Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM197. Ungkapan terdalam


__ADS_3

Givan membingkai wajah istrinya. "Canda.... Dengan segala pengorbanan aku, tanggung jawab aku, waktu dan tenaga aku, apa kau masih meragukan itu? Semua itu aku lakuin tuh, karena aku cinta sama kau, Canda! Ke mana-mana aku bawa kau, demi kita baik-baik aja tanpa orang ketiga, Canda! Kita berantem dan aku ngalah, itu karena aku sayang sama kau, aku tak mau kita berantem terus. Kau jauh lebih aku utamakan ketimbang saudara aku sendiri, bahkan orang tua aku sendiri, karena kau prioritasku. Semua hal baik yang aku lakukan, ya karena aku cinta sama kau, Canda. Banyak wanita idamanku di luar sana, tapi cuma kau yang aku ajak kembali dalam ikatan suci. Karena aku cinta sama kau, Canda. Aku ingin menua bersama kau, dengan kau dan hasil didikan kita. Maaf aku selalu buat kau nangis, sedih, mungkin kepikiran. Aku tau, aku bukan orang yang sempurna. Tapi dengan egoisnya aku, aku cuma mau kau yang jadi teman hidup aku. Aku tak mau tau kau cinta atau tak sama aku, yang penting kau tetap jadi kecintaan aku dan milik aku. Aku minta maaf, udah kasih perempuan lain benih aku. Tapi, Demi Allah.... Aku cuma ingin rahim kau lah tempatnya anak-anak aku mulai tumbuh dan berkembang. Cuma kau yang aku inginkan, untuk jadi ibu dari anak-anak aku." Sorot matanya menyiratkan bagaimana perasaannya sebenarnya.


Canda sesenggukan, pilunya berbarengan dengan rasa harunya. Benarkah ini yang ia tunggu selama pernikahan mereka?


"Aku cinta sama Mas. Aku sampai rela dihamili berkali-kali sama Mas." Canda berbicara dengan rasa cengengnya yang meluap.


Givan ingin menangis, tapi ia malah tertawa geli. Ia tidak menyangka istrinya mengucapkan hal seperti itu.


"Makasih ya?" Ia meredam tawanya dan mengecup kening istrinya cukup lama.


Semangat Canda bertambah seribu kali lipat, untuk melahirkan keturunan suaminya. Ia begitu bahagia, ternyata perasaannya terbalaskan juga.


Begitu sepele menurut orang lain, bahkan Givan sekalipun. Karena menurutnya, yang terpenting adalah bagaimana caranya ia bertanggung jawab atas perasaannya. Namun, pengakuan secara lisan nyatanya begitu penting untuk Canda.


Kini kepercayaan dirinya sebagai seorang istri dari Ananda Givan, begitu mantap dan bertambah besar. Canda begitu bahagia, karena merasa memiliki hati suaminya dengan sepenuhnya.


Pemberangkatannya menuju Tangerang, begitu lancar dan tanpa hambatan. Canda melewati hari-harinya dengan rasa sakitnya dan senyuman tulus untuk laki-laki yang senantiasa menggenggam tangannya.


"Sabar ya, Canda?" Givan kembali menyeka keringat dingin istrinya yang menahan sakit tersebut.


"Kalau nanti yang pulang ke rumah cuma anak kita aja gimana, Mas?" Canda hanya ingin tahu pendapat suaminya.


"Memang kau mau pulang ke Jawa? Aku kan udah jujur, aku cinta sama kau. Kenapa mesti pulang ke Jawa?" Givan tidak ingin membawa pikirannya ke arah yang negatif.


"Tak, maksudnya.... Misalkan yang boleh pulang itu bayi kita dulu. Gimana gitu?" Canda benar-benar hanya ingin tahu reaksi suaminya saja, ia tidak ingin benar-benar berada dalam posisi koma.

__ADS_1


"Jangan ngomong jelek!" Givan mencubit mulut istrinya. "Kau tak mau aku kembali b*******, ya syaratnya kau harus tetap di samping aku."


Canda tidak melanjutkan ucapannya, ia lebih memilih untuk memeluk suaminya, semampu tangannya meraih. Bau khas suaminya adalah ketenangannya, kehadiran suaminya adalah keamanannya.


"Kau tau, Canda? Bayi kita udah tambah besar loh. Berat badannya dan kebutuhan organ pertumbuhannya terus dibooster, biar dia kuat pas dilahirkan nanti." Givan mengalihkan pembicaraan mereka, ia tidak ingin pikiran buruknya semakin menjadi. Karena ia merasa, Canda seolah tengah ngawur dalam berbicara.


Ia menjaga ucapannya, agar tidak membahas tentang biaya yang harus ia keluarkan. Karena ia tahu, istrinya akan memikirkan bagaimana nasib keuangan mereka nantinya. Sebenarnya tidak ada masalah untuk Givan, tapi ia cukup tahu tentang bagaimana istrinya yang sering memikirkan pengeluaran keuangan mereka.


Meski tidak membayar di awal, tapi Givan sudah membayar biaya administrasi mereka selama satu minggu selama Canda dirawat di rumah sakit itu. Cukup terasa, meski Givan memiliki aset dan penghasilan yang cukup banyak.


"Jadi, berapa lama lagi aku persalinan?" Canda cepat-cepat ingin menyelesaikan rasa sakit ini.


"Tiga mingguan lagi, Canda. Aku udah dikasih jadwal untuk eracs itu, tapi bisa berubah kalau ada kondisi tertentu. Sabar ya?" Givan kembali mendaratkan kecupan manisnya di kening istrinya.


"Bosen, Mas. Pengen jalan-jalan di sekitar kamar." Canda berusaha untuk bangkit dari posisinya.


Mereka menyusuri kamar inap rumah sakit tersebut, dengan berbincang dan bergurau kecil. Secara tidak langsung, selama satu bulan mereka akan berada di sini. Hubungan mereka semakin kuat dan saling mengerti satu sama lain.


"Mas, HP bunyi tuh." Telinga Canda cukup peka mendengar suara lamat-lamat itu.


"Bentar ya? Tunggu di sini ya?" Givan meninggalkan Canda di living room kamar inap Canda tersebut.


"Siapa, Mas?" tanya Canda, kala suaminya tak lama berjalan lagi ke arahnya.


"Shauwi sama Adek Ces." Givan tersenyum ke arah layar ponselnya.

__ADS_1


Ia tengah melakukan panggilan video.


"Hallo, Cantiknya Biyung." Canda berdadah ria pada layar ponsel suaminya yang menampilkan visual salah satu anak perempuannya.


"Anak Daeng, Biyung," sahut anak tersebut dengan menarik sudut bibirnya sekilas.


"Anak Ayah dong." Givan berpura-pura cemberut saat mendengar penuturan anak tirinya.


"Iya, anak Ayah juga. Ayah sama Biyung lagi ngapain?" Anak tersebut tidak mengalihkan pandangannya, dengan tangannya yang bergerak memainkan mainan yang mengasah otaknya.


"Ayah sama Biyung lagi duduk aja nih. Adek Ces lagi apa?" Givan terus mengamati kegiatan anaknya yang membutuhkan penanganan khusus tersebut.


"Lagi duduk, Yah. Yah, aku besok lomba stand up komedi. Belum apa-apa, aku udah ketawa duluan. Gimana nanti aku di atas panggung sekolah?" Mendengar cerita anaknya, Givan dan Canda langsung tertawa geli.


"Kok bisa disuruh stand up komedi?" Givan tidak mengerti cara pembelajaran di sana.


"Pengembangan diri, Bang. Nanti bang Keith Minggu depan ikut rapat, setelah keluar tentang pengembangan diri anak-anak. Soalnya rapatnya pakai bahasa Inggris, sedangkan aku tak paham." Shauwi tertawa geli.


"Ya tak apa, tugas kau di sana urus dan jaga Ceysa. Ria rutin kan ngobrol sama guru sekolah Ces? Keith rutin kan kontrol tentang prestasi Ces?" Givan sedikit mengerti tentang pengajaran yang mengedepankan kemampuan anak genius tersebut.


"Rutin, Bang. Pulang pergi sekolah pun, aku dan Ceysa diantar jemput. Cuma ya itu, aku dan Ceysa kurang bisa sosialisasi. Soalnya bahasanya sulit, kita jadi tak bisa berbaur."


Givan manggut-manggut, ia sudah mendengar aduan Shauwi tentang hal ini beberapa kali. Ia tidak memiliki jalan keluarnya, selain membiarkan mereka yang akhirnya terbiasa dengan lingkungan baru. Karena menyekolahkan Shauwi dan Ceysa untuk mempelajari bahasa yang digunakan di Singapore tersebut, kurang efektif selain terjun langsung untuk berkomunikasi secara langsung.


"Bisa, sabar aja. Terus gimana Keith sama Ria? Mereka di rumah itu sekamar atau gimana?" Givan malah yang memerintahkan Keith, untuk pindah ke rumah tersebut. Namun, ia ingin Ria dan Keith dalam kontrolnya. Mereka tidak sekamar, apalagi tanpa adanya ikatan pernikahan.

__ADS_1


"Abang tak tau kah, kalau ada penghuni lain?" Shauwi berbicara seperti tidak biasa.


...****************...


__ADS_2