
"Itu bisa diputuskan nanti, Dek Ai." Kepala desa pun melirik ke arah Givan yang menjadi sandaran ternyaman untuk istrinya. "Bang Givan pun siap-siap ya? Karena setelah masalah fitnah ini selesai, lanjut persoalan bang Givan."
Ai berhenti mengusap air matanya. Givan bersiap? Ia bertanya-tanya dalam diam.
"Ini...." Adi menunjuk putra tirinya. "Langsung naik hukum negara, atau syariat dulu, Keuchik?" tanyanya dengan bergantian menatap Givan dan kepala desa tersebut.
"Bang Givan mintanya sih, naik hukum aja langsung. Kalaupun bisa, Saya pasti jembatani itu. Tapi, provinsi kita kan istimewa, Teungku. Kami, diberi kewenangan untuk mengatur hukum syariat sendiri di sini. Jadi hanya kasus-kasus yang lebih dari syariat aja, yang langsung bisa tembus ke jalur hukum. Kalau syariat masih mampu, kita proses sesuai syariat."
Givan langsung membayangkan dirinya tersungkur karena kagetnya rotan mendarat di punggungnya. Ia teringat akan ayah angkatnya, Jefri. Yang terkena hukum cambuk, hingga bekas hukuman tersebut masih begitu jelas di punggungnya.
Satu hal yang pasti, pelaksanaan hukuman akan lebih menimbulkan efek rasa malu. Maklum, eksekusi cambuk disaksikan banyak orang karena biasanya dilaksanakan usai shalat Jum'at di halaman masjid. Petugas sudah membuat panggung sebelum waktu eksekusi, sehingga banyak orang tahu. Malah, untuk membuat daya tarik masyarakat untuk menonton, panggung biasanya dirias sedemikian rupa. Di atas alas berukuran 3 x 3 meter yang diletakkan di panggung itulah terpidana menjalani hukuman cambuk.
Membayangkan malunya menjadi tontonan, membuat Givan benar-benar lebih ingin dipenjara saja. Namun, ia melirik wanitanya yang tengah hibernasi tersebut.
Hukuman syariat, bisa langsung selesai setelah ia menikmati malu dan bekas sabetan rotan tersebut. Yang artinya, ia bisa langsung berkumpul kembali bersama istrinya. Tetapi, psikisnya pasti terganggu karena hukuman tersebut. Ia khawatir, malah dirinya enggan untuk berbaur dengan para warga karena menanggung malu yang masih terbayang di matanya.
"Tapi bisa kan misal langsung bayar denda aja, Keuchik?" Adinda pun tidak pernah ingin keluarganya dihukum sesuai syariat provinsi mereka. Ia malah lebih rela, jika anaknya dipenjara saja.
"Bukan begitu, Bu Dinda. Jadi misalnya kena masa kurung tiga puluh minggu, kena denda tiga puluh gram emas murni. Nah, kena juga cambuk tersebut. Kalau jumlah cambukan dibanyakan, biasanya dikurangi di kurungan atau jumlah dendanya. Jadi, semua itu dijalani. Kecuali, hukuman ringan yang dengan dicambuk saja sudah cukup. Nah, itu barulah boleh."
__ADS_1
Adinda sudah berfirasat, pada akhirnya anak sulungnya akan dihakimi di depan masjid. Ia mengusahakan hal itu tidak sampai terjadi pada anaknya, ia lebih ikhlas jika anaknya dikurung dalam sel saja. Karena ia yakin, anaknya hanya merasa kebebasannya saja yang dirampas jika berada di dalam sel. Namun, jika sudah dihukum di atas panggung eksekusi. Psikis anaknya akan benar-benar terganggu dan Givan pasti berubah menjadi Givan yang lebih mengurung diri setelah itu.
"Kan kejadiannya di luar provinsi kita nih, Keuchik. Saya rasa, itu lebih berhak negara saja yang memberi hukuman sesuai undang-undang. Lain cerita jika orang dari provinsi luar, yang berulah di sini, maka mereka akan dihukum di sini," ucapan Adinda dimengerti oleh kepala desa.
Meski niat Adinda untuk mengecoh ketentuan yang berlaku, tapi ada benarnya juga alasannya. Kejadian tersebut, tidak terjadi di provinsi istimewa ini.
Kepala desa manggut-manggut. "Bang Givan ini kan, kasusnya hanya konsumen ya begitu? Atau bagaimana ini, Pak RT?" Ia menoleh ke arah RT setempat.
"Ya, menurut Saya juga hanya konsumen. Hukumannya hanya belasan aja itu, Teungku. Lain jika penyedia jasa, pemberi tempat dan memasarkan jasa, itu hukumannya menyentuh ratusan. Baik cambuk, denda, ataupun masa kurung. Menurut Saya, udah aja lanjut syariat aja, biar hukuman bang Givan tak begitu berat," jawab pak RT.
Ai semakin merinding di sini.
"Konsumen juga, Saya pribadi tidak memakai. Kalau akad jual-beli jasa, ya memang ada," aku Givan.
"Tepatnya, akad jual beli begini ya secara rasional kita lepas tangan pada pedagang. Misalkan kita duduk di bangku milik pedagang, lalu bangku tersebut pakunya lepas dan jadi goyang. Itu bukan tanggung jawab kita, itu adalah resiko pedagang." Ghava baru mengeluarkan pendapatnya, setelah ia menjadi pendengar setia cukup lama.
"Bingungnya kami, ya kenapa penjual jasa hamil dan menuntut tanggung jawabnya pada pembeli?" Kepala desa menggaruk kepalanya dengan melirik Ai. Semua orang pun, kini mencuri pandang terhadap Ai.
Seperti ada udang di balik batu. Mereka semua mengerti, bahwa seperti ada rencana di balik kehamilan tersebut. Lebih-lebih, mereka pun berpikir akad jual beli jasa tersebut sengaja untuk menjebak Givan.
__ADS_1
Mereka ingin menyelesaikan pun, mereka dibuat bingung di awal pokok permasalahan. Karena seharusnya, Ai tidak datang untuk meminta pertanggungjawaban. Kecuali, kasusnya melakukan atas dasar suka sama suka. Lalu, Givan pergi begitu saja setelah Ai hamil.
"Kenapa harus dibuat begitu rumit, Pak? Permasalahan sederhana, tapi kenapa harus dibawa naik ke hukum segala? Cukup pernikahan, menurutku itu bisa menyelesaikan permasalah." Penasaran Ai tumpah dari mulutnya.
Dengan ucapannya, Ai semakin terlihat bahwa hanya pernikahan yang ia inginkan. Terlihat begitu jelas, jika ia hanya memburu pernikahan dan itulah tujuannya dari jebakan kehamilan ini.
"Karena Bang Givan beristri, Dek Ai. Pernikahan kedua sulit diambil, karena posisi Dek Candanya pun tidak memberi izin dan juga Bang Givannya tidak ingin ada pernikahan kedua. Karena memang dia merasa membeli jasa, jadi dia tidak ada tanggungan untuk bertanggung jawab. Dibolak-balik pun, pokok permasalahan atas dasar jual beli jasa ini tidak memiliki tanggung jawab resiko. Kecuali, jasa servis AC atau televisi. Misal dalam jangka waktu tiga hari rusak kembali, maka masih dapat garansi servis gratis." Suasana sedikit mencair, dengan tawa ringan berbaur bersama.
"Sekalipun Saya kepala desa di sini dan Saya patuh hukum, tetap rasional dipakai untuk mengajukan kasusnya juga. Beda ceritanya, jika Bang Givan dan Dek Ai melakukan pernikahan di belakang Dek Canda. Lalu Dek Canda tidak terima dan mengajukan kasus tersebut ke ranah hukum, ya Bang Givan dan Dek Ai dua-duanya bisa sekaligus dipenjara itu." Terlihat sekali, bahwa kepala desa tersebut memiliki wawasan yang luas tentang hukum yang berlaku.
Semakin mendengarkan, Ai semakin sadar bahwa kehamilannya sia-sia saja. Namun, ia sudah terlanjur membawa masalah dan mengandung. Ia tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Jalur pernikahan, tetap dituntutnya untuk menguatkan posisinya.
"Kan dalam proses jual-beli jasa tersebut, akadnya hanya dengan Dia. Saya tidak paham, bahwa A Givan menyerahkan Saya pada lima laki-laki, bukan hanya dirinya. Dia bersalah di sini, Pak." Ai mengeluarkan ketegasannya dan suara nyaringnya.
Canda menggeliat dalam pelukan suaminya. Rahang tegas suaminya, menjadi pemandangan pertama saat matanya terbuka. Lalu ia mengusap area mulutnya dan memandang sekitarnya.
Ia masih berada dalam lingkungan perdebatan. Ia mengucek matanya, kemudian tanpa sungkan mengganduli lengan suaminya. Hanya Givan yang tahu Canda tidur, bahkan sampai terbangunnya lagi.
"Nah, maka.....
__ADS_1
...****************...
Sekalipun setting tempatnya masih sama, jika diperhatikan lagi kan ini pembahasannya berbeda. Tadi fitnah, sekarang kan jual beli jasa. Meskipun alurnya jalan jongkok, tapi ada pergeseran pembahasan. Mohon, untuk bisa dimengerti ya Kakak-kakak sekalian 🙏😁