Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM38. Rencana awal


__ADS_3

"Abang tanya-tanya suami kau tentang cerita aslinya. Dari dulu nih, dia cerita aja meski dia dalam posisi salah. Dia pengen didengarkan lah, bukan diberi masukan. Kek waktu kejadian dia nikahin kau, dia cuma cerita aja tanpa mau dinasehati. Menurut Givan ini, Ai kena gangguan jiwa keknya. Kau jangan panas hati di sini, tapi Givan bilang kek gini. Givan mau anter Ai ke rumah sakit, tak taunya kau datang. Jadi Gavin antar kau, dengan Givan lanjut bawa Ai. Di pikiran Givan, dia khawatir Ai ketuk-ketuk kaca jendela mobil pas Givan melangkah ke arah kau. Makanya dia ambil opsi tetap tinggal dan antar Ai. Tapi, Ai ini malah ngucapin terima kasih karena Givan lebih ngutamain Ai. Padahal, niat dalam hatinya Givan biar kau tak kaget karena ada Ai di dalam mobil dan ngetuk-ngetuk kaca mobil. Udah gitu, ada lagi tuh Givan cerita tentang tes DNA. Bulan depan nih Givan ngasih perintah ke Abang, suruh bawa Ai untuk tes DNA yang hasilnya bisa keluar cepat. Si DNA janin itu, mau dites kecocokannya sama Givan. Rencana Givan, dia mau ngasih bukti nyata bahwa ucapannya itu betul. Ucapannya yang tak nyentuh Ai dan anak Ai itu dijamin buka anaknya. Tapi keyakinan Ai beda lagi tuh, Dek. Ai berpikir, bahwa Givan ini meragukan akan janin itu. Jadi asumsi Ai, Givan tes karena mau mastiin itu anaknya Givan, cuma Givan gak yakin karena profesi Ai. Padahal kan, Givan mau tes karena mau mastiin bahwa janin itu bukan anaknya. Pas Givan bilang bahwa Ai ini kemungkinan digilir lima orang laki-laki, karena pas dia ninggalin Ai itu ada lima laki-laki di situ. Si Ai lebih percaya bahwa Givan memperlakukannya dengan kasar, karena kebiasaan Givan itu selalu kasar kalau berhubungan badan. Makanya, Ai ngerasa sakit di intinya itu. Dia benar-benar tak percaya, meski Givan udah jelaskan bahwa dia dilepas dengan lima laki-laki. Tetap keyakinan Ai bahwa Givan main kasar ke dia. Givan tak mau ngakuin, karena menyangkut reputasinya sendiri. Ai juga tau soalnya tentang Givan yang sombong dan gengsian ini."


Canda merasa amat bodoh, karena ia tidak tahu apa-apa. Bahkan, ia tidak tahu suaminya sudah banyak aktivitas dan rencana untuk Ai.


Ke mana dirinya, saat suaminya dilanda dengan beratnya masalah? Canda mulai ragu dengan keyakinan hatinya sendiri. Ia mulai merasa, bahwa suaminya terjebak oleh Ai.


Meski ia tahu Kenandra adalah pihak yang pro. Namun, juga ia tidak langsung percaya begitu saja. Karena kemungkinan Kenandra membela Givan itu besar, karena Kenandra sejak kecil sudah diasuh bersama-sama dengan Givan.


Canda lebih memilih mendengarkan dan menyimpan informasi itu di ingatannya. Ia mengunci bocoran informasi itu, untuk dijadikan ladang kebenaran yang akan ia kuak sendiri.

__ADS_1


"Karena aku nganggur juga, sekaligus mau urus pemindahan Bunga. Aku rencana mau balik ke Jawa, sekalian mau bantu mamah untuk aku pergi ke Jepara. Aku disuruh minta CCTV hotel, mau dicocokkan sama pengakuan Givan. Aku juga mau cari informasi tentang Ai, karena mamah dan papah berpikir ini Ai hamil anak pacarnya sendiri, terus ngakunya sama Givan. Kalau rejeki ya, insha Allah bawa balik lima laki-laki itu. Atau, minta kesediaan mereka untuk tes DNA aja. Karena ini akad jual beli, harusnya sih tak ada nilai tanggung jawab di sini. Hanya saja, Givan melakukan tindak kriminal di sini. Akad jual beli itu hanya untuk dia, tapi nyatanya Givan menghidangkan untuk lima laki-laki tersebut. Biar tak buka kasus, Givan ini lebih sepakat untuk biayai anak Ai aja. Givan tak mau dipenjara, karena dia punya banyak anak dan usaha. Dia mikirin gimana kau yang lagi ngandung terus LDR jeruji besi, dia udah mikirin masa kau dicaesar kembali, mikirin kelangsungan perusahaannya tanpa pimpinan, mikirin anak-anaknya juga yang pasti aja nyariin dia. Pikirnya, daripada dia kehilangan waktu bersama dan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga. Dia lebih milih kehilangan uang, dengan biayai anak Ai sampai bisa cari uang sendiri itu." Kenandra aktif bercerita, tidak hanya Canda saja yang menyimak.


"Mumpung Abang nganggur kan kasarnya, bolehlah ke Jepara bantu kalian. Karena waktu Abang terbagi urus sidang hak asuh Bunga, jadi Abang butuh kawan. Mamah sih bilangnya Gavin aja, karena dia free kan. Tapi Gavin tak mau, karena dia punya masalah besar sendiri di sini. Dia tak mau anak istrinya terkatung-katung di sini. Sedangkan kan, niat awalnya untuk kenalin dan minta restu ke orang tua, untuk pengesahan nikah resmi. Terus dia mau balik lagi ke Brasil, kalau orang tuanya tak minta dia bertahan untuk urus usaha di sini." Mendengar penuturan Kenandra, Canda langsung memandang Gavin yang tengah mengayun-ayunkan tubuh putra sambungnya itu.


"Maaf ya, Kak? Bukannya tak mau bantu. Cuma kami pun bingung dan tak tau apa-apa. Mau mulai bantu dari mana pun, pasti repot juga karena minta arahan." Ajeng menangkupkan kedua telapak tangannya.


Canda tersenyum samar. Ia menurunkan tangan Ajeng yang bertahan di depan wajahnya tersebut. "Tak apa, aku tau kok rasanya. Aku pernah juga nikah kaburan begitu, tapi bedanya aku resmi. Pas balik-balik kan orang taunya aku janda, eht tak taunya lagi hamil muda anak suami aku. Masalah lagi di situ, ribut lagi. Novel Canda Pagi Dinanti paling menguras air mata emosi pokoknya, kau cek aja." Canda paham sendiri kerumitan Ajeng dan Gavin.


"Gitu, Canda. Kata Givan, katanya tarik Ria aja. Menurut Givan, Ria bisa diandalkan. Sementara bantu urus mebel yang di Jepara juga, karena Givan belum bisa terjun langsung untuk pengecekan pertama kalinya. Givan tetap mau di sini, dia mau nungguin kau yang lagi hamil ini, dia tak mau pergi-pergi." Canda cukup tersentuh, ketika Kenandra menarik nama suaminya yang terlihat begitu berat padanya tersebut.

__ADS_1


Tetapi, ia tahu sendiri bahwa yang tengah hamil itu bukan hanya dirinya. Givan sepertinya lebih khawatir pada Ai yang jelas sebatang kara, apalagi Givan kini sudah berani menemui Ai di belakangnya. Kembali, Canda lebih yakin dengan asumsinya sendiri seperti Ai. Semoga saja, Canda tidak salah menyimpulkan kebenaran yang ada.


"Kau memang mau, Ria?" tanya Canda pada adiknya.


"Mau tak mau, Mbak. Sebenarnya pengen sama Mbak, tapi risih kena ibu. Bukannya tega atau tak sayang sama orang tua sendiri, tapi pusingin karena ngajakin pulang ke Jawa aja. Jujur, Mbak. Aku udah tak mau jualan seblak atau pop es lagi, udah capek tuh bolak-balik ke pasarnya." Ria sudah membayangkan dirinya miskin kembali dan selalu merengek meminta paket COD-nya dibayarkan kakaknya.


Gelak tawa lepas terdengar. Suasana mulai santai, dengan titik terang akan rencana yang segera dilancarkan.


"Jadi mau kan gitu? Nanti kita ambil satu kamar aja di Jepara, biar romantis kan gitu?" Kenandra menunjukkan dua jarinya dan tersenyum genit.

__ADS_1


Ria khawatir akan selaput dara miliknya.


...****************...


__ADS_2