Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM26. Ceria Sekalane Waktu


__ADS_3

Author POV


Canda terus memandang mata bernetra hitam itu. Ia terbingung seorang diri, karena netra cokelat tua yang begitu ia kagumi berubah menjadi hitam pekat.


"Canda? Apa yang sakit?" Givan membelai wajah istrinya kembali.


Ia amat senang, saat perawat mengabarkan bahwa istrinya membuka matanya. Namun, ia kini dirundung ketakutan kembali lantaran Canda enggan berkedip sedikitpun.


Sampai akhirnya ide konyol itu terlintas begitu saja, Givan meniup netra istrinya perlahan. Barulah, Canda berkedip rapat dan menguap lebar.


"Alhamdulillah...." Rasa syukurnya atas istrinya yang baik-baik saja sekarang.


"Pengen apa, Canda?" Givan menarik kursi, lalu ia duduk di dekat ranjang dengan tangannya yang mengepal tangan istrinya.


"Pengen cer...." Canda langsung teringat pesan dari mendiang mantan suaminya.


Ia mengurungkan niatnya, dengan memalingkan pandangannya ke arah lain. Rasa cengengnya berkumpul kembali, tapi ia menahannya agar tidak menangis.


Sebuah kalimat terlintas begitu saja. Ketika kamu menangis, maka orang tersebut akan lebih mudah untuk menyakitimu kembali. Namun, ketika tidak ada air mata yang jatuh saat ia menyakiti. Maka, orang tersebut akan segan untuk menyakiti diri kita.


Entah benar atau salah, Canda memilih memejamkan matanya untuk meredam rasa cengengnya. Ia mengingat akan keromantisannya di dalam hutan belantara, agar pikiran sedihnya teralihkan.


"Aku tak pengen apa-apa, Mas." Canda memamerkan senyumnya, setelah moodnya kembali membaik.


"Kau yakin?"


Canda langsung merespon dengan anggukan, karena menurutnya itu sudah cukup.


"Apa ada yang sakit? Aku panggil dokter dulu ya? Terus lepas ini kita USG, biar kita tau keadaan janin kita."


Canda kembali teringat akan buah cintanya. Ia mengusap perut datarnya, yang tadi sempat dihangatkan oleh usapan penuh kasih dari mendiang mantan suaminya.


Ia benar-benar akan memilih mati saja, jika takdir hidupnya sulit untuk mendapatkan kebahagiaan. Tapi setelah berpikir lebih dalam, setelah ini Canda akan berniat untuk menciptakan kebahagiaannya sendiri.

__ADS_1


"Tak ada, Mas," jawabnya terdengar lemas.


Pengakuan Canda, tidaklah menjadi patokan untuk Givan. Laki-laki matang tersebut, tetap mendorong brankar istrinya bersama perawat, untuk dipindahkan ke ruang USG dan perawatan gawat ibu dan janin.


Adinda di rumah sudah fokus dengan beberapa nomor telepon, dengan sebuah laptop yang menyala. Ia ditemani suaminya, dengan kerumitan masalah yang mereka tidak tahu pasti. Sudah salah satu anak bujangnya merengek ingin menikah, ditambah lagi anak sulung mereka yang membuat ulah.


Adinda bingung ingin memulai dari mana, karena orang-orang bersangkutan saja tidak diketahuinya. Datang ke kota Jepara dan menciduk lima laki-laki untuk dimintai pertanggungjawaban, jelas tidak mungkin karena asam uratnya membatasi gerakan lututnya. Adi dan Adinda terpentok karena usianya.


"Dua nama itu siapa, Dek?" Adi ikut pusingnya saja, setelah mendengar cerita lengkap dari istrinya.


"Farhad dan Setiawan. Tiga lainnya, Givan tak tau namanya. Nama hotelnya, Bellsha Hotel Jepara. Alamatnya di jalan HOS Cokroaminoto, Kauman, Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Bingungnya, karena kita tak bisa ke sana sendiri." Adinda memijat pelipisnya sendiri.


Adi reflek memijat bahu istrinya. Ia memahami, bahwa istrinya ingin memecahkan persoalan ini. Namun, tersandung dengan gerak langkah dan penglihatannya yang sudah kurang.


"Tuku ketan ning Purwokerto. Aku perawan dikiro rondho. Tuku ketan ning Suroboyo, aku perawan mosok ra percoyo."


Adi dan Adinda celingukan, mencari keberadaan orang yang bersenandung tersebut.


"Founder Bapak Teungku Haji yang terhormat, minta tanda tangan untuk pengesahan naiknya harga biji kopi mentah dari pihak Bapak." Ria muncul dari pintu samping, dengan mengulurkan sebuah map berwarna hijau.


"Ria, kenapa kau?" Adi masih memperhatikan Ria dari ujung kepala sampai kaki.


Namun, Ria tetap terhanyut dengan suara musik dari headset bluetooth yang menulikan telinganya tersebut. Sampai cubitin kecil dari Adinda itu mendarat di paha Ria, barulah Ria membuka matanya dan melihat sekelilingnya.


"Eh...." Ia terkekeh malu, dengan melepaskan alat yang menyumbat telinganya tersebut.


"Ya, gimana?" Ria duduk di antara kedua orang tua tersebut. "Udah ditanda tangani kah, Pah?" Ria menggulirkan sorot matanya pada laki-laki tua yang tengah membolak-balik map tersebut.


"Belum, kau kenapa joget-joget sendiri?" tanya Adi, dengan menyimak isi dari surat yang memiliki materai tempel di bagian paling kanan bawah tersebut.


"Musikan, Pah." Ria beralih memainkan ponselnya dan mematikan lagu koplo berbahasa Jawa tersebut.


"Mah.... Aku diminta antar asuransi kesehatan punya Canda." Kenandra datang dari pintu depan dengan tergesa-gesa.

__ADS_1


"Canda? Mbak kenapa, Bang?" Ria langsung bangkit dari duduknya.


Ia kaget, saat nama kakaknya disebut. Pasti terjadi sesuatu, jika asuransi kesehatan dibawa-bawa seperti ini.


"Drop katanya sih," jawab Ken, ia merupakan putra angkat Adi dan Adinda. Ia berprofesi sebagai dokter spesialis bedah dan sudah memiliki rumah sakit sendiri di Negeri Jiran Malaysia.


Ia tetap memilih tinggal di sini, karena ibu kandungnya tengah sakit tua. Ia tidak kuasa, membiarkan surganya itu tidak terurus olehnya sendiri.


"Kok bisa? Perasaan tadi subuh WA, katanya OTW Kalimantan. Jangan bilang kecelakaan pesawat?" Ria panik sendiri, dengan memainkan jemarinya sampai berbunyi berulang kali.


"Ya udah ayo ikut Abang aja, coba tengok sendiri kecelakaan pesawat tak." Ken suka mengerjai perawan tegas tersebut.


Ria diubah karakternya menjadi tegas oleh kakak iparnya, karena tanggung jawabnya untuk mengolah beberapa perusahaan besar amatlah besar. Hingga di usianya kedua puluh lima tahun ini, ia belum pernah berpikir untuk memiliki seorang kekasih hati.


"Bentar Mamah ambil dulu." Adinda sampai memegangi lututnya, karena terkadang sulit sekali untuk bangun.


Asam uratnya tidak begitu parah, tapi sangat mengganggu gerak langkah yang sebelumnya sangat lincah.


"Pah, aku nitip dokumennya. Nanti malam aku ke sini lagi buat ambil balik." Ria langsung melipir, hingga ia berada di sisi kiri Kenandra.


Duda berusia empat puluh satu tahun tersebut, melirik perempuan yang kakinya sulit berpijak nyaman tersebut. Petakilan dan tidak mau diam, kesan pertama saat mendengar nama Ceria Sekalane Waktu tersebut. Namun, hanya keluarga saja yang tahu bahwa Ria adalah sosok yang seperti itu. Orang perusahaan, mereka hanya mengenal sifat tegas Ria saja.


"Nih, Ken. Sama bawa makanan, Mamah udah siapin juga di dapur." Adinda memberikan asuransi kesehatan milik menantunya, kemudian ia berjalan menuju dapur.


"Biar aku bantu, Mah." Ria menyusul ibu mertua kakaknya tersebut.


Ria dan Canda lahir dari satu rahim yang sama. Hanya saja, ayah mereka berbeda.


Akhirnya, Ria pergi bersama dengan Kenandra untuk datang ke rumah sakit tempat Canda mendapat perawatan.


Dalam hatinya berkecamuk banyak pertanyaan mengenai keadaan kakaknya, tapi ia tidak tahu ingin bertanya pada siapa. Ia terus merobek tisu yang berada di dasbor mobil milik Kenandra tersebut.


Sampai akhirnya teguran Kenandra tidak sengaja bernilai pelecehan di mata Ria. Kenandra.....

__ADS_1


...****************...


__ADS_2