
Givan mengangguk. Ia menarik nafasnya lebih dalam, lalu menghembuskan perlahan. Ia bersiap untuk membuka semuanya.
"Pertama kali, aku ketemu dia di resto. Canda langsung ngambek, mulai meragukan aku lagi. Terus, aku kaget lihat dia di karaoke room. Tak taunya, dia LC di situ. Awal itu aku udah alasan ke temen, aku bilang Canda nelponin aja. Tapi, sampai akhirnya aku booking dia delapan jam." Givan menurunkan nada suaranya dengan tertunduk.
"Kau jual diri, Ai?" tanya Adi kaget.
"Ish, Abang! LC bukan berarti jual diri!" sela Adinda, sebelum Ai menjawab.
"Itu sih, booking delapan jam?" Adi membelokkan ujung ibu jarinya pada Ai.
"Booking buat nyanyi, Pah," terang Givan cepat.
Ia geleng-geleng kepala, karena persepsi ayah sambungnya yang salah itu. "Jujur, aku ngerasa kaget adanya Ai di Jepara. Ai juga berani sapa aku depan Canda, ngamuklah si nyonya. Tanpa dia sapa, lihat rupanya aja itu Canda udah salah paham." Givan menoleh sekilas pada Ai. "Dari situ, aku mikir untuk kasih dia pelajaran. Tapi, ide buruk itu muncul gitu aja. Aku...," ucapan Givan terpangkas lagi.
"Yang tak masuk di pikiran Mamah, kenapa kau malah booking dia delapan jam? Secara tidak langsung, memang kau sendiri yang pengen rumah tangga kau dimasuki Ai. Memang Ai ngapain kau gitu? Sampai-sampai, kau mau ngasih dia pelajaran." tukas Adinda dengan menahan telapak tangannya di depan tubuhnya.
Givan terdiam, ia melirik orang-orang yang berada di sini. Givan merasa gengsi, untuk mengaku bahwa dirinya begitu sakit hati pada Ai. Kejadian itu sudah lama, tapi kenangan saat dirinya direndahkan selalu teringat.
__ADS_1
"Kenapa diam aja?!" Mamah menepuk pundak Givan.
Givan menggeleng kepalanya dengan menghela nafasnya. "Ini tak penting, Mah. Yang jelas, aku tak pernah ada hubungan lagi sama Ai." Givan berharap masalah ini cepat selesai.
"Terus kenapa dia bisa hamil anak kau, kalau kau tak ada hubungan sama kau?" Sontak saja keterangan dari Adi, langsung membuat Givan terperangah tak percaya.
Givan bangkit dari duduknya. Ia mengusap wajahnya kasar, sampai akhirnya ia duduk kembali di tempatnya.
"Aku tak ngapa-ngapain dia, kenapa bisa-bisanya hamil anak aku?!" Suara Givan langsung lantang saja.
Mendengar hal tersebut, sontak Ai terkejut beribu kali lipat. Dirinya yakin, ia tidak ceroboh. Ia tidak pernah tidur dengan laki-laki lain, selain Givan. Hanya pada Givan, dirinya merendahkan dirinya sendiri. Karena ia ingat cerita akan mantan Givan sebelum dirinya, yang menjual dirinya pada Givan, hingga berakhir mereka berpacaran selama empat tahun. Ia berpikir, dengan kisah yang sama, Givan bisa kembali dalam sejarah kecil hidupnya.
"Apa, apa, apanya?! Hei, asal kau tau aja! Aku, tak pernah sekalipun nidurin kau! Lepas aku pindahkan kau ke kamar, terus aku balik ke kamar aku sendiri." Givan sudah bangkit dan menunjuk-nunjuk Ai. "Kalaupun kau memang hamil, itu bukan darah dagingku. Kalau kau lupa juga, aku ini pembeli dan kau penjual. Kenapa aku harus tanggung jawab, karena kecerobohan kau sendiri?"
Ucapan Givan terlalu membingungkan Ai. "Maksudnya gimana, A? Ini anak kita." Ai mengusap perutnya yang sudah terlihat membengkak di bagian bawah.
"Anak kita gimana maksudnya? Di hari itu, di malam itu, di jam itu. Aku buka ya di sini, maaf-maaf kalau terdengar tak sopan masuk telinga." Givan menangkupkan kedua telapak tangannya di depan wajahnya. "Setelah aku rebahin kau, kepala ikat pinggangku nyangkut di rok jaring kau. Aku minta persetujuan kau buat nyobek itu, tapi kau udah teler. Terpaksalah aku tarik paksa, sampai variasi rok jaring kau ancur. Setelah itu, memang aku ada tertarik dan hampir. Aku udah ngebasahin, terus Canda nelpon. Dia nelpon aku sambil nangis-nangis. Dunia aku adalah dia. Tanda tangan persetujuan aja, bisa aku tinggalkan gara-gara dia. Apalagi, cuma perempuan murahan yang pasrah di bawah aku. Tanpa alasan mempertahankan kau di situ, aku lebih milih pergi untuk ngurus Canda. Setelah itu, kau ingatlah salah satu pria dari yang booking kau nyanyi di malam itu. Mungkin salah satu dari mereka ayah biologis anak kau. Tapi yang jelas itu bukan aku, aku tak pernah merasa selingkuh atau jajan perempuan sejak rujuk sama Canda lagi." Givan menghempaskan alas duduknya ke sofa.
__ADS_1
Ai menggeleng tak percaya. "Apa dengan Aa bilang kek gitu, aku bakal percaya? Banyak alasan untuk tidak mengakui, apalagi jelas di depan keluarga Aa sendiri. Aku tau mahalnya harga diri Aa, aku tau gengsinya atas segala pengakuan Aa." Ai tidak mempercayai ucapan Givan sama sekali.
Dengan demikian, kedua orang tua yang sudah sepuh itu dilanda kebingungan. Ia ragu untuk percaya pada salah satu pihak, karena ia benar-benar melihat gerak-gerik Ai yang tidak dibuat-buat. Namun, mereka pun tak bisa jika tidak mempercayai ucapan anaknya. Karena mereka tahu, anaknya pasti selalu berkata jujur jika sudah terpojokkan seperti ini.
"Jadi, aku harus ganti rugi begitu? Berapa banyak harus kubayar?" Givan membuka dompetnya, kemudian menghitung isi uang cash miliknya.
"Segampang itu, A?" Ai menangis tergugu. "Aku minta Aa tanggung jawab atas anak kita, bukan memberi harga untuk kehamilan aku!" Ia menutupi wajahnya sendiri.
"Tiga bulan, aku cari informasi tentang Aa. Teman-teman Aa pun, gak pernah kelihatan lagi di hotel itu. Aku sampai datangi rumah keluarga besar Aa yang di Jakarta, yang ternyata udah jadi kost-kostan mewah. Sosial media Aa, sama sekali tak aku temui. Nomor kontak yang tertinggal di resepsionis hotel pun, gak bisa aku dapatkan. Sampai kaya gitu, aku pengen ngasih tau Aa kalau aku ngandung anak Aa. Kalau aku niat untuk besarin sendiri, aku yakin mampu sendiri. Tapi aku pengen besarin anak kita sama-sama, biar dia gak kehilangan figur ayahnya sendiri. Cuma secarik kartu nama Mamah yang ada di tumpukan buku diary aku, nunjukin salah satu jalan keluar aku untuk bisa ngasih tau Aa. Makanya aku bisa sampai di sini. Bukan kaya gini! Bukan aku minta diberi harga, untuk anak yang aku kandung. Tapi aku ingin kita sama-sama, besarin anak kita." Tangis Ai semakin lepas, dengan bibir yang bergetar hebat.
"Biar apa, Ai? Kau tau aku beristri kan? Dari awal aku udah pernah bilang, kalau aku beristri." Givan mengetuk-ngetuk ujung jarinya di meja. "Coba diingat lagi, kemarin status kita cuma penjual dan pembeli. Kau harusnya paham maksudnya. Bukan kek gini, Ai! Harusnya kau bisa melindungi diri kau sendiri, KB lah minimal. Lagian, dengan ucapan kau yang kek gini. Kok aku merasa, kau jadikan kesalahan aku karena booking private dengan kau itu, sebagai perantara untuk kau bisa hamil anakku. Terus, kau sengaja mau acak-acak rumah tanggaku begini. Biar kau bisa bersatu dengan aku, dengan alasan kau ngandung anakku. Begitu klasik alasan kau, Ai!" Givan menggeleng berulang.
Ia menyandarkan punggungnya ke sofa, dengan bersedekap tangan. Nafasnya begitu tidak stabil, karena emosinya yang meluap.
"Gimana dengan aku, A? Aa tega sama aku? Aa tega gak ngakuin anak Aa sendiri?" Pilunya Ai meratapi nasibnya sendiri.
Ia pikir, merendahkan dirinya adalah peluang besar untuk bisa bersatu dengan Givan. Nyatanya, bumerang untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
...****************...