
"Gavin tak mau, katanya udah tau seluk-beluknya. Padahal, dia aja duda kan ya?" Givan membenarkan selimut yang menutupi dada istrinya, karena ASI milik istrinya tumpah ke mana-mana.
"Seluk-beluknya yang gimana memangnya? Ria kan masih perawan, Mas." Canda merasa adiknya umum seperti wanita lain.
"Sifatnya, wataknya, begitu kali, Canda. Kalau mereka tak mau, tak usah dijodohkan lah. Cuci yuk?" Givan menyibakkan selimutnya, kemudian bangkit dan menapakkan kakinya ke lantai.
"Wadah ASIP aku mana ya, Mas? Yang nemplok gitu kek bekicot." Canda merasa ASIP-nya begitu penuh.
"Entar dicari, sini cuci dulu." Givan melanjutkan langkahnya ke kamar mandi.
"Oke." Canda pun menyibakkan selimutnya dan melangkah ke kamar mandi.
Givan memijat pelipisnya, semalam Kenandra yang menghubunginya bahwa dirinya akan sampai esok. Ternyata, yang datang esoknya adalah Keith. Tetap menjadi beban pikiran yang sama, Keith datang dengan kejutan yang tak terduga.
__ADS_1
"Kau jalin hubungan dengan Shauwi?" tanya Givan, setelah Keith mengatakan tujuannya untuk datang.
Keith menggeleng samar. "Shauwi tak mau berpacaran, Bang." Ia tertunduk sejenak.
"Herannya aku di sini. Kau dekatnya sama Ria, tapi kau minta izin nikah dengan Shauwi. Gimana kabar kau sama Ria?" Givan memicingkan matanya.
"Ria minta kita udahin kedekatan kita, beberapa bulan yang lalu, Bang. Dia keknya lagi ada hubungan sama bang Ken. Ya aku pun tak bisa maksa Ria untuk tetap jalani, karena dana aku tak mungkin cukup untuk kehidupannya."
Givan merasa tersinggung dengan ucapan Keith. "Dana tak cukup gimana? Bayaran kau besar." Suaranya sedikit tegas.
"Terus, hubungan kau dengan Shauwi gimana? Kenapa tiba-tiba langsung nikah begini?" Givan merasa ada yang janggal, karena langsung adanya pernikahan. Bukan ia berpikir jelek, tapi pasti ada yang mendorong Keith untuk cepat menikahi Shauwi.
"Dia tak mau didekati dan aku penasaran, Bang," aku Keith lirih.
__ADS_1
Givan mengerutkan dahinya. "Terus?"
"Dia bilang, tujuannya apa terlalu banyak percakapan sama dia. Dia risih, karena aku ganggu dia. Aku tak suka dengan ucapannya, Bang," lanjut Keith malu-malu.
"Terus?" Givan mulai memicingkan matanya.
"Aku tak berniat ganggu, aku cuma pengen kenal lebih banyak tentang dia. Dia jaga anak yang misterius, dianya pun terkesan misterius. Awalnya, aku niat banyak ngobrol sama dia biar dia terbuka tentang apa yang terjadi di luar sana. Tapi, lambat laun aku dekati dia. Kok lain rasanya? Aku kek tersihir, untuk terus nanyain aktivitas dia. Terus dia bilang di situ, jangan terlalu dekat katanya. Kau dekat-dekat, kek mau nikahin aja, begitu bilangnya dia. Aku perhatikan kecakapannya ngurus anak, aku perhatikan dia bisa jadi teman untuk Ceysa. Teliti, tak ceroboh dan bisa kasih perhatian penuh ke Ceysa. Aku kok makin berpikir, bahwa jika dia kelak jadi ibu dari anak-anak aku, dia mampu jadi orang tua sekaligus teman untuk anak kami. Aku pun berpikir, kalau Shauwi jadi ibu dari anak aku, anak aku pasti aman dan nyaman punya ibu kek dia. Terus bilang kan aku ke dia kalau aku mau nikahin dia. Dia main tembak begini, lima belas mayam. Melongo aja aku ini, apa maksudnya dia ngomong ini. Minta penjelasan, tak dijelaskan sama dia. Sampai sulit tidur aku mikirin. Mau cerita ke Abang, aku malu. Akhirnya aku searching, rupanya lima belas mayam itu nilai gram dalam jumlah tertentu. Jadi aku nebak sendiri, apanya gitu lima belas mayam. Apa dia dikira aku nanya harga kah, sampai akhirnya aku tembusin langsung ke orangnya. Ya udah kalau mau nikahin katanya maharnya emas lima belas mayam, mampu tak begitu. Nada-nada sombong begitu, aku jadi teringat sama adik Abang, si Giska." Keith menjeda ucapannya sejenak, karena Givan terkekeh geli.
"Terus?" tanyanya menuntut Keith untuk melanjutkan ceritanya.
"Terus.... Kata Shauwinya, aku mau dimuliakan, aku mau ada isi kamar, pelaminan dan uang kotor umumnya pernikahan adat sana. Dia ini, kesannya lagi nantangin. Aku jawab begini, kira-kira dua ratus juta cukup tak? Dia langsung noleh ke aku kan? Cobalah hitung sendiri katanya. Entah kenapa, makin disombongin ini aku makin penasaran. Baru kutanya-tanya, langsung bawa mas kawin dia. Aku minta diperjelas, langsung bawa malah bahas tentang uang pelaminan segala macam, intinya tentang biaya pernikahan. Sombong betul, aku mikir gitu. Gimana, kalau diwujudkan tantangan dia ini. Eh betul, dia yang panik pas aku bilang, ya udah aku sanggupin, aku ke Aceh untuk minta restu Bang Givan dan orang tua kau. Langsung lah dia ini narik dan bersentuhan kulit untuk pertama kalinya sama aku. Jangan nikahin aku katanya, aku tak mau sama kau soalnya. Agak gimana gitu aku denger, aku dilarang menikahinya karena dia tak mau sama aku. Kok tambah gemas aku ini sama dia, giliran mau dinikahin malah ditolak. Kata aku, tak bisa, enak aja, aku udah pusing mikirin mayam yang kau bilang, main tak jadi aja. Kata dia, ya udah deh kalau udah terlanjur pusing sih, tapi aku minta sesuatu lagi katanya. Dipikir-pikir, ini perempuan kenapa banyak wacananya betul. Terus dia buka suara juga disitu, katanya kelak nanti orang tuanya udah tak berdaya, dia pengen pulang untuk berbakti dan ngurus orang tuanya. Karena dia anak perempuan satu-satunya, dari tiga bersaudara katanya. Ditambah lagi dia ini yang tertua dan saudaranya yang lain itu laki-laki semua. Menurut aku itu bukan masalah, bisa aku ngertiin, karena aku pun pasti pulang ke orang tua kalau terjadi sesuatu dengan mereka. Aku iyain, kata dia ya udah sana pergi ke Aceh. Nada bicaranya itu, kek ngusir gitu, Bang. Makin ke sana, kok makin ke sini ini perempuan. Aku ngerasa harapan aku kek ditarik ulur, sombong kendor terus ini perempuan. Tapi makin digituin, aku makin pengen nantang ini perempuan. Maaf-maaf ya, Bang? Aku ada pikiran begini, baby sitter aja kok sombong. Gitu tuh, Bang. Terus kutanya dia begini, perawan kah kau. Dia langsung lirik tajam, aku janda beranak satu. Jawabnya ketus betul sambil ekspresi marah. Mau aku perawan ting-ting, mau aku perawan rasa janda, itu privasi aku, itu aib aku dan sebaiknya tak diceritakan ke calon suami aku. Senangnya aku ini, disebut calon suami sama dia. Tapi kok rasanya, minang dia ini kek beli kucing dalam karung. Tapi kalau dipikir lagi, perawan sama janda memang kesan pertamanya memang di awal aja, untuk apa aku nuntut itu dari dia, kalau keadaan aku pun udah duda. Nah, baru aku ingat kalau status dalam identitas aku pun duda. Pas ada waktu ngobrol lagi sama dia, aku bilang begini, aku duda, pernah menikah kurang lebih tiga belas tahun yang lalu, aku punya anak satu dan udah meninggal. Pengen kugigit dia rasanya, karena dia malah bilang, itu masalah kau, kalau nantinya kau sama aku gagal berumah tangga lagi begitu, aku bakal buat pengumuman di seluruh dunia, kalau kau bukan laki-laki baik." Keith menghela napasnya dan geleng-geleng kepala. "Kok ada perempuan begitu. Makin digituin, aku makin penasaran." Pandangan Keith menerawang jauh.
Givan yang sedari tadi merespon ucapan Keith dengan tawa ringan akhirnya buka suara. "Apa nanti setelah rasa penasaran kau terpenuhi, kau bakal ngajuin sidang cerai?"
__ADS_1
...****************...