda gimana sekarang? Canda ada di mana?" Adi sudah membayangkan keadaan menantunya yang tidak berdaya.
"Aku kelonin suruh tidur siang, Pah." Ada jawaban yang menggeletik, di tengah kepanikan dan kekhawatiran yang terjadi.
"Tapi Canda baik-baik aja sekarang? Dia ada di rumah kah?" Adinda membingkai wajah penghuni pertama rahimnya. Kemudian ia mengusap air mata Givan, kemudian memegangi kedua lengan anaknya agar tetap menghadap padanya.
Givan mengangguk. "Dia baik-baik aja, tapi aku yang tak baik-baik aja."
"Cep, sayang-sayang. Jangan nangis lagi." Adinda memperlakukan anaknya seperti anak kecil.
"Janin Canda hilangnya ke mana, Mah? Kenapa sekarang cuma ada satu, Mah?" Givan menunjukkan foto hasil USG milik istrinya.
__ADS_1
Adinda mengambil alih gambar tersebut, kemudian ia membawa anaknya untuk duduk di tepian ranjang. Adi pun mendekati istrinya, kemudian mengintip foto yang berada di tangan istrinya.
...****************...