
AUTHOR POV
"Sesuai ketetapan yang berlaku, kami sudah menimbang dengan keadilan penuh. Bahwa Saudari Ai Diah, diberi hukuman cambuk delapan puluh kali....."
Brughhhh.....
Tubuh sintal itu terhuyung ke belakang, dengan hempasan yang cukup kuat.
"Biar kami tolong." Beberapa staf langsung berlari ke arah Ai.
"Silahkan dilanjutkan, Pak."
"Denda emas murni delapan ratus gram dan masa kurung delapan puluh Minggu. Yang akan dilaksanakan, dua bulan setelah Saudari Ai Diah bersalin."
Tok....
Hukuman tersebut resmi ditetapkan sebagai bentuk sanksi, agar Ai jera dan tidak akan berbuat hal serupa. Dengan hukuman yang tidak main-main tersebut, diharapkan Ai benar-benar tobat dan tidak menyebarkan fitnah lagi.
Fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Hal itu mengapa hukuman yang diberikan tidak main-main.
Ketua RT mencolek punggung Givan yang duduk di urutan paling depan tersebut. Givan segera menoleh ke belakang, kemudian menaikan dagunya dengan gerakan ke atas, untuk mengisyaratkan apa ada hal yang perlu ditanyakan.
"Kasus Bang Givan belum diajukan sama keuchik, tapi Saya pun tak tau apa alasannya," ungkapnya dengan berbisik.
"Kenapa memang ya?" Givan sudah cukup siap, dengan bukti-bukti yang sudah ia serahkan juga.
"Selesai sidang, biar Saya antarkan ke ruangan keuchik aja. Biar enak gitu kan, biar jelas bagaimana." Ketua RT pun baru mendapat kabar tentang masalah Givan yang urung untuk diadili hari ini.
"Apa buktinya kurang?" Givan masih mencari titik terang dari kasusnya yang urung naik.
"Van.... Pinjam mobil, Ai pendarahan." Kenandra terburu-buru untuk sampai di hadapan Givan.
__ADS_1
"Waduh." Givan langsung mencari keberadaan kuncinya dalam saku celananya.
"Kalau sampai terjadi hal buruk, ini pun amit-amit deh. Tapi, nanti Abang minta sampel dari bayi itu sebelum keputusan terakhir diambil." Kenandra mengunci keseriusan Givan dalam sorot matanya.
"Aku ikut apa kata kau aja, Bang." Givan menepuk bahu Kenandra, ia percaya Kenandra akan bisa diandalkan untuk hal yang menyangkut medis.
Kenandra mengambil segera kunci mobil yang masih Givan genggam dalam tangannya. Kemudian, ia langsung bergegas pergi. Setelah mendapatkan kunci mobil tersebut.
Ia merasa terpanggil, ketika seseorang membutuhkan penanganan medis tersebut. Apalagi, jika seorang ibu hamil atau lansia yang tidak berdaya.
Pembacanya riwayat bukti dan hal-hal yang bisa dimaafkan di selesaikan di sini. Seseorang yang mengerti akan hukum pun, mengajukan usulannya karena keadaan perut Ai dalam trimester kedua.
"Karena keadaannya bukan dari kalangan berada, Saya rasa untuk denda emas murni bisa dikurangi. Karena pasti hal itu tidak mampu dipenuhi. Alhasil, saudari pasti minta keadilan ulang untuk denda materi tersebut." Bukan membela, tapi mereka mempertimbangkan kembali sekiranya tidak terlalu membebani untuk perihal materi.
"Bisa ditambahkan sanksi cambuknya atau masa kurungnya, tapi dihilangkan denda emasnya." Mereka semua mencoba memberi keadilan yang seadil-adilnya.
"Saya mengusulkan agar saudari bersangkutan, sebaiknya diberi hukuman untuk keluar dari kampung, karena memang ia pun bukan warga sini. Setelah hukuman cambuk, ditambahkan dengan kurungan mandiri, kemudian saudari bisa diminta untuk meninggalkan kampung. Ini cukup adil, ketimbang dengan masa hukum di sini. Khawatirnya ia selesai menjalani, kemudian bertindak ulang seperti demikian lagi. Sebaiknya, kita tahan juga ia untuk menjalani kurungan mandiri. Nanti kita cek secara berkala, apakah benar saudari menjalani kurungan mandiri. Karena menurut Saya, kurungan mandiri pun sama terasingkannya. Apalagi di sini banyak saksi, pasti ada yang menegur jika saudari tidak menjalani hukuman kurung mandiri tersebut. Barulah, setelah dua bulan bersalin, kita tarik kembali untuk menjalani hukum cambuk." Beberapa orang, merasa bahwa hukuman ini yang paling pantas untuk Ai.
"Kami telah mengkaji dan menimbang ulang agar cukup adil untuk saudari Ai Diah. Maka kami putuskan untuk Ai Diah mendapatkan hukuman cambuk seratus dua puluh kali, enam belas Minggu kurungan mandiri, kemudian setelah itu ia patut untuk meninggalkan kampung. Terima kasih atas perhatiannya."
Tok....
Semua keluarga Adi's Bird saling memandang. Hukuman yang tidak main-main, melebihi mucikari yang bersalah di sini.
Kenapa bisa hukuman fitnah untuk Ai lebih berat dari ketentuan tertulis, karena hal itu dikurangi dengan denda materi dan masa kurung yang berlaku. Beberapa orang yang berada dalam bidang hukum pun, sudah menimbang kembali yang sekiranya mampu untuk dijalani oleh Ai.
Satu persatu semua saksi dan beberapa orang berpengaruh di kampung tersebut meninggalkan aula persidangan. Mereka masih berbisik-bisik dan bertanya-tanya tentang persidangan yang tetap berlangsung, sedangkan Ai sendiri tidak sadarkan diri. Padahal, sebelumnya persidangan akan selalu ditunda. Meski dengan alasan, bahwa yang bersangkutan dalam keadaan kurang sehat. Meski tidak sedikit juga, yang akhirnya dijemput paksa oleh petugas persidangan.
Mereka mulai berpikir, bahwa orang-orang dalam persidangan diberi uang pelicin agar bisa mempercepat kasus tersebut. Padahal, mereka yang bertugas hanya merasa tidak enak hati pada keluarga juragan yang sudah memperindah wujud tempat bekerja mereka tersebut. Mereka hanya sungkan, jika harus membuat kecewa juragan mereka karena masalah yang urung selesai.
Meski tidak disadari oleh Adi Riyana, tapi hal itu dimengerti oleh Adinda. Namun, ia pun tidak memiliki pemahaman bagaimana untuk menanyakan hal ini pada pihak bersangkutan. Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk mengunci mulutnya dan memahami sendiri saja.
__ADS_1
"Dek, kenapa orang-orang pada pergi? Kan masalah Givan naik hari ini juga?" Adi kebingungan memperhatikan orang-orang yang meninggalkan aula.
"Iya ya? Apa tak jadi kah? Tapi Givan bilang, kasusnya pun naik hari ini." Adinda pun belum mengetahui informasi, tentang kasus Givan yang masih ditahan oleh kepala desa.
Dua pasang mata orang tua tersebut bergulir mencari putra sulungnya. Sosok Givan yang senantiasa menggenggam tangan istrinya, dengan berbicara serius pada ketua RT yang mereka kenal, menjadi pusat perhatian netra mereka.
"Coba ke sana deh, Bang." Adinda menunjuk lingkaran manusia tersebut.
Adi mengangguk. "Tinggal dulu ya?" Ia mengusap lengan istrinya sebelum berlalu pergi.
"Ada apa ini?" tanyanya langsung setelah berdiri tepat di samping menantunya.
"Kasusnya masih di tangan keuchik. Keuchik ada di ruangannya katanya, Pah. Ayo kita ke sana aja?" Givan menyampaikan informasi tersebut untuk pertama kalinya pada ayah sambungnya.
Adi memperhatikan wajah Givan sejenak. "Loh? Ada apa katanya?" Ia bergulir mencari jawaban pada ketua RT setempat.
Ketua RT setempat mengedikan bahunya. "Saya kurang tau, Teungku. Mari Saya antar aja kalau begitu." Ketua RT mempersilahkan mereka untuk berjalan lebih dulu.
"Sebentar, Saya ajak istri Saya dulu." Adi bergegas untuk memanggilkan istrinya.
Lima kepala tersebut akhirnya berbondong-bondong menuju ke ruangan orang nomor satu di desa mereka. Beberapa staf menanyakan tujuan mereka datang, tapi ketua RT yang menghandle dan memberi alasan klasik yang mudah dimengerti.
Mereka banyak yang tidak mengerti, kenapa kepala desa begitu dilindungi staf dan sulit ditemui. Kadang mereka berpikir jelek, bahwa para staf membutuhkan uang pengantar untuk memberi izin bertemu dengan kepala desa.
Namun, hari ini mereka mengerti. Jika kesibukan dengan tumpukan dokumen, komputer yang menyala dan spidol yang menyentuh white board tersebut terpampang jelas dengan perawakan kepala desa yang mereka kenali.
Orang nomor satu di desa tersebut benar-benar dalam keadaan sibuk, sehingga para staf melarang beberapa orang untuk menemui kepala desa pada jam kantor.
"Wah, silahkan-silahkan." Kepala desa menyadari kedatangan tamu yang paling berjasa untuk kampung tersebut, dengan langsung membukakan pintu kaca ruangannya mempersilahkan tamunya untuk masuk dalam ruangannya.
...****************...
__ADS_1
Pusing kepala nyari-nyari informasi yang sesuai 🥴 maaf ya IS telat update, ngurusin pemahaman hukuman dulu soalnya nih 🙈 Maaf, karena wawasan author kurang luas ✌️🙏😣