
"Pikiran kita gak sama, Put. Aku tau Givan." Ai menyandarkan punggungnya dengan helaan napas.
"Terus, setelah ini kau mau apa? Itu bukan anak Givan kan?" Putri langsung menanyakan langkah yang akan Ai ambil.
"Yang penting lahir aja dulu. Aku yakin, Givan bakal akuin."
Bisa langsung Putri simpulkan, bahwa Ai adalah orang yang tidak akan pernah percaya jika tidak mendapat resiko dan merasakannya sendiri.
"Saran aku sih, Ai. Lebih baik, kau ngalah aja. Kau bilang sendiri, kau cepat punya beban pikiran. Nah, sedangkan Givan ini orangnya suka buat beban pikiran. Kau perlu ekstra pikiran, untuk ngadepin dia."
Saran dari Putri langsung digelengi oleh Ai. "Apalagi sekarang anaknya kurang sempurna. Aku yakin, aku kurang mampu ngurus sendiri. Aku yakin, Givan bakal turun tangan dan ambil anaknya dari aku. Atau setidaknya, ia akan berpikir untuk bantu aku besarkan anak spesialnya."
Pemikiran Putri, tidak sampai ke hal tersebut. Ia paham seorang Givan, apalagi Givan di sini tidak mengakui. Tapi kenapa, Ai bisa sampai begitu yakin? Putri mencoba mengorek keterangan tentang keyakinan Ai akan anak yang ia kandung tersebut.
"Aku yang punya anak normal, meski jarinya spesial. Jujur, aku minder. Ditambah lagi, aku tak bisa publikasikan dia karena status aku yang belum menikah. Tapi kau yakin betul, dengan ucapan kau sendiri. Apa sih yang buat kau selalu optimis dan begitu yakin? Kau masih ingat, bahwa benar Givan sendiri yang naik ke atas kau?" Putri membaca keterangan dari kronologis pihak Givan.
"Aku gak lihat sendiri. Tapi dengan keadaan milik aku yang sakit, lecet. Aku yakin, itu ulahnya Givan. Setelah gak sama dia, aku pernah menikah dan berhubungan intim. Rasanya itu gak sampai buat aku lecet, gak sampai buat aku kesakitan." Ai seperti tengah mengingat sesuatu yang sudah lama terjadi.
"Berapa lama durasinya? Apa gerakan cepat?" Ada rasa tidak sopan, ketika mulut Putri menanyakan hal itu. Namun, Putri terlihat begitu gemas berbicara dengan Ai.
__ADS_1
Satu alasannya ia tidak mengembangkan pendidikan psikologis yang ia emban, yaitu karena ia bukanlah orang yang penyabar ketika menghadapi orang lain. Ia sadar akan hal itu, membuatnya tak mengambil opsi untuk memperdalam ilmu tersebut sampai disebut ahlinya.
"Siapa?" Ai memandang wajah Putri sekilas. Lalu, ia memperhatikan arah lain.
"Ya suami kau itu dong, Ai!" Nada kesal sudah keluar dari mulut Putri.
Ini juga sebabnya ia memasrahkan anaknya pada ibunya. Ia tidak mungkin membuat anaknya membiru karena cubitannya, ketika harus diasuh olehnya. Putri tidak sabaran, menghadapi sifat orang lain.
"Aku ditinggalkan tanpa perceraian esok paginya, lepas malamnya kejadian malam pertama. Gak sampai selesai, cuma beberapa kali gerak dan dia langsung pergi."
Putri mengangguk, fakta lain ia ketahui meski harus menggores kesabarannya lebih dalam.
"Kalau cuma sebentar kek gitu, ya tak bisa buat perbandingannya Givan dong. Misalnya gini nih, Canda kan pernah nikah sama laki-laki lain. Nah tuh, dia bisa bedakan rasanya bermain dengan Givan, atau dengan suaminya yang dulu." Putri sampai menarik contoh orang lain, agar Ai mengerti.
"Ya, aku pun pernah sama laki-laki lain tapi gak menikah. Setelah jadi janda, aku mulai pacaran lagi. Terus kenal tuh sama laki-laki modelan Givan, yang cara berpacarannya udah kaya suami istri. Aku ingat-ingat sih, ya dia gak sampai buat aku lecet parah dan sakit kaya Givan. Kau kan pasti tau cara main Givan yang kasar? Nah, hasil kekasaran Givan lah yang aku percaya bahwa aku ngandung anaknya."
Putri menghela napasnya. Ia ingin menyebut Ai amatiran pun, ia tidak terlalu kenal siapa Ai.
"Tak semua orang tak meninggalkan lecet. Lecet, nyeri pada bagian tersebut. Bisa jadi karena gerakannya terlalu cepat, sedangkan kau tak ngerespon dan tak terbangkitkan. Otomatis kan jadi kering, terus timbul lecet. Bukan berarti, karena pelakunya kasar kek Givan. Tapi bisa jadi karena gerakannya cepat dan kau tak ada respon. Dalam keterangan pun, kau mabuk berat. Berarti benar kan, bahwa kau tidak ada respon? Kalau sakit di bagian itu, bisa jadi karena durasinya terlalu lama. Kau bayangkan aja, misal gesekan berulang di tempat yang sama dan menubruk sesuatu. Yang kita sebut sesuatunya itu pintu tumbuhnya anak kau di perut. Ya otomatis, pintu itu kesakitan karena merupakan organ dalam tubuh kau. Gesekan yang terus dan cepat itu, kan buat lecet tuh di jalan yang dilaluinya karena tidak adanya pelumas. Bisa dipahami kan, Ai???!" Putri sampai menekan suaranya.
__ADS_1
Namun, Ai hanya terdiam.
Putri menyambungi lagi. "Laki-laki yang kasar itu, bukan cuma Givan. Laki-laki yang lembut itu, belum tentu bukan Givan juga. Kau pasti berpikir kan, karena efeknya begini, pasti orangnya Givan? Karena sebelumnya, efek seperti itu kau dapatkan dari Givan. Bukan begitu Ai, bukan hanya Givan laki-laki yang kasar tuh. Banyak kok laki-laki di luar sana, yang tak kalah kasarnya," lanjut Putri kemudian.
Namun, sepertinya usaha Putri untuk membuat mata Ai terbuka lebar adalah sia-sia saja. Berpikir banyak, tetap Ai simpulkan bahwa Givanlah pelaku di malam tersebut.
"Kau harus lihat buktinya sih. Aku sih lihat tadi, udah yakin kok Givan bukan pelakunya. Karena waktu dia masuk dan dia keluar itu, ya relatif sebentar. Dia masuk pertama, tapi dia pun keluar pertama. Sedangkan, sepaham aku Givan itu butuh waktu kurang lebih empat puluh lima menit sampai dia benar-benar tuntas. Dalam CCTV tersebut, tak ada empat puluh menit Givan udah keluar ruangan."
Pernyataan apa saja, tetap saja membuat Ai menggeleng.
"Kalau masalah itu kan, tergantung situasi dan kondisi. Apalagi, Givan kan sudah berumur sekarang. Otomatis daya tahannya pun berbeda."
Ada sedikit pikiran Putri, tentang Ai paham bahwa daya tahan laki-laki berumur itu berbeda. Namun, ia pun memahami juga bahwa itu adalah pengetahuan umum.
"Oke, terserah kau. Yang jelas, saran aku kau harus lihat CCTV-nya. Kau harus lihat, bahwa kau di room tersebut tidak sendirian. Setelah Givan pergi, masih ada lima laki-laki di dalam sana. Ada tiga laki-laki keluar cukup lama setelah Givan. Terus, laki-laki terakhir cukup lama juga keluar dari ruangan dari laki-laki yang keempat." Putri membuka laptop yang terpampang di atas meja.
"Itu kan bisa aja dimanipulasi. Rekamannya diacak, atau susunannya diganti sendiri sama Givan." Ai masih bersandar dengan nyaman di sofa tersebut.
Putri menggeleng. "Tak, kau harus lihat sendiri. CCTV ini tak terpangkas. Durasinya lama dari Givan keluar untuk pertama kalinya dan laki-laki terakhir keluar. Itu ada lima jam lebih, tapi terangkum menitnya di bukti-bukti. Jadi misal, jam 22.50 Givan keluar seorang diri dengan berjalan sempoyongan. Nah terus, tiga laki-laki keluar di jam 23.30. Kau harus lihat, biar paham dan tak menyakini kronologis yang terbayang di otak kau sendiri. Karena kondisi kau mabuk, kau tak tau kejadian yang sebenarnya, kau pun tak tau pasti siapa yang pergi dari kau." Putri masih mencari letak video CCTV itu tersimpan di dalam dokumen.
__ADS_1
"Nah, ini." Putri langsung memutar video tersebut, lalu ia mengharapkan layar monitor laptop tersebut pada Ai.
...****************...