
"Tuh......" Ahya menunjuk adik satu ibu dengan Canda, yang tengah tertidur pulas di sofa panjang ruang tamu.
Sedangkan, mereka berada di teras rumah.
"Lah, Tante...." Bunga langsung mendekati seseorang yang ia anggap kakak tersebut.
"Tante....." Bunga membangunkan Ria dengan lembut.
"Tau ah! Udah, udah! Ngantuk aku." Ria malah menutupi kepalanya dengan bantal sofa.
"Ayo ikut ke rumah Biyung, Tante." Bunga bermaksud mengajak teman mengobrol selama perjalanan mereka tersebut.
"Biar nanti, Dek." Suara Ria begitu berat.
"Tapi nanti Tante ke sana ya?" Besar harapan Bunga, agar Ria mau ikut dengannya. Di saat dirinya belum mengenal semua orang di tempat baru, Bunga akan tetap memiliki teman mengobrol, pikir Bunga seperti itu. Karena ia berpikir, bahwa orang-orang di sana mungkin akan cuek padanya.
"Iya, pasti ke sana." Halaman belakang rumah Canda, adalah tempat merokok untuk Ria. Setiap hari, Ria pasti akan absen di sana.
"Oke, dadah. Aku pergi dulu, Tante." Bunga melambaikan tangannya sebelum pergi.
"Hmmmm....." Ria hanya bergumam membalasnya.
Ria tidak begitu suka dengan anak kecil. Pada keponakannya pun, ia berat untuk menjadi bibi terbaik untuk mereka. Namun, Bunga merasa nyaman bercerita dan bersenda gurau dengan Ria. Ia merasa bahwa Ria bisa menjadi seorang teman yang ia inginkan.
Bunga disambut gembira oleh anak-anak Canda dan Givan. Mereka langsung mengajak Bunga bermain bersama tanpa memikirkan siapa dirinya. Meski awalnya Bunga begitu ragu, tetap akhirnya ia bisa berbaur juga.
"Eh, Mas. Key pas baru datang udah tak tau malu ya dia? Tak kek Bunga gini."
Givan melongo saja, tatkala salah satu putrinya disebut tidak memiliki malu.
"Namanya juga anak-anak, Cendol." Givan langsung ngegas saja.
Canda memperhatikan anak-anak yang berlarian di halaman rumahnya tersebut. "Ya Bunga juga anak-anak, tapi tak kek anak-anak. Padahal udah seusia Ceysa kan dia?"
"Ya, Memang. Ya mungkin memang anaknya pendiam." Givan paham jika masing-masing anak memiliki kecenderungan yang berbeda. Seperti pada Ceysa, yang anteng merapikan sandal saudara-saudaranya, saat yang lain berlarian saling mengejar.
"Tak ah, pasti ada sesuatu." Jejak perceraian membuat Bunga menjadi pendiam, begitu menurut Canda.
"Apa memang?" Givan menaikkan sebelah alisnya dengan melirik Canda.
__ADS_1
"Yaaa.... Mungkin, karena orang tuanya berpisah terus dia merasa kehilangan." Canda berpendapat seperti ini.
"Ahh, lebay! Chandra aja biasa aja, padahal ibunya pacaran di depan matanya. Ganti ayah juga dia pernah rasain, pindah asuh juga pernah, diurus orang-orang banyak juga pernah dia. Biasa aja, tetap ceria kok."
Canda melirik tajam pada suaminya, tangannya terulur untuk menjambak pelan rambut suaminya.
"Kan tak begituan di depan anak juga kek Mas!" Canda teringat tentang cerita Nalendra, bahwa Givan melakukan hubungan orang dewasa di dalam kamar, dengan keadaan Jasmine yang bermain di luar kamar.
"Mana ada!" Jelas Givan mengelak, karena ia pun akan menahan gejolaknya pada istrinya ketika anak-anak tidak ada yang menjaga atau tidak terlelap.
"Waktu Jasmine, Mas begituan sama Putri." Canda menaikan nada suaranya, berarti ia sudah mulai mengajak Givan berdebat lagi.
Mood Canda selalu mampu membuat kepala Givan berdenyut.
"Ya memang, tapi tak di depan Jasmine juga. Aku bukan orang munafik, dari dulu kan aku iyakan kalau aku memang ada adegan dewasa sama Putri." Givan terpancing dengan nada suara istrinya tersebut, ia pun ikut meninggikan suaranya.
Jurus andalannya. Canda langsung meraup wajah suaminya dengan penuh kesal.
"Tak pernah ngaku ter.....," ucapan Canda menggantung.
"Udah, Dek Canda. Malah ditonton anak-anak itu." Ibu Muna, asisten rumah tangga Canda mengingat pertengkaran itu. Beliau menunjuk ke arah halaman, di mana anak-anak hanya melongo saja memperhatikan mereka yang tengah berdebat terus.
Canda mengangguk, kemudian memperhatikan sekelilingnya. Tiba-tiba, ia memamerkan giginya pada suaminya dan beranjak pergi ke dalam rumah.
Canda hamil benar-benar menguras tenaga, energi, pikiran, otak, kesabaran, ketabahan dan keteguhannya. Ia serasa mendapatkan ujian hidup, ketika menghadapi sifat kambuh istrinya yang sepuluh kali lebih absurd dari keadaan tidak hamil.
"Shttttttt......"
"Bsttttttt......"
"Sttttttttttt........"
Givan celingukan, mendengar suara seseorang yang seperti memanggilnya tersebut.
"Hei, Bang!" Givan langsung mengenali suara tersebut. Ia segera menoleh ke arah pintu samping halaman rumahnya, hingga terlihat kepala Ghifar yang muncul dari pintu besi yang setengah terbuka tersebut.
"Apa?" Givan melangkah ke arah pintu besi.
Ghifar membuka pintu tersebut lebih lebar. Lalu, ia menunjukkan sebuah bungkusan yang sembunyikan di belakang tubuhnya.
__ADS_1
"Taraaaaa....." Sebuah cup cake indah yang cukup menarik.
"Apa? Buat siapa?" Givan belum menerima kue tersebut.
"Aku sama my wife my destiny buat eksperimen ini, ternyata enak betul. Berhubung kuenya tak banyak, nih aku kasih buat istri kau yang lagi ngandung. Jangan sampai tau anak-anak kau." Ghifar langsung memberikan karyanya tersebut.
"Kau kasih buat istri orang, lewat suaminya. Tak ada kau pantas-pantasnya! Yang normal, kasih untuk anaknya, jangan tau ibunya. Lah ini, malah jangan tau anak-anaknya." Givan sudah seperti ingin menjejak adiknya tersebut.
"Ya udahlah! Terima aja! Aku pergi dulu." Ghifar langsung menutup tutup besi pintu tersebut.
Givan hanya mampu geleng-geleng kepala. Ia memperhatikan anak-anaknya, sebelum dirinya berlalu masuk ke dalam rumah. Ia benar-benar menyembunyikan sebuah cup cake tersebut dari anak-anaknya, agar bisa sampai dengan selamat pada istrinya. Ia ingin Canda merasakan kue yang hanya satu-satunya tersebut, di samping amanah dari Ghifar.
"Cendol, dapat dari destiny Ghifar nih." Givan tidak mengatakan, bahwa itu dari Ghifar.
"Apa? Destinasi?" Canda salah mendengar.
"Destiny! Takdir!" Givan mulai ngegas lagi.
"Memang takdirnya jadi apa dia?" Canda malah bingung sendiri.
"Jadi kodok!" Givan memberikan langsung kue tersebut. Ia sudah amat kesal pada istrinya, ia ingin menenangkan pikirannya sejenak.
"Aku main dulu bentar ya?"
Canda langsung teringat dengan nasehat dari istri Ghifar.
"Ya udah, ati-ati." Canda sudah fokus pada kue tersebut.
Ia mencoba membebaskan suaminya, dengan memberi sedikit kepercayaan pada suaminya. Meski pada dasarnya ia tidak yakin, tapi ia pikir, ia perlu mencobanya.
Givan melangkah keluar memperhatikan keadaan sekitar. Belum jauh ia melangkah, ia sudah dipanggil oleh ibu mertuanya. Bu Ummu melambaikan tangannya, dengan berseru memanggil nama menantunya.
"Ya, Bu." Givan menaiki tangga teras ruko tersebut.
"Sini dulu, Van." Bu Ummu menepuk tempat di sebelahnya.
Givan sudah berpikir, bahwa pembicaraan kali ini mengarah tentang rumah tangga mereka lagi. Ia sudah amat paham, jika ibu mertuanya selalu meminta Canda untuk pergi darinya.
Sedangkan, dirinya amat tidak ingin Canda meninggalkannya. Ia ingin, Canda tetap bertahan dengannya, sampai masalah ini selesai.
__ADS_1
"Van, ini tentang Ria. Ken.......
...****************...