
"Tak berasa, Mas." Canda mendorong dada suaminya yang berada di atasnya.
"Apa tadi aku bilang, Canda. Aku pun tak berasa apa-apa." Givan menarik miliknya, kemudian dengan cepat ia menarik penghalang antara dirinya dan istrinya.
Barulah, setelah berapa menit. Mereka sama-sama kelabakan menikmati sensasi yang mereka rindukan. Mereka sama-sama mengarungi tujuan mereka untuk sampai di titik tertinggi.
Hingga pelepasan antara keduanya telah terjadi, rasa lengket menyelimuti permukaan perut Canda. Givan membiarkan benda cair berwarna putih itu menghiasi luka jahit bekas operasi sesar yang dilakukan istrinya, ia memilih untuk menggulingkan tubuhnya ke samping istrinya dengan mengatur napasnya yang terasa akan habis.
Canda pun amat kelelahan, sampai ia tidak memperdulikan keberadaan saudara-saudara anaknya yang tidak beruntung tersebut. Canda langsung menarik selimut, membuat benda cair tersebut terserap ke selimut tebal mereka.
Givan menepuk jidatnya, ia selalu lupa dengan kebiasaan istrinya yang selalu tak kuasa menahan kantuk setelah selesainya perjuangannya menyelesaikan kerinduan mereka. Givan tidak banyak menuntut Canda untuk selalu banyak bergerak, karena keinginannya selalu berubah-ubah setiap melakukannya.
Terkadang, ia ingin perempuan yang aktif. Kadang, ia ingin perempuan yang merespon. Kadang, ia pun ingin perempuan yang hanya pasrah di bawahnya. Hal itu tergantung bagaimana keinginannya saat itu juga, karena ia adalah laki-laki yang mudah bosan.
"Canda, Canda.... Pengen pillow talk." Givan menggoyangkan tubuh istrinya setelah berbaring menyamping menghadap istrinya.
"Apa itu?" Canda berusaha membuka matanya.
"Nanti bantu kucek sebelum di-laundry, Mas." Canda meraup rasa lengket tersebut dengan selimutnya. Pikirnya, terlanjur kotor. Karena tadi ia lupa, jika suaminya menumpahkan saudara anak-anaknya di atas perutnya.
"Ya iya! Kau sih nyari kerjaan aja. Pasti, alasannya lupa!" Givan menempatkan tangannya di atas perut istrinya yang terlapisi selimut.
__ADS_1
"He'em, lupa daratan. Saking capeknya aku ini, Mas." Canda memiringkan kepalanya untuk mengagumi ketampanan suaminya.
"Lebay!" Givan terkekeh dengan meraup wajah istrinya.
"Aku ini banyak beban pikiran, Canda. Makan kalau kau tak ajak pun, rasanya tak lapar-lapar. Givan membuka obrolan ringan tentang apa yang ia rasakan.
"Aku sih tergantung lauknya, Mas. Aku kepengen ikan asap, lama tak makan ikan asap."
Givan hanya bisa tersenyum, mendengar istrinya malah memikirkan makanan. Jelas berbeda keadaannya. Ia lupa makan, karena kepalanya terlalu banyak beban pikiran. Jika istrinya tidak selera makan, karena lauk makannya terkadang tidak cocok.
"Nanti kita jalan-jalan ya? Beli untuk orang rumah juga. Canda, mungkin setelah kau aman dari Ai. Setelah masalah Ai di desa rampung dan dia udah dipulangkan, aku mau antar Gavin ke Brasil dulu. Tapi, aku pun ada sedikit masalah di sini. Ria mau pulang, dia mau ada minta izin sama aku." Givan mulai membuka beban pikirannya.
Givan menggeleng. "Kau nanti repotin aku, Canda. Aku di sana mau selesaikan masalah Gavin, bukan mau liburan."
"Mas Givan!" Canda mencubit kulit tubuh suaminya sekenanya.
Givan terkekeh geli. "Mungkin nanti kalau anak-anak kita udah besar, kita jalan-jalan, liburan, camping atau cuma sekedar tidur di hotel aja. Kau pasti tak nolak kan?" Givan menaikturunkan alisnya.
"Ya lama kalau anak aku besar, Mas. Masa aku mengurung diri di rumah aja?" Canda mengeratkan pelukannya pada istrinya.
"Nanti ke swalayan, kan enak di sana. Daripada jalan-jalan jauh, nanti kau capek lagi." Givan membelai rambut istrinya dengan mesra.
__ADS_1
"Oke deh, Mas. Terus gimana ceritanya lagi?" Canda mengamati wajah pusing suaminya dengan intens.
"Ya mau ke Brasil nanti sama Gavin, Gavin pengen minta keterangan sama Ajeng. Menurut aku sih, udah aja gitu. Menurut logika aku, pas bersalin pun Ajeng di provinsi kita, bukan di Brasil. Karena bukan apa-apanya ya, pihak bandara itu mempersulit bayi baru lahir untuk ikut penerbangan. Kecuali, ada urgent dari rumah sakit untuk di dirujuk ke rumah sakit besar. Itu pun, ada surat-surat dan dokter pengiringnya. Bayi normal pun, ada aturannya untuk boleh ikut penerbangan. Tak saat pusar masih nempel gitu, karena tekanannya bisa buat pendarahan di bagian pusarnya itu. Kalau tak salah dengar itu juga, soalnya tiap penerbangan beda peraturan sih. Menurut aku pun, ya tak penting juga tentang Ajeng ini. Tapi kata Gavin, itu penting. Pikiran muda, susah dikasih pahamnya. Padahal, aku ini tak mau dia tambah berat beban pikirannya." Givan mengusap-usap pipi istrinya dengan ibu jarinya.
"Kata aku sih udah aja. Anak udah diurus sama kita, dia fokus kerja aja tuh. Aku sih malah pengennya anak-anak aku tuh sama aku terus, sama aku semua. Karena tak tenang gitu, Mas. Misalkan, anak-anak dalam pengasuhan orang lain." Canda mengeluarkan pendapatnya.
"Iya, menurut aku pun begitu. Tapi lain kemauan dia. Kata aku sih ya, udah gitu fokus memperkaya diri dan cari ibu sambung untuk Cali. Bukannya masih nuntut penjelasan dari Ajeng. Untuk apa gitu kan? Aku sih pasti tersinggung betul, karena anak Ajeng sama suami terdahulunya kan dihidupi Ajeng dan diasuh Ajeng. Pernah dengar cerita juga, katanya dari hamil sampai melahirkan, suaminya tak ada campur tangan untuk urus anak pertama Ajeng itu. Nah, kenapa pas anak Gavin malah dikasih ke Gavin dengan cara yang tak baik. Jangankan anak dalam pernikahan, anak tanpa pernikahan pun dihidupi sama mamah dan papah. Jadi tak mungkin mereka nolak mentah-mentah bayi yang udah lahir dan bernyawa itu. Mereka pasti akan urus, ambil alih cucunya kalau Ajeng jelasin baik-baik. Ini kek mana gitu pola pikir Ajeng???" Givan menghela napasnya dan geleng-geleng kepala.
"Yah, keknya mungkin kerena itu juga Gavin nuntut penjelasan. Dia bertanya-tanya dan tak puas dengar kalimat penenang dari Mas aja, dia buruh penjelasan langsung dari mulut Ajeng. Pasti ada alasan besar juga, kenapa Ajeng sampai demikian. Kek cerita kita dulu, aku tak tau kalau Mas simpan uang untuk rumah kita masanya material lagi naik pendapatannya. Karena aku cuma tau, Mas cuma kasih aku satu juta setengah aja. Pikir aku, Mas main perempuan, foya-foya sendiri. Pas ditanya langsung ke Mas, kan terungkap kalau Mas itu simpan untuk buat rumah." Canda tidak tahu, karena tiba-tiba ia teringat tentang kisah mereka yang pernah mereka alami.
"Kau betul juga, Canda." Givan mengusap-usap dagunya sendiri.
"Tapi karena apa coba? Gavin bermasalah karena hal apa? Nampaknya nganggur juga, sekalinya dia aku suruh ngurus kerjaan penting tuh, masuklah sepuluh juta untuk dia. Cekatan, teliti dan cepat dia kerjanya. Dia kerja itu tak ada nanti-nanti, kasih kerjaan, langsung tindak. Karena ada pengalaman kerja juga mungkin, dia kan mampu itu pegang usaha yang di Brasil. Cuma karena ada masalah sama Ajeng, dia tak mau balik ke sana lagi. Aku pun ada janji untuk ajarin Gibran usaha, mulai besok dia mau ngekorin aku. Dengan perjanjian, dia tiap hari kasih uang jajan untuk pegangan dia." Givan membuat istrinya tertawa kecil, setelah mendengar kalimat akhirnya.
"Jahat juga sih kita ini, Mas. Ria kita jatah, bujang bungsu mamah tak dikasih jatah jajan sama kita. Aku juga dengar dari papah, hasil ladang atas nama Gibran, pembagian hasil usaha di Brasil pun disimpan papah. Karena papah mau Gibran ada gerakannya untuk usaha. Karena kesannya, Gibran ini kek menikmati aja tuh." Canda menambahkan penuturan suaminya.
"Bungsu, agak lain memang. Tapi mau kotor dia, mau nyangkul-nyangkul. Aku dulu, tak pernah aku nyangkul-nyangkul di ladang," timpal Givan dengan mengingat kembali dirinya saat dulu.
"Eh, tiba-tiba kok aku punya pikiran gimana kalau Ria dijodohkan aja sama Gavin. Tua dua atau tiga tahun perempuannya tak apa kali ya?" Canda memandang wajah suaminya dengan senyum lebarnya.
...****************...
__ADS_1