Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM243. Disiplin, OCD atau OCPD?


__ADS_3

"Hm, dia ini disiplinnya kuat. Subuh aja, udah heboh HP bunyi karena dia. Bran, bangun. Bran, bangun. Aku bilang, iya bangun, sholat telat satu dua menit tak apa, manusiawi. Dia bilang begini, kalau semenit kemudian kau mati gimana, aku sih mikirnya semenit kemudian aku haid, aku pernah begitu dan aku nyesel. Sebelum aku respon dia dan bilang aku bangun, dia tak bakal udah buat HP aku bunyi terus. Adzan Subuh aja sekali, ini dia bunyi ada sepuluh kalinya. Makan juga dia kek jadwal aku harus on time, jam dua belas katanya kau makan dulu, lima belas menit kemudian harus sholat langsung, karena kalau kau sholat duluan, malah pikirannya makanan terus. Macam jam sepuluh, jam tiga sore, ini dia ingetin aku suruh makan buah. Beberapa kali aku diminta lewat depan rumah dia dan ambil salad buah buatan dia. Tak respon aku ini, sampai spam di email aku dia ini. Entah itu apa namanya, kok risih aku ini rasanya. Tapi kadang kalau dia tak enak badan gitu kan, dia ikut aturan orang tuanya betul-betul. Dia sakit, tak megang HP sampai sembuh pun dilakuin. Sedangkan kan, kita ini komunikasi lewat HP. Jadi ngerasa, aduh kek ada yang kurang sih kok HP tak bunyi-bunyi, kek rasanya percuma sih punya HP tuh karena tak dapat notifikasi dari dia. Kadang sampai full tiga hari dia tak ada kabar, pas dia ngabarin lagi, aku tanya, katanya dia abis demam tiga harian. Anak perempuan padahal, perempuan modern. Tapi patuh aturan orang tuanya, yang tak main HP selama sakit, sampai dirinya sembuh. Dia juga kan ambil pendidikannya belum selesai, baru tahun ini dia wisuda. Waktunya belajar, waktunya ada tugas untuk sekolahnya, benar-benar hilang kabar. Tapi biasanya ada WA dulu dia, kek aku ada tugas untuk presentasi, aku bakal sibuk. Dah tuh, hilang dia sampai tugasnya rampung. Berisik-berisik bermanfaat sebenarnya, tapi kadang kalau bunyi aja itu aku risih. Chatting aja, jam sembilan dia waktunya tidur, sedangkan obrolan lagi enak, ya tetap tidur dia, langsung off aja. Apa tak kesal aku kadang ini?" Gibran geleng-geleng kepala dengan menghela napasnya.


"Sindrom perfeksionis bukan sih, Bran? Apa tuh namanya? Ada kan ya, Bang sindrom perfeksionis?" Gavin mengajukan pertanyaan dengan menunjuk kakaknya dengan dagunya.


"Iya ada. Namanya, OCD dan OCPD. Ada bedanya itu, tapi mengarah ke hal yang hampir sama. OCD, contohnya akan mengatur mejanya berkali-kali dalam satu jam atau satu hari. Ini bukan karena dia ingin mejanya bersih dan rapi seperti orang dengan OCPD, melainkan karena otaknya tak bisa mengendalikan dorongan untuk menata kertas dan bolpoin yang sebenarnya udah tertata rapi. Kalau tak melakukan hal itu, dia ngerasa cemas dan gelisah betul. Kalau OCPD, dia tak cukup sekali saja membereskan meja kerja di pagi hari, tapi dia benar-benar memastikan mejanya bersih dan rapi. Hal ini mungkin bisa memakan waktu lama. Akan tetapi, kalau sudah rapi dia akan berhenti membersihkan meja dan mulai bekerja. Dia baru akan membereskan meja lagi kalau sudah berantakan dan penuh barang. Kalau perfeksionis lebih ke OCPD," terang Givan karena ia pernah dijelaskan tentang hal itu oleh Putri.


"Tak deh, Bang. Aku pernah jemput dia pulang kuliah, ngakak aja kami ini di jalan. Kakinya pakai flat shoes yang berbeda, memang sama hitam warnanya, tapi modelnya beda. Yang satu polos potongan bulat gitu, yang satu lagi dia pakai potongan meruncing gitu. Dia baru ngeh pas lagi belajar dan lihat kakinya, untungnya katanya tak ada yang perhatian dia sejauh itu." Gibran bercerita sembari terkekeh kecil karena masih teringat lucunya saat itu.


"Sering juga tengok dia pakai kerudung terbalik, kalau aku ambil salad buah atau ambil makanan yang dia buat di depan rumahnya. Pernah juga, tengok dia ini pakai sandal selang-seling. Tak perfek lah menurut aku sih, cuma disiplin aja keknya. Dia udah biasa hidup disiplin, jadi ditengok dari segi manapun ya tetap disiplin." Gibran memiliki pendapat sendiri.


"Nampak OCPD kah disiplin ini, ya kalau udah serumah, Bran. Bakal ketahuan semua sifat aslinya itu," timpal Adi kemudian.


"Soalnya Papah pengalaman sendiri. Waktu deketin, suka ngirim makanan. Ternyata, aslinya ini malas masak. Seminggu sekali masak pun tak tentu dia." Adi melirik istrinya.


"Masa iya ada perempuan malas masak? Kan dari kecil mereka main masak-masakan? Aku sampai hafal karena nemenin Key masak-masakan, aku yang jadi tukang belinya." Gibran mengerutkan keningnya saat mengatakan hal itu.

__ADS_1


"Ma kau buktinya. Tiap hari masak kan, karena Papah request makanan. Tak request, pura-pura dia lupa. Kan aneh kan? Masalah perut masa lupa? Heran betul kan?" Adi melirik istrinya yang sudah tertawa malu.


"Ohh, jadi perempuan itu begitu ya, Pah?" Gavin manggut-manggut.


"Iya, banyak nyamarnya kalau masih baru kenal. Ditunjukkan semua sifat baiknya, biar kita para laki-laki ini tersanjung. Kasarnya, kentut aja mereka tahan masa pedekate sama kita. Udah serumah, jangankan kentut, darah haid nempel-nempel di seprai pun kadang sengaja tak dilihatnya. Kamuflasenya lebih halus, ketimbang kita para laki-laki. Depan calon mertua apalagi, sok pendiam. Setelah jadi mantu kan, mertua akhirnya bakal tau kalau menantunya cerewet luar biasa." Adi membuat istrinya tertawa lepas.


"Aku tak terlalu banyak nyamar waktu belum jadi sama Abang. Aku ngantuk, ya aku tidur sampai siang juga depan umi dari dulu. Malah Abang yang marahin aku, bentak-bentak suruh bangun. Umi yang belain, katanya biarin aja, ini itu, kasian aku ngantuk. Waktu di rumah sakit tuh, Abang sakit, aku datang nemenin sama Givan tuh." Adinda mengorek kenangan mereka.


Gavin tertawa garing. "Abang Gue ternyata diperalat dulunya."


"Demi dapat Papah kaya ya, Van?" celetuk Adinda yang membuat mereka tertawa rata.


Sudah dikenal dari dulu, jika memang candaan mereka sedikit ekstrim.


"Tapi asli tak bohong, Papah tak kaya-kaya betul. Dulu, rumah megah itu rumah reot, terasnya masih ubin tanah keras lah gitu," tambah Givan kemudian.

__ADS_1


"Kan deposit Gue banyak. Cair deposit besar-besaran Gue nikahin Ma kau." Adi menunjukkan ekspresi geramnya.


Adinda tertawa lepas, sampai memegangi perutnya. "Sampai hutang-hutang untuk makan kita tiap hari, uang Mamah jadinya uang bersama karena Papah tak ada uang. Ujian tuh memang ada aja sih, tak langsung enak meski deposit cair juga."


Giliran Adi yang terkekeh geli mendengar penuturan istrinya.


"Jadi Mamah sama Papah pernah melarat?" tanya Gavin kemudian.


"Sialan kau!" Adi tertawa lepas mendengar pertanyaan anaknya.


"Jadi tuh, nikah dia tak ada modal. Papah kau itu pengangguran, tak bisa kerja di kedai kopi dia, tak menghasilkan apapun. Bisa kerjanya berladang aja dari muda tuh. Nikah kan mendadak, tak punya mahar dia, jadi lahan lah dijadikan mahar. Udah begitu, sehari setelah nikah cerita katanya uang dia tinggal satu juta tujuh ratus. Mamah pun panceklik betul, karena belum digaji sama Papah kau, Mamah cuma ada dua jutaan masa itu. Pas baru nikah, Mamah masuk rumah sakit kena tipes. Uang tiga juta tujuh ratus, gabungan dari uang Mamah dan Papah itu ya tak ada apa-apanya untuk biaya rumah sakit. Usaha lah Papah kah ini, bukan usaha jual aset, jual ladang, atau kerja keras, tapi cari hutang dia." Adinda bercerita dengan menahan tawanya. Sontak saja, saat ceritanya habis mereka semua malah tertawa lepas.


"Duh, tambah takut aku ini. Gimana kalau baru nikah, ada aja ujiannya kek gitu." Gibran bertopang dagu memikirkan.


Ia sulit untuk mengambil keputusan untuk berkomitmen dengan wanita, karena ia melihat keadaan rumah tangga orang terdekatnya yang penuh ujian. Ia merasa khawatir, jika dirinya tidak mampu menyelesaikan masalah yang datang di rumah tangganya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2