Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM39. Amanat sederhana


__ADS_3

"Jangan bercanda kek gitu lah, Bang. Nanti aku yang malah ngelarang, karena aku tak tenang dia dalam pengawasan kau." Canda mengusap lengan anak angkat dari mertuanya tersebut.


Kendaraan menoleh dan tersenyum samar pada Canda. Ternyata ia mendapat kepercayaan penuh. Jika sudah begini, ia jelas akan berusaha untuk tidak mengecewakan orang-orang terdekatnya. Kecuali, perempuannya yang memulai. Seperti kasus serupa, yang sampai membuat rumah tangga Ghifar berantakan dan berakhir di pengadilan. Kenandra tak mau merusak kembali apa yang sudah semestinya bahagia lagi.


"Kau mau Abang gimana, Dek?" Kenandra ingin tahu amanat dari Canda untuk dirinya bersikap pada Ria.


"Tolong dijaga, jangan dirusak." Canda mengatakannya dengan tersenyum lebar, sembari menepuk-nepuk pundak Kenandra.


Mudah, tapi begitu sulit dilakukan jika ego lelaki tengah menguasai. Kenandra tentu mengangguk mantap, ia akan berusaha untuk menjaga Ria semampunya.


"Siap, Canda. Nanti jaga Bunga juga ya?" Timbal balik positif yang Kenandra inginkan.


"Pasti dong. Dia yang manggil biyung dan anggap aku panutannya, pasti aku didik semampu aku." Sebenarnya Canda tidak perlu mengatakan itu, hanya saja ucapan seseorang lah yang dipegang untuk bisa dipercaya.


"Malam ini rencana kita berangkat, Kak," ujar Ria mengalihkan perhatian Canda dari Kenandra.


Canda mengamati wajah adiknya. "Jangan aneh-aneh. Kalau mau niat bantuin Mbak, ya yang serius dan jangan ngulur waktu. Mbak lagi hamil juga di sini, Mbak butuh teman. Semakin kau cepat selesaikan di sana, semakin cepat juga kau bisa nemenin Mbak di sini. Jangan sampai Mbak bersalin, kau masih di sana aja. Nanti siapa yang nungguin Mbak di rumah sakit?" Canda teringat akan riwayat operasi caesarnya yang belum lama. Pasti itu akan terulang lagi, karena akan beresiko jika Canda memaksa untuk bisa melahirkan normal.


Suasana menjadi melow, Ria langsung memeluk kakaknya yang selalu memarahinya jika akan menemui laki-laki di luar rumah. Ia menyayangi kakaknya itu, meski mereka dipertemukan ketika sudah sama-sama besar.


Tanpa disangka, lima orang dewasa tersebut malah saling memeluk hingga Canda menepuk punggung siapa saja yang ia gapai. Karena ia begitu sesak dan hampir saja kesulitan bernapas.


"Membunuh dalam kasih sayang." Canda mendelik ke arah orang-orang yang memeluknya tersebut.


Gelak tawa dan senda gurau pun berlanjut kembali. Sampai telepon dari seseorang, membuat Canda keluar dari penginapan kost-kostan tersebut.

__ADS_1


"Istirahat, jangan main aja!" Ghifar menjemput Canda di depan pintu gerbang penginapan tersebut.


Bukan suaminya, melainkan mantan pacarnya sekaligus adik iparnya. Ghifar yang menelpon tadi dan menanyakan keberadaan Canda. Ia sudah mencari Canda ke rumah Canda dan ke sana ke mari, ia khawatir Canda kabur dari masalah lagi.


Canda naik ke motor Ghifar yang memiliki jok sangat lebar tersebut. Kemudian ia berpegangan pada kaos bagian pinggang Ghifar, dengan motornya yang mulai melaju perlahan.


"Istirahat, Canda. Sama mama ya di rumah? Aku mau berangkat kerja lagi, aku pulang cuma makan siang aja." Ghifar berniat membawa pulang Canda ke rumahnya.


Mama adalah panggilan kesayangan Ghifar untuk istrinya. Orang-orang disekitarnya pun, sudah terbiasa memanggil istri Ghifar dengan sebutan itu, karena para anak-anak begitu tunduk dan patuh padanya.


"Di rumah aja deh." Bukannya Canda takut istri Ghifar memarahinya karena begitu dekat dengan suaminya. Namun, ia ingin memiliki waktu untuk sendiri setelah dipertemukan langsung dengan Ai. Tentunya, ia akan menangis dengan bersembunyi agar orang-orang tidak ada yang tahu.


"Udah sama mama aja, daripada sendirian. Aku baru tau, kalau bang Givan pulang ke mamah. Nanti kau sendirian di rumah kau, mending di rumah aku aja ada temannya. Malam pun, tak apa tidur di rumah aku."


Itu adalah penyakit menurut Canda. Karena permasalahan bukannya selesai, tapi meluas karena Canda akan dituduh sebagai orang ketiga di rumah tangga Ghifar.


"Iyalah, kau kan butuh pegangan. Nanti aku keloni dulu, baru deh aku pindah ke kamar atas sama mama."


Ucapan Ghifar barusan, nyatanya benar terjadi di malam harinya. Canda benar-benar tidak bisa tidur sendirian di rumahnya. Ia mengetuk pintu rumah anak-anaknya beberapa kali, tapi tidak ada yang membuka karena hari sudah menjelang tengah malam. Sampai akhirnya Ghifar yang baru akan masuk ke rumahnya, setelah dirinya diminta untuk membeli sate kambing, ia berpapasan dengan Canda yang berjalan seorang diri menuju rumah ibu Ummu.


Ghifar menarik Canda untuk pulang ke rumahnya. Ia pun menemani Canda tidur sampai pulas bersama istrinya juga. Istri Ghifar mencoba memahami tentang trauma suaminya dan menghargai perempuan yang coba suaminya jaga untuk kesembuhan traumanya. Karena, Ghifar akan benar-benar drop jika sampai melihat Canda tak berdaya juga.


"Boleh tak kalau Canda tinggal di sini aja, Ma?" Ghifar memakai kembali pakaiannya, setelah memberikan nafkah batin untuk istrinya.


Mereka tengah rindu-rindunya karena libur empat puluh hari, untuk tidak berhubungan badan karena masa nifas. Hingga malam ini, akhirnya rindu mereka menumpah di atas ranjang mereka.

__ADS_1


"Boleh aja, tapi apa kata mata umum? Lebih baik, cuma main aja, nginep sesekali. Atau, mending Canda ke mamah atau ke ibu aja kalau mau tidur. Siang sih tak apa Canda di sini juga, kita bisa jaga anak-anak bareng. Bu Siti kan jadi bisa urus rumah juga, kalau anak-anak ada yang jaga."


Ibu Siti adalah asisten rumah tangga Ghifar, yang membantu untuk menjaga anak-anak juga. Anak-anaknya sudah bisa mandiri, hanya saja perlu pengawasan. Saat istri Ghifar kelelahan atau tengah mengurus bayi mereka, maka ibu Siti mengerjakan tugas rumah tangganya dan memilih untuk mengawasi anak-anak saja.


"Iya juga ya, Ma." Ghifar terus memikirkan mantan kekasihnya yang tengah kehilangan kepercayaan itu.


"Iya, malam ini tak apa. Karena posisinya udah malam, sedangkan orang-orang udah pada tidur."


Untuk mereka yang tidak tahu, mungkin Canda terlihat begitu manja. Tapi, Canda terbiasa tidur selalu dengan suaminya yang dijadikannya sebagai tempat untuknya berpegangan. Canda terbiasa dengan kehadiran seseorang yang menemani tidurnya.


"Ya udah besok pagi aku bilang ke mamah. Buatkan makanan apa gitu, biar ke mamah aku tak tangan kosong aja." Ghifar berjalan ke arah kamar mandi.


Banyak orang-orang yang menyayangi Canda. Tapi begitu seimbang dengan ujian yang selalu jatuh lebih berat padanya, karena kelebihan kasih sayang dari banyak orang. Canda kadang merasa dirinya dilahirkan tidak dengan keberuntungannya juga, tapi jika seperti itu ia tidak akan pernah menjadi orang yang bersyukur.


Pagi yang ceria dan cerah menggiring Canda untuk ikut ke taman kanak-kanak anaknya, Ra. Ia begitu senang, melihat banyak pedagang cemilan yang ia gemari.


Sayangnya, salah satu mulut seorang ibu-ibu menciptakan suasana tidak ramah di hati Canda.


"Perempuan tinggi di penginapan itu, katanya istri sirinya bang Givan ya, Dek? Lagi ngandung anak bang Givan juga ya?" tanya seorang wali murid yang mengantarkan anaknya ke taman kanak-kanak yang sama juga.


Canda diam, ia tidak mampu menjawab dan menerima pernyataan itu.


"Istri siri?" batin Canda bertanya-tanya akan sesuatu yang sudah terjadi di belakangnya.


Apa benar suaminya telah menikahi Ai di belakangnya dan tanpa izin darinya?

__ADS_1


...****************...


Mohon yang belum tap ❤️ favorit, tolong di tap ya kak 😅🙏


__ADS_2