
"Eh, kenapa sebenarnya dia?" Canda dan Givan saling memandang.
"Tak tau, katanya ada panggilan tugas besar di sini. Tapi aku perhatikan, sejauh ini dia pergi cuma ke swalayan aja. Entah belum mulai ya tak tau, Bang." Shauwi kurang mantap menyampaikan informasi. Tapi yang jelas, ia amat percaya pada seseorang dari kerabat Givan yang ikut tinggal bersama terus. Ia yakin, kerabat dekat tersebut tak mungkin mencelakakan atau melukai mereka.
"Pantas aja kemarin dia nanya alamat. Yang terpenting, kau jaga-jaga aja. Kau kan gadis, Shauwi. Abang tak di sana untuk jaga kau dan kalian, ya minimal jaga pakaian biar tak mengundang minat gitu." Givan merasa tanggung jawabnya besar pada pengasuh Ceysa tersebut.
"Siap, Bang. Di rumah aja, aku tak pernah lepas kerudung di luar rumah. Aku pasti bisa jaga pakaian aku. Tapi ngomong-ngomong, aku sih pasti tak mungkinnya karena tidur sama Ceysa dan selalu ada di dekat Ceysa ngawasin Ceysa. Menurut aku sih, perlu diingatkan itu Ria, Bang. Dia dekat Keith, dia dekat juga sama kerabat Abang itu. Aku takut dia diper**** dua laki-laki, Bang. Amit-amit deh, tapi takutnya kek berita yang aku baca." Shauwi melirik ke arah kanan, di mana Ceysa bergerak untuk mengambil sesuatu. "Sini, Dek. Ayah mau lihat Ceysa mainan, mainannya jangan jauh-jauh." Fokusnya terbagi dengan kewajibannya.
Saking betahnya bekerja dengan keluarga tersebut, Shauwi tidak mau pulang untuk menikah atau melanjutkan hidupnya dengan bebas. Padahal, Givan pernah menawari opsi tersebut. Givan paham, bahwa Shauwi adalah wanita normal yang memiliki hak untuk menikah dan hidup dengan pasangannya.
Jika Shauwi mau, ia akan menarik Aliyah, kak Ifa atau Devi untuk mengasuh Ceysa. Sayangnya, Shauwi tetap nyaman di posisi tersebut. Ditambah lagi, Ceysa bukanlah anak yang hiperaktif. Membuatnya tidak terlalu lelah, untuk menjaga anak tersebut.
"Jujur aja, kalau Keith Abang tuh percaya betul. Sama yang satu ini nih, soalnya ingat cerita Ghifar. Ghifar yang suaminya aja tak berdaya, apalagi kalau perempuannya lajang. Aduh, langsung kepikiran Abang." Givan langsung memikirkan adiknya Canda yang beraktivitas di luar jangkauannya.
Ia sengaja menempatkan Ria di sana, semata-mata untuk menjaga putrinya. Sebenarnya pun, Givan sengaja mendekatkan Keith dan Ria, agar mereka segera menikah. Lalu pikirnya, akan sedikit ringan tanggung jawabnya untuk menjaga Ria, jika Keith mengambil opsi untuk menikahi Ria.
Ia pun, ingin tetap Ria tinggal di sana karena ia berencana mengirim Chandra ke sana kelak. Ia sudah memikirkan tentang masa SMA Chandra yang harus berada di dalam lingkungan pesantren, dengan masa perguruan tinggi Chandra yang harus berada di Singapore dengan pengawasan Ria.
Sembari menyambung pendidikan perguruan tinggi, Givan berharap anaknya bisa untuk menghandle usahanya yang berada di Singapore. Agar ketika Chandra sudah memiliki gelar nanti, Chandra tidak kaget lagi untuk menjadi pemimpin perusahaan atas namanya sendiri, meski atas kuasa nama Canda.
"Ya dibilangin aja Rianya, Bang. Beberapa kali aku temui tuh, kadang dia lagi bareng gitu." Shauwi tidak berniat memperjelas, karena takut dirinya dituduh sebagai sumber pemberi informasi oleh pihak-pihak yang merasa dirugikan dengan informasinya yang ia sampaikan pada Givan.
"Itu pasti, Dek. Mana Adek Ces nih, Ayah kangen." Givan ingin melihat aktivitas anak perempuannya lagi.
__ADS_1
"Ada, Ayah." Shauwi mengarahkan layar ponsel tersebut ke arah Ceysa.
"Aku lagi mewarnai, Yah." Ceysa duduk dan fokus pada buku bergambar miliknya.
"Pintar ya, Adek? Bisa semua, hebat. Anak pintar, anak hebat tuh harus sehat juga. Ceysa sehat terus ya? Nanti kalau adik bayi udah keluar dan udah tumbuh kuat, nanti Ayah sama Biyung ke sana deh, main di tempat Adek Ceysa." Givan paham anak-anaknya begitu senang mendengar pujian.
"Iya, Ayah. Boleh kok, Yah. Ajak Hadi juga ya, Yah?"
Bukannya mengiyakan. Givan dan Canda malah tergelak mendengar penuturan Ceysa.
"Tadi kan udah telepon Hadi, Dek." Shauwi menambahkan suaranya.
Terlihat di pandangan Givan yang berada di seberang panggilan video tersebut, bahwa Ceysa menoleh ke arah Shauwi dengan alis yang menyatu.
"Ceysa tenang aja kok, teman Hadi cuma Fandi. Itu pun, berantem terus. Hadi tak mau main, sejak Ceysa pergi tuh, di rumah terus." Canda tahu, karena rumah mereka bersebelahan dan hanya terhalangi oleh tembok tinggi saja.
Ia pun tidak melulu berada di dalam rumah. Ia sering berkeliling untuk melihat-lihat anak-anaknya di lingkungannya tersebut, tak jarang akhirnya kakinya membawanya ke rumah Giska.
Kerepotan Giska dengan tiga anak, yang salah satunya masih begitu merah. Membuatnya menahan anaknya untuk tidak bermain jauh, karena ia sulit mengontrol keberadaan anaknya. Kandungan Giska, seusia kandungan Ai. Bedanya, Giska melahirkan ketika sudah menginjak usia kandungan sembilan bulan, sedangkan Ai di usia enam bulan.
"Iya, tadi aku telepon pun katanya Hadi di rumah terus. Tapi tetap aja, nanti Hadi punya teman perempuan lain. Kan cuma aku teman perempuan Hadi, Hadi tak boleh sama yang lain." Ceysa menjeda kalimatnya sejenak. "Ayah...." Ceysa memperhatikan wajah ayahnya dalam panggilan video tersebut.
"Ya, Cantik. Gimana? Gimana?" Givan memajukan wajahnya hingga memenuhi layar ponsel milik Shauwi.
__ADS_1
"Bilang abu Adi suruh Hadi kirim ke sini aja, sekolah sama aku," ungkap Ceysa kemudian.
"Tak bisa, Cantik. Hadi tak mampu kalau sekolah di sekolahan Ceysa, paling nanti kalau kuliah tuh, nanti Hadi suruh ke sana." Givan memahami bagaimana sekolah yang Ceysa emban tersebut. Metode pembelajarannya, jelas sangat berbeda untuk manusia normal.
Otak Ceysa bisa mengcopy paste dengan cepat. Sekali guru menerangkan, ia langsung menguasai ilmu tersebut. Perhitungan yang terjadi di luar kepala, angka-angka yang seolah berterbangan ada di dalam pemikiran Ceysa. Ditambah lagi, Keith melaporkan jika Ceysa membutuhkan suatu obat untuk menenangkan diri. Karena menurut psikolog yang mendalami kepribadian Ceysa, Ceysa memiliki pemikiran yang terus berjalan dan terus berputar. Hal itu membuat Ceysa kesulitan untuk tidur, karena terus memikirkan hal-hal yang berterbangan di dalam kepalanya.
Namun, sejauh ini Ceysa mulai terkontrol. Tanpa bantuan obat, hanya aktivitas yang padat saja, cukup membuat tubuh Ceysa kelelahan dan tidak membuat otaknya terus bekerja mengolah seluruh ilmu yang digapainya setiap hari.
"Masih lama, Yah. Kan di sana pun, aku nih masih pakai merah putih." Ceysa melirik ke pakaiannya. Ia teringat, jika di sini dirinya tidak mengenakan seragam untuk sekolah yang ditunjukkan untuk orang-orang yang khusus tersebut.
"Sabar dong, Dek. Hadi juga masih kecil, nanti dia diurus siapa di sana? Adek Ceysa kan ada kak Shauwi, Hadi kan sama ma aja. Sedangkan, ma di sini harus urus Fandi dan Adek bayi itu," timpal Canda kemudian.
"Nanti deh, pas Ayah liburan ke sana masa adik bayinya udah kuat. Ayah dan Biyung ajak Hadi juga deh, biar kangen Ces ke Hadi terobati." Givan sedikit curiga jika kelak akhirnya anaknya hanya meminta Hadi untuk menjadi suaminya, karena Ceysa dan Hadi begitu lengket sejak kecil.
Bahkan, Hadi cenderung sulit dikendalikan dan sering mengamuk sejak Ceysa pergi ke Singapore. Anak laki-laki yang baru akan menginjak sekolah menengah pertama seperti Zio tersebut, kini lebih banyak waktu untuk mengurung diri ketimbang menikmati masa-masanya yang akan beranjak remaja.
"Janji ya, Yah? Aku udah pengen betul cerita sama Hadi." Anak kelas lima SD jika di Indonesia itu, menyimpan harapan besar untuk bertemu dengan Hadi.
"Iya, Sayang. Ayah usahakan, kan Ayah harus minta izin abu Adi dan ma Giska dulu." Givan teringat jika Ceysa memanggil orang tua Hadi seperti cara Hadi menyebutkan.
"Iya, Ayah. Aku ngerti kok, nanti aku ikut ngomong ke abu Adi deh, abu Adi kan baik, kalau Hadi sama aku kan boleh terus." Ceysa teringat ketika Hadi tengah dimarahi oleh ayahnya, kemudian datang Ceysa dan Hadi diizinkan untuk pergi bersama Ceysa. Ceysa tahu, hanya dirinya lah yang diizinkan berlama-lama bermain bersama Hadi.
Karena menurut pemikiran Zuhdi, anaknya tidak akan main terlalu jauh jika bersama Ceysa. Nyatanya, pemahaman orang tua yang menurut mereka benar, justru membuat anak-anak mereka terjebak dengan perasaan nyaman sejak kecil. Hadi dan Ceysa sudah bagaikan saudara kembar yang sulit dipisahkan. Panggilkan video yang dilakukan Hadi dan Ceysa setiap hari, sudah mengalahkan adzan berkumandang yang berjumlah lima kali dalam sehari.
__ADS_1
...****************...