
"Bang, kau jangan jadi pengangguran begini. Urus aja rumah sakit kau di sana. Mentang-mentang uang datang sendiri, kau jadi cari kesibukan di luar bidang kau." Yang membuat Ria kurang setuju, karena dirinya ditarik dalam misi itu.
Bukannya ia tidak mau, tapi ia keberatan dengan teman untuk pergi ke luar pulau tersebut. Ia tidak suka, jika harus ditemani oleh duda beranak satu tersebut.
"Ini bukan cari kesibukan, Bocil! Ada calon janda kaya, yang harus aku perjuangkan." Kenandra menyentuh bahu Canda.
Canda sampai terbahak-bahak, mendengar ucapan Kenandra dengan raut dan nada serius tersebut. Kenandra hanya bergurau saja sebenarnya, ia tidak benar-benar ingin membantu Canda menjadi janda.
Hanya saja, dirinya tidak tega dengan kelemahan Canda. Ditambah lagi, banyak anak yang bergantung pada ibu yang beragama bagus seperti Canda.
Ia ingin Canda tetap hidup dan sehat. Bukan tanpa alasan, karena ia menarik Canda untuk mengambil alih anaknya. Kenandra menjanjikan didikan agama yang bagus, jika Bunga anaknya bisa ikut dengannya. Karena sebelumnya, hak asuh Bunga jatuh di tangan ibunya.
Ia berjuang semampunya, bahkan kuasa hukum handal pun ia kerahkan untuk bisa mengambil alih anaknya. Jika psikis dan fisik Canda sehat, Kenandra tidak akan bingung untuk menitipkan anaknya sementara ia mencari peran ibu sambung untuk Bunga yang sebaik Canda.
Pembahasan akan hal ini pun, sudah dimusyawarahkan oleh Canda, Givan dan orang tua mereka. Bunga akan tetap tidur bersama ayahnya, hanya saja ketika ayahnya sibuk, Bunga akan dititipkan pada Canda. Agar bunga mendapat pengajaran dan didikan agama yang benar. Kenandra percaya anaknya akan menjadi wanita yang berakhlak mulia, dengan bimbingan agama dari panutan yang tidak pernah neko-neko seperti Canda.
Maka dari itu, ia sampai mengajak Ai untuk berbicara empat mata. Kemudian ia mengajukan diri untuk dijadikan ayah dalam kutipan akta kelahiran bayi Ai, agar psikis Canda tidak terganggu karena suaminya direbut paksa.
Namun, sayangnya Ai menolak tawaran baik tersebut. Dengan menerima itu, nama baik Ai bisa kembali sempurna.
"Abang ipar kek yang ono aja, bikin gedeg setengah mati. Apalagi abang ipar yang begini, keknya ibu pun langsung negur tiap menit." Ria berpura-pura menangis histeris.
Mereka kembali tertawa, membuat suasana di kamar itu begitu hidup.
"Terus malah jadi suami kau. Keknya tekanan batin ibu negur kau, terus gantian negur Bang Ken," timpal Canda yang menciptakan tawa lebih keras.
"Bi...." Lengan Gavin dipukul-pukul oleh anak sambungnya.
__ADS_1
"Hm, hm, hm. Apa, Nak?" Gavin paham putranya tengah meminta perhatiannya.
"Au." Elang terduduk, kemudian merangkak ke arah makanan.
"Keras itu, Nak. Yang lain aja, biskuit ya?" Gavin menunjukkan sebungkus biskuit yang sudah dibuka olehnya.
"Au." Elang mengangguk berulang kali, kemudian menggigit biskuit tersebut dengan kedua gigi bawahnya.
Canda memperhatikan interaksi Gavin dan anak laki-laki tersebut. Adik kecilnya yang dulu pernah ia ceboki, kini malah sudah menceboki anaknya. Ia sudah tidak muda lagi ternyata, ia malah teringat dengan mimpi indahnya bersama suaminya.
Tahun depan, apakah mimpi itu bisa berjalan sempurna? Atau, mimpi yang retak ini berubah menjadi hancur?
"Aku ajukan diri untuk jadi ayah di akta kelahiran anak yang dikandung kak Ai itu pun dia nolak, Kak. Katanya, aku masih anak kecil. Dia tak tau anak kecil ini udah bisa buang di luar, di perut, di dada, di muka." Keseriusan ini dihancurkan dalam akhir kalimat Gavin.
Mereka kembali tertawa, Canda pun bisa menepis pikiran tentang suaminya dan mimpinya, dengan berkumpul bersama orang-orang asyik ini. Mereka bisa menghibur Canda, dengan gurauan recehnya.
"Ajeng." Gavin menunjukkan istrinya yang disembunyikan dari publik tersebut.
Mereka tertawa kembali, karena melihat bias malu dari wajah Ajeng. Gavin ternyata banyak belajar dari istrinya yang sudah pernah menikah tersebut. Beruntung sekali untuk Ajeng, yang bisa mendapatkan bujang sebersih Gavin.
Namun, akankah ia tahu dan sudah terbiasa dengan sifat asli Gavin? Itu akan menjadi kisah mereka di lain cerita.
"Pas pertama itu sakit pas kencing, Bang. Panik aku, takut kenapa-kenapa." Pengakuan Gavin membuat Canda dan Kenandra semakin tertawa. Berbeda dengan Ria, yang malah menyerap ilmunya.
"Skillnya mentah betul nih, pasti tak enak," timpal Canda membuat suasana semakin heboh dengan gurauan.
"Ghifar ya begitu?" Kenandra menarik nama mantan pacar satu-satunya dari Canda.
__ADS_1
Canda mengingat secuil kisah mereka. "Belum pernah sih, tapi ukurannya ini paling besar dari itu yang pernah aku lihat." Kepolosan Canda secara tidak sengaja mengumbar tawa orang lain.
"Kenapa tak ambil yang itu aja?" Kenandra semakin memancing Canda.
"Maunya sih, tapi sadar sama Ghifar ini harus punya skill handal." Canda teringat akan dirinya pasif saat berada dikungkungan khilaf bersama Ghifar.
"Kocak, maunya sih jawabnya." Ria sampai menutupi wajahnya sendiri, agar bisa mengatur suara tawa lepasnya.
"Memang besar jaminan enak kah, Kak?" Ajeng pun bisa menimbrungi obrolan dewasa ini.
Canda berpikir sejenak. "Keknya sih skill deh yang lebih utama, ukuran kan tak menentukan kepuasan juga. Aku pernah punya suami yang anunya tak sebesar Ghifar, tak begitu panjang kek yang di rumah juga, tapi paling agresif dan skillnya super. Sayangnya, umurnya tak panjang. Kalau sekarang masih hidup, mungkin aku sekarang pulang ke dia." Obrolan mesum itu berbuntut suasana melow.
"Setara lah kek punya Abang. Gimana kalau Abang aja?" Kenandra merangkul Canda dan mengusap-usap bahu Canda.
Canda terkekeh dan memukul kaki laki-laki asing yang harus ia panggil abang tersebut. Sedangkan Ria, ia langsung menepis tangan nakal Kenandra yang hinggap di bahu kakaknya. Karena keadaan kakaknya yang tengah butuh sandaran seperti ini, Ria khawatir Canda jatuh ke pelukan si mesum Kenandra.
"Kenapa malah ngomongin ukuran anu sih? Jadi pengen pamer juga," celetuk Ajeng yang membuat tawa bersahutan itu semakin mengusik orang-orang lain.
Mereka tidak sadar, suara tersebut mengganggu ibu hamil untuk tinggal di sudut kamar. Ai sejak tadi begitu sulit untuk beristirahat, karena suara laki-laki dan perempuan yang tertawa secara bersama-sama itu.
"Duh, apa harus ditegur?" Ai bangkit dari ranjangnya. "Tiap hari selalu aja kumpul-kumpul ribut di kamar itu. Kaya cuma mereka sendiri aja yang tinggal di penginapan ini." Ai mengenakan jilbabnya.
Ia terpaksa membiasakan diri untuk berhijab, karena peraturan di provinsi ini. Ia bisa dikenakan sanksi, jika tidak menaati peraturannya.
Ia keluar dari kamarnya, lalu memperhatikan kamar yang paling mewah tersebut. Ia mendapati seseorang yang duduk di tengah-tengah pintu, itu adalah Kenandra yang pernah dikenalkannya saat masih bersama Givan.
"Sama siapa sih dia? Sering banget ngumpul dan ribut-ribut di sini." Ai mengayunkan langkahnya menuju ke teras kamar penginapan tersebut.
__ADS_1
...****************...