Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM40. Drop


__ADS_3

"Kok sepi betul?" Canda melangkah masuk ke rumah mertuanya dengan keragu-raguan.


"Hoekkkk.... Hoekkkkk....."


Canda kenal suara itu, kakinya membawanya ke salah satu kamar yang pernah ia tempati selama beberapa tahun. Pintu kamar yang terbuka lebar, membuat Canda tidak harus mengintip untuk melihat keadaan di dalam kamar.


Diam.


Ia hanya memperhatikan suaminya yang bersandar pada ranjang, dengan memegangi sebuah tong sampah kamar berwarna pink yang pernah ia beli untuk keperluan di kamar tersebut. Wajah pucat suaminya terlihat jelas di mata Canda.


Givan sesekali menyeka keringat dinginnya, kemudian mengusap air matanya yang tidak sengaja keluar karena rasa sakit dan pahit di kerongkongannya. Ia sampai menarik sprei kamarnya, ketika ingin bangkit dan duduk di tepian tempat tidurnya kembali.


Ia sudah lemas, karena terus memuntahkan isi perutnya dari tengah malam hingga pukul sembilan pagi ini. Bibirnya pucat pasi, dengan kantung matanya yang terlihat cekung.


Givan dehidrasi.


"Tak mau berobat, Za. Makanya Mamah bingung sendiri ngurus anak ini."


Perhatian Canda teralihkan pada dua orang perempuan yang baru masuk dari pintu depan. Adinda pun diam saja, saat melihat menantunya berdiri di ambang pintu kamar yang ditempati anak sulungnya.


Ia sudah kalut juga, karena melihat tanda-tanda dehidrasi dari anaknya. Kenandra yang sudah terbang ke Pulau Jawa, membuatnya kebingungan sendiri untuk mencari tenaga medis. Hingga Rauzha, anak tiri dari sahabatnya ia panggil untuk mengecek keadaan Givan.


"Permisi ya?" Rauzha melewati Canda dengan sopan.


"Iya," sahut Canda lirih, ia kembali memperhatikan tiga orang manusia yang berada di kamar tersebut.


"Udah berapa kali muntah, Bang?" tanya Rauzha, ia mencoba membantu Givan untuk merebahkan diri.

__ADS_1


Namun, Givan malah memilih untuk bersandar saja pada kepala ranjang.


"Tujuh keknya, awalnya muntaber dulu jam satu malam." Dada lebar itu terekspos dengan keringat dingin yang cukup banyak.


"Bisa rebahan, Bang? Biar aku agak mudah ceknya." Rauzha duduk di tepian ranjang dengan mengeluarkan alat-alat medis yang ia bawa.


Givan menggeleng. "Kalau rebahan, kepala rasanya berputar. Terus aku mual-mual hebat, langsung muntah." Givan mengatakan keluhannya.


"Maaf ya, Bang?" Rauzha mengulurkan tangannya lalu menempelkan punggung tangannya pada dahi Givan.


Sensasi hangat ia terima, saat menyentuh permukaan kulit Givan. Kemudian, ia mengeluarkan termometer dan langsung mengecek dari telinga Givan. Hasilnya langsung keluar, dinyatakan tubuh Givan dalam kondisi demam ringan.


"Buka matanya, Bang." Rauzha bersiap mengecek gerakan bola mata Givan.


Bola matanya bergerak sedikit tidak normal dari biasanya.


"Telinga kanan sering berdengung." Givan menangkup telinga kanannya. " Telinga kiri, kadang kurang dengar mulai subuh." Givan menyentuh daun telinga sebelah kirinya.


"Gejalanya persis kek vertigo. Tapi sepertinya ada masalah dalam pencernaan juga, entah itu pola makan atau mengkonsumsi makanan yang udah tak layak jadi timbulnya muntaber. Baiknya Abang aku antar ke rumah sakit aja, karena kulit Abang nunjukin bahwa kondisi badan lagi dehidrasi. Dehidrasi itu bukan dikasih minum banyak-banyak aja, terus nanti sembuh. Yang ada, nantinya malah kembung. Nanti di rumah sakit, Abang bisa diberi elektrolit sesuai kebutuhan Abang. Biar dehidrasi Abang lekas membaik nih. Ada vertigo, ada dehidrasi, bahaya betul ini, Bang. Kalau udah dehidrasi nantinya bisa kejang, pingsan, kram dan sulit berjalan, gangguan ginjal, belum nanti bisa kena resiko darah rendah. Darah rendah, vertigo, dehidrasi, udah tuh anak-anak bisa jadi yatim."


Adinda melongo saja mendengar penuturan dokter spesialis bedah tersebut. Ia baru menemui salah satu dokter yang mulutnya seperti Rauzha, ya hanya Rauzha seorang. Rasanya, Adinda ingin membogem kepala Rauzha karena sudah berbicara jelek. Namun, ia sendiri yang memohon agar Rauzha ikut dengannya ke rumah.


"Rawat di rumah aja." Givan menolak untuk dibawa ke rumah sakit. Karena hawa rumah sakit, membuatnya bertambah sakit, bukan malah sembuh.


Givan bertambah stress dan sulit sembuh kala mendengar suara orang merintih, menangis, kesakitan, bahkan ia pernah mendengar suara orang yang tengah dicabut nyawanya. Ia trauma untuk menyembuhkan keadaannya di rumah sakit.


"Aku kerja, Bang. Aku tak bisa full time cek Abang. Aku tak bebas kek bang Ken yang udah punya rumah sakit sendiri." Rauzha teringat dengan laki-laki yang membantu dirinya menjadi dokter spesialis lebih cepat tersebut.

__ADS_1


"Ayolah, Van. Biarpun anak Mamah banyak, Mamah tak mau kehilangan salah satu anak Mamah." Adinda membujuk anaknya untuk mau dibawa ke rumah sakit.


Givan tetap menolak. Ia pernah di rumah sakit, bukannya lekas sehat tapi ia malah sembuh lebih lama. Mentalnya malah terganggu mendengar suara dari kamar lain tersebut.


"Coba ke puskesmas aja dulu ya, Mah? Soalnya kalau perawat rumah sakit agak tak bisa tugas di rumah pasien, kalau rekam medis pasiennya tak ada masuk ke rumah sakit tempat dia kerja. Misalnya harus rawat di rumah, ya itu rumah sakit yang kasih perintah dan wewenang. Yang bertanggung jawab nanti pun, ya pihak rumah sakit. Kalau di rumah begini karena keinginan sendiri, harus manggilnya dokter praktek, bidan, atau petugas medis dari desa setempat. Coba deh nyuruh anak-anak yang lain, Mah. Aku tak punya jaringan di luar rumah sakit. Kawan dokter aku pun, rata-rata kerja di rumah sakit. Mereka tak buka praktek di rumah." Rauzha bingung sendiri jika menyikapi pasien yang keras kepala seperti ini.


"Coba kau ke puskesmas dulu sama Dendi atau siapa yang ada di studio tuh. Soalnya anak-anak Mamah lagi di luar semua, mereka lagi pada kerja." Adinda pun sebelumnya sudah mencari anak-anaknya untuk memanggilkan Rauzha. Tapi ternyata, para anak-anaknya tengah mencari nafkah di luar rumah.


"Aduh, Mah. Tak kenal aku sama orang-orang studio. Udah deh aku sendiri aja, biar aku yang ke puskesmas dulu." Rauzha tidak mau mempermalukan dirinya sendiri seperti orang bingung di studio musik dan video milik salah satu anak Adinda.


"Ya udah, cepat. Mamah minta tolong betul ya? Nanti Mamah kasih jajan kok." Jajan dalam artian upah yang setimpal.


"Tak usah jajan-jajan, kek sama orang lain aja." Rauzha bangkit dan membawa alat-alat medisnya kembali.


"Aku pergi dulu, Mah. Telpon aja, kalau keadaan Bang Givan mendadak drop." Rauzha meninggalkan kamar tersebut.


"Duh, ya jangan drop ya?" Adinda garuk-garuk kepala, dengan menemani Rauzha untuk keluar dari kamar anaknya tersebut.


Canda dilewati dua orang tersebut tanpa sapaan. Ia pun masih memperhatikan suaminya yang memejamkan mata dan bersandar pada kepala ranjang.


Givan enggan merebahkan kepalanya, lantaran seketika seisi rumah begitu berputar dan membuatnya langsung mual-mual. Ia tidak menyadari, bahwa ada istrinya yang memperhatikannya sejak tadi.


Canda begitu ragu untuk masuk ke dalam kamar tersebut dan memastikan keadaan suaminya. Karena ia merasa bahwa dirinya yang mengusir suaminya sendiri. Niat ingin menanyakan langsung perihal nikah siri yang tetangganya katakan pun membuatnya ragu, karena melihat keadaan suaminya yang tengah sakit seperti itu.


"Dek, sini!" Adinda melambaikan tangannya pada Canda, kemudian ia duduk di sofa ruang keluarga dan menepuk tempat di sebelahnya. Agar Canda duduk di sampingnya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2