Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM58. Siasat polos dan lugu


__ADS_3

"Ah, paling Mamah sama mas Givan salah denger tuh."


Adinda dan Givan melirik sinis pada Canda. Apa alasan Canda, sampai seolah ia berpihak pada Ai.


Ai menggaruk kepalanya. Dengan ia dipercaya Canda seperti ini, itu malah menimbulkan kegugupan baru untuk melayangkan alasan lagi.


"Hmm, iya." Ai melirik ke arah lain, ia menghindari kontak mata dengan tiga orang tersebut.


Adinda baru memahami, menantunya berkata seperti itu, guna memancing alasan lain dari Ai.


"Lagian Mamah tuh siapa yang ngasih tau sih? Kok malah lebih percaya orang, daripada Ai yang jadi korban di sini."


Kurang briefing, di sinilah Adinda dan Givan yang saling menanyakan maksud lewat sorot matanya. Bagaimana permainan Canda selanjutnya? Adinda malah bingung untuk menebak pola pikir menantunya yang polos dan lugu tersebut, karena Canda tidak seolah percaya seperti ini.


"Ketua RT yang ngasih tau, Canda." Givan mulai mengikuti improvisasi yang Canda lakukan.


"Wah, ketua RT kok bohong?" Canda berpura-pura kaget di sini dengan menyentuh kedua pipinya.


"Ya tak mungkin dong, Canda. Masa iya ketua rukun tetangga, malah buat dusta dan mengadu warganya sendiri?" jelas Adinda yang juga mengikuti langkah yang Givan lakukan.


Dimengerti oleh Ai. Secara tidak langsung, Canda tengah menyudutkan dan menuduh bahwa dirinya berbohong di sini. Karena jelas, ketua RT begitu dipercaya di kampung ini dan oleh warga setempat. Benar kata Adinda, ketua RT tidak mungkin mengadu warganya sendiri. Terbukti dari ketua RT yang menegur, lalu mengajak bermusyawarah untuk menyelesaikan masalah yang membuat kampung mereka dipenuhi ghibah setiap rumah.


Ai tersudutkan. Ia bungkam dan tidak bisa mengelak di sini. Namun, Canda masih belum puas. Ia ingin, Ai mengeluarkan suaranya meskipun itu berisi dusta. Karena dengan begitu, dari rekaman suara ini, bisa digunakan sebagai bukti bagaimana Ai di belakang mereka dengan dustanya untuk warga kampung tersebut. Sanksi paling ringan, karena sudah membuat kampung menjadi tidak nyaman, biasanya seseorang tersebut dikeluarkan dari kampung sampai batas waktu yang telah ditetapkan.


"Hmm, begitu ya, Mah? Jadi siapa dong yang bohong? Kau tak mungkin bohong kan, Ai? Keadaan kau kan udah miris betul." Nada suara Canda seolah begitu iba pada Ai.


Givan kaget dengan istrinya. Sejak melakukan hibernasi karena kehamilannya, Canda kini mulai terlihat hilal kecerdasannya. Karena sebelumnya, jika ia hamil dan selalu tertidur, otaknya malah tidak bisa terkoneksi dengan baik.


"Eummm, yaaaa memang aku jujur kok." Bola matanya melihat tak tentu arah, Ai tengah menghindari kontak sejak tadi.

__ADS_1


"Jujur apa ya, Ai? Kau belum ngomong deh."


Biasanya Givan selalu protes jika istrinya berisik, kini ia membiarkan istrinya menjadi berisik. Ia mencoba mengikuti permainan Canda, karena sejauh ini terlihat progres untuk menyudutkan Ai.


"Kan, tadi aku udah bilang." Kalimat yang keluar dari mulut Ai begitu tidak jelas. Jika orang yang memiliki pemahaman tentang karakteristik orang yang tengah berbohong, Ai sudah menunjukkan ciri-cirinya.


"Yang 'hmm iya' itu ya?" Canda mengetuk-ngetuk dagunya dengan ujung jarinya sendiri.


Ai dibuat bingung oleh Canda. "Bukan, Canda. Yang itu...." Perkataan menggantungnya masuk ke dalam daftar ciri-ciri manusia yang tengah berbohong kembali.


"Keknya yang 'eummm.... Warga yang mana ya? Aku tak pernah ngobrol sama warga tuh' itu kan, Ai?" Givan pun mencoba berbicara polos dan lugu seperti istrinya.


"Hmmm, iya keknya." Ai ragu, karena kalimat tersebut memiliki arti pengelakkan. Ia sudah salah, ditambah ia mengelak, ia makin terlihat salah saja di sini.


"Iya yang itu tuh. Kalau bukan Ai, bukan ketua RT, jadi siapa dong yang nyebarin kabar itu?" Adinda pun mengikuti kepolosan dalam siasat ini.


"Ya mungkin pihak luar, Mah." Kepalanya terus menoleh, karena ia sibuk sendiri mencari kalimat yang tepat.


"Ohh, pihak luar ya? Memang siapa yang ada di balik masalah ini semua? Ada orang lain ya?"


Skakmat. Ai dibuat tersadar dari kecerobohannya sendiri.


Benarkah ada pihak luar yang membantunya? Atau memang, Ai hanya salah berucap saja?


"Tak ada, Mah. Memang siapa? Aku hamil, kan karena A Givan."


Begitu sakit didengar Canda, ketika suaminya disangka menghamili wanita tersebut. Entah kenapa, ia selalu percaya akan hal itu. Meski ia pun terkadang merasa bingung, karena apakah benar suaminya menghamili Ai?


"Oke, berarti setuju ya nanti kami jemput untuk musyawarah di balai desa?"

__ADS_1


Sebenarnya Adinda agak trauma mendengar kata balai desa, karena ia pernah diperkarakan di balai desa. Dirinya hampir menjadi korban pemerkosaan, oleh laki-laki yang menjadi suaminya. Namun, ia malah dinikahkan secara siri. Lantaran, keluarga suaminya itu adalah orang yang memiliki peranan penting untuk pertumbuhan ekonomi kampung tersebut.


"Loh?" Mata Ai mekar sempurna.


Menurut Adinda, sudah cukup untuk menyudutkan Ai. Mereka berharap bisa mendengar pengakuan Ai secara gamblang di balai desa. Mau tidak mau pun, Canda harus siap jika suaminya harus diproses hukum. Sedangkan Givan, ia masih belum mantap jika dirinya pantas mendapatkan hukuman.


Dengan perubahan pada istrinya dan keharmonisan rumah tangganya yang berkurang, itu cukup menyiksa dirinya. Givan merasa terhukum, setiap istrinya menolak untuk menyalurkan rasa kasih mereka. Belum lagi keseharian Canda yang lebih sering berkunjung ke rumah Ghifar, atau ke rumah saudara lainnya, daripada menghabiskan waktu bersama dengannya.


"Kenapa di balai desa, Mah?" tambahnya kemudian.


"Biar diluruskan gitu, Ai. Biar kita cari pelaku fitnahnya juga begitu. Bukan kau yang sebarkan dan tak mungkin juga ketua RT berbohong, berarti siapa kan gitu?"


Ai langsung gemetaran. Ia berpikir, lebih baik ia mengaku di sini daripada dipermalukan di depan warga kampung.


"Di balai desa cuma untuk bahas itu, Mah? Aku bisa jelaskan itu kok." Aku berkata cepat, agar tidak didahului oleh ketiga manusia tersebut.


"Jelaskan gimana, Ai? Memang masih ada yang perlu dijelaskan kah?" Adinda masih mencoba mendengarkan ucapan Ai.


"Yaaa, sebenarnya. Aku memang ada cerita ke seseorang yang aku anggap teman dan aku percayakan, Mah. Udah, cuma itu aja. Aku tak tau, kalau orang tersebut malah sebarkan ke warga kampung?"


Benarkah?


Kini Adinda melirik ke anak dan menantunya. Makin rumit, karena Ai begitu berbelit-belit menurut mereka.


"Kau yang sebarkan atau dia? Siapa warga kampung yang kau anggap teman itu?" Pertanyaan dan pertanyaan kian diperpanjang oleh Adinda.


Kini, Ai harus memutar otak untuk mencari alasan selanjutnya. Ia sadar kali ini, bahwa urusan bisa panjang dengan berurusan dengan seorang Adinda. Ia pikir, dengan ia melayangkan alasan bahwa ia bercerita pada seorang warga yang menjadi teman. Adinda malah merangkulnya dan memintanya untuk bercerita pada dirinya saja. Katakanlah, ia berpikir Adinda mengulurkan bantuan padanya untuk menjadi seorang temannya. Bukannya malah ingin tahu siapa warga yang menjadi temannya. Karena menurutnya, itu pasti tidak begitu penting untuk Adinda.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2