
"Aku udah yakin dengan apa yang aku alami sendiri. Toh, berharap sama A Givan tuh sekarang udah gak berguna. Mungkin, memang orangnya yang suka menyepelekan perempuan. Dia maunya aku jadi baby sitter anaknya, ya udah aku turutin. Toh, aku dan dia pun udah dihakimi di desa."
Dari perkataan Ai, Putri memahami keyakinan dan kecewa yang begitu dalam. Seperti memupuk harapan dan mengimpikan hasil yang begitu dalam, tapi tidak sesuai dengan bayangan kebahagiaan. Namun, ada keyakinan dalam diri Ai yang bisa dipahami oleh Putri.
"Kronologinya gimana? Buktinya mana?" Putri mengulurkan tangannya untuk menengadah.
"Ada di rumah, Put. Aku ambil ya?" Givan langsung bergegas bangun dengan semangat.
Putri menarik kembali tangannya. "Oh, boleh." Putri mempersilahkan Givan.
Ia tidak berminat untuk menyebarkan aib keluarga tersebut, apalagi mendengar bahwa keduanya sudah dihakimi di desa. Putri tak ingin buang-buang waktu dan tenaga, apalagi sekarang ia tidak memiliki uang yang menunjang untuk rencana busuknya yang tak pernah terpikirkan.
Ia tidak munafik, ia merasa sedikit senang melihat Givan diberikan hukuman. Laki-laki itu, yang sudah mengurungnya di penjara cukup lama. Kepuasan tersendiri, saat melihat seseorang yang menjebloskannya ke penjara itu, mendapat hukuman mental di depan matanya sendiri.
Namun, ia sedikit terenyuh dan merasa bersalah karena bersyukur Givan dihukum cambuk. Karena anaknya dididik dengan penuh kasih sayang dan ilmu agama yang luas, belum lagi etika dan sopan santun yang bisa Putri lihat langsung dari sikap anaknya.
Putri berterimakasih untuk itu. Karena bisa jadi, orang baru yang ia pilihkan untuk dijadikan ayah sambungnya Jasmine, tidak seperti Givan yang begitu tulus pada Jasmine. Ia ingin Givan tetap sehat dan panjang umur, agar bisa terus mendidik dan menjaga anaknya.
"Kronologinya gimana, Ai? Usianya berapa sih? Keknya tak beda jauh ya sama aku? Aku sekarang tiga puluh delapan." Putri mencoba akrab dengan Ai, agar Ai benar-benar melontarkan semua kebenarannya versinya tanpa kecanggungan.
"Aku tiga puluh enam," jawab Ai seperlunya.
__ADS_1
"Lebih muda kau ya, Canda?" Fira menoleh ke arah Canda yang kedua kakinya naik dan bersila. Ia tengah lahap menggerogoti tomat buah, seperti yang ibu mertuanya dan Putri makan.
Ia suka dengan rasa dan tekstur tomat berukuran besar tersebut.
"Iya, Cendol tiga empat. Makanya Givan nemplok aja, istrinya jauh lebih muda darinya. Istrinya masih segar, dia udah sepuh," ujar Adinda dengan terkekeh kecil.
"Tapi masih ganteng loh, Canda. Suami kau pakai skincare apa?" Fira membuat Canda menaikan alisnya.
"Rajin scrub, sama cleanser. Minyak wangi, sampai stok. Ingat dulu aku, dia COD minyak wangi di atas seratus ribu. Sampai kesal aku gigit-gigit bantal. Sekarang rasanya pengen aku balikin aja ke tokonya, tiap kali beli minyak wangi nyentuh angka jutaan." Canda mengeluarkan curhat colongannya dengan penuh kekesalan.
"Memang kamu gak dibelikan juga? Waktu dulu, aku malah dikasih sama dia. Dibelikan dia." Ai sangat memperlihatkan bahwa ia ingin terlihat lebih Givan ratukan ketimbang Canda.
"Nah itu, tak ngerti aku sama mas Givan. Buang-buang uang aja tuh, padahal pakai Pucelle yang dua puluh ribuan juga udah wangi. Dikasihnya aku tas Louis Vuitton, Gucci, Dior, Chanel, Prada. Mahal-mahal itu, katanya bisa buat investasi jangka panjang. Padahal Celine Trapeze dari bang Daeng dulu, masih bagus dan masih terpelihara. Kalau aku mau cek out barang Tiktok, katanya jangan, sini aku belikan barangnya, mau model yang kek gimana. Terus udah tuh, transaksi besar aja. Padahal di Tiktok tas seratus ribu dapat tiga, udah bagus." Canda tidak maksud menyombongkan diri, ia hanya murni bercerita saja.
"Ah, jelas itu sih, Canda. Dosa-dosa kau yang tak terlihat aja, ditanggung Givan. Apalagi biaya hidup kau, kesenangan kau, kebahagiaan kau, ya pasti diusahakan juga. Tas branded itu, bisa dijual di masa yang mendatang, Canda. Makanya, suami kau bilang bisa untuk investasi. Aku pun ada, tapi memang lebih menarik tas di Tiktok ya, Canda?" Fira mengajak Canda kompak jarak jauh.
Tidak ada yang lebih menarik, dari ucapan Fira yang mengatakan bahwa dosanya Canda saja ditanggung oleh Givan. Tapi tidak untuk Ai, ia tetap fokus mencari celah untuk meninggikan dirinya lagi.
Canda meladeni Fira. "Iya, betul. Misal rusak tuh, tak sayang gitu buangnya. Nah tas branded, diusahakan jangan sampai rusak. Jadi pakainya tak puas tuh, karena harus hati-hati." Canda masih berpendapat tanpa berniat menunjung tinggi dirinya.
"Karena pikir Givan, kau pantas dapat barang-barang mahal itu. Barang-barang, hanya bernilai harga. Tapi membahagiakan kau, jaminan surga untuknya." Adinda bertutur lembut, dengan memberikan satu buah tomat buah lagi pada menantunya.
__ADS_1
Putri terus memperhatikan interaksi Canda dengan orang di sekitar dan sorot mata Ai. Ekspresi Ai, bagaikan kode dan rumus-rumus tertentu yang mampu ia pecahkan.
"Bang Givan milik Mamah, aku cuma beban akhirnya katanya. Makanya aku tak boleh aneh-aneh, macam-macam dan tak patuh." Canda meninggikan bibirnya.
Ia sudah terbiasa dengan tutur kata suaminya yang sedikit tajam.
"Agama kau pintar, Canda. Kau pasti tau syarat-syarat suami masuk surga." Adinda menyeruput es sirup buatan Fira.
"Memang, tapi ucapan mas Givan pun tak salah." Canda memang sering merasa bahwa dirinya beban dunia akhirat untuk suaminya.
Ia tidak pernah bisa melakukan semuanya sendiri, suaminya harus ikut andil dalam setiap kegiatannya. Padahal ia merasa bahwa dirinya orang sehat dan normal, tapi ia tidak bisa jika tidak melibatkan suaminya.
"Kalau Canda barang mahal untuk Givan, kenapa Givan bisa punya anak dari orang lain?" Ai mengalihkan perhatian semua orang.
Ai tidak menyadari, sejak tadi Putri memperhatikan dengan seksama. Pikirnya, obrolan ini tidak dalam tahap penilaian untuknya.
"Kalau aku ngandung kan, sejak Canda belum nikah sama Givan. Cuma kehadiran anak aku ditunda, karena Ghifar pengen Canda bahagia, makanya dia sampai nyanggupin jadi ayah asuh dari Key kecil. Cuma dia merasa udah terlalu lama merantau, dia takut tak bisa lihat orang tuanya lagi. Makanya dia langsung mutusin buat pulang, dengan mengaku bahwa Key adalah anaknya. Kata Ghifar, kalau dia tak dituduh hamili Canda, mungkin kebenarannya tentang Givan ayah biologis Key itu tak bakal terungkap." Fira menceritakan secara singkat, tentang hadirnya dirinya yang bukan orang ketiga dalam kehidupan Givan dan Canda.
Ai tak berkedip. Adik dan kakak yang bekerja sama, konsep anak bersama karena Fira bingung itu benih siapa, langsung menjadi penghakiman Ai dalam hatinya sendiri.
"Kau benar, Ai." Canda malah terbawa perasaan, dengan ucapan Ai.
__ADS_1
Benar menurutnya dengan ucapan Ai, karena Givan pun pernah merendahkannya dengan melakukan malam khilaf bersama Nadya. Jika ia barang mahal untuk suaminya, Givan tidak akan pernah melakukan hal khilaf di belakangnya. Setengah mati, Givan pasti akan berusaha menjaga kepercayaan istrinya dan menjaga dirinya sebagai suami Canda.
...****************...