
"Cinta dan sayangku tak usah kau ragukan lagi, Canda." Givan memutar tubuhnya menghadap istrinya.
Sayangnya, mulut Canda sudah sedikit terbuka. Menandakan Canda mulai pulas dengan kenyamanan yang melanda. Givan yakin istrinya akan selalu merasa nyaman, jika berada di sisinya.
"Kalau lagi tidur begini, rasanya pengen aku kunyah aja ini perempuan. Tak siang, tak malam, pagi, siang, petang, malam, dini hari, mesti aja buat gemas. Kalau aku tak cinta sama kau, udah aku lempar kau ke tengah ladang. Tersesat sekalian, biar diseruduk b***." Jemari Givan serasa begitu gemas ingin meraup wajah Canda. Tapi ia khawatir tidur istrinya terganggu, jika tangannya tidak mau diam.
"Tak apa Yayah tak dapat jatah Yayah lagi, Nak. Kau sehat-sehat ya? Ayo kita ngertiin keadaan Biyung, kita kerja sama ya? Adek yang kuat di dalam sana, Yayah yang jaga keadaan Biyung." Givan melirik wajah istrinya sekilas, kemudian ia mengusap perut Canda kembali.
"Maafin Yayah, Biyung." Terpaan napas Givan terasa di wajah Canda. Namun, itu malah membuatnya semakin pulas karena seperti mendapat kipasan angin semriwing.
"Yayah tau, Yayah salah. Tapi Yayah tak sepenuhnya salah, Yayah butuh kepercayaan dari Biyung. Jangan pernah berubah lagi, Yayah takut dengan Biyung kemarin hari." Seperti diberi nasehat di alam bawa sadarnya. Otaknya merekam, tapi ia tidak bisa meresponnya.
Meski Canda sudah seperti sedia kala lagu, tapi rasa kepercayaannya pada suaminya telah hilang. Ia sadar, dengan membantunya sikapnya. Itu akan menyakiti satu sama lain. Ia pun tak pernah ingin berubah menjadi orang lain, hanya saja kepercayaan yang telah tiada itu membuatnya mati rasa. Bukan rasa cintanya pada suaminya yang telah mati, tapi rasa untuk berekspresi dan menyikapi semua kebenaran terasa begitu malas dan kurang menarik untuk Canda. Karena ia hanya memahami, bahwa suaminya selalu mencari pembenaran untuk dirinya sendiri saja.
Semalam suntuk tanpa istrinya kemarin, membuat Givan seketika mengantuk parah. Sampai-sampai, kedua insan manusia tersebut terbangun begitu siang. Mereka langsung disibukkan dengan rutinitas pagi, hingga Givan meninggalkan rumah dengan anaknya yang bernama Cani. Sebelumnya, ia sudah pamit untuk pergi ke beberapa usahanya. Lalu setelah itu, Givan membawa anaknya pergi ke dealer mobil.
Mobil dengan warna yang Canda minta, juga dengan variasi tambahan membuat tampilan mobil tersebut begitu menarik di mata orang.
"Kau bawa mobil Abang, Vi. Abang mau jajan pink-pink perawan ini." Givan cekikikan dengan melempar kunci mobilnya ke arah adiknya yang menemaninya ke tempat variasi mobil.
Hingga mobil berwarna putih itu, beriringan dengan mobil baru berwarna merah muda. Honda Jazz tersebut, cukup untuk perawakan Canda yang mungil menurut Givan. Begitu pas seperti orangnya, kesan pertama Givan ketika melihat mobil tersebut.
Modifikasi full, dengan nama unik yang tertempel di kanan dan kiri pintu depan mobil tersebut.
Canda Pagi Dinanti.
Tidak terlalu besar, dengan font latin. Namun, orang rumah pasti mengerti dengan nama unik tersebut.
__ADS_1
Tinnn....
Givan membunyikan klakson mobil baru tersebut. Canda yang tengah berhadapan dengan Ai di depan pagar rumah mertuanya, langsung sumringah melihat keinginan isengnya yang diwujudkan suaminya. Tentu saja, hal itu membuat Ai panas seketika.
Belum lagi ketika Givan keluar dari dalam mobil, dengan memamerkan kunci mobilnya tersebut. Bahkan Adinda melongo saja, melihat menantunya yang langsung merengkuh anak sulungnya begitu mesra.
Wajah judes Canda yang dipasang sejak tadi, sirna begitu saja. Canda bagaikan manusia bermuka dua.
"Makasih Yayah. Tinggal list selanjutnya." Canda mencubit lengan suaminya yang ia peluk.
Senyum Givan sirna sudah, ia langsung memasang wajah datarnya pada istrinya. "Kau tak bilang ada list selanjutnya, Cendol." Givan mencubit pelan hidung istrinya.
"Eh, iya kah?" Canda tertawa begitu lepas, hingga menular pada suaminya.
"Ayah.... Biyung...." Anak perempuan itu menangis di dalam mobil, karena ia ditinggal sendirian.
"Eh, ya ampun. Anak Ayah ketinggalan di mobil." Givan langsung membukakan pintu mobil tersebut dari luar.
Lalu ia menggendong anak perempuan itu, dengan kembali berdiri di sisi Canda. "Anak Ayah minta jajan di tempat keren nih, Biyung. Lagi modif mobil, nunjuk-nunjuk aja Town Cofe." Givan membenahi hijab anaknya.
"Beli banyak, Biyung," aku anak tersebut dengan berpegangan tengkuk ayahnya.
"Yang di jalan Bireun Takengon kah, Van?" tanya Adinda, yang menyimak cerita Givan.
"Iya, Mah. Ayo kita ke rumah, Mah. Kita apa, Dek?" Givan mencium pipi anaknya kembali.
"Kita unboxing dulu." Cani mengangkat kedua tangannya dengan semangat.
__ADS_1
"Ayo...." Canda membakar semangat.
"Iya duluan aja, Mamah lagi ada orang luar." Cukup menyindir Ai ucapan Adinda tersebut.
Givan baru menyadari, ternyata ada Ai yang berdiri di samping ibunya. Apa yang terjadi di sini? Givan langsung memikirkan perdebatan antara ketiga perempuan tersebut. Ia berasumsi, bahwa Canda termakan ucapan Ai lagi. Ia pun berpikir, bahwa Ai mengiba lagi pada ibunya. Ia mulai mengerti tentang Ai yang pandai bermain drama.
"Ayo, Mas." Canda menepuk lengan suaminya.
Givan langsung menunduk untuk memandang istrinya. "Ah, iya. Ayo." Ia masuk kembali ke dalam mobil, dengan Canda yang ikut duduk di dalam mobil tersebut. Ia ingin mencicipi kendaraan bernuansa pink tersebut.
Ia adalah penyuka warna pink.
Kehebohan dan perebutan makanan, terjadi di teras rumah Givan. Ia sampai menepuk jidatnya beberapa kali, karena begitu pusing untuk membuat anak-anaknya mengerti. Makanan yang ia kira, bahwa anak-anaknya akan menyukai, ternyata malah sebaliknya. Lebih-lebih, benih-benihnya yang tumbuh sempurna itu malah merebutkan dua porsi makanan dengan cita rasa pedas. Mereka merebutkan makanan, yang awalnya ia maksudkan untuknya dan istrinya.
Akhirnya, kedamaian itu muncul di antara anak-anaknya. Kini, ia baru bisa menanyakan pada istrinya tentang situasi di depan pagar rumah orang tuanya itu.
"Ai datang lagi, Canda? Dia ada bilang apa? Kau tak apa kah?" tanyanya beruntun, ketika suapan terakhirnya telah diselesaikan.
Canda lebih dulu menelan makanannya, kemudian ia menyeruput air yang begitu dingin tersebut. Sejak hamil yang sekarang, Canda lebih suka minuman dingin, meskipun air putih sekalipun.
"Aku tak apa, Mas." Canda meletakkan gelasnya kembali. "Aku kan, dapat beberapa informasi dari tetangga tentang begini begitu. Aku lapor lah ke mamah, aku juga cerita semuanya. Mamah pun, baru tau nih kalau ada kabar begini-begitu." Canda mencoba melambungkan langsung pada suaminya juga. Dalam misi bercerita, ia pun ingin tahu kejelasan dari suaminya.
"Kabar apa, Canda? Kau ngadu ke mamahnya gimana?" Givan paham sekali akan istrinya yang pandai mengadu.
"Ini tentang....
...****************...
__ADS_1