
"Ekhmmmm.... Pelukan terus, kek habis jadi TKI tak ketemu dua tahun." Ledek Ghifar, ketika melihat Canda yang terus memeluk suaminya ketika tengah belajar berjalan.
Givan pun pulih lebih cepat. Ia sudah tidak menggunakan selang infus lagi karena permintaan dari dirinya sendiri, tapi ia masih menjadi pasien observasi dalam di rumah sakit tersebut.
Ia harus rutin makan, sesuai nasehat dokter. Dengan makanan yang cukup lembut, yang disediakan dari rumah sakit tersebut. Givan harus terbiasa memakan makanan yang lembut-lembut lebih dulu, sampai nyeri pada ulu hatinya berangsur hilang. Ia pun harus selalu menjaga pola makannya, jika tidak ingin kambuh lagi.
Bayi mereka pun sudah diterima oleh Givan dan Canda. Bayi tersebut sudah boleh pulang dari kamar bayi rumah sakit tersebut. Namun, akan pulang ke rumah jika Canda sudah sehat.
Setelah mengurus anak sulungnya, Adinda kini harus mengurus cucunya. Selimut yang selalu harus menutupi tubuh bayi tersebut, sering kali terlepas karena bayi itu tidak nyaman dengan rasa gerahnya. Ditambah lagi, bayi tersebut selalu merengek jika diletakkan di atas kasur.
Adinda benar-benar seperti tengah mengurus Givan bayi, yang selalu berada dalam dekapan mereka. Hingga saat menjemur bayi Givan, ia pun harus berjemur juga karena bayi itu tidak mau diletakkan dalam bouncer bayi, atau alat yang mempermudah ibu untuk menjemur bayinya di matahari pagi. Adinda hanya berharap, semoga anak bungsu anak sulungnya ini, tidak terlampau mirip dengan sifat dan watak ayahnya.
"Gantian, Far. Mamah pengen tidur siang dulu tuh. Ngantuk nih." Adinda begitu lelah, terus berjalan mondar-mandir agar bayi yang tengah terlelap ini pulas dalam tidurnya.
"Bentar, Mah. Aku cuci tangan dulu. Terus aku mau ajak jalan-jalan dia ke restoran rumah sakit, aku mau beli makanan, barangkali Cendol mau makan sesuatu." Ghifar bergerak mengemas bekas bungkus makanannya, kemudian berjalan ke arah wastafel keramik yang berada di pojok ruangan tersebut.
"Perhatian betul kau sama istri orang," sindir Givan, kala Ghifar melewatinya untuk cuci tangan.
"Iya dong, kan mantan pacar." Ghifar sengaja memanas-manasi kakaknya.
"Awas aja ya kau, kalau nanti aku balas." Mulut Givan yang tengah digunakan untuk mengancam Ghifar, mendapat pukulan kecil dari Canda.
Givan memegangi bibirnya, kemudian melirik ke arah istrinya. "Main tampol-tampol aja."
"Aku tak mau kalau mas Givan dekati Aca." Canda langsung merengut.
"Tak dah, aku dekati Ghifarnya sekalian." Givan hanya bercanda saja, tapi membuat Canda berpikir bahwa suaminya akan benar mengganggu rumah tangga Ghifar.
__ADS_1
"Cuih, tak n**** aku sama kau." Ghifar berakting sombong, membuat ibunya tertawa geli.
"Udah Mas sama aku aja, yang jelas n**** sama Mas." Canda membingkai wajah suaminya.
Adinda dan Ghifar melepaskan tawa renyahnya. Kalimat Canda sungguh di luar ekspektasi mereka.
Sontak, Givan menahan tawanya dan mengangguk cepat. "Siap, Canda."
"Bisa-bisanya kau ngelawak begitu, Cendol." Adinda masih mencoba meredam tawanya.
"Mana ada ngelawak." Canda memeluk suaminya erat, saat ia merasa lelah untuk belajar berjalan.
"Sini bayinya, Mah. Sok Mamah istirahat." Ghifar mempersiapkan tangannya, untuk mendapat operan bayi yang harus diayun saja itu.
"Nih, Mamah mau rebahan dulu gitu." Adinda memposisikan bayi tersebut di tangan Ghifar dengan pelan.
"Memang kapan aku boleh pulang, Mas?" Canda dituntun suaminya untuk duduk di sofa terdekat.
"Kalau kau pulih lebih cepat tuh, misalnya pagi operasi, siang belajar jalan dan pemulihan. Nah, malam ini kita dapat makan malam romantis dengan menu steak dan segala macam. Terus abis makan itu boleh pulang. Entah, sekarang kapan kau boleh pulang." Givan membenahi selang infus istrinya.
"Tapi kau juga lagi observasi, Van," tambah Adinda yang tengah baring-baring di rumah sakit.
"Iya ya? Besok keknya deh." Givan melupakan hal tersebut.
"Oh, iya. Ai udah selesai masa hukumannya kan, Mah? Aku ingat, katanya dia selesai akhir bulan ini. Apa dia masih di penginapan sekarang?" Canda teringat seseorang yang selalu membuatnya panas hati.
"Iya, Jum'at nanti tuh hukumannya di gelar di halaman masjid. Anak-anak tak boleh lihat, macam biasa. Kuat tak ya dia? Ai gampang pingsan." Adinda menghitung jumlah hari yang akan sampai ke hari Jum'at dengan jarinya. Ia memprediksi, bahwa hal itu dilakukan tiga hari mendatang.
__ADS_1
"Tak sakit, Mah. Kaget aja tuh, terus panas kalau berhenti. Jadi harusnya dilakukan secara cepat tuh hitungannya, biar pedasnya sekalian." Givan membagi cerita tentang pengalamannya mendapat luka cambuk.
"Kau kan tak sembuh tiga hari, pulang langsung demam." Adinda teringat bagaimana masa kurungan mandiri anaknya, ia selalu mengecek keadaan anaknya yang malah menikmati waktunya tanpa aktivitas di bawah matahari. Givan tidak mengambil pusing kurungan mandiri tersebut, karena ia tetap bisa bertemu istrinya setiap waktu.
"Ya karena pedas itu, Mah. Kesenggol, nyut-nyutan lagi. Jadi rasanya kek luka lebam tuh, Mah. Padahal sih aku tak sampai lebam, tapi rasanya mirip." Givan mencoba mendeskripsikan rasa sakti yang tidak semua orang merasakannya.
"Aku heran, kenapa perempuan ada yang suka sp*nking ya? Pakai pecut, kadang ikat pinggang, pakai telapak tangan, kan pedas itu sampai merah." Ghifar menimpali dengan membahas hal dewasa.
"Entah, Cendol pun sukanya digaplok pakai tangan. Aku tak paham apa sensasinya," timpal Givan, membuat Adinda langsung menegakkan pinggangnya lagi.
"Aca pun sama, Bang. Tepuk keras gitu, buat dia cepat keluar." Ghifar menoleh ke arah kakaknya, ia tidak memperhatikan perubahan yang terjadi pada wajah ibunya.
"Heh! Abis ini kalian tukeran video dewasa kalian ya! Bisa-bisanya sharing begitu ke saudaranya?!" Adinda geleng-geleng kepala.
"Lah, Mamah tak tau aja. Biasanya sama papah juga. Mereka ini join, sama kek papah. Aku pernah tengok mereka lihat video perempuan seksi joget-joget, mereka nengoknya bareng-bareng lagi. Aku tau sendiri loh, Mah." Canda menguak kebenaran tentang obrolan laki-laki.
"Masa iya papah begitu?" Adinda cukup kaget di sini. Ia merasa bahwa suaminya tidak mungkin mengumbar aktivitas ranjang mereka pada anak-anaknya.
"Hmm, tak tau aja. Malah kadang kalau aku lagi bosen, aku minta saran tentang sensasi yang baru." Givan menguak jelas bagaimana tabiat suami Adinda.
"Oh, jadi Mas masih suka bosen sama aku?" Canda langsung mengeluarkan taring tidak ramahnya.
"Ehhh....." Givan menyadari bahwa dirinya keceplosan. "Ya namanya juga manusia, Canda. Kau pun sering bilang, Mas bosen jangan begini terus. Ya aku pun sama, tapi bedanya aku tak bilang, aku fokus cari cara baru biar sensasinya beda, biar ngusir kebosanan juga. Yang terpenting kan, aku setia terus sama kau. Aku tak neko-neko, rapat koordinasi relasi pun, aku ajak kau masuk ke ruang rapat kan? Aku mana ada niat buat duain kau, atau cari perempuan lain. Sebosan-bosannya aku, aku tetap mengusahakan kau yang jadi istri aku dan lawan main aku," ucapan Givan membuat Adinda merebahkan tubuhnya, pura-pura tidak mengetahui drama baru lagi. Ghifar pun lebih memilih untuk melipir ke ruangan lain, agar tidak mendengar bualan manis Givan.
Mereka merasa geli, saat mulut pedas Givan berubah fungsi menjadi manis. Mereka malah tidak percaya dengan ucapan Givan, karena Givan menjadi aneh jika harus berbual banyak seperti itu. Berbeda dengan Canda, yang merasa tenang dengan kalimat suaminya. Itulah yang ia tunggu dari mulut suaminya, meyakinkan dirinya untuk tetap percaya pada suaminya.
...****************...
__ADS_1