Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM244. Di balik keinginan orang tua


__ADS_3

"Pasti selalu nemu jalan keluarnya, yang penting kau yakin aja. Meski Papah dulu usaha cuma bisa hutang, tapi kebayaran dengan cairin deposit. Mamah kau ada pikiran, ini uang triliunan bakal habis kalau tak diarahkan ke usaha lagi. Jadilah, dibelikan lahan banyak-banyak, sisanya untuk biaya ngolah ladang dan bangun rumah." Adi berhasil menidurkan cucunya dalam dekapannya.


Sisa makanan di bibir Cani, diusap perlahan oleh kakeknya agar tidurnya tidak terganggu.


"Kok deposit Papah bisa triliunan?" Gavin merasa janggal.


"Ya kan ditabung dari abusyik Ali wafat, waktu usia Papah empat tahun. Sampai baru dibuka lah itu deposit, di usia Papah dua puluh sembilan tahunan. Jangka waktu habis, masukin lagi. Itu kan hasil dari empat belas hektar lahan kopi produktif, yang diambil untuk keperluan hidup Papah dan pendidikan Papah aja. Memang sih, keluarga Papah agak nakal, karena tak jatuhin harta apapun ke almarhum umi Meutia. Tapi untungnya, umi dapatnya kan bujang kaya lagi. Soalnya ada surat perjanjian nikahnya begitu juga sih, kalau abi Ali meninggal, umi nikah lagi nih, ya bawa badan aja. Betul taknya tak tau pasti, tapi ada keluarga yang pernah cerita. Dibilang kikir, tak juga sih, karena keluarga besar dan kerabat pasti sejahtera. Cuma ya, mungkin memperhitungkan semuanya begitu. Karena mereka berjuang dari nol, jadi mereka merasa harus menggunakan uang dengan bijak. Simpang siur, entah mana betul masa yang cuma ngada-ngada. Tapi dari cerita umi tuh, umi nikah lagi disuruh abusyik. Mirip-mirip cerita umi itu kek cerita Ma kalian, bedanya umi janda ditinggal mati, Ma kau menjandakan diri sendiri. Sama-sama usia anak itu empat tahun, Papah dulu empat tahun ditinggal abi Ali, Givan empat tahun dibiasakan hidup tanpa ayah." Cerita Adi merambat ke mana-mana, karena merasa pembahasan itu begitu asyik.


"Chandra dipaksa hidup tanpa ayah, di usia satu tahun. Untungnya, itu bocah ada patuh-patuhnya sama aku." Givan geleng-geleng kepala, karena merasa nasib itu seolah turun temurun.


"Aku jadi tambah takut tau, Bang. Aduh, macam mana nanti misal aku sama istri aku ada ribut-ribut kan? Kan katanya aku ini tak boleh lagi apa-apa ngadu, harus minta bantuan ke siapa untuk cari jalan keluarnya itu." Gibran sudah memikirkan jauh ke depan.


"Kau boleh minta saran, tapi tak kau jelaskan titik permasalahan kau. Tapi Abang sih, waktunya ngadu ya ngadu aja. Stress sendiri loh, bingung, kalut, campur aduk, nangis depan istri, jelas malu betul. Lebih baik nangis kejer depan orang tua, bodo amat dibilang kek anak-anak juga." Givan mengusap mulutnya dengan tisu, setelah memasukkan styrofoam bekas wadah makannya ke dalam kantong plastik.


"Yang penting, kalau ada masalah yang tak sreg sama pasangan kau, ya diobrolkan sama dia, jangan kau ceritakan ke perempuan lain yang kau anggap teman. Bisa jadi, awalnya cuma curhat, berakhir cari keringat. Ngadu-ngadu ke orang tua juga sebatas aja, apalagi kalau tentang kejelekan istri kau. Papah pernah soalnya cerita tentang hal yang tak suka dari Mamah kau ke umi, umi bela anaknya dan malah kek nyulud api biar Papah lebih marah ke Mamah kau. Tak jarang begitu, tapi lambat laun orang tua memang paham kek mana karakter menantunya. Predikat menantu idaman itu, ada di almarhum tante Bena. Nurut ke mertua, ngurus orang tua kek ngurus orang tua sendiri, ngurus keponakan, kek ngurus anak sendiri, tak pilih kasih, tak pernah ghibahin mertuanya kalau lagi kumpul ipar. Mamah kau dikenal umi itu berat tangan, malas, cuma pandai kasih perintah. Royal memang ke mertua, tapi dia pun lebih royal ke orang tuanya. Tak pandang rumah dan kamar berantakan, waktunya tidur ya tetap pulas aja lihat rumah dan kamar kek kebon juga. Ada lagi istrinya om Edo, yang udah almarhum juga itu. Dibanggakan betul-betul karena pandai dia ngaji, tak kek Ma kau cuma pandai karaokean." Adi melirik istrinya sekilas.

__ADS_1


"Tak Abang sebutkan, tentang almarhumah Bena yang kalian bilang boros dan tak bisa atur keuangan. Tak disebutkan juga itu almarhumah istrinya Edo, yang tak pernah pegang cucian kotor dan tak mau ngosrek WC karena pakai kaos kaki hari-harinya. Huuu...." Adinda mengadu lengannya dengan lengan suaminya dengan senggolan kuat.


Adi hanya bisa terkekeh geli.


"Plus minus ya perempuan ini, Pah? Tak tau aku gimana tentang Mahreen ini kek mana dia." Gibran menghela napasnya dengan menopang tubuhnya dengan kedua tangannya ke belakang.


Adi memicingkan matanya. "Anaknya pak Taleb bukannya Mariam ya? Dua saudara kan dia ini? Laki-laki perempuan, laki-lakinya yang TNI itu kan? Mariam si adiknya Nor ini kan?"


"Kok Papah tau?" Gibran menegakkan kembali posisi duduknya.


Gibran cukup gelisah, karena rupanya ayahnya mengenal dekat ayah dari teman wanitanya. Givan terkekeh geli, melihat raut adiknya yang terlihat begitu tegang.


"Kakaknya itu Mahnoor Al-Latif. Adiknya ini, Mariam Mahreen. Senagaja itu tak dipakai nama depannya sama Gibran, biar kita ini tak tau. Dia tak tau aja, kalau pak Taleb ini sering seliweran di kedai kopi sambil ngobrol sama kita," ujar Givan dengan terkekeh geli.


"Heh, kau serius si Mariam?" Gavin menepuk lengan adiknya dengan ekspresi kaget.

__ADS_1


"Memang kenapa?" Gibran langsung mengerutkan dahinya dengan menoleh ke arah Gavin.


"Ya tak apa sih, cuma memang betul sama dia? Sering Abang tengok, dia ini selalu Subuhan di masjid lewat depan rumah kita, sambil gandeng-gandeng bapaknya. Tukang ngadu juga keknya dia ini, sama bapaknya lengket betul ke masjid aja." Gavin memberikan pendapatnya.


"Jangankan anak bungsu, kakak kau Giska yang anak tengah aja ngaduan. Suaminya marah aja, lapor ke Papah, suruh Papah ngobrol sama Zuhdi biar tau apa yang buat Zuhdi marah. Zuhdi kalau udah kesal-kesal betul kan, marahnya diam dia. Bungsu ketemu bungsu, ya khawatirnya orang tuanya campur yang." Adi menepungkan telapak tangannya menjadi satu.


"Boyong lah istrinya ke rumah, Gibran belum bisa cari makan, yang ada nanti dia diusir mertua." Adinda membuat anak bungsunya ditertawakan saudara-saudaranya.


"Memang betul kah jalan keluarnya harus nikah, biar tak nonton film dewasa lagi?" Gibran pun tidak ingin melakukan kegiatan buruk itu lagi, tapi ia seperti kecanduan untuk menonton film yang dikemas begitu menarik menurutnya itu.


"Sebenarnya sih tak juga, banyak hal yang bisa mengalihkan. Tapi, Papah udah tua. Setelah kemarin kakak kau itu minta nikah sama janda sengketa tak Papah hiraukan, jadi tambah khawatir Papah sama kau. Alhamdulillah masih bisa lihat cucu dari Abang kau itu, khawatirnya tak bisa lihat cucu dari kau. Sebenarnya, hanya pikiran umum orang tua aja sih. Tapi kalau kau udah nikah, Papah ngerasa tuntas untuk membesarkan kalian gitu. Ya meskipun, kau anak laki-laki." Adi mengungkapkan tujuan baiknya meminta anaknya untuk segera menikah.


"Hmm....." Gibran melirik ibunya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2