Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM196. Tanggung jawab Givan


__ADS_3

"Mas yakin aku kuat tak?" Canda berkaca-kaca memandang wajah suaminya.


"Kuat dong, harus kuat. Kau tau gimana rusaknya dudanya aku, kau mau aku begitu lagi?" Givan membelai-belai wajah istrinya di depan orang tuanya.


Canda menggeleng. "Kasian anak-anak, Mas. Mas jangan gila lagi, anak-anak butuh peran ayah yang baik. Sekalipun Zio bilang, aku tak mau tau gimana ayah di luar sana. Tapi, Mas tak harus rusak mental mereka dengan jadi gila lagi. Kasian, mereka bakal malu kalau ayahnya b*******." Netranya begitu menyiratkan bahwa harapannya besar di sana.


"Aku tak bakal salah haluan lagi kalau kau sampai kapanpun jadi istri aku, Canda. Aku bakal tetap jadi Givan yang selalu berubah untuk jadi yang lebih baik lagi, demi kau, demi anak-anak kita dan demi orang tua aku." Givan menempatkan Canda pada susunan pertama, menyiratkan betapa pentingnya Canda untuk kehidupannya.


"Mas sayang sama aku, Mas?" Canda menyeka air matanya yang mengalir tanpa ia kehendaki.


"Kenapa kau selalu raguin itu, Canda? Apa aku kurang dalam memprioritaskan kau?" Suara Givan yang bergetar.


Adi, Adinda dan Ghava saling memandang. Perasaan Adinda kalah, mendengarkan suara Givan yang menurun bergetar. Ia tahu bagaimana cintanya anaknya pada menantunya. Ada rasa iri, kala ia tahu anaknya begitu mencintai wanita lain selain dirinya. Tapi ia sadar, tugasnya adalah membesarkan anak-anaknya dan membekali anak-anaknya dengan ilmu agama yang luas. Anaknya tidak dilahirkan untuk terus hidup dan menghabiskan seluruh waktu hidupnya untuk dirinya. Ia tidak ingin egois untuk ini.


"Pernikahan pertama, kita menikah karena Mas dituntut tanggung jawab. Pernikahan kedua kita, karena Mas diamanatkan sama bang Daeng. Jadi, kita tak punya alasan menikah karena cinta." Canda memejamkan matanya, begitu berat rasanya saat ia mengatakan hal itu. Rasa miris akan menjadi taruhannya, kala suaminya mengiyakan fakta yang memakan pikirannya.

__ADS_1


"Selama ini kau berpikir demikian, Canda? Apa ajakan rujuk aku dulu tak sungguh-sungguh? Apa aku kurang menuhin tanggung jawab aku dulu, pas pernikahan pertama kita?" Givan tidak menangis, tapi napasnya sesenggukan karena menahan tangis yang tak bisa ia luapkan di depan istrinya.


"Tak sama sekali, bukan karena itu. Sejauh ini, Ai tetap yang terbaik di hati Mas."


Wajah Givan langsung kaku. Dahinya berkerut dengan pandangan yang tidak biasa.


"Ai?" Givan bertanya mengenai satu nama itu. Ia tidak mengerti kenapa istrinya menyeret nama Ai.


Canda memberi anggukan tipis. "Ai Mas datangi setelah kita nikah. Ai jadi patokan se*s favorit Mas, pas Mas cerita ke Papah. Karena Ai pun, Mas kepengen nikah lagi pas masih sama aku." Canda tidak berani menatap mata suaminya.


"Tapi dengan begitu kan, nyatanya Mas masih berharap sama Ai." Canda memeluk tubuhnya sendiri dan menghapus air matanya. Ia menguatkan hatinya, untuk tidak terus menangis seperti ini.


"Dari awal, aku bukan masih cinta atau semacamnya. Tapi aku malu, karena tak jadi nikah sama dia. Dulu, dia ini asisten pribadi aku. Ke mana pun aku pergi, dia ikut dan aku kenalkan dia ke kolega bisnis aku. Aku kenalkan dia sebagai calon istri dan aku nikahi beberapa bulan lagi. Nyatanya tak terlaksana, Canda. Allah lebih ridho aku nikah sama orang baik kek kau, karena Allah tau rupanya sifat asli Ai kek gitu. Masa kolega bisnis aku tau, aku nikahi perempuan yang berbeda, citra aku tentang bisnis pun ikut rusak. Sekalipun alasannya perempuannya yang ingin pernikahan itu gagal, maka mereka pasti berpikir bahwa aku tak bisa urus perempuan aku. Mereka juga pasti berpikir, ngurus perempuan aja tak bisa, apalagi ngurus perusahaan sebesar ini. Makanya aku tak publikasikan kau, karena aku takut dicap jelek sama kolega aku. Bukan karena aku malu nikah sama perempuan sebaik kau, tapi aku malu kalau sampai kolega bisnis aku tau aku nikahi perempuan yang berbeda. Makanya di awal itu, aku malas urus tambang. Karena aku malu ketemu mereka, apa yang harus aku jawab kalau mereka nanya tentang asisten pribadi aku itu. Bukan berarti aku ngajak kau sengsara, aku kerja aku usaha, itu semua kan usaha aku untuk kasih kau penghidupan dan tanggung jawab aku. Kalau aku memang tak mau kasih kau penghidupan dan tanggung jawab, udah tuh pasti aku nganggur aja jadi beban keluarga. Aku kerja jadi buruh cat atau bangunan itu, ya untuk kau, Canda. Gajiku, uang makanku, aku kumpulkan dan kasihkan semua ke kau. Aku paham itu tak seberapa, tapi aku cuma mampu ngasih kau segitu. Sengaja bawa bekal dari rumah, biar uang makan aku itu. Sengaja bawa air dari rumah, biar uang makan aku tak dipakai untuk beli air mineral kemasan botol besar. Malu memang malu, karena Zuhdi yang susah pun tak sampai segitunya. Bawa bekal aja dia udah, dia tak sampai bawa minum. Dia beli air kemasan botol besar di lapangan. Jadi, aku masih kurang bertanggung jawab aja kah, Canda?" Givan memandang wajah istrinya begitu dalam. Rasa cintanya begitu tersirat lewat sorot matanya, sayangnya Canda menepis itu karena itu bukanlah bentuk ucapan.


Adinda dan Adi teringat masa sulit anaknya. Dari tindakan anaknya saja, mereka paham bahwa Givan begitu ingin mewujudkan tanggung jawabnya pada istrinya.

__ADS_1


Mereka tahu, bahwa Givan ingin memberi yang terbaik untuk istrinya. Mereka teringat, akan rengekan anaknya pada orang tuanya, untuk membeli produk yang ia inginkan untuk egonya sendiri. Givan meminta itu dari orang tuanya, sedangkan penghasilannya sendiri ia berikan seluruhnya pada istrinya. Adinda memaklumi hal tersebut, karena ia tahu bagaimana tentang ego anaknya. Jangankan untuk sebuah produk yang diinginkan, kasih sayang darinya pun dituntut, jika anaknya tidak mendapatkan perhatian yang sama seperti saudaranya.


Ia teringat Givan menjabarkan keiriannya, jika ia tidak diperhatikan seperti adik-adiknya. Adinda mengenal jelas bagaimana anaknya.


Satu yang tidak dimengerti oleh dirinya, yakni kenapa Canda seolah menanyakan hal yang memang sudah diketahuinya?


"Mas tak kurang-kurang apapun, untuk kasih tanggung jawabnya ke istri. Tapi aku merasa, aku tak ada di hati Mas."


Givan melemparkan pandangannya pada keluarganya. Sedangkan, mereka pun terlihat saling melempar pandangan mendengar ucapan Canda.


"Canda, hal itu aku yang merasa. Aku utarakan, lewat tanggung jawab dan sikap aku ke kau. Demi kau, aku rela belajar bertutur selembut yang kau inginkan. Demi kau, aku selalu ngalah dari emosiku. Kenapa kau sampai bilang, kalau kau tak ada di hatiku?" Givan membingkai wajah istrinya dengan cepat.


"Karena, Mas tak pernah bilang kalau Mas cinta sama aku." Canda memejamkan matanya, air matanya mengalir kembali tanpa ia kehendaki.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2