
"Aku tak pernah main perempuan lain sejak kita rujuk, Canda. Kau yang percaya sama aku." Suaranya begitu rendah dengan getaran yang menyalurkan perasaan lemahnya.
Givan mendekap istrinya dari belakang, tangannya melingkar pada perut istrinya. Kemudian ia mengusap-usap perut istrinya, yang terdapat buah cinta mereka.
Canda memejamkan matanya, berharap rasa cengengnya terhambat. Namun, isakan suaminya membuat pertahanannya melemah. Ia mengusap ujung matanya yang basah, kemudian ia berkedip rapat untuk menetralkan rasa pedas pada matanya.
"Jangan tinggalin aku, Canda. Jangan tinggalin anak-anak kita." Givan memohon dengan air cengengnya yang membasahi punggung istrinya.
Ia sudah membayangkan bagaimana hancurnya anak-anak mereka, tanpa seorang panutan yang mengerti agama seperti Canda. Ia sudah membayangkan tangis anak-anaknya yang bersahutan, karena kehilangan sosok ibu si jantung rumah. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana dirinya, saat tujuannya untuk pulang tidak lagi bersamanya.
Ia pernah berkata, bahwa ia tidak cinta mati pada Canda, tapi ia bisa mati jika terjadi sesuatu yang buruk pada Canda. Nyatanya dengan Canda berubah menjadi pendiam saja, itu sudah membuat dunianya jungkir balik.
Givan merasa risih, jika istrinya selalu berbicara tanpa jeda. Namun, ia malah merindukan kekesalannya pada istrinya kala istrinya berubah menjadi pendiam seperti ini.
Ia ingin Candanya, ia ingin istrinya yang selalu membuatnya terseret-seret berjalan, kesal setiap berbicara, tertawa setiap kekesalannya sirna dan warna yang selalu berubah di setiap jam kebersamaan mereka. Givan ingin Canda tidak berubah menjadi pendiam seperti ini. Ia ingin, Canda tetaplah menjadi Candanya yang dulu.
"Maafin aku, Canda. Tetaplah jadi istri aku, tetaplah nyusahin aku." Dalam sekejap, Givan sampai sesenggukan bagai anak kecil yang dibentak oleh orang tuanya.
Tanpa memperdulikan gengsinya, kali ini ia terlihat begitu lemah di mata Canda. Namun, bagaimana Canda padanya?
"Mas tenang aja." Suara datar itu, seolah tidak berperasaan.
Canda mencoba kejam, karena ia khawatir dirinya kembali dipermainkan jika Givan langsung mendapatkan yang dirinya inginkan dari Canda. Yaitu maaf tanpa penjelasan kesalahan yang tepat. Canda belum percaya sepenuhnya pada suaminya. Lagipula, Givan tidak menjelaskan apapun pada Canda. Givan hanya meminta Canda bertahan, dengan permasalahan yang Canda tidak ketahui titik permasalahan terbesarnya.
"Canda, aku tak suka kau yang sekarang. Pukul aku, Canda. Tangisi aku, buat aku kesal. Jangan diam begini, aku tak suka." Givan mencoba membalik tubuh Canda.
Sayangnya, ia hanya bisa mengungkung tubuh istrinya, dengan tubuh yang ia tahan agar tidak memberatkan perut istrinya. Wajah kuning cerah itu berubah menjadi merah padam, dengan mata yang terlihat begitu merah dan berair. Givan berada pada penampilan terburuknya.
__ADS_1
Canda hanya melirik suaminya sekilas. "Untuk apa?" Terkesan menyepelekan. Canda mencoba membatukan hatinya, terhadap laki-laki yang perasaannya tak ia ketahui ini.
Satu hal yang ia percayakan sejak dulu adalah, Ai Diah adalah mantan terindah untuk suaminya. Hatinya semakin terprovokasi oleh logikanya sendiri. Ia mempercayai hal itu, karena Ai begitu mengukir sejarah asmara di hati suaminya. Hanya ini yang Canda percaya dan ketahui.
"Ya Allah, Canda...." Suara Givan menurun pilu.
"Canda, ini suamimu." Givan menempatkan kepalanya di leher istrinya. Ia memeluk tubuh Canda, yang tengah memandang kosong plafon kamar mereka itu.
"Aku tau, Mas surgaku." Pernyataan itu membuat Givan semakin teriris karena dendamnya sendiri.
Seorang Canda menganggapnya sebagai surga, tapi bahkan ia mengeluarkan senjatanya yang hampir ia arahkan pada rahim seorang wanita yang bukan muhrimnya. Givan merasa amat bersalah, karena tak bisa menjaga keimanannya sebagai seorang suami.
"Canda, aku minta maaf." Tangis Givan begitu mengganggu telinga kiri Canda.
Canda menjauhkan kepala suaminya dari ceruk leher bagian kirinya. "Mas membenarkan, kalau Mas merasa bersalah." Canda memilih untuk memunggungi suaminya kembali, sedangkan dirinya menahan sesak dalam benaknya sembari memeluk bantal guling.
"Canda, kau dengarkan cerita aku dulu." Givan merengkuh tubuh istrinya.
Ia kembali mengusahakan, agar istrinya meluruskan punggungnya pada tempat tidur. Atau keberuntungan, membuat istrinya itu memutar untuk menghadap padanya.
"Aku dengarkan dari tadi." Keberuntungan ternyata membawa Canda untuk menghadap pada suaminya.
Secuil sikap yang direspon baik itu, membuat senyum Givan terukir di wajah tampannya. Ia membelai wajah istrinya, lalu mengecup kening istrinya penuh kasih.
"Aku khilaf, Canda. Tapi...."
Mendengar kata khilaf, remuk redam dalam hatinya berbenturan dengan emosi Canda. Canda kembali mengatur napasnya, dengan memejamkan matanya untuk memblokade lajunya air di jalan keluarnya itu.
__ADS_1
"Tapi kau jangan khawatir, Ai tak ngandung anak aku. Malam itu, aku bayar dia untuk laki-laki yang ada di tempat karaoke itu. Aku udah ngeluarin inti aku, tapi Yang Kuasa nyelamatin aku. HP aku dapat telepon masuk dari kau, rumah tangga kita terselamatkan. Aku lebih milih kau tanpa pertimbangan apapun, daripada lanjut untuk menikmati pembelian atas tubuh itu."
Canda membuka matanya, ia mendengar dengan seksama cerita dari suaminya.
"Untuk apa?" Hanya pertanyaan singkat dari mulutnya. Padahal, beribu pertanyaan sudah mengerubungi kepalanya.
"Maksudnya?" Alis Givan terangkat sebelah.
"Untuk apa beli? Mas tak punya istri kah?" Singgungan besar untuk Canda, karena seolah dirinya tak mampu untuk memenuhi hawa minat suaminya.
Satu tangannya, Givan tempatkan di pipi Canda. Ia memberi ketenangan, dengan mengusap pipi yang begitu licin karena dirawat dengan biaya yang tidak murah itu.
"Aku dendam, aku pengen ngerusak dia. Tapi aku tak mau pakai tangan aku sendiri. Mungkin aku kurang memperhitungkan, sampai Ai tiba-tiba nyamperin aku di sini. Karena masa itu, Ai udah hilang sadar karena pengaruh alkohol yang cukup tinggi. Yang Ai tau, aku yang bawa dia ke kamar. Tapi, Demi Allah aku tak melakukannya. Lepas kau telpon, aku cepat-cepat ninggalin ruangan. Kau ingat kan, masa kau kena diare di malam hari? Kau ingat kan, dalam telepon aku bilang kalau aku lagi lari ke tangga darurat?"
Suara ngos-ngosan saat Givan berlari itu, membuat Canda terkoneksi bahwa suaminya bertelepon ria dengannya, saat inti suaminya berpacu dalam kamuflase berlari di tangga darurat. Sedikit demi sedikit terkuat, nyatanya membuat Canda semakin kehilangan kepercayaannya pada suaminya.
Canda tidak mempercayai kebenaran yang suaminya katakan.
"Canda? Kau dengar aku kan? Kenapa diam aja?" Givan mencolek hidung istrinya.
Canda menggeleng, kemudian memfokuskan netranya pada bola mata suaminya. "Aku dengerin kok." Hanya itu responnya.
Givan memilih untuk melanjutkan ceritanya. "Ai pemandu lagu, dia LC di tempat karaoke di hotel kita tinggal waktu di Jepara. Dengan profesinya itu, kau yakin kan kalau dia tak ngandung anak aku? Kau percaya kan, dengan cerita yang barusan aku ceritakan?" Givan menyatukan dahinya, sehingga hidung mereka bergesekan. Napas segar dari keduanya pun menguar jelas.
Canda terdiam, ia segan untuk mempercayainya. Karena nasehat dari mendiang mantan suaminya, malah membuat otak Canda memahami bahwa suaminya sedang mencari kebenaran untuk membuat salah pihak Ai. Suaminya tengah membela dirinya sendiri, karena enggan mendapat predikat subjek kesalahan terbesar yang sebenarnya.
...****************...
__ADS_1