
"Bang, bisa kurangin suaranya gak? Aku terganggu," tegur Ai cepat. Seketika, Kenandra menoleh langsung ke arah Ai, diikuti dengan orang-orang yang di dalam yang melongok ke luar.
Panasnya hati Canda semakin semrawut di depan matanya. Ini yang membuat telur bisa matang di atas dada Canda.
Ai pun tersentak, karena tanpa persiapan dirinya menghadap Canda dengan posisi yang begitu dekat. Bahkan, ia seketika blank karena Canda yang hanya diam memandang.
Jika Canda memarahinya atau memakinya, tentu Ai akan bisa melempar dan menyudutkan Canda. Ia dilanda gugup, karena sorot mata Canda seperti menelanjangi keadaannya.
"Minta rumah gedong ke laki-laki yang jadi alasan kau di sini ya? Biar tak hidup di penginapan kost-kostan begini."
Ria pun kaget, mendengar kakaknya berucap seperti itu. Secara tidak langsung, Canda malah mengajari Ai untuk menguras isi rekening suaminya.
Ai mulai tersenyum miring, karena Canda berani membuka pembicaraan di sini. "Nanti nangis." Ai malah meledek Canda.
Canda tertawa sumbang. "Ambillah kalau mau, kau cuma tau orangnya, bukan sifatnya. Kau cuma dapat orangnya, bukan hartanya."
Ai pernah mendengar ibunda Givan yang mencaci maki habis perempuan perusak rumah tangga almarhum adik dari ayah sambung Givan, Edi Wijaya. Saat itu, ia berada di rumah nenek tiri Givan bersama Canda dan para keluarga lainnya. Kejadian ini pun, saat dirinya dikenalkan pada keluarga Givan.
"Kamu pikir aku percaya? Ngaku-ngaku kalau hartanya atas nama kamu, biar aku mundur teratur? Ada hak dan tanggung jawab Givan di sini." Ai menunjuk perutnya sendiri.
Ia menjadikan kehamilannya sebagai senjata.
"Asal kau tau, anak itu tidak mempunyai hubungan nasab, wali, nikah, waris, dan nafaqah dengan lelaki yang mengakibatkan kelahirannya. Anak hasil zina hanya memiliki hubungan nasab, waris, dan nafkah dengan ibu dan keluarga ibunya. Jadi tanggung jawab yang bagaimana? Mas Givan tidak punya kewajiban untuk nafkahi anak kau itu, Ai!"
__ADS_1
Mungkin, ini adalah kebenaran yang baru Ai ketahui. Namun, ia tidak kehabisan akal.
"Suami kamu sendiri yang janji nafkahi dia dan muliakan hidupnya sampai dia dewasa."
Canda terhantam di sini. Ia kehabisan wacananya, karena hatinya begitu rontok mendengar penuturan Ai. Ia percaya dengan ujaran Ai barusan.
"Bangga ya, Dek?" Kenandra maju dan menutupi Canda. Canda bersembunyi di belakang punggung lebar duda berusia empat puluh satu tahun itu.
Sorot matanya mengarah ke Ai. Kentara sekali, bahwa Kenandra di sini berpihak pada Canda. Meski sebelumnya, ia mengajukan diri untuk dijadikan ayah dalam akta kelahiran anak Ai.
"Bukan aku bangga, a Givan sendiri kok yang bilang. Dia juga ada bilang, kalau a Givan jamin pendidikannya sampai sarjana." Ai menambahkan ucapannya, lantaran ia tahu Canda tidak baik-baik saja di belakang punggung laki-laki tersebut.
Ria menarik kakaknya yang bersembunyi di belakang punggung Kenandra, kemudian ia meminta Ajeng untuk menenangkan kakaknya. Karena ia khawatir Canda ambruk, lantaran Canda hanya diam menunduk.
"Udah pernah kenalan sama tiga mantannya bang Givan belum, Kak? Kak Fira, kak Nadya sama kak Putri." Ria mencoba merangkul Ai sebagai taman, tapi ia bertekad untuk membuka semua kebusukan kakak iparnya pada Ai. Berharap agar Ai mundur teratur, tanpa banyak berdebat dengan kakaknya yang tengah hamil muda itu.
Ai menepis tangan Ria. Ia paham, manusia-manusia di sini pasti berpihak pada Canda. Ia khawatir keceplosan tentang semua niat dan tujuannya, jika ia mempercayai salah satu manusia di sini untuk menjadi temannya.
"Aku gak peduli, aku tau gimana gilanya a Givan ke aku. Aku gak peduli semua omongan kamu, karena aku tau gimana sebenarnya a Givan ke aku. Bahkan, dia lebih milih aku ketimbang istrinya kok. Dulu pun ia masih ngajakin aku bersama, meski dia udah punya istri."
Canda semakin shock, atas segala yang keluar dari mulut Ai.
"Bisa jadi itu siasatnya. Buktinya, kau dilecehkan lima laki-laki pun kau tak tau. Kan berarti ada siasatnya di sini." Kenandra sudah tahu cerita versi Givan sendiri.
__ADS_1
"Ck...." Ai tersenyum miring. "Abang gak kenal gimana a Givan. Dia bilang kaya gitu, biar semua orang percaya. Yang aku kandung ini, ya anak dia. Aku merasa dibawa ke kamar sama dia, bahkan suaranya terdengar lembut."
Di satu sisi, ia membuka aib sendiri dan merendahkan dirinya sendiri. Di Sisi lain, ia bermaksud memberitahu yang ia percayakan pada Canda. Ia yakin, Canda masih mendengar suaranya yang lantang itu.
"Kau percaya itu? Lagian ya, akad jual beli itu bebas dari tanggung jawab. Bodohnya jadi! Kalau kemarin nerima ajakan aku, aku yakin bulan depan kau tak hancur. Udah bodoh, kekeh, tak mau dengar kebenaran, suram betul masa depan kau." Kenandra geleng-geleng kepala dengan bertolak pinggang.
"Logikanya, kalau Givan minat. Waktu kalian ada di kota yang sama, kalian pasti banyak untuk waktu berdua. Nyatanya kan, Givan tetap banyak waktu untuk istrinya. Detail loh Givan cerita tentang kejadian sebenarnya dan masa dia di sana. Kalau mikirnya dia ada niat sama kau, udah tuh Canda yang mungkin ditinggalkannya," lanjut Kenandra kemudian.
"Buktinya sekarang gimana? Canda udah ditinggalin kan sama a Givan? Mereka udah tak satu rumah lagi kan?"
Canda yang berada di dalam kamar bersama Ajeng, langsung terheran-heran mendengar ucapan Ai. Ada kekeliruan besar di sini, atau suaminya menyampaikan hal yang terbalik pada Ai. Ia berpikir, bahwa suaminya mengatakan bahwa dirinya pergi meninggalkan Canda. Bukan bercerita, mereka pisah rumah karena permintaan Canda.
Ia ragu akan dua kemungkinan itu. Tentang Ai yang tahu niat sebenarnya dari suaminya, yang tidak dirinya ketahui. Atau, ia berpikir suaminya menyampaikan fakta yang berbalik pada Ai.
"Oh begitu ya? Pikiran kau begitu ya? Coba tanyakan lagi ke Givannya. Gih, Givan ada di rumah orang tuanya kan? Gih datangi!" Kenandra memutar pundak Ai, Ai pun malah menurut karena rasa penasarannya.
Hingga Aku tak terlihat di pandangan matanya lagi, barulah Kenandra masuk dan menutupi setengah pintu kamar tersebut.
"Tuh, Canda. Dengan Ai langsung pergi, berarti Ai ini belum tau alasan sebenarnya dari Givan. Cuma, dia berasumsi sendiri bahwa Givan ninggalin kau. Bodohnya lagi, dia percaya dengan asumsinya yang salah." Kenandra duduk di tepian ranjang, tepat di sebelah Canda.
Sedangkan Canda, ia masih bersandar lemah pada bahu iparnya yang dirahasiakan tersebut. Ajeng pun hanya bisa menenangkan dengan mengusap-usap bahu Canda, karena ia tidak mengetahui permasalahan pasti akan rumah tangga kakak iparnya tersebut. Ia pun sadar, ia tidak berhak ikut campur untuk mencampuri masalah rumah tangga kakak iparnya itu.
"Abang tanya-tanya suami kau tentang cerita aslinya. Dari dulu nih, dia cerita aja meski dia dalam posisi salah. Dia pengen didengarkan lah, bukan diberi masukan. Kek waktu kejadian dia nikahin kau, dia cuma cerita aja tanpa mau dinasehati. Menurut Givan ini, Ai....
__ADS_1
...****************...