
"Van, ayolah."
Givan kembali menggeleng, ketika ibunya memintanya agar Awang ikut pulang di mobilnya.
"Mobilnya kecil, Mah." Alasan klasik Givan berikan.
"Aku di sini aja, Mah. Mamah sama Papah silahkan pulang aja, makasih udah jagain Ai waktu kita belum sampai." Awang memahami bahwa Givan yang tidak suka padanya.
"Besok kita kabar-kabaran aja. Aku sama suami pulang, untuk urus tempat dikebumikannya bayi Ai." Adinda sudah menyusun rencana pemakaman untuk anak Ai besok.
"Mah, jangan lupa pihak rumah sakit minta pergantian biaya administrasi dulu sebelum bayinya keluar dari kamar jenazah," tambah Gavin yang terdengar tidak sopan.
"Minta sama Ai, Vin," jawab Givan membuat Ai melongo.
"Kau kan yang ada sangkut pautnya, Bang. Minta empat juta mereka, soalnya udah ada masuk ruang NICU dan banyak lagi. Nih, keterangan yang harus dibayarkannya." Secarik kertas menjadi bukti ucapan Gavin.
"Udah! Udah! Biar Abang aja. Uang Givan dipegang istrinya, susah dia berkutik." Kenandra maju kembali, ia meninggalkan sofa panjang yang menjadi tempat istirahatnya.
"Gak begitu, Bang. Aku tau, A Givan pegang uang sendiri. Tapi, dia...." Ai menggantungkan kalimatnya.
"Nah, kau tau kalau Givan tak mau bagi uangnya untuk kau. Udah kali, Ai! Tak usah nambah bikin hati kau sakit, karena berharap sama suami orang. Seroyal-royalnya dia waktu bujang, sekarang dia lebih mikir untuk ngenyangin perut anak istrinya. Keadaan udah beda." Sekali lagi, Kenandra menyadarkan pikiran Ai.
"Sana pulang! Kelonan lagi sana!" Kenandra menunjuk pintu keluar.
Givan mengangguk, kakinya melangkah tanpa pamit..
"Cek Bunga jangan lupa!" Perintah Kenandra keluar setelah Givan sudah sampai di ambang pintu.
"Udah tadi sebelum ke sini," sahut Givan dengan menunggu ibunya keluar.
Dalam kantuk tertahan, Adi dan Adinda merasa gemas pada putra sulungnya karena berhenti beberapa kali setiap kali bertemu dengan gerobak pedagang. Menurutnya, Givan sudah seperti Canda yang lapar mata seperti Canda. Padahal, Givan hanya mencoba menyenangkan Canda dengan kesenangan Canda.
"Aku mau ajak Chandra begadang, Mah. Aku tak bisa bangun pagi, nyuruh Ghifar atau yang lain aja kalau Mamah mau nyuruh aku," ucapnya ketika mobilnya sudah berhenti di depan pagar rumah orang tuanya.
"Besok makaminnya siang, pagi nyuruh orang buat gali dulu," jawab Adinda setelah keluar dari mobil.
__ADS_1
"Ya, Mah." Givan melajukan kendaraannya kembali dan berbelok ke arah rumahnya. Setelah mengunci pagar dan memastikan garasi terkunci rapat, Givan memasuki rumahnya yang kuncinya menggunakan kode tanggal rujuknya mereka.
Dengan jinjingan yang cukup banyak, ia tersenyum lebar pada dua manusia yang berada di atas ranjangnya. Givan melangkah masuk dengan menanggalkan jaketnya.
"Ayah tuh jadinya doyan makan, nanti gemuk perutnya aja," ujar Chandra dengan terkekeh kecil.
"Buncit gitu ya? Kek Biyung," tambah Givan dengan menaruh tentengannya.
"Nih, dimakan. Ayah mau cuci dulu." Givan melangkah ke arah kamar mandi pribadinya.
Ia mencuci tangan, wajah dan kakinya. Setelahnya, ia kembali menghampiri anak dan istrinya. Ia menyimak sejenak obrolan Canda dan Chandra, yang tengah membahas tentang sekolahnya.
"Nanti, aku lulus SMA itu tujuh belas tahun berarti ya?" Chandra tengah menghitung usianya yang baru genap tiga belas tahun, tapi ia sudah akan beranjak naik ke kelas dua SMP.
"Iya, padahal kau TK dua tahun loh," jawab Givan yang baru menimpali obrolan itu.
"Ya aku tak bisa langsung kerja dong, Yah? Kan aku lulus SMA itu tujuh belas tahun."
Givan menepuk jidatnya. "Suruh siapa kerja? Lanjut pendidikan lah! Biyung kau aja lanjut pendidikan, meski akhirnya mogok di tengah jalan." Givan anaknya memiliki pendidikan setinggi mungkin.
"Oh, orang tua udah kaya. Aku mesti sekolah tinggi juga ya?"
"Ya iyalah, pola pikirnya pasti beda nanti. Universitas yang dekat sini aja, nanti sambil Ayah ajarkan dunia bisnis." Givan ikut menikmati cemilan yang ia beli tadi.
"Aku boleh nikah umur berapa?"
Givan ingin mengigit tusuk cilok yang berada di tangannya. Baru juga akan naik ke kelas dua SMP, anaknya sudah bertanya perihal usia menikah.
"Suka-suka kau, Chandra! Yang penting, kau punya penghasilan untuk nafkahi istri kau nanti. Lagian kenapa sih, kok nanya nikah? Apa yang buat kau kepikiran untuk nikah itu?" Givan melirik istrinya yang sudah menguap, meski jajanan masih begitu banyak.
"Mas, tolong ambilkan minum." Canda menunjuk stok air minum yang berada di kamarnya.
Givan melangkah turun, mengambilkan sebotol air mineral untuk istri tercintanya. Lalu, ia duduk kembali di tempatnya.
"Martabaknya sisain buat besok aku sarapan. Aku ngantuk betul, lepas Mas datang. Tadi, aku tak ngantuk."
__ADS_1
Itu adalah ketenangan, membuatnya mengantuk. Rasa aman, tenang, dan nyamannya timbul, karena sudah melihat suaminya kembali.
"Iya, nih gulingnya." Givan memberikan guling yang berada di dekat kakinya.
Canda mengangguk, ia meluruskan kakinya dan Givan membantu untuk menyelimuti tubuh istrinya. "Mas sama Chandra di sini aja, jagain aku tidur." Canda paling tidak suka, jika ia ditinggalkan tanpa pemberitahuan ketika tidur.
"Iya, kau tenang aja. Aku tak jauh." Givan menikmati makanan yang ada lagi, di atas ranjang empuk bersama anak laki-laki tertuanya itu.
"Cerita sama Ayah, kenapa ada pikiran untuk menikah?" Ini adalah pertama kalinya untuk Givan dan juga Chandra, mereka berbicara bukan pada topik agama, keluarga, atau ilmu pengetahuan.
"Tak apa, Yah. Aku cuma mau tau aja. Kapan gitu aku boleh menikah, kan aku harus sekolah lagi lepas lulus SMA?" Chandra mengulangi pertanyaannya.
"Eummm...." Givan sedikit bingung untuk menjawab. Tapi, ia teringat ini memberikan pertanyaan yang belum dijawab oleh anaknya.
"Iya, apa alasannya kau pengen nikah? Nanti Ayah bagi tau, kapan waktu yang pas untuk kau menikah." Givan cukup cerdas untuk mahami arti ucapan seseorang, ia pun cukup cerdas untuk merubah pertanyaan tetapi mendapatkan jawaban yang ia inginkan. Daripada ia bertanya langsung, apa sudah punya pacar. Yang nantinya akan jelas membuat anaknya berbohong dan menghindari untuk menjawab hal tersebut.
"Aku pengen pelukan, Yah."
Givan berekspresi seperti orang bodoh. Ia cukup shock mendengar jawaban anaknya, itu di luar ekspektasinya. Ia berpikir, bahwa anaknya akan menjawab bahwa sekarang ia sudah memiliki kekasih.
"Sini Ayah peluk." Givan merentangkan tangannya.
Chandra menggeleng. "Bukan sama Ayah, tapi sama perempuan gitu loh, Yah."
"Perempuan yang bagaimana? Kakak kau perempuan, biyung kau perempuan, nenek kau perempuan." Givan mengerucut pada pernyataan siapa perempuannya.
"Ya bukan saudara aku, sama mereka sih biasa aja. Sama temen perempuan aku gitu, Yah. Yang cantik, wangi." Pandangan Chandra seperti tengah menerawang jauh.
"Cantik dan Wangi itu kek siapa?" Givan kurang puas mendengar jawaban anaknya. Ia ingin tahu nama seorang perempuan yang menjadi perhatian anaknya.
"Kek Izza, Yah."
Hari Senin nanti, Givan akan berpura-pura menjemput anaknya di sekolah. Semata-mata, karena ingin tahu bagaimana seorang Izza yang tengah mencuri perhatian anaknya.
"Ohh, wangi dia ini?" Givan seolah tidak begitu penasaran dengan visual Izza, meski nyatanya adalah kebalikannya.
__ADS_1
"Iya, Yah. Terus dia ini......
...****************...