Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM43. Ranjang permohonan untuk kembali


__ADS_3

"Temenin aku tidur siang ya?" Givan memandang istrinya penuh harap.


"Aku mau ngapain sih? Infusan juga udah habis kok." Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang.


Tenaga medis yang Rauzha bawa, sudah kembali pulang setelah Givan menghabiskan satu kantong infus dan beberapa suntikan obat yang disuntikkan ke selang infusnya. Sebenarnya, obatnya hanyalah Canda. Givan butuh istrinya, Givan ingin istrinya.


"Temenin aja." Givan bangkit dan berjalan ke arah pintu.


Ia memutar kunci kamar tersebut, lalu mencabutnya. Jelas saja, hal itu membuat Canda curiga.


"Mas tuh kalau dipercaya malah begitu." Canda memiliki dua kemungkinan di benaknya. Yang pertama, ia akan diajak untuk berhubungan suami istri dengan suaminya. Atau, ia akan dilarang untuk pulang kembali.


"Nanti pas aku tidur, biar kau tak kabur." Givan kembali ke samping istrinya.


Ia memeluk istrinya, sehingga sesuatu yang mengeras itu dirasakan oleh Canda. Ia paham, suaminya akan menggunakannya.


"Geser coba, Mas." Canda menyikut dada suaminya.


Ia berharap Givan enggan untuk melakukannya padanya. Canda terbayang-bayang, bagaimana suaminya menggauli perempuan lain.


"Kan biasanya kita tidur begini." Givan kembali merapatkan tubuhnya.


Givan menyesapi dalam-dalam aroma khas dari istrinya. Sesuatu dalam dirinya semakin keras, dengan rasa rindu Givan akan kebutuhannya.


"Aduh, Mas." Canda mulai memberontak.


"Jangan aduh-aduh terus dong." Suaranya mulai serak memberat.


Givan mengincar telinga istrinya, itu adalah titik sensitif dari istrinya. Sapuan dan hembusan ia kobarkan di sana, agar istrinya terhanyut dalam buaiannya.

__ADS_1


"Mas!" Canda masih belum bisa melakukan hal itu, meski dirinya terpancing dengan usaha suaminya.


"Aku tak bisa, Mas," lanjutnya menolak.


Givan sangat paham, buntut dari pengusirannya adalah dirinya tidak akan mendapat jatah tentang hal ini lagi. Tapi bagaimana? Ia butuh dan ia ingin tetap istrinya menjadi tempat mencurahkan kasih sayangnya.


"Aku paham, Canda. Coba kau nikmati aja." Ia mencoba tidak memaksa istrinya, karena ia amat paham bahwa istrinya memiliki trauma atas pemaksaan yang pernah ia lakukan.


"Aku tak mau nikmati milik orang lain." Canda menjauhkan kepala suaminya dari area telinganya.


Ia tidak bisa menahan gejolak yang timbul, dari perlakuan suaminya. Ia tahu suaminya adalah laki-laki yang paling bisa, untuk membangkitkan seleranya meski tengah hamil sekalipun. Karena biasanya, wanita lain akan kehilangan minatnya untuk berhubungan suami istri.


Givan tertegun mendengar ucapan Canda. "Milik siapa, Canda? Kita belum cerai dan tak akan pernah cerai." Givan bangkit dan mengungkung tubuh istrinya yang tengah hamil muda tersebut.


Ia menyangga tubuhnya, agar perut istrinya yang masih rata tersebut tidak tertekan dengan berat tubuhnya. Givan memperhatikan wajah istrinya, yang enggan menatap matanya itu.


"Canda, aku ngomong." Suara Givan terdengar tegas.


Bahkan, Ajeng saja merasakan sendiri perceraiannya ditunda setelah selesai nifas.


"Kita cerai, kalau aku mati." Givan mengenyahkan anak rambut dari wajah teduh istrinya.


Canda mendelik langsung. Tangannya reflek mencomot mulut suaminya, ia tidak suka dengan perkataan jelek yang keluar dari mulut suaminya. Ia trauma ditinggalkan orang terkasihnya, ia tidak mau kasus serupa dialaminya kembali.


"Penuhi kewajiban kau, Canda. Kau masih hakku. Kau ikut aku di sini, atau aku yang pulang ke sana." Givan mengeluarkan ketegasannya, setelah keadaan stress menekan pusat pikirannya.


Ia sadar dirinya laki-laki, memiliki hak dan kendali atas istrinya.


"Mas tetap di sini, atau aku pulang ke ibu?" Canda mengancam suaminya.

__ADS_1


Givan menggulingkan tubuhnya kembali. Sesuatu yang tegang di tengah, berangsur terlelap kembali karena perdebatan ini.


"Rencana kau sebetulnya apa? Apa tak dipikirkan matang-matang, Canda? Dengan aku di sini, masalah kita melebar ke luar. Dengan aku di sini, Ai punya celah untuk dekati aku. Kau tak cinta kah ke suami kau ini? Kau tak takut kah kehilangan suami kau? Yakin kau mau lepaskan aku untuk perempuan lain? Mau berapa banyak lagi mengalah? Apa persoalan Nadya tak cukup untuk jadi pengalaman untuk kau? Kau serius mau ngalah lagi untuk perempuan lain? Kau serius mau buang ayah dari tujuh anak kau? Apa kau tau resikonya? Bebannya?" Givan menempatkan tangannya di atas perut istrinya.


Getir bercampur dengan sesak memendam di hati Canda. Ia bingung untuk menyikapi ini semua. Di satu sisi, ia tidak percaya lagi dengan suaminya. Namun, egonya merasa bahwa suaminya harus tetap untuknya. Tapi ia tidak mungkin hanya memiliki raga suaminya saja, ia pun ingin dicintai juga seperti pemahamannya akan suaminya yang mencintai Ai.


"Aku tak mau Mas tersiksa untuk tetap tinggal sama aku." Setetes air bening meluncur dari matanya.


Cepat-cepat ia menyeka. Sayangnya, air mata itu sudah terlihat lebih dulu oleh suaminya. Ada setitik rasa senang, kala Givan mengetahui sendiri bahwa istrinya masih menangisinya. Istrinya tidak benar-benar kaku padanya.


"Tersiksa karena apa? Kau tak lihat, dua hari aku tanpa kau bisa sakit, Canda. Kalau kita jauh-jauhan, itu baru namanya aku tersiksa. Aku pengen kita jadi suami istri, tinggal satu atap dan jadi sakinah mawadah warahmah." Ketiga hal itu Givan rasakan ketika bersama-sama dengan Canda.


Givan menarik fakta, sehingga Canda mempercayainya. Fakta di mana Givan sakit, setelah dua hari tidak tinggal bersamanya. Tetapi, pikiran buruknya menyerangnya kembali.


"Mas mau sakit, biar aku iba sama Mas," lontaran itu, terdengar tidak berperasaan menurut Givan.


Ia bukan orang yang seperti itu. Ia tidak akan mengiba, dengan cara menyakiti dirinya sendiri.


"Aku bisa maksa, Canda. Apalagi, kau jelas masih hakku. Biar apa aku mengiba? Kalau memaksa lebih nyata bukitnya." Rasional Canda dimainkan oleh Givan.


Canda membenarkan kembali ucapan Givan. Sifat pemaksa suaminya, tidak diragukan lagi. Bahkan dirinya sendiri, pernah menjadi korban dari pemaksaan seorang Ananda Givan.


"Kau tak akan paham tentang pikiran aku. Kau tak bisa ngerti, berapa banyak beban pikiran yang aku simpan seorang diri. Istri sendiri pun, bahkan rasanya kek tak peduli dengan semua ucapan suaminya sendiri. Jadi mau sama siapa aku curhat? Mau sama siapa aku berbagi beban pikiran? Orang tua? Atau pihak ketiga?" Givan mengutarakan garis besar yang membuatnya stress.


Canda terisak-isak, kemudian ia langsung memunggungi suaminya. Pikiran dan hatinya bentrok di tengah-tengah keteguhannya. Ia sudah lelah menangis, ia sudah lelah memohon di atas sajadah. Ia bingung harus bagaimana lagi untuk menyikapi masalah ini, karena pahamnya hanya tentang suaminya yang mencintai Ai. Hal tidak mungkin menjadi mungkin, karena rasa cinta yang lama terkubur itu.


"Ayo kita sama-sama lagi, kita ungkap semuanya ini perlahan. Kalau kita tak serumah, mau menanyakan langsung pun kadang sulit. Dari telepon, pasti kita meragukannya karena tak tau ekspresi jujur atau bohongnya. Kau yang percaya sama aku, karena aku tak ada niat untuk nyakitin kau. Kau yang yakin sama aku, karena aku pun tak pernah ingin untuk sama orang lain. Kau lebih percaya dengan ucapan orang lain, terus ngebatu dengan ucapan suaminya, itu buat apa? Kau lebih percaya orang lain ketimbang suami sendiri? Yakin kau percaya dengan orang lain? Suami sendiri loh ini, Canda. Yang hidup sama kau sekian lamanya, yakin kau udah tak percaya?"


Benturan demi benturan, terpecah di hati Canda. Ia menikmati kepedihan yang dipahami suaminya dalam batinnya sendiri. Ia ingin menanyakan langsung akan rasa cinta suaminya pun bagaimana, karena ia yakin suaminya akan berdalih untuk itu. Canda yakin, suaminya tak akan jujur padanya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2