Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM158. Rasional dan logika


__ADS_3

"Apa sih, Dek? Harus aja Abang ditegur tuh." Givan mendatangi kamar adik iparnya yang berada di ruko ibu mertuanya.


Pintu kamar senagaja di buka lebar, untuk menghindari kesalahpahaman. Zio sengaja dibawa berkunjung ke rumah ibu mertuanya, sebagai alasan Givan datang berkunjung karena Zio ingin bermain dengan nenek dari ibu tirinya. Ia tidak sepenuhnya berbohong, karena Zio memang meminta berkunjung ke bu Ummu yang sejak kecil mengurusnya itu.


"Ditegur siapa, Bang." Ria langsung duduk di tengah ranjang, menghiraukan layar ponselnya yang masih menyala.


"Ditegur mamah." Givan menarik kursi kecil dengan bantalan empuk.

__ADS_1


"Ck...." Ria tahu tentang masalah apa itu.


"Masih perawan?" Pertanyaan yang sama, sering dilayangkan Givan berulang kali sejak gadis itu mengenal laki-laki.


"Masih, Bang. Tenang aja, aku tak sebodoh itu. Harus aja Abang nanya begitu, kek tak percaya sama aku." Ria langsung mengerucutkan bibirnya.


"Abang nanya karena kau perempuan dan kau berharga meski tak sekolah dengan umum juga, Ria! Jadilah terhormat kek kakak kau, jadilah bernilai dan berharga kek kakak kau. Apalagi Abang tau, kau bisa lebih pandai dan lebih segala-galanya dari istri Abang di rumah. Kau terlalu sempurna, kau terlalu mahal untuk banting harga. Kau masih ingat kan, kek mana susahnya ibu kau hidupi kau di Saudi dulu? Perjuangan kau dari Saudi pindah ke Brasil, sampai ke Aceh ini, kau masih ingat jelas kan? Kau tau jelas kan, tentang tumpukan uang yang Abang bayarkan, untuk ngejar ijazah kau dari SD sampai perguruan tinggi dengan kilat? Kau tak pikun kan, kalau seluruh gaji kau itu habis untuk perawatan kecantikan kau? Bopeng-bopeng kau hilang, kemerahan dan bekas jerawat kau hilang, dengan pundi-pundi yang kau hasilkan dari jerih payah kau sendiri. Ingat uang jajan dari kakak kau, yang tak pernah terhitung jumlahnya karena begitu seringnya dia kasih dan kau minta. Jangan semurah itu jadi perempuan, sampai lupa pakai celana ke setiap laki-laki yang kau suka. Jangankan pacaran se*s pranikah, se*s setelah menikah aja itu kadang membosankan. Kau bayangkan aja, misal kau pacaran dua tahun, pas nikah kau udah tinggal bosannya aja. Jangan aneh-aneh lah hidup jadi perempuan, selaput dara itu patokan dari perempuan baik-baik. Sekalipun kau jual selaput dara kau seharga mobil, lebih mulia dengan ditukar dengan mahar senilai satu perak. Abang tak akan bosan-bosannya nasehati kau begini-begini, biar kau melek dari butanya sentuhan Keith. Abang paham itu enak, Abang tau itu nikmat, tapi terbuai sebelum pernikahan itu cuma merugikan pihak perempuannya aja, Ria. Pakai logika kau, jangan pakai perasaan. Cinta! Cinta! Cinta! Pernikahan aja tuh, tak bisa dijadikan jaminan tentang perasaan cinta. Apalagi, cuma kata I love you. Pembodohan itu, Ria! Kau tak pernah paham logikanya laki-laki bermain. Kau pun jangan terlena dengan barang-barang yang laki-laki kasih, karena pasti ada timbal balik di dalamnya. Makan siang aja, itu tak gratis, Ria! Kecuali hari Jum'at, sebelum sholat Jum'at di masjid. Kau mampu, ya kau beli. Kau tak mampu, ya kau minta ke Abang atau ke kakak kau. Bodoh-bodoh begitu, dasteran begitu, kakak kau rekeningnya penuh. Jangan pernah minta barang ke laki-laki, kalau kau mampu beli sendiri." Givan menekan suaranya, agar tidak menarik perhatian ibu mertuanya yang tengah mengobrol bersama Zio di ruang keluarga yang persis di depan pintu kamar Ria.

__ADS_1


"Biar laki-laki itu datang ke Abang, minta kau dengan baik-baik, dengan kesanggupannya dan dengan bukti nyata. Abang juga tak akan langsung setujui siapapun yang datang untuk minta kau, Abang bakal perhatian kesehariannya, kecakapannya dan juga keberhasilannya dalam usahanya. Ibu kau dapat menantu Abang aja, beliau udah sambat tiap hari. Apalagi, kalau dapat menantu asal-asalan aja. Yang ada, nanti jadi beban ibu kau nanti. Ditambah lagi kau hamil, suami pilihan kau tak bertanggung jawab, siapa coba yang repot kalau bukan ibu kau? Kau udah nikah, ya Abang lepas tangan. Abang pun cuma ipar, tak bisa jadi wali kau. Jadi tak bisa Abang terlampau ikut campur urusan rumah tangga kau, karena Abang tak punya hak perwalian kau. Yang punya hak, ya ayah kandung kau, kakek kau dari ayah kandung kau, paman kau dari ayah kandung kau, sama kakak kandung dari ayah kandung kau. Kan ibu kau terikat pernikahan siri dengan almarhum ayah kandung kau, kau pun hadir di dalam pernikahan. Jadi, ya kau tetap ikut nashab ayah kandung kau, meski tidak kuat kedudukannya secara hukum." Sorot keseriusan Givan tidak bisa ditawar.


Ria kini memikirkan nasibnya. Siapa dan kapan, laki-laki yang akan datang pada kakak iparnya dan memintanya dengan baik-baik? Sedangkan yang pernah datang saja, langsung ditolak karena alasan jika laki-laki tersebut sudah memiliki anak dan Ria masih seperti anak-anak.


"Abang ngertiin perasaan aku tak sih? Aku udah pengen punya pasangan, Bang." Ria menutupi wajahnya, ia selalu cengeng saat merasakan ketidakberuntungannya dalam hal asmara yang selalu dihalangi kakak iparnya.


"Abang tak pernah ajarkan tentang perasaan, Ria. Kita hidup rasional aja, Abang bawa kau berpikir dengan logika. Secinta-cintanya kalian untuk menikah dan membangun rumah tangga, kau yakin mampu tetap hidup hanya dengan cinta? Resiko terbesar dari pernikahan itu anak, kau yakin resiko hidup kau tak nambah dengan kehadiran anak kau? Setelah punya anak, pernikahan kau itu masih berlanjut. Kemungkinan besarnya hamil lagi itu ada, kehamilan berulang kali itu banyak buktinya. Apalagi, kau keturunan subur kek kakak kau. Yakin kau dan suami kau tetap mampu hidup dengan banyak anak kalian itu hanya dengan cinta? Uang, dibelanjakan kebutuhan dapur itu terbukti habis dan selalu kurang karena dimakan. Kalau setiap hari uang tak bersumber, apa kau makan hanya di hari kau punya uang aja? Uang memang bukan segalanya, tapi nyatanya untuk memenuhi perut kau aja, kau perlu uang untuk beli makanan pokok. Kau tak bisa pungkiri, bahwa memang hidup itu butuh uang. Belum ego kau, keinginan kau, listrik yang perlu nyala dan beroperasi tiap harinya, kendaraan kau yang perlu bahan bakar, perabotan rumah yang rusak tiap tahunnya, barang pecah belah yang mau tak mau kau beli tiap ada yang harus kau buang. Belum lagi anak sekolah, uang saku anak setiap harinya, sarapan anak setiap paginya. Kebutuhan seragam dan sepatu anak, belum buku-buku mereka yang berganti tiap semesternya. Itu kehidupan, Ria. Yang sebagian besarnya menggunakan rasional dan logika. Semua itu juga, tak bisa dipenuhi dengan cinta. Abang paham, bahwa cinta, kasih sayang dan perhatian itu penting. Belum lagi ilmu agama, pembentukan akhlak dan moral, itu berasal dari rumah, Ria. Kau bayangkan aja, kau stress karena tak punya biaya, ditambah harus didik anak-anak kau dengan ilmu yang bermanfaat. Jadi orang tua itu tak mudah, Ria. Kau selalu dituntut menjadi yang terbaik dan panutan untuk mereka, kau dituntut untuk selalu mampu untuk membiayai mereka. Jadi, kau pikirkan lagi kalau kau harus mengutamakan tentang cinta dan perasaan aja. Karena masa berumah tangga nanti, resikonya bukan tentang cinta dan kasih sayang aja, ada resiko hidup yang harus dipenuhi, biar kau tetap bernapas sampai napas kau ditarik kembali sama Yang Kuasa."

__ADS_1


Dalam tetesan air mata Ria, ia seperti dibawa untuk merasakan sekilas tentang kehidupan setelah ia tidak lajang lagi.


...****************...


__ADS_2