
"Aku tuh udah kesal betul. Aku ikhlaskan uang buat makan dia, sekarang ngelunjak untuk biaya rumah sakitnya. Mas lagi! Mentang-mentang kaya, semudah itu sedekah ke j****gnya! Aku tak masalah Mas pinjamkan uang ke teman Mas, jamin keluarga korban kecelakaan tambang itu, ngasih saudara atau orang tua, silahkan kasih sebanyak-banyaknya. Tapi bukan untuk perempuan lain! Bukan untuk saingan aku yang bakal rebut posisi aku! Aku tak ikhlas, Mas begitu baiknya ke dia!" Canda sudah berderai air mata.
Menenangkan pun bagaimana? Givan tidak diizinkan istrinya, untuk mendekap, memeluk, merangkul, atau menyentuh istrinya. Ia tertunduk diam, memperhatikan lantai marmer rumahnya.
"Udahlah! Kita pisah aja!" Semudah itu Canda melayangkan keinginannya untuk berpisah.
Givan langsung menatap tajam istrinya. Permasalahan di luar begitu membuatnya pusing, ia mau diproses hukum dan mendapat hukum pidana pun, asalkan ia dan istrinya tidak berpisah. Namun, terdengar permintaan pisah itu keluar begitu mudah dari mulut Canda. Lalu, untuk apa ia harus susah mendekam di penjara?
Ia ingin mengancam istrinya seperti dulu lagi, tapi khawatir istrinya benar-benar melakukannya. Seperti saat Nadya menuntut pernikahan, lalu ia mengatakan jika Canda keluar rumah makan mereka bukan suami istri lagi. Dengan mudahnya, Canda bergegas keluar rumah hingga sampai di Kota Padang.
"Aku tanya sama kau, kau tak cinta kah sama suami kau sendiri? Permasalahan apa aja, mudah betul kau minta pisah. Apa dengan berpisah, masalah bakal selesai, dengan anak kita yang tidak sedikit itu? Aku yakin, kalau kita berpisah, pihak yang paling merugi itu anak-anak." Givan mencoba menggunakan kesabaran dan suara halus, meski aslinya ia ingin sekali meledak.
"Mikirin anak-anak, mereka nanti kan langsung punya ibu sambung. Kan aku udah pernah bilang, Chandra, Ceysa aku bawa. Sisanya, mereka bakal tetap hidup sama Mas dan ibu sambungnya."
Permasalahan pembayaran rumah sakit, Canda sampai membahas perpisahan mereka. Givan paham, kata-kata keramat itu ditunggu dari mulutnya. Ia khawatir, ia reflek mengeluarkan kalimat itu, karena kesabarannya yang selalu dikuras.
__ADS_1
Givan merasa, bahkan istrinya pun tidak bisa memahami beban pikirannya. Tidak mudah untuknya, untuk menyelesaikan kasusnya dengan Ai. Bukti-bukti harus ia kumpulkan, semata-mata agar pernikahan mereka terselamatkan dan mereka tetap bersama.
"Apa kau berani begini, karena merasa punya uang sendiri, Canda? Kau merasa kuat menanggung biaya hidup kau dan anak kau kah? Sampai minta pisah sama tulang punggung kau itu begitu mudah?" Givan jadi merasa menyesal, karena telah membuat istrinya mandiri secara tidak langsung. Ia teringat akan ucapan Kenandra, 'perempuan semena-mena, jika mereka punya penghasilan'.
Canda menggeleng. "Kalau aku mau, itu bisa dari dulu, Mas. Tapi Mas di sini seolah tak hargai aku, aku malu jadi istri Mas, karena suaminya malah jajan j****g di luar. Begitu banyak kekurangan pada diri aku kah, Mas? Sampai Mas berani sepelekan aku, terus memperdaya perempuan di luar?"
Givan memejamkan matanya sejenak, lalu ia menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa. Permasalahannya dengan istrinya tiada habisnya. Ia ingin, istrinya men-support dirinya. Bukan malah semakin menyudutkannya dan menyalahkannya. Ia sudah mengakui, bahwa dirinya salah, bahwa dirinya keliru, bahwa dirinya menyesal. Ia pun sudah meminta maaf dan memohon ampun pada istrinya.
"Canda...." Jakunnya bergerak naik turun. "Aku pusing, Canda. Aku bingung, Canda. Kau terus kek gini, sedangkan aku sampai rela masalah ini panjang ini, cuma untuk bisa tetap sama kau. Aku pikir, dengan aku penuhi kebutuhannya, kita bisa tetap sama-sama. Tapi nyatanya, Ai malah merusak kebersamaan kita dan nama baik keluarga kita. Masalah lebih rumit, karena gara-gara aku, nama baik keluarga aku kena fitnah Ai. Opsi kedua, yang bertujuan agar kita tetap sama-sama raih mimpi kita, yaitu proses hukum. Resiko terbesarnya, usaha-usaha kita bakal kacau, terus mimpi kita ditunda sampai aku menyelesaikan masa hukumanku. Itu pun bertujuan, agar kita masih tetap jadi suami istri. Opsi yang ketiga dan yang paling mudah ini tak aku ambil, karena aku tak mau kita tak sama-sama lagi. Aku nikahin Ai, dengan masalah aku dan Ai bakal selesai. Tapi resiko terbesarnya, kita kehilangan mimpi kita. Aku tak mau ambil, karena aku tak mau kalau kita bukan suami istri lagi. Aku mau tetap jadi suami kau, Canda." Suaranya meninggi bergetar, rasa cengeng itu bercampur dengan emosinya.
Canda menoleh ke arah suaminya. Ia baru melihat dan tahu sendiri, suaminya seperti tengah menangis tertahan tersebut.
Keyakinan dan kepercayaannya sudah hancur pada suaminya. Canda lebih percaya dengan asumsinya sendiri.
"Canda, kau ngerti tak sih?!" Givan melirik miris istrinya.
__ADS_1
Canda tidak mengerti, jika kedudukannya tengah diutamakan dan dipertahankan. Ia tidak mengerti, bahwa suaminya tengah berusaha mempertahankan rumah tangganya.
"Aku ngerti kalau Mas memang pengen kerumitan ini terwujud. Kalau memang katanya hanya mantan sama Ai, ya harusnya tak perlu akrab sama dia lagi, apalagi segala beli dia. Nampak sekali kalau Mas ini memang belum bisa move on darinya, dendam sebagai alasan, nyatanya memang pengen buat drama biar nampaknya posisi yang lebih kasihan ya Ai."
Begitu miris, ketika istrinya menarik kesimpulan yang salah. Canda tidak tahu kejadian aslinya, tapi ia menghakimi suaminya sendiri dengan tidak berhati.
"Banyak kau cakap, begini dan begitu. Gini aja deh. Misalkan kau kupoligami, sudi kah? Jangan nuduh aku begini begitu, kek yang aku ini begitu salahnya sampai bawa-bawa belum move on lah." Ia terpancing emosi.
"Aku tak sudi! Lebih baik kita pisah, kita bukan suami istri lagi. Hidup ini untuk bahagia, Mas. Kalau Mas tak bisa bahagiakan, untuk apa aku mempertahankan Mas?" Begitu sakit ketika mendengar suaminya menarik kata keramat untuk menduakannya.
"Kalau tak mau dipoligami, ya sabar dan support aku. Bukan nuntut cerai terus bisanya! Bukannya aku sombong, memang kau bisa apa kalau tanpa aku? Gimana anak-anak kau, meski dua yaitu kau bawa, kalau tanpa Ayahnya ini? Gimana lemahnya kau, terus siapa yang bakal ngurus kau? Orang baru tak mungkin langsung mau kau susahi. Orang baru tak mungkin langsung mau kau bebani. Aku ini lagi berjuang, biar kita tetap sama-sama. Pikirkan anak-anak kita, pikirkan tentang kebutuhan kita sendiri. Kau butuh aku, aku pun butuh kau. Kau tak pernah mau ngerti kah, kalau kau tempatku pulang, Canda?" Givan menunjuk dadanya sendiri.
Mengulangi kalimat tentang poligami, Canda sudah tergugu dalam tangis lepasnya. Ia pernah pergi dari rumah dan membiarkan suaminya bertanggung jawab pada Nadya dulu, semata-mata karena ia tak ingin dipoligami. Namun, permasalahan mirip yang sama terulang dengan poligami sudah dilantangkan beberapa kali oleh suaminya.
Dengan begini saja, ia sudah kalah dari Ai. Apalagi, jika Ai memiliki kedudukan yang sama seperti dirinya? Sudah pasti, Givan akan memberatkan cintanya yang belum bisa ia lupakan tersebut. Pikir Canda seperti itu.
__ADS_1
"Mas.....
...****************...