Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM271. Dalam pesawat


__ADS_3

"Udah plong?"


Setelah tiga hari berada di sana, Givan akhirnya memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya. Ia pun bertemu adik iparnya, yang terlihat sudah bahagia dan terbiasa dengan rutinitas barunya.


Ia kini, tengah memikirkan satu-satunya adik bujangnya yang masih belum terkendali. Ia sudah memikirkan langkah apa, yang akan ia berikan untuk membuat Gibran sukses di bidangnya dan segera menikah.


Ia tahu jalan keluar dari kecanduan film dewasa itu, adalah menikah. Jika adiknya tidak kunjung menikah, ia yakin adiknya akan terus menerus menikmati kegiatan malamnya dengan layar ponselnya.


"Alhamdulillah, Bang. Aku masih belajar ikhlas." Gavin mengusap dadanya.


"Perbaiki ekonomi kau, biar sesekali bisa ajak Cali ke pasar malam." Givan menikmati penerbangannya, dengan merekam pemandangan dari jendela pesawat menggunakan ponselnya. Ia teringat jika Ra dan Cani suka melihat video pemandangan dari pesawat terbang. Anak-anak gadisnya pun sudah pernah merengek ingin merasakan naik pesawat.


Givan mendapat tepukan di bahunya. "Aku tak semiskin itu, Bang. Ada lah untuk naik odong-odong, sama beli sosis telor sih."


Givan terkekeh, kemudian menoleh ke arah adiknya berada. "Ibarat katanya begitu. Satu dua tahun, memang yang jadi kesenangan anak kau itu odong-odong. Tapi, di masa selanjutnya kau harus keluar modal untuk anak kau, yang kemungkinan pengen punya odong-odongnya. Kau paham maksud Abang? Pikirkan, untuk masa depan anak kau."


"Siap, Bang." Gavin langsung memberi hormat pada kakaknya.


"Kau bebas, Vin. Yang terpenting, jangan mainkan hati wanita dan jangan berzina. Pokoknya, ingat anak aja kalau anak kau perempuan." Itulah ketakutan terbesar Givan. Ia khawatir anak-anak perempuannya menjadi korban dari laki-laki hidung belang sepertinya dulu, ia tak mau itu sampai terjadi.


"Aku trauma, Bang. Aku orangnya sekali jatuh cinta itu, pengen langsung memiliki dan tak tahan untuk nahan h****t juga. Takut kek kemarin, suka-sukaan, main ajak nikah aja." Gavin khawatir kisahnya terulang kembali.


"Ya kalau kau ada perempuan yang menarik perhatian kau lagi, kau pastikan dia respon sama kau. Kalau memang ada ke arah menikah, ya bawa ke rumah dan kenalkan. Tapi saran aja sih, kalau memang janda, ya cari yang udah resmi. Kalau memang perawan, ya cari yang bisa jadi ibu untuk anak kau dan anak-anak kau kelak. Karena tak semua perempuan itu keibuan, tak semua perempuan juga bisa jadi orang tua. Karena ada beberapa, yang maunya freechild di jaman sekarang tuh. Kek Putri aja, dia udah tak mau punya anak lagi tuh. Kek bang Ken juga, katanya sih tak mau punya anak lagi juga." Givan membuyarkan pandangannya ke arah lain.


Ia menyudahi kegiatannya untuk merekam pemandangan, kemudian ia menyimpan kembali ponselnya. Ia tidak sabar, ingin mengetahui respon anaknya ketika melihat pulau-pulau dan hamparan laut yang luas.


"Kok ada ya? Apa karena faktor usia?" Gavin menoleh dengan ekspresi herannya.


Givan mengedikan bahunya. "Abang sih tak masalah, kalau memungkinkan. Tapi udah trauma, karena kakak ipar kau kek hidup kek mati kemarin. Bukan ingin memberatkan tanggung jawab orang tua, ke anak-anak Abang yang tua nanti. Tapi, Abang yakin anak-anak Abang semuanya bisa mandiri dan yang tua bisa menuntun yang muda."

__ADS_1


"Kek papah gitu ya?" Gavin teringat akan orang tuanya yang memiliki banyak keturunan.


"Mamah kan KB, ya mungkin memang subur aja. Tapi di luar itu, ada juga ego papah pengen punya anak perempuan. Makanya ke cucu perempuan, papah dekat betul. Ke cucu laki-laki pun dekat, tapi ke cucu-cucu perempuannya pun kek jatuh cinta betul sama kakeknya." Givan teringat interaksi orang tuanya dan anak-anaknya.


"Jadi, berapa lama aku harus menikah kembali?"


Givan langsung menoleh, ia melongo saja mendengar penuturan adiknya. Adiknya terkesan tidak sabaran untuk menikah lagi.


"Terserah kau sih. Tapi, jangan sampai lebih dari lima tahun mendatang. Karena anak kau udah masuk TK nanti. Repot loh urusannya nanti, itu pun kau harus lewat sidang. Ditambah lagi, Cali tak punya bukti kelahiran apapun. Kau tak mau, waktu Abang bilang masukin kartu keluarga Abang aja." Givan menyenggol lengan adiknya.


"Bukan tak mau, Bang. Bimbang aja aku ini, karena kan kelak nanti untuk perwalian pun tak bisa. Kita sekandung, tapi tak sedarah. Kalau bang Ghifar, atau abang yang lain, mungkin ya aku bimbang juga." Gavin terkekeh sendiri di akhir kalimatnya.


"Dodol!" Givan mengusap-usap kepala belakang adiknya. "Ya udah, buka hati. Stabilkan ekonomi, semangat cari uang, biar minang perempuan itu tak perlu mikirin biaya lagi kek Gibran." Givan teringat kembali akan masalah adik bungsunya.


"Iya, Bang. Pasti aku semangat, aku tak enak ASI udah dicover kak Canda, sufor dicover Abang, pakaian dan lainnya pun ditunjang Abang. Aku ayah apa, cuma nitip benih aja?" Gavin pun ingin ikut andil untuk memenuhi kebutuhan anaknya.


"Kebablasan waktu itu, Bang. Tak sekali malahan, padahal udah aku congkel-congkel," aku Givan begitu menggelitik.


Tawa Givan pecah tertahan. Ia tidak mengerti, kenapa adiknya bisa sepolos itu.


"Sifat air itu mengalir. Kau congkel kek gimana juga, kalau udah mengalir ke dalam ya sulit dimuntahkan lagi." Ia berbicara di sela tawanya.


"Entahlah, yang ada di pikiran aku cuma kek gitu." Gavin meringis kuda.


"Hmm, kau ini ada-ada aja." Givan geleng-geleng kepala mereda tawanya.


Perjalanan pun tidak terasa begitu memakan waktu. Meski Givan sempat singgah untuk bertemu seorang teman laki-laki adik iparnya, tapi ia merasa bahwa tubuhnya tetap begitu lelah. Ia yakin, ia akan sakit setelah sampai di rumah nanti. Karena tanda-tandanya, sudah ia rasakan sekarang.


"Anak Mamah, pucat betul sih." Adinda menyambut kedatangan anak-anaknya di malam hari.

__ADS_1


"Loh, Mamah udah pulang?" Givan langsung mencium pipi ibunya.


Kenandra memperhatikan dengan bersedekap tangan. Dalam hatinya, ia bertanya-tanya dari mana kehadiran Givan dan Gavin yang sampai disambut hangat seperti itu.


"Udah dong. Jet lag ya?" Adinda langsung menggandeng Givan untuk masuk ke dalam rumah.


"Bang, oleh-olehnya ini! Kau main nyelonong aja!" seru Gavin, dengan membawa satu persatu barang bawaan mereka bersama sopir taksi.


"Abang tak tahan, pengen betul dikerik. Udah mual-mual," sahutnya dengan melepaskan satu persatu kancing kemejanya.


"Ya ampun...." Kenandra geleng-geleng kepala, ia langsung bertindak membantu Gavin untuk menurunkan dan memasukan ke dalam rumah barang-barang tersebut.


"Abang kau tak pernah kah terbang sejauh Brasil?" tanya Kenandra, saat mereka selesai memasukkan barang-barang ke dalam rumah.


"Tak pernah keknya. Kalau ada kerjaan di Brasil, bang Givan nyuruh Keith aja. Oh ya, Bang.... Datang ke pernikahan Shauwi sama Keith tak? Kasih apa ya enaknya?" Gavin sudah memikirkan pernikahan orang kepercayaan kakaknya yang akan dilangsungkan esok hari.


"Abang kasih emas aja, emas batangan lima puluh gram gitu. Kata mamah suruh emas aja, karena kalau uang itu paling masuk ke amplop cuma satu jutaan, itu pun udah nonjol betul." Kenandra melanjutkan kegiatannya yang tengah menikmati rokok di teras rumah.


"Iya sih. Sama siapa kau bawa gandengan, Bang?"


Kenandra langsung menoleh, dengan tatapan sinisnya.


Gavin terkekeh, ia langsung mengambil sebatang rokok dari bungkus rokok milik Kenandra yang berada di atas meja. Pikirannya tengah terbagi, ia tengah menunggu kabar dari seseorang yang ia percaya untuk pengecekan titik akurat yang menjadi tujuannya pergi nanti.


"Sama kak Putri kah, Bang?" tanya Gavin kembali.


"Sama ma kau!" jawab Kenandra cepat dengan wajah yang tidak ramah.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2