
"Aduh.... Giliran Adek Canda ini ya?" Givan mendekati istrinya yang tengah menyusui anaknya.
Ia mengecup pipi istrinya, kemudian ia berganti mencium anaknya yang tengah menikmati ASI. "Malam ini, Cala minumnya ASIP full. Yayah pinjam Biyung dulu." Givan mengusap-usap kepala anaknya yang sudah botak.
Cala bersuara, ia tidak mau kegiatannya menikmati ASI diganggu oleh ayahnya. Ia belum merasa kenyang dan ia belum menikmati dengan puas.
"Bentar coba, Mas." Canda mencoba mengusir tangan suaminya yang hinggap di PD kanannya.
"ASIin kan lagi yang kiri, Canda. Jangan rewel dong." Givan malah menarik baju istrinya ke atas.
"Aku kasiin Cala dulu, Mas." Canda menahan bahunya.
"Sok ASIin aja dulu, biar aku yang pindahkan dia nanti." Givan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur mereka.
Uapannya langsung terbuka lebar. Givan mencoba menjaga kesadisannya dari rasa nyaman, ia tidak mau tiba-tiba terlelap dan mengecewakan istrinya.
"Mas, udah selesai semua kah urusannya? Jadi betul kah kita mau tamat?" Canda memijat kepala suaminya.
"Iya, Canda. Ria udah beradaptasi di sana, udah ada laki-laki baru juga. Namanya Dika, aku udah pernah ketemu. Tapi entah kenapa, aku lebih sreg sama teman laki-lakinya. Namanya Alfonso, dia lebih muda dari Ria dan selera humornya bagus. Sayangnya, kalau sama dia kan terpentok agama dan komunikasi pun sulit." Givan mengulurkan tangannya untuk mengusap-usap tubuh anaknya.
"Oh, iya. Yang waktu video call, terus dia bilang kalau aku ini beautiful itu kan?" Canda teringat dengan laki-laki yang dimaksud.
"Iya, itu. Yang gigi depannya patah setengah." Givan pun teringat jika laki-laki tersebut memiliki tahi lalat di pipi sebelah kanannya.
"Terus, adik-adik Mas gimana? Ria udah aman kan menurut kita soalnya?" Canda kini mengukir wajah suaminya dengan jarinya.
"Alhamdulillah, udah diarahkan. Aku ngerasa Ghavi ini, Canda. Meski dia bercanda, tapi keknya dia butuh pertolongan. Sorot matanya itu, kek tolongin aku juga, bang. Gitu tuh, Canda." Givan hanya berfirasat.
"Jadi, ketemu Ghavi kapan?" Canda mengusap-usap bibir suaminya.
__ADS_1
Ia tidak merasa dirinya cantik, tapi ia begitu tidak percaya bisa memiliki Givan yang rupawan dan indah menurutnya.
"Kau marah tak sih, aku repot terus sama adik-adik aku?" Sedikit kekhawatiran Givan, bahwa doa istrinya berbeda untuknya.
"Tak, aku ingat gimana mereka semua tolong ekonomi Mas waktu kita belum di posisi ini." Berakhir Canda menarik hidung suaminya.
Givan langsung mendelik. Ia tersenyum samar dan mencekal tangan istrinya. "Hidung kau nih!" Givan langsung membalas untuk menarik hidung istrinya.
Canda terkekeh geli, kemudian menepis tangan suaminya yang memencet hidungnya.
"Makasih ya udah mau ngerti? Aku sebenarnya tau, kalau Ghifar turun tangan untuk Ghavi. Tapi, entah kenapa aku tuh kurang percaya kalau Ghifar bisa bawa maju Ghavi. Karena dia aja kan, harus aku songkong. Buat aku sombong, Canda. Tapi anaknya papah Adi tuh, lebih kuat di bidang lapangan aja. Tapi Givan ada unggulnya tuh, taktik dia bisa cepat kek aku juga. Ya aku pun, memang banyak belajar dari Lendra juga. Tapi, ya setidaknya kan aku masih mau belajar untuk diri aku sendiri dan orang-orang di sekitar aku." Givan melanjutkan obrolannya.
"Iya, Mas. Tapi Mas juga bagi waktunya untuk keluarga kecil Mas ya? Ingat aku, bayi-bayi kita, anak-anak kita." Canda mengusap dada suaminya.
"Pasti lah, Canda. Salah satu aku usahakan adik-adik aku, aku tuntun semua. Ya biar mereka suatu saat ingat ke anak-anak kita, masanya kita udah tiada. Mereka bisa arahkan anak-anak kita, kalau mereka lagi tergelincir." Givan yakin saudara-saudaranya tak akan tinggal diam masa anak-anaknya dalam kesusahan.
"Sini, biar aku kasih ke pengasuh dulu." Givan bangkit dan mengambil alih anaknya.
"Aku aja, barangkali Cali mau ASI, Mas." Canda menahan anaknya untuk tetap bersamanya.
"Aku udah tengok Cali, dia udah tidur masanya aku mau masuk tadi. Kau jangan alasan aja, pagi tadi kau ngode di depan keluarga, sekarang ngehindar terus." Givan memasang wajah yang menakutkan istrinya.
"Iya, Mas. Iya!" Canda pasrah ketika suaminya memaksa untuk mengantar anaknya.
"Cuci-cuci dulu gih," pesan Givan, sebelum ia menutup pintu kamar mereka.
Ia menitipkan anaknya pada pengasuh yang tidur bersama dengan bayi-bayinya. Salah satu kamar tamu, ia sulap menjadi kamar bayi. Terdapat dua ranjang bayi yang berada di tengah-tengah kamar tersebut. Lalu, masing-masing single bed berada di sisi kanan dan kiri tembok tersebut. Lalu semua meja persiapan bayi, di dekat jendela. Tidak luput dengan meja siku, yang digunakan untuk menempatkan sufor, termos air panas dan juga perlengkapan lainnya. Ditambahkan lagi lemari pendingin yang digunakan untuk menyimpan ASIP untuk kedua bayi tersebut.
"ASIP sama diselingi susu formula dulu aja ya? Soalnya Canda udah tidur, tadi abis kondangan ke Lhokseumawe, dia kecapean keknya." Givan beralasan pada dua pengasuh tersebut.
__ADS_1
"Iya, Bang." Tanda mengerti yang dipahami oleh para pengasuh tersebut.
Givan melipir mengecek keadaan pintu rumah dan jendela yang biasa ia buka, kemudian ia baru kembali ke kamar setelah memastikan semuanya sudah aman.
Senyumnya seketika begitu lebar, ketika melihat istrinya yang menggunakan gaun malam yang begitu menarik di matanya. Ia langsung mengunci pintu kamar mereka, kemudian bergegas ke kamar mandi untuk buang air kecil lebih dulu.
Serangan cepat ia berikan, tanpa merusak gaun malam tersebut. Kegiatan mereka diindahkan, dengan Canda yang melakukan timbal balik dan patuh pada keinginan suaminya.
Pagi mereka disambut dengan tamu yang wajahnya murung. Givan tidak percaya, jika Ghavi akan benar-benar datang ke rumahnya. Bertambah tidak percayanya, karena Ghavi datang sepagi ini.
"Kau tau kalau aku semalam pulang ke rumah mamah?" Ghavi terlihat begitu lesu, ia bahkan langsung merebahkan tubuhnya di sofa panjang milik kakaknya.
"Kenapa memang? Semalam Gibran tak cerita ada kau di mamah." Givan merasa perutnya perlu diganjal dengan selembar roti tawar.
"Bentar, Vi." Givan bergegas pergi ke dapur, kemudian kembali dengan satu tumpuk roti tawar dan susu kental manis kemasan tube.
Ia menjadikan roti dengan topping susu tersebut, untuk menjadi ganjalan perutnya.
"Makan ini dulu, kakak ipar kau masih ngolah bumbu." Givan sengaja request masakan, agar istrinya turun ke dapur.
"Sesak perut aku, Bang. Dari sore aku belum makan sebenarnya." Ghavi terlihat tidak peduli dengan bawaan kakaknya tersebut.
"Kesal boleh kesal, lupa makan ya jangan. Abang beberapa kali ceroboh, lupa makan. Berbuntut panjang sampai harus diambil tindakan. Masalah boleh ada, lupa makan jangan. Kasian anak-anak kau, kalau sampai mereka jadi yatim," ucap Givan begitu menindas ke dasar hati Ghavi.
"Enam anak kau, mau dibagi-bagi ke mana coba? Aku tak mau urus lah, kalau kau tak ada usaha tinggalan. Ghifar pasti keberatan, Ra aja dia nimbang-nimbang dulu. Ghava apalagi, Asya aja dibiarkan mainan sendiri. Winda repot kena Adib aja. Papah mamah? Kasian, udah tua. Tika kan nikah lagi, anak-anak kau terlantar." Givan senagaja menakut-nakuti.
Ghavi langsung menoleh memandang kakaknya.
...****************...
__ADS_1