Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM53. Mengobrol dengan mamah


__ADS_3

"Gini aja, coba metode yang aman gitu. Khawatirnya, janin malah kenapa-kenapa terus kita yang dihakimi dan disalahkan." Adinda merasakan sendiri rasanya kehilangan bayi dalam kandungan.


"Aku pernah dengar penjelasan, begini katanya. Apabila CVS dilakukan di bawah usia kehamilan sepuluh minggu, maka bisa meningkatkan risiko kelainan kaki pada janin karena tersentuh jarum. Selain itu, bisa juga meningkatkan infeksi, pendarahan, dan pecah ketuban. Hal terburuknya, ya keguguran. Teman bang Ken jelaskan begitu dalam telepon, Mah. Makanya, disarankannya itu ya sekitar usia kandungan lima bulanan."


Adinda bergidikan, membayangkan ketika kantung janin tersentuh oleh jarum guna mengambil sampel bayi tersebut. Tapi jika dipikir, bagaimana lagi jika tidak seperti itu? Tidak ada cara lain, untuk mengungkapkan kebenaran yang lebih akurat.


CCTV hotel, tidak mungkin merekam semua kejadian. Di dalam ruangan, pasti ditiadakan CCTV untuk kenyamanan pengunjung. Hanya pengakuan dari beberapa laki-laki, yang itu pun tidak pasti jujur. Dalam persidangan saja, pengakuan bisa dimanipulasi. Apalagi, jika diselesaikan dalam kekeluargaan begini.


"Ini sih misalnya aja, Van. Terbukti janin itu bukan anak kau, terus di antara lima laki-laki tersebut memberikan pengakuan dusta. Nah, kau mau gimana? Sedangkan, yang buat Ai begini ya karena kau. Secara tidak langsung, kau buat Ai dikeroyok mereka dan mengandung. Lepas tangan, itu bukan balasan yang setimpal. Karma, takutnya turun ke anak-anak kau." Adinda malah melamuni hal ini.


Ia khawatir nasib buruk jatuh ke anak perempuan Givan. Sedangkan, anak-anak Givan kebanyakan perempuan.


"Keadilan maksud Mamah begitu?" tanya Givan yang langsung mendapat anggukan.


"Aku jamin anaknya, tidak dengan ibunya. Pendidikan wajib sembilan tahun, dengan uang saku dan uang makannya juga."

__ADS_1


"Kau berpikir itu cukup adil kah? Anak keluaran SMP bisa apa, Van? Sembilan tahun kau bilang, udah kek program pemerintah aja. Setidaknya, dua belas tahun lah." Adinda teringat akan Ghifar yang memiliki pendidikan dua belas tahun, kemampuannya tidak setara dengan tanggung jawab dan basic dasarnya mengemban perusahaan. Itu SMK, apalagi jika anak SMP. Adinda berpikir, pasti nanti profesinya tidak lebih terhormat dari ibunya.


"Eh, atau gini aja. Kau kasih dia usaha. Banyak kok yang lulusan SMP, tapi pengusaha sukses. Biasanya itu mereka pedagang, grosiran partai, bos telur dan macam-macam. Tapi kalau usaha besar kek Ghifar gini, udah pasti kemampuan basicnya bakal keteteran. Misal kau sanggup dan ikhlasnya sembilan tahun, ya kau ajarkan dia pegangan usaha yang sekiranya cocok dengan karakter anak itu. Pedagang, ya arahkan. Jasa, misalkan laundry atau fotocopy gitu, ya arahkan dan modali juga. Kau mesti turun tangan, karena karakter Ai begini nih. Ai pengen hidupnya seperti Canda, dengan senjata bayinya itu. Dia tak tau aja, berapa banyak kejadian yang Canda terima sampai dia punya ini itu. Dia tak berpikir juga kalau rejekinya tak mungkin sama dengan rejeki Canda. Dia tak tau juga ujian ekonomi kau sampai bertahun-tahun, ditambah dengan ujian yang tak kunjung punya anak, dia tak tau itu. Dia pun tak tau, sikap kau beda kalau istri kau bukan Canda. Dia tak tau, kalau sikap kau tak bisa baik ke perempuan selain Canda. Bukan mamah bangga punya anak yang banyak sifat minusnya kek kau, tapi Ai tidak tau sifat asli kau. Sifat asli kau, yang pernah kau tunjukkan masa kalian pacaran, mungkin dipikirnya karena kau tak bisa ngertiin dia. Ai ini harus belajar dari akibatnya sendiri, Van. Jenis manusia susah dinasehati dan diberitahu. Dia bakal stop, kalau dia dapat akibatnya sendiri. Dia bakal paham, kalau dia udah buktikan sendiri. Keknya dia bakal ngerecokin begini tak bakal udah, sebelum kesampaian jadi istri kau. Barulah pas jadi istri kau, dia tau kau gimana, dia bakal berhenti sendiri. Coba aja dipikirkan, keknya dia ini modelan begini." Adinda berkata dengan mengusap-usap dagunya dan pandangan menerawang.


"Jadi maksud Mamah, aku harus nikahin Ai begitu?" Pada ibunya saja, suaranya reflek naik satu oktaf.


"Ish!" Ibunya langsung mencomot mulut anaknya itu. Ia paling tidak suka, jika ada anaknya yang meninggikan suara padanya.


"Kan Mamah lagi ngobrol aja, karakter Ai nih seperti ini. Misal kebenaran udah terungkap pun, dia tak bakal minta tanggung jawab sederhana dari kau. Kalau kau malah kasih anaknya aja, keknya dia bakal ngerecokin rumah tangga kau terus." Adinda terkadang tidak suka berbicara dengan anak sulungnya ini, karena Givan cepat sekali terpancing emosi.


"Kita coba nanti tunggu pengakuan dan bukti DNA dulu, Mah. Aku tak bisa bertindak lebih jauh, apalagi dengan status aku. Aku berat ke Canda, aku tak mau dia berpikir aku lain ke Ai. Khawatirnya, ia malah ngira aku punya konspirasi untuk bisa balik ke Ai. Takutnya aku, Canda nyangka aku main drama biar bisa nikah sama Ai. Canda minus percaya soalnya, Mah. Dia kek iya he'em aja gitu, terus dia malah cari informasi di luar. Segala cerita dari Eva tentang aku dan Ai dipercayanya lagi, sampai beberapa kali dia nanya ke aku tentang nikah siri itu." Givan memahami hal ini, tapi ia tidak bisa membuat istrinya harus selalu percaya padanya.


"Oke, kita tunggu waktu itu. Moga aja, Canda lebih mau percaya pengakuan kau. Soalnya Mamah dapat aduan juga dari ma Nilam, katanya Ai itu sering keluyuran buat beli ini itu. Khawatirnya, Canda dipanas-panasi Ai di jalan. Takut-takut, Ai ngomong bohong Canda percaya."


Mata Givan sampai mekar sempurna. Benarkah jika Ai sering keluyuran? Sudah pasti nama baiknya akan dirusak oleh Ai, sudah pasti ia akan mengumbar kabar dusta pada warga. Jika seperti ini, cepat atau lambat orang desa akan datang dan menanyakan langsung padanya. Jika menceritakan kejadian aslinya, otomatis orang desa akan ikut menghakiminya dan lebih-lebih menyeretnya ke pengadilan.

__ADS_1


Undang-undang untuk perempuan ketat di sini, sedikit saja pelecehan terhadap perempuan, pihak laki-laki akan mendapatkan sanksi tegas. Bukan akan dirinya yang dihukum, yang dirinya takutnya. Namun, akan dirinya yang harus meninggalkan Canda untuk memenuhi masa hukumannya yang ia takutkan.


"Padahal segala kebutuhannya, udah aku coba penuhi, Mah. Kok dia masih keluyuran aja sih?" Givan semakin dibuat pusing karena sudah berurusan dengan Ai.


Ai yang ia kenal dulu, sangat berbeda dengan Ai yang sekarang. Atau mungkin, inilah sifat asli Ai yang tidak diketahui dirinya.


Adinda mengedikan bahunya. "Takutnya itu ke Canda, entah-entah ke orang sih. Canda jadinya pingsan, dulu padahal tak pernah dia begitu. Khawatir cucu Mamah yang jadi taruhannya, kalau dia sering shock tuh. Nanti Mamah coba tegur dia, dengan kau temani Canda terus. Khawatir kesehatannya drop, Van."


Givan malah terharu karena ibunya begitu perhatian pada istrinya. "Makasih ya, Mah? Canda lagi di rumah Ghifar kok, dia anteng di sana ngerumpi sambil buat list COD barang. Aku bakal lebih perhatian ke Canda, biar cucu Mamah aman-aman aja sampai lahir ke dunia. Canda pun pasti aku usahakan kok, Mah. Dia yang aku pentingkan dan utamakan."


Adinda melongo saja melihat anaknya yang menekan pelupuk matanya sendiri itu. "Kau bisa ngakuin itu ke Mamah. Ke Canda kau pernah sampaikan tak? Mamah aja tuh, ke papah Adi ini nuntut pengakuan cintanya. Mamah sampai enggan diperjuangkan, sebelum papah bilang aku cinta kamu, ini itu, bla-bla. Sepele memang, modus aja tuh bisa. Tapi ya itulah perempuan, Van. Kau tak ngungkapkan, dia bakal ragu selamanya."


Givan memperhatikan penuh ucapan tersebut.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2