Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM160. Permintaan maaf


__ADS_3

"Oh, iya-iya. Untuk masalah dulu, aku minta maaf. Itu reflek aku aja, Van. Karena lihat adik aku lagi dipermalukan. Kamu teriak-teriak, buka aibnya di depan rumahku. Kakak mana yang gak marah, lihat pemuda bertingkah kaya gitu. Tapi untuk itu, aku minta maaf ya? Aku gak maksud untuk kasar sama kamu, aku gak maksud untuk buat dendam sama kau," ungkap Awang penuh kerendahan.


Karena menurutnya, meminta maaf itu tidak salah. Meminta maaf itu, artinya bukan kalah. Tapi, ia mencoba menciptakan suasana yang lebih damai lagi. Ia mempelajari ini, setiap pertengkarannya dengan istrinya. Siapapun yang salah, tidak ada salah salahnya ia meminta maaf untuk menyudahi pertengkaran dengan istrinya. Terbukti dari hubungannya dengan istrinya kembali mesra, dengan istrinya yang balik meminta maaf padanya.


Givan masih terdiam, mencoba menguliti permintaan maaf Awang. Ia mempelajari ini dari Ai, Ai yang sejak dulu selalu menyalahkannya setiap pertengkaran yang terjadi. Ia berpikir, keluarga Ai sifatnya tidak jauh beda dengan Ai.


"Minta maaf untuk apa?" Givan mengerti persoalan lama mereka lebih kompleks.


"Untuk kejadian aku nendang kamu sampai tersungkur dan injak kamu. Itu reflek aja, Van. Aku gak berniat gak sopan ke tamu yang datang, kalau tamunya datang dengan kesopanan." Awang memperjelas titik permasalahan mereka.


"Aku udah sopan, aku datang baik-baik. Tapi, adik kau yang tak bisa diajak baik-baik." Givan selalu terpancing emosi, setiap kali membahas hal ini.


"Ya siapa yang gak marah, Van? Kamu kan yang udah hancurkan hidupnya." Meskipun ia tidak bertanya langsung pada Ai. Tapi, ungkapan Givan saat itu cukup menjelaskan bagaimana kondisi Ai.


"Siapa yang hancurkan? Dia sendiri yang hancurkan, dengan menolak ajakan baik aku. Hei, sikap orang bisa berubah. Kecuali, watak. Dia tak tahan dengan sikap aku padanya, tapi dia tak pernah punya tekat untuk rubah aku jadi lebih baik. Di tangan wanita yang tepat, tanpa permintaan untuk aku berubah, aku berubah lebih baik untuk dia, untuk anak-anaknya, untuk kebaikan hubungan kami. Hari itu aku datang, biar hidupnya lebih baik. Karena aku paham, di kampung manapun, tolak ukur keperawanan adalah segalanya. Aku datang, aku ajak dia kembali. Tapi, apa responnya? Dia tetap menolak. Dengan sombongnya, dia hiraukan ajakan aku untuk lanjutkan pertunangan yang udah banyak orang tau itu. Dia nolak aku, bukan aku yang rusak masa depannya. Itu pilihannya sendiri, milih ninggalin aku untuk masa depan yang dia pun belum tau gimana akhirnya."


Awang menyimak penjelasan Givan yang bercampur emosi itu. Awang hanya diam, dengan memahami sudut pandang seorang laki-laki yang ditolak oleh perempuan. Ia paham, penolakan adalah harga diri yang terbuang. Lalu, bertambah dendam Givan karena Awang berani melakukan kekerasan padanya. Awang cukup mengerti amarah Givan saat itu.


"Iya, Van. Aku ngerti untuk keadaan kau masa itu. Aku minta maaf ya? Aku berharap, setelah ini kita gak punya dendam lagi. Kita udah berumur, baiknya kita lebih bijak menyikapi perselisihan yang lama terlewat." Awang tidak ingin Givan masih terlihat ketus padanya. Ia menjadi tamu di sini, lalu salah satu tuan rumah ada yang tidak ramah padanya. Itu membuatnya merasa sungkan dan tidak enak hati sendiri.

__ADS_1


Givan terdiam, mencoba meraba ketulusan laki-laki yang ada di depannya. Ia sempat berpikir, apa ini motif agar dirinya mau menikahi Ai dengan permintaan maaf dari Awang ini?


"Tujuan kau minta maaf ini apa?" Givan mengetuk meja ruang keluarga tersebut.


"Biar di antara kita gak ada masalah lagi. Aku gak mau pas aku mati ini malah dipersulit, karena belum minta maaf pada orang yang masih dendam sama aku." Awang tidak pernah berpikir jika dengan meminta maaf, harga diri seseorang akan hilang. Siapapun yang salah, meminta maaf lebih dulu bukanlah kekalahan.


"Kau tau, dengan kau minta maaf begini sekalipun. Aku tak akan pernah mau untuk nikahin Ai, karena aku tak mau ninggalin istri aku, yang udah nemenin aku dari masa tersulit aku." Givan mengatakan kekhawatirannya.


Awang mengerutkan keningnya. "Aku gak akan pernah minta kamu untuk ninggalin istri kamu, Van."


"Terus?" Givan menyatukan alisnya.


"Ya aku minta maaf, atas kesalahan aku tempo dulu. Ini gak ada sangkut-pautnya dengan masalah Ai. Aku gak mau, dendam ini sampai ke anak cucu kita," terang Awang kembali.


"Aku maafin." Givan mengangguk samar.


Awang tersenyum tipis, dengan mengulurkan tangannya. Secara tidak langsung, amarah mereka berguguran seiring jabatan tangan tersebut. Pemandangan itu pun, terlihat jelas di mata Adinda saat ia memasuki rumah. Ia cukup mengerti dengan kejadian yang sudah terjadi, meski tidak ada yang menjelaskan padanya. Ia cukup mengerti arti senyum samar anaknya, yang penuh dengan ketulusan.


"Nih, makan malamnya." Adinda berseru mengalihkan perhatian mereka semua.

__ADS_1


"Kok di rantang, Mah?" Givan mengambil alih rantang di tangan ibunya.


"Iya, Mamah minta bantuin Aca untuk masak makan malam. Dia udah masakin, cuma tak ada yang antar ke sini karena anaknya rewel, Ghifarnya ke rumah sakit sama Gavin. Kenandra minta istirahat dulu soalnya, sakit leher katanya." Adinda mengajak Nafisah untuk ikut ke meja makan yang berada di dapur.


Meja makan besar, dengan kursi yang berjumlah lima belas. Sengaja membeli meja makan yang besar, karena mereka sering makan bersama. Karena anak cucunya, setiap hari pasti datang untuk makan di sana, meski ibu dari mereka sudah memasakkan untuk mereka. Itu seperti sudah menjadi kebiasaan, membuat Adinda selalu siaga memasak untuk cucu-cucunya.


"Lah, bawa makanan lagi?" Adi langsung bersedih, karena merasa perutnya sudah amat penuh. Bakso di hadapannya belum juga habis, sudah ada makanan lain untuk datang.


Adinda terkekeh, ia tahu jika suaminya sudah makan. Ia malah berpikir, bahwa suaminya tergiur dengan bakso yang Canda bawakan, karena melihatnya memakan bakso itu.


"Udah habiskan aja." Adinda mengusap-usap bahu suaminya, ia tahu suaminya kenyang.


"Ini buat Adek sayang, Abang sisain." Adi menarik tangan istrinya, berniat meminta bantuan untuk menghabiskan bakso yang tidak kunjung habis tersebut.


Adinda terkekeh geli. Ia sudah menebak hal itu, karena suaminya tidak sanggup untuk menghabiskan semangkuk baksonya.


"Alasan!" Adinda menahan dada suaminya, kala ia sudah begitu dekat dengan suaminya.


Adi terkekeh dengan langsung menyuapkan satu sendok bakso bercampur mie pada istrinya. Keromantisan terjadi dan membuat anak muda merasa malu sendiri, tatkala Adinda membukakan mulutnya.

__ADS_1


Mereka tidak pernah gagal, untuk membakar gelora cinta mereka. Semakin hari, kasih sayang mereka semakin sempurna dengan kehadiran cucu-cucu mereka yang terus bertambah. Tidak ada yang lebih membahagiakan untuk mereka, selain anak cucu mereka yang tumbuh sempurna dan sehat.


...****************...


__ADS_2