
"Udah kau?" Givan memperhatikan adik bungsunya yang baru turun dari motor milik orang tuanya.
"Udah, Bang." Gibran tersenyum manis terlihat seperti menggambarkan kebahagiaan yang ia dapat dari rumah Mariam.
"Dapat nangka tak? Di depan rumah Mariam ada pohon nangka." Givan hanya bergurau, ia memahami raut kebahagiaan adiknya.
"Ah, Abang ini." Gibran duduk di samping kakaknya yang tengah bersantai di teras.
"Dapat cium berarti?" Givan menyudutkan adiknya agar semakin bersemu.
"Tak lah, ngobrol aku sama pak Talebnya. Mariam cuma kasih kopi, pas dia duduk di samping aku, sama bapaknya suruh masuk lah dia." Gibran mulai bercerita tentang apa yang ia alami di sana.
"Oh ya? Terus? Terus?" Givan bertopang dagu dan menyimak cerita adiknya.
__ADS_1
"Aku, mamah sama papah suruh datang di wisuda Mariam nanti. Terus katanya ngajak singgah makan bersama, untuk obrolkan ke depannya gimana. Katanya, semangat kerjanya, ditunggu sampai tahun depan. Jujur ya, Bang. Senang aku ini, mau beristri kan gitu, plong gitu. Tapi sejak tadi nih aku bertanya-tanya, kenapa pak Taleb terus nekankan aku untuk usaha dulu. Bukan aku sombongkan orang tua aku kaya, terus aku bisa numpang makan tidur di rumah orang tua terus. Bukan, bukan kek gitu. Tapi aku juga kan baru lulus tahun ini gitu kan? Aku tak punya pengalaman kerja, aku kesulitan juga untuk mulai usaha. Kenapa tak nikahkan kami dulu, terus beliau rangkul aku untuk mulai usaha. Tapi tak berani aku bilang begitu, aku iya-iya aja." Gibran mulai mengeluarkan bungkus rokoknya.
"Kau tau tak sih cerita papah yang minta mahar Giska sampai lima puluh mayam kah kalau tak salah. Uang kotor, ini itu, isi kamar. Zuhdi dituntut loh itu." Sepenggal cerita dari Givan, membuat Gibran menoleh ke arah kakaknya.
Matanya melebar tidak percaya. "Yang betul, Bang?"
"Betul, pada akhirnya Zuhdi tak mampu. Dia mundur, Giska terjun ke dunia jual beli chip." Cerita Givan semakin membuat Gibran penasaran.
"Loh? Tapi kan mereka menikah kan? Kak Giska bahkan punya anak tiga sama bang Zuhdi sekarang." Gibran terlihat heran mendengar cerita tersebut.
"Terus nikah tuh?" Gibran menyatukan telapak tangannya.
Givan melirik adiknya. "Tak lah, kan sekarat di rumah sakit. Zuhdi merantau tuh, dia usahakan nilai yang ditentukan. Tapi, tetap tak mampu. Sampai akhirnya, Zuhdi ini datang lagi dengan nilai yang seperempat dengan nilai yang ditentukan papah. Papah terima, dengan penjelasan bahwa papah cuma mau lihat kesungguhan Giska. Karena dengan dia berusaha mencari nilai yang ditentukan, Zuhdi mati-matian kan untuk kerja? Kalau Zuhdi nampak leha-leha aja, papah pasti mikir tuh gimana nanti kalau Giska diambil alih Zuhdi? Gimana nanti usaha Zuhdi dalam memberi makan anaknya dan cucu-cucunya kelak. Kau tak usah marah, pak Taleb minta kau kerja dulu. Belum nanti pak Taleb minta nilai mahar yang tak nalar, kau mau maki-maki dia apa? Sedangkan, ayah kandung kau sendiri pun ninggiin mahar anak perempuannya. Icut juga sama, tapi si pak guru itu kan orang punya, mampu lah dia diminta nilai yang ditentukan. Beda Zuhdi, dia ngotot-ngotot, cuma kuli bangunan, sampai merantau, sampai lembur demi Giska. Ya terbukti sekarang kan? Abang ipar kau sukses meski dulunya cuma kuli bangunan. Mampu ngasih makan Giska, hunian udah sampai dua, emas nempel terus, baju tak pernah ketinggalan model." Givan mengambil contoh orang tuanya sendiri, agar Gibran tidak kesal pada calon mertuanya.
__ADS_1
"Abang juga sama kah?" Gibran menunjuk kakaknya dengan dagunya.
"Nikah pertama, ya nilai maharnya ditentukan pihak perempuan. Nikah rujuk pun, nilai maharnya ditentukan kakak ipar kau. Sebenarnya, mahar ini yang sekiranya tak merendahkan perempuan, tapi tidak memberatkan pihak laki-laki. Kalau Abang dulu rujuk, bukan keberatan, tapi masa itu Abang tak punya ladang, adanya ladang bagian dari papah. Jadi ya, diluruskan dulu kan? Karena khawatirnya, tak sah karena pemberian orang tua." Givan meregangkan otot lehernya, kemudian menarik punggungnya ke belakang.
Di usianya, ia selalu merasa lelah jika duduk terlalu lama.
"Aku jadi kepikiran." Gibran meraup wajahnya sendiri.
"Jangan dipikirkan, ayo mulai usaha. Abang ada kawan, dia pemasok cat tembok di toko material Abang. Dia orang dari daerah atas, orang Takengon. Dia ini, punya toko besar di sananya. Entah usahanya lainnya apa, tapi Abang taunya dia tak cuma satu toko catnya. Abang kan di material, ada cat kiloan yang harganya mulai dari delapan ribu, sampai enam puluh ribu untuk ukuran sekilo. Itu tergantung jenis cat, ada interior dan eksterior. Pastinya, ada harga dan ada kualitas pula. Harga delapan ribu, tentu tak sama dengan kualitas cat tembok dengan harga dua puluh lima ribu, apalagi di harga enam puluh ribuan. Ya Abang pun ada stok cat tembok yang kalengan, tapi tak ambil dari dia, soalnya dia mainnya kiloan dan dibungkus plastik gitu. Abang ada pikiran, untuk kau buka usaha cat kiloan dengan ambil di teman Abang itu. Nanti satu space untuk cat, Abang kasih ke kau. Ruangan ukuran tiga kali tiga meter, cukup kan untuk awal kau buka usaha itu? Kalau kau tak berani terjun untuk jadi penjual, kau bisa titipkan di orang Abang yang kerja di toko Abang. Space jualan kau pun, ya di toko material Abang. Nanti setiap pembukuan, Abang ambil satu juta dua ratus untuk bayar orang yang jaga toko kau. Abang pun nantinya tak ambil cat kiloan lagi, biar kau aja yang jual itu. Kalau ada yang nanya kan, Abang tinggal tunjukan space kau. Nanti Abang kasih space di tempat room paku tuh, biar tempat pakunya yang pindah nanti. Kan itu paling depan, paling dekat jalan dan pasti terlihat orang. Kalau toko material Abang kan, orang-orang udah pada tau, gerbang buka aja mereka paham kalau Abang jualan."
Gibran manggut-manggut mengerti. Ia sedikit tertarik, tapi ada yang membuatnya ragu karena kakaknya akan memotong dana sebesar satu juta dua ratus untuk seseorang yang berjaga di tokonya.
"Bang, bukan aku pelit kah perhitungan. Memangnya, omsetnya berapa? Senang aku ini, karena buka toko tapi tak bayar untuk bangunannya. Tapi, apa aku punya penghasilan juga kalau dipotong satu juta dua ratus itu?" tanyanya perlahan agar kakaknya mampu menerima dengan jelas.
__ADS_1
"Eummmm.... Namanya jualan, ya omset tak tentu. Tapi kau harus tau, cat yang Abang jual delapan ribu itu, Abang beli mulai dari harga dua ribu lima ratus sampai paling mahalnya empat ribu. Abang ratakan harganya, jadi delapan ribu semua, semua warna. Karena kek macam warna terakota, warna fuchsia, warna baru-baru begitu, ya harganya kisaran tiga ribu lima ratus sampai empat ribuan. Lebih mahal, dari warna umum kek putih atau hijau. Malahan, warna putih itu harganya kurang dari dua ribu lima ratus perkilogram. Free pengiriman, teman Abang itu kirim sendiri pakai mobil pick up dengan pesanan lebih dari satu juta. Abang saranin kau ini, karena kau paham cat, paham warna dan pastinya kau ahli di bidang ini gitu. Untuk awal aja, menurut Abang sih ini aja. Karena terus terang aja, Bran. Peluangnya besar, karena keluar masuknya ini cepat di cat ini. Sekali beli, orang tak mungkin satu kilo. Memang dibilang receh, tapi receh kalau satu galon aja itu kan ada nilainya. Kau paham kan maksud Abang?" Berakhir Givan menepuk pundak adiknya.
...****************...